NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

"Aduh, Pak! Hujan!" seru Sheila panik sambil menutupi kepalanya dengan buku catatan saat tetesan air sebesar biji jagung mulai menghantam bumi.

Jeremy mendongak, lalu mengumpat pelan. "Sial, ramalan cuaca bilang cerah hari ini! Ayo, Shei, lari ke gubuk itu!" Jeremy menarik pergelangan tangan Sheila, membawa gadis itu berlari menuju sebuah bedeng kayu darurat yang biasanya dipakai tukang bangunan untuk istirahat.

Begitu sampai di bawah atap seng yang berbunyi nyaring terkena air hujan, keduanya terengah-engah. Baju kemeja Jeremy basah kuyup di bagian bahu, sementara rambut Sheila sedikit lepek.

"Aduh, basah semua kan..." gumam Sheila sambil mengibas-ngibaskan ujung kemejanya.

Jeremy melepas kacamata hitamnya, lalu menyisir rambutnya yang basah ke belakang dengan jari. "Ya ampun, Shei. Kamu kalau panik lucu juga ya? Mukanya jadi kayak kelinci takut air."

Sheila melirik tajam, tapi tetap dengan nada kalemnya. "Lucu dari mananya sih, Pak? Ini gara-gara Bapak ajak ke sini tahu. Kalau di kantor kan aman, ada AC, nggak ada lumpur."

"Ya elah, panggil Jeremy aja sih kalau lagi berdua gini. 'Pak Pak' melulu, berasa aku ini bapak kamu apa?" Jeremy duduk di bangku kayu panjang yang agak berdebu, lalu menepuk ruang kosong di sampingnya. "Sini duduk. Jangan berdiri terus, nanti kakimu gempor."

Sheila ragu sejenak, tapi karena hujan di luar makin menggila, ia akhirnya duduk juga, meski tetap memberi jarak sekitar satu meter.

"Tuh kan, jauh-jauh banget duduknya. Takut aku gigit?" goda Jeremy sambil nyengir tengil.

"Bukan takut digigit, takut ketularan tengilnya," balas Sheila pelan.

Jeremy tertawa lepas. "Wah, makin berani ya sekarang. Dulu pas kuliah ditanya 'udah makan belum' aja kamu langsung lari ke perpustakaan. Sekarang udah bisa balikin omonganku."

"Ya kan aku sudah dua puluh lima tahun, Jer. Masa mau kabur terus," jawab Sheila tanpa sadar memanggil nama Jeremy langsung.

Jeremy tertegun sebentar, lalu tersenyum lebih lembut. "Nah, gitu dong. Enak kan manggil nama? Biar berasa akrab lagi."

"Kita nggak akrab ya," ralat Sheila cepat.

"Ah, masa? Terus kenapa tadi pas aku tangkap pas mau jatuh, kamu nggak langsung nampar aku? Malah bengong lihatin muka gantengku?"

Sheila memutar bola matanya. "Itu namanya refleks kaget, bukan terpesona! PD banget sih jadi orang."

"Harus PD, Shei. Kalau aku nggak PD, mana mungkin aku bisa jadi CEO di usia muda gini? Dan mana mungkin aku berani ngejar kamu lagi setelah kamu 'ghosting' aku pas wisuda?" Jeremy menatap air hujan yang jatuh dari atap seng. "Jujur ya, pas tahu kamu lamar di perusahaanku, aku ngerasa ini tuh kayak... takdir."

Sheila menghela napas, menatap sepatunya yang penuh lumpur. "Takdir atau akal-akalan Nilam? Aku tahu ya, kalian pasti sekongkol."

"Dikit sih," Jeremy terkekeh sambil membentuk gestur kecil dengan jarinya. "Tapi intinya, aku senang kamu di sini. Walaupun sekarang kamu lagi sama si... siapa tadi? Malik?"

"Iya, Malik. Dan dia baik banget, Jer. Nggak kayak kamu yang hobi ngerjain orang."

"Baik doang mah membosankan, Shei," Jeremy mencondongkan tubuhnya ke arah Sheila, membuat Sheila sedikit mundur. "Hidup itu butuh tantangan. Butuh orang yang bisa bikin jantung kamu deg-degan tiap hari. Emang si Malik itu bisa bikin kamu emosi sampai pengen nonjok kayak sekarang?"

"Nggak perlu bikin emosi buat dicintai, Jeremy Nasution," balas Sheila telak.

Jeremy diam sebentar, lalu bersandar lagi ke dinding bedeng. "Oke, satu sama. Kamu menang kali ini."

