"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. Ruang Sempit Yang Menyesakkan
Alea membanting pintu kamarnya dan langsung menguncinya dua kali. Napasnya masih menderu, dan sudut bibirnya—tempat Bima baru saja mendaratkan kecupan lancang itu—terasa berdenyut panas.
Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan berkali-kali, berusaha menghapus jejak pria itu, namun sensasi "setruman" yang ditinggalkan Bima justru semakin terasa nyata.
"Dia gila. Dia benar-benar sudah gila," racau Alea pada dirinya sendiri.
Ia melempar tubuhnya ke atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk.
Bagaimana mungkin pria yang dulu ia tangisi kepergiannya kini berubah menjadi sosok yang begitu intimidatif? Dan yang lebih buruk, ayahnya sama sekali tidak melihat sisi gelap itu.
Bagi Baskara, Bima tetaplah sahabat kecilnya yang bisa dipercaya.Kesunyian di kamarnya terpecah oleh ketukan pintu yang tegas. Alea tersentak hingga terduduk.
"Alea?" Itu suara ayahnya.Alea mengatur napasnya sejenak.
"Ya, Dad?"
"Buka pintunya, Sayang. Ada yang mau Daddy bicarakan."Alea berjalan ragu, merapikan hoodie-nya yang sedikit berantakan sebelum memutar kunci.
Saat pintu terbuka, ayahnya berdiri di sana dengan senyum lebar, dan di belakangnya—berdiri bersandar pada dinding lorong dengan tangan masuk ke saku celana—adalah Bima.
Pria itu menatap Alea dengan tatapan datar, seolah teriakan histeris Alea di ruang makan tadi tidak pernah terjadi.
"Ada apa, Dad?" Alea berusaha tidak menatap Bima.
"Daddy baru saja mendapat telepon darurat dari kantor cabang di Surabaya. Daddy harus berangkat sekarang juga," ujar Baskara sembari melirik jam tangannya.
Jantung Alea mencelos.
"Sekarang? Tapi hari ini aku harus ke kampus untuk mengurus administrasi terakhir, Dad. Daddy bilang mau mengantarku."
"Itu masalahnya. Daddy tidak bisa. Tapi tenang saja," Baskara menepuk bahu Bima yang berada di belakangnya.
"Bima sudah menawarkan diri untuk mengantarmu. Dia juga ada urusan di daerah sana, jadi sekalian."Alea membelalakkan mata.
"Tidak! Maksudku... aku bisa naik taksi online, Dad. Tidak perlu merepotkan Uncle."
"Tidak repot sama sekali, Alea," sahut Bima.
Suaranya terdengar sangat sopan di depan Baskara, namun matanya berkilat penuh kemenangan saat menatap Alea.
"Aku justru senang bisa membantu. Lagi pula, Daddy-mu akan lebih tenang jika aku yang memastikanmu sampai dengan aman."
"Betul itu. Kota ini sedang tidak aman bagi gadis secantik putri Daddy," tambah Baskara, mengecup kening Alea tanpa menyadari protes tertahan di mata putrinya.
"Daddy berangkat ya. Bima, kutitipkan dia padamu."
"Percayalah padaku, Baskara. Dia berada di tangan yang tepat," jawab Bima dengan nada yang membuat bulu kuduk Alea meremang.
Begitu ayahnya menghilang di balik tangga, suasana di lorong itu langsung berubah. Oksigen seolah tersedot habis.
Bima menegakkan tubuhnya, melangkah satu langkah mendekati Alea hingga gadis itu terpaksa mundur dan punggungnya membentur kusen pintu.Bima menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Alea.
"Siap-siap, little bird. Sepuluh menit. Jika kau tidak turun, aku yang akan masuk ke kamar ini dan membawamu keluar."
Alea tidak punya pilihan.
Alea menarik napas dalam, berusaha meredam gemuruh di dadanya saat menuruni tangga.
Ia sudah berganti pakaian—hoodie abu-abu yang sangat longgar dan celana kain panjang—berharap bentuk tubuhnya tersembunyi sempurna.
Namun, bayangan kecupan singkat di sudut bibirnya tadi masih terasa seperti luka bakar yang tak kunjung padam.
Di depan rumah, SUV hitam milik Bima sudah terparkir dengan mesin yang menderu halus. Pria itu berdiri bersandar di pintu kemudi, kacamata hitam bertengger di hidungnya, tampak sangat tenang seolah tidak baru saja melakukan pelecehan kecil di ruang makan.
Alea melangkah cepat melewati Bima tanpa menoleh. Ia langsung meraih gagang pintu penumpang belakang. Ia tidak sudi duduk bersisian dengan pria itu dalam ruang sekecil kabin mobil.
Klik.
Pintu terbuka, namun mata Alea membelalak. Kursi belakang itu penuh sesak. Berbagai kotak kardus kosong, tumpukan buku tebal, hingga tas golf diletakkan secara acak di sana hingga tak ada ruang sedikit pun untuk kaki manusia.
"Barang-barangku belum sempat kupindahkan ke gudang," suara Bima terdengar dari belakangnya, sangat dekat hingga Alea bisa merasakan hawa panas tubuh pria itu.
"Duduk di depan, Alea. Aku bukan supirmu."
Alea berbalik dengan geram.
"Kau sengaja, kan?"
Bima hanya mengangkat bahu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang menyebalkan.
Ia membukakan pintu depan untuk Alea, sebuah gestur yang tampak sopan namun terasa seperti perintah.
Dengan perasaan dongkol yang meluap, Alea terpaksa masuk dan duduk di kursi depan.
Begitu pintu tertutup, Alea segera meraih sabuk pengaman, ingin segera membatasi ruang geraknya.
Namun, mekanisme sabuk itu mendadak macet. Ia menariknya dengan kasar, namun tetap tak mau bergerak.
"Sini, biar kubantu," ucap Bima.
Sebelum Alea sempat menolak, Bima sudah condong ke arahnya. Tubuh besar pria itu mengurung Alea sepenuhnya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
Alea bisa melihat dengan jelas setiap pori kulit Bima, aroma tembakau dan kayu cendana yang memabukkan kini membungkusnya tanpa ampun.
Jantung Alea berpacu gila-gilaan,
dentumannya seolah bisa terdengar oleh pria di hadapannya.
Bima bergerak sangat lambat, tangannya sengaja menyentuh pinggang Alea saat menarik sabuk pengaman itu, membiarkan jemarinya berlama-lama di sana.
Klik.
Sabuk terpasang, namun Bima tidak langsung menjauh. Matanya yang gelap menatap lekat bibir Alea yang sedikit terbuka.
Tiba-tiba, Bima memiringkan kepalanya. Alea mengira pria itu akan menciumnya lagi, namun Bima justru mendekatkan bibirnya ke telinga Alea.
Lalu, Alea merasakan sesuatu yang basah dan panas. Bima sengaja menjilat cuping telinganya, sebuah sentuhan yang begitu intim dan mengejutkan hingga seluruh tubuh Alea meremang hebat.
Sebuah desiran aneh menjalar dari telinga hingga ke ujung kakinya.
"Sangat manis... little bird," bisik Bima dengan suara parau yang menggetarkan saraf Alea.
"Akh!" Alea tersentