Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.
Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.
Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.
Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUNTUHNYA TOPENG SERIGALA.
Suasana aula yang awalnya dipenuhi decak kagum mendadak berubah menjadi tegang saat Ghifari memberikan instruksi terakhir melalui jam tangan pintarnya. Layar raksasa di belakang panggung yang tadinya menampilkan foto-foto kebersamaan Fardan dan Alisha di London tiba-tiba berkedip. Dalam hitungan detik, gambar berubah menjadi rekaman video dengan kualitas tinggi.
Seluruh tamu undangan, termasuk para wartawan, terdiam mematung. Di layar itu, terlihat Ratna, Maya, Sunarto, dan Winarti sedang duduk di sebuah ruangan sempit. Mereka tampak sedang membagi-bagikan tugas untuk mengacaukan pesta malam ini.
"Ingat, Sunarto, kau harus berteriak paling keras. Sebut Fardan anak durhaka agar para wartawan itu menulis berita buruk tentangnya. Jika kita berhasil kembali ke mansion, aku akan memberimu lima ratus juta sebagai imbalan awal," suara Ratna terdengar sangat jelas melalui pelantang suara ruangan.
Sunarto terlihat tertawa di dalam video tersebut. "Tenang saja, Ratna. Aku dan Winarti sudah ahli dalam berakting sedih. Kita buat publik membenci istrinya yang sok suci itu juga."
Wajah Ratna dan Maya seketika pucat pasi. Tubuh mereka gemetar hebat melihat rahasia mereka dikuliti habis-hadapan ratusan orang terpandang. Fardan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang sejak tadi ditahannya kini meledak.
"Jadi ini yang kalian sebut penyesalan?" tanya Fardan dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan.
Sunarto, yang tadi sempat berteriak lantang, kini mencoba membela diri. "Itu video editan! Fardan, jangan percaya! Kau benar-benar anak durhaka karena berani memfitnah keluargamu sendiri!"
Winarti ikut menimpali dengan suara melengking. "Benar! Kami ini saksi hidup bagaimana kau dibesarkan dengan penuh kasih sayang! Teganya kau memperlakukan ibumu seperti ini di depan umum!"
Fardan melangkah maju, sorot matanya tajam mengunci pergerakan mereka. "Cukup! Aku sudah muak dengan sandiwara kalian. Mulai detik ini, aku tidak lagi memiliki hubungan apa pun dengan kalian semua. Kalian bukan lagi keluargaku!"
Ratna langsung bersimpuh di kaki Fardan, air matanya kini benar-benar tumpah karena ketakutan. "Fardan, maafkan Mama! Itu hanya candaan, kami tidak bermaksud jahat. Jangan putus hubungan dengan Mama, Nak!"
"Ancaman ini tidak main-main," tegas Fardan sambil menunjuk pintu keluar. "Kalian punya dua pilihan. Kembali ke pesantren detik ini juga dan jalani sisa hidup kalian dengan bertaubat, atau aku akan membiarkan kalian menjadi pengemis jalanan tanpa sepeser pun uang dariku. Pilih menjadi pengemis atau kembali ke pondok?"
Maya yang menyadari bahwa Fardan tidak sedang menggertak, langsung menarik lengan ibunya. "Ibu, ayo kita kembali saja! Aku tidak mau jadi pengemis! Aku tidak mau tidur di kolong jembatan!"
Fardan memberikan kode pada Dewa yang sudah berdiri siap dengan beberapa lembar dokumen di tangannya. "Dewa, bawa mereka ke ruang samping. Paksa mereka menandatangani surat perjanjian. Jika mereka melanggar aturan pesantren atau mencoba menghubungi media lagi, mereka akan langsung masuk penjara atas tuduhan pemerasan dan pencemaran nama baik."
Dewa mengangguk tegas. "Mari ikut saya, Nyonya Ratna, Nyonya Maya. Dan untuk Anda berdua, Sunarto dan Winarti, jangan harap bisa lolos. Tim hukum kami sudah menyiapkan tuntutan untuk kalian."
Maya dan Ratna diseret keluar dari aula dengan wajah tertunduk malu, sementara Sunarto dan Winarti hanya bisa bungkam saat petugas keamanan membawa mereka pergi. Para tamu undangan kembali bertepuk tangan, bukan karena drama yang terjadi, melainkan karena ketegasan Fardan dalam melindungi keluarganya.
Pesta pun dilanjutkan hingga jam yang telah ditentukan. Alisha tampak lebih tenang meski matanya sedikit berkaca-kaca melihat kehancuran keluarga suaminya. Namun, ia tahu ini adalah satu-satunya cara agar mereka bisa hidup damai. Setelah acara selesai, mereka pun pulang menuju mansion.
Sesampainya di rumah, suasana berubah menjadi hangat. Fardan menggendong Ghifari yang sudah mulai mengantuk menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuh mungil itu di atas ranjang yang empuk. Fardan duduk di tepi tempat tidur, menatap putranya dengan bangga sekaligus haru.
"Terima kasih, Jagoan. Kau sudah menyelamatkan Ayah dan Bunda malam ini," bisik Fardan sambil mengelus dahi putranya.
Ghifari membuka matanya sedikit, tangannya masih memegang tablet tipisnya. "Aku hanya menjalankan protokol keamanan, Ayah. Mereka terlalu berisik."
Fardan tersenyum kecil, lalu perlahan mengambil tablet dari tangan Ghifari. "Sudah cukup untuk hari ini. Bisakah kau berjanji pada Ayah satu hal?"
"Apa itu, Ayah?" tanya Ghifari dengan suara serak.
"Jangan terus-menerus bermain dengan sistem dan kode. Mulai besok, jadilah anak kecil yang normal. Bermainlah dengan teman-temanmu di sekolah, mainkan mobil-mobilan, atau lari-larian di taman," ucap Fardan lembut.
Ghifari menatap ayahnya dengan dahi berkerut. "Tapi itu membosankan, Ayah. Level kecerdasanku tidak cocok untuk mengejar kupu-kupu."
Fardan tertawa pelan, lalu mengecup kening anaknya. "Mungkin memang membosankan bagimu sekarang, tapi percayalah, ini adalah masa kecilmu. Belum saatnya kau memikul beban dunia di pundak kecilmu. Bersikap dewasa itu melelahkan, Ghifari. Sesekali menjadi anak kecil yang polos tidak akan merugikanmu. Itu akan jadi kenangan yang indah saat kau besar nanti."
Ghifari terdiam sejenak, memikirkan kata-kata ayahnya. "Baiklah, besok aku akan mencoba mengejar kupu-kupu itu. Tapi kalau mereka terlalu lambat, aku akan memasang pelacak pada mereka."
Fardan menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya yang tetap saja jenius. "Terserah kau saja, Nak. Yang penting kau bahagia."
Alisha masuk ke dalam kamar dan berdiri di samping Fardan. Ia menyelimuti Ghifari dengan penuh kasih sayang. "Tidurlah, Nak. Bunda dan Ayah akan selalu menjagamu."
"Bunda, apakah Ayah akan benar-benar memberiku adik agar aku punya teman bermain yang bisa diajak meretas?" tanya Ghifari tiba-tiba sebelum matanya benar-benar terpejam.
Wajah Alisha seketika memerah, sementara Fardan tertawa terbahak-bahak. "Tentu saja, tapi itu urusan Ayah dan Bunda. Tugasmu sekarang hanya tidur nyenyak."
Setelah Ghifari tertidur lelap, Fardan merangkul pundak Alisha dan membawa istrinya keluar dari kamar menuju balkon rumah. Udara malam Jakarta terasa sejuk. Fardan merasa bebannya selama enam tahun ini benar-benar telah terangkat.
"Terima kasih sudah kembali padaku, Alisha. Aku berjanji akan menjadi imam yang baik untukmu dan Ghifari," ujar Fardan dengan tulus.
Alisha menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Fardan. "Aku percaya padamu. Mari kita bangun masa depan yang baru, tanpa ada lagi rahasia dan kebencian."
Mereka berdiri di sana, menatap bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Di kejauhan, lampu-lampu kota tampak berkelap-kelip, seolah ikut merayakan kembalinya keutuhan keluarga Raffansyah. Namun, jauh di lubuk hati Fardan, ia tahu bahwa tantangan dalam mendidik putra sejenius Ghifari baru saja dimulai. Tapi baginya, selama Alisha ada di sampingnya, semua rintangan akan terasa ringan untuk dilewati.
Kisah yang penuh luka dan pengkhianatan itu kini telah berganti dengan babak baru yang penuh harapan. Dan bagi Ghifari, esok hari mungkin adalah hari pertamanya belajar menjadi anak kecil yang sesungguhnya, meski dengan otak seorang profesor di dalam tubuh mungilnya.
ga adab thor,alisha udah solehah harus manggil suami dgn panggilan yg beradab