Keheningan yang cukup nyaman menyelimuti mereka selama beberapa menit, hanya ada suara hujan yang menghantam atap seng. Sheila mulai merasa dingin karena bajunya yang lembap. Ia sedikit menggigil.

Tanpa bicara, Jeremy melepas kemeja flanelnya, menyisakan kaus dalam putih yang membentuk lekuk tubuh atletisnya. Ia menyampirkan kemeja hangat itu ke bahu Sheila.

"Eh, nggak usah Pak... eh, Jer," tolak Sheila.

"Pakai aja. Jangan protes. Kalau kamu sakit, nanti aku yang repot harus cari asisten baru lagi," ucap Jeremy dengan nada bossy-nya yang khas, tapi tangannya dengan lembut merapatkan kemeja itu di tubuh Sheila. "Baunya enak kan? Bau orang sukses."

Sheila yang tadinya mau berterima kasih, langsung mendengus. "Bau parfum mahal yang mau pamer, maksudnya?"

"Terserah kamu deh. Yang penting kamu nggak masuk angin," Jeremy kembali bersiul pelan, lagu yang sama dengan di lift tadi, tapi kali ini nadanya lebih tenang dan nggak seberisik sebelumnya.

Sheila diam-diam menghirup aroma kemeja itu. Memang wangi, wangi yang sangat familiar dari masa kuliahnya dulu. Di balik sifat menyebalkannya, ia tahu Jeremy punya sisi perhatian yang nggak pernah ia tunjukkan ke orang lain.

"Jer?" panggil Sheila pelan.

"Hmm?"

"Makasih ya. Tapi besok-besok jangan bohong lagi soal 'semua karyawan baru' ikut survei. Aku nggak suka dibohongi."

Jeremy berhenti bersiul. Ia menatap Sheila dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kalau aku jujur bilang cuma mau berduaan sama kamu, kamu pasti bakal nolak mentah-mentah, kan?"

Sheila terdiam. Jawabannya adalah iya.

"Tuh kan, diem. Makanya, aku pakai cara 'CEO'," Jeremy mengedipkan sebelah matanya. "Dunia bisnis itu keras, Shei. Kadang kita harus pakai trik buat dapetin apa yang kita mau. Termasuk dapetin perhatian kamu."

Hujan mulai mereda menjadi rintik-rintik tipis. Bau tanah basah yang segar menyeruak masuk ke dalam bedeng.

"Udah reda tuh. Ayo balik ke mobil," ajak Jeremy sambil berdiri.

"Kemeja kamu gimana?"

"Pakai aja terus sampai masuk mobil. Nanti balikin pas udah di kantor. Oh, atau mau dibawa pulang juga boleh, biar kamu bisa kangen aku terus pas lagi sama Malik."

Sheila berdiri, memberikan tatapan "ingin-menendang-tulang-kering-bos" andalannya. "Nggak makasih! Aku balikin di mobil nanti!"

***

Mobil SUV hitam milik Jeremy berhenti dengan mulus tepat di depan lobi utama gedung kantor. Belum sempat mesin mobil mati sempurna, Sheila sudah membuka pintu. Ia ingin segera keluar dari "zona merah" yang penuh dengan aroma parfum Jeremy dan godaan-godaan tengilnya selama di perjalanan balik dari Sentul tadi.

Begitu kakinya menapak di lantai lobi yang bersih, mata Sheila langsung menangkap sosok yang sangat ia kenali. Malik berdiri di dekat pilar besar, masih mengenakan jaket bomber andalannya, tampak gelisah sambil sesekali melihat jam tangan di ponselnya.

"Malik!" seru Sheila, langkahnya yang tadi kaku langsung berubah ringan.

Malik menoleh, wajahnya yang semula tegang seketika cerah. Ia berjalan menghampiri Sheila.

"Loh, kamu kok sudah di sini? Nggak ngabarin aku dulu? Lama ya nunggunya?" tanya Sheila bertubi-tubi. Nada suaranya kembali ke mode asli: lembut, kalem, dan penuh perhatian.

Malik tersenyum, meski matanya sempat melirik ke arah mobil SUV mewah yang baru saja mengantar kekasihnya. "Enggak kok, baru sekitar lima belas menit. Tadi kebetulan kerjaanku beres cepat, jadi kepikiran mau mampir. Takutnya kamu capek pulang lapangan, jadi aku jemput lebih awal."

"Makasih ya, kamu baik banget," ucap Sheila tulus. Ia merasa bersalah karena tadi sempat "nyaman" sebentar mengobrol dengan Jeremy di dalam bedeng saat hujan.

Namun, momen manis itu tidak bertahan lama. Pintu pengemudi SUV terbuka, dan Jeremy keluar dengan gaya yang—tentu saja—sangat mencolok. Ia sengaja tidak langsung masuk ke kantor, melainkan berjalan memutar, menghampiri Sheila dan Malik dengan tangan masuk ke saku celana.

