Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Antidot Hidup
Di dalam ruang isolasi mansion Feng, suasana yang tadinya mencekam mendadak berubah menjadi aneh. Monitor medis yang tadinya berbunyi nyaring tanda bahaya, tiba-tiba berdenting pelan. Dr. Kanaya terbelalak menatap layar tabletnya. Grafik biokimia Lin Diya yang tadinya berwarna merah pekat—tanda infeksi serum "Legacy"—perlahan berubah menjadi warna emas yang berkilau di layar digital.
"Tidak mungkin..." bisik Kanaya, jemarinya gemetar saat memeriksa ulang data DNA Diya.
Rendy, yang memantau dari markas, langsung berteriak lewat intercom. "Dokter! Apa yang terjadi? Kenapa sinyal vital Diya tiba-tiba melonjak? Apa virusnya sudah menang?!"
"Bukan, Rendy! Justru sebaliknya!" Kanaya berteriak saking tidak percayanya. "Sel darah Diya... mereka tidak mati. Mereka justru bermutasi. Tubuh Diya mengenali virus itu sebagai nutrisi, bukan ancaman. Hipnotis Ouroboros yang dulu pernah ia terima ternyata meninggalkan 'pintu belakang' di sistem sarafnya yang kini justru mengubah serum racun itu menjadi Antidot. Diya tidak butuh penawar, Rendy... Diya ADALAH penawarnya!"
Di saat yang sama, di dalam tidurnya yang tidak sadar, Lin Diya merasakan panas yang luar biasa mengalir di nadinya. Namun, itu bukan panas yang menyakitkan. Itu adalah kekuatan. Bayangan-bayangan hitam yang mencoba mengendalikan pikirannya lewat hipnotis dulu perlahan terbakar habis oleh cahaya emas di dalam batinnya.
Perlahan, mata Diya terbuka. Namun, warna matanya bukan lagi cokelat biasa; ada kilatan emas tipis di sekitar pupilnya yang menandakan bahwa serum itu telah menyatu sempurna dan menjadi bagian dari dirinya.
Di sisi lain, Feng Yan yang baru saja sampai di depan gudang tua Distrik Utara menghentikan langkahnya. Ia merasakan getaran aneh dari perangkat pelacak di tangannya. Sinyal denyut nadi Diya yang tadinya lemah, kini berdenyut dengan frekuensi yang sangat kuat dan stabil.
"Tuan Feng, ada apa?" tanya Chen Lian, belatinya sudah terhunus.
Feng Yan menatap layar pelacak itu dengan senyum miring yang penuh kemenangan. "Sepertinya 'Mutiara'-ku baru saja menelan naga yang dikirim oleh Liu Ruyan."
Tiba-tiba, suara Liu Ruyan terdengar lewat pengeras suara di luar gudang, terdengar panik dan histeris. "Apa yang kalian lakukan?! Kenapa server kendaliku tidak bisa terhubung dengan serum di tubuhnya?! Seharusnya dia sudah menjadi bonekaku sekarang!"
Feng Yan melangkah maju, menendang pintu gudang baja itu hingga hancur berkeping-keping. Di tengah kepulan debu, ia berdiri seperti dewa kematian.
"Kau salah perhitungan, Liu Ruyan," suara Feng Yan menggelegar, meruntuhkan nyali siapa pun yang mendengar. "Kau memberikan racun pada wanita yang dikira lemah olehmu. Kau memberikannya virus, dan dia mengubahnya menjadi kekuatan untuk menghancurkanmu."
Di mansion, Diya bangkit dari tempat tidur medisnya. Ia melepas kabel-kabel infus dengan tangan kosong tanpa rasa sakit sedikit pun. Kanaya mencoba menahannya, namun ia terpaku melihat aura yang terpancar dari tubuh Diya.
"Nona Diya... Anda harus istirahat," cegah Kanaya.
Diya menatap Kanaya dengan tatapan tenang namun sangat tajam. "Dokter, sampaikan pada Rendy. Aku sudah melihat semua kode Liu Ruyan di dalam darahku. Aku tahu di mana dia bersembunyi, dan aku tahu cara mematikan semua sistem Ouroboros dari sini."
Diya berjalan menuju komputer cadangan milik Rendy di ruangan itu. Jarinya bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal—jauh lebih cepat dari sebelumnya. Serum itu telah meningkatkan kemampuan otaknya berkali-kali lipat.
"Liu Ruyan," bisik Diya dingin sambil menekan tombol Enter. "Permainan ini berakhir sekarang. Karena aku yang asli sudah kembali ke kursinya."
BOOM!
Seluruh sistem di gudang Liu Ruyan meledak seketika akibat serangan balik siber dari Diya. Lampu mati, dan di tengah kegelapan, Feng Yan sudah berdiri di depan Liu Ruyan yang terduduk lemas.
"Sekarang," ucap Feng Yan sambil mencengkeram leher Liu Ruyan. "Mari kita bicarakan soal harga yang harus kau bayar karena mencoba 'memperbaiki' mahakaryaku."