"Wah, si 'Jangkar Ketulusan' sudah standby ternyata," sapa Jeremy dengan nada santai yang memicu emosi.

Malik mengangguk sopan, meski rahangnya tampak sedikit mengeras. "Sore, Pak Jeremy."

"Sore, Malik. Gimana? Motor aman? Nggak mogok kan kena hujan tadi?" tanya Jeremy sambil menepuk bahu Malik dengan gaya sok akrab, padahal mereka tidak seakrab itu.

"Aman, Pak. Motor saya tangguh, kok," jawab Malik pendek namun tegas.

Sheila yang merasa suasana mulai memanas, segera menengahi. "Jer, ini kemeja kamu. Makasih ya tadi sudah dipinjamkan pas hujan." Sheila melepas kemeja flanel kotak-kotak milik Jeremy yang sedari tadi tersampir di bahunya, lalu menyodorkannya pada sang CEO.

Mata Malik tertuju pada kemeja itu. Ada kilat kecemburuan yang melintas cepat di matanya. Pria mana yang tidak gerah melihat pacarnya memakai baju pria lain, apalagi pria itu adalah bos yang punya reputasi "pengejar handal" di masa lalu?

Jeremy menerima kemeja itu dengan senyum miring. "Simpan saja dulu buat kamu kalau mau, Shei. Baunya masih nempel kan? Biar kamu nggak lupa jadwal survei kita minggu depan."

"Minggu depan nggak ada survei, Jeremy!" protes Sheila cepat, wajahnya memerah karena malu di depan Malik.

"Oh ya? Masa? Nanti aku cek lagi jadwal di kepalaku," goda Jeremy. Ia lalu menoleh ke arah Malik. "Malik, bawa Sheila pulang ya. Hati-hati di jalan. Sheila ini aset berharga perusahaanku, jangan sampai lecet. Kalau motor kamu capek, bilang ya, nanti aku kirim sopir buat antar kalian."

"Nggak usah, Pak. Saya masih sanggup antar pacar saya sendiri," balas Malik dengan suara yang sangat tenang namun penuh penekanan.

Jeremy tertawa kecil, seolah-olah jawaban Malik adalah sebuah lelucon baginya. "Oke, oke. Gentleman sekali. Ya sudah, aku masuk dulu. Masih banyak dokumen yang harus aku tanda tangani. Bye, Sheila. Jangan lupa besok masuk pagi, ada 'tugas khusus' buat kamu."

Jeremy mengedipkan sebelah matanya sebelum berbalik dan berjalan masuk ke lobi dengan langkah penuh kemenangan.

Sheila menghela napas panjang, lalu menatap Malik yang masih menatap punggung Jeremy dengan tatapan tajam. "Malik, jangan didengarkan ya. Dia memang orangnya suka bercanda yang nggak lucu."

Malik mengalihkan pandangannya ke arah Sheila, senyum teduhnya kembali, meski kali ini terlihat sedikit dipaksakan. "Iya, aku tahu. Tapi dia memang perhatian banget ya sama kamu sampai pinjamkan kemeja segala?"

"Tadi hujan deras banget di lapangan, Malik. Bajuku agak basah, terus dia maksa suruh pakai kemejanya supaya nggak masuk angin. Aku tadinya mau nolak, tapi dia bossy banget," jelas Sheila sejujur-jujurnya.

Malik mengelus rambut Sheila pelan. "Iya, aku percaya sama kamu. Ya sudah, yuk pulang. Aku sudah lapar, mau makan bakso di depan komplek nggak?"

"Mau banget!" jawab Sheila antusias, mencoba mengalihkan suasana agar tidak canggung lagi.

Mereka pun berjalan menuju tempat parkir motor. Di atas motor matic hitam itu, Sheila memeluk pinggang Malik erat-erat, seolah ingin menegaskan bahwa hatinya hanya milik pria ini.

Namun, di lantai 25, dari balik jendela kaca besar ruang kerjanya, Jeremy berdiri menatap ke bawah. Ia melihat motor Malik yang perlahan meninggalkan area kantor. Ia menyesap kopinya yang sudah dingin, lalu bergumam pelan.

"Sederhana memang manis, Sheila. Tapi kemewahan yang aku tawarkan suatu saat nanti bakal bikin kamu mikir dua kali."

Jeremy kemudian mengambil ponselnya, membuka folder tersembunyi yang berisi foto-foto Sheila zaman kuliah yang diam-diam ia simpan. "Pertunjukan baru dimulai, Sayang."

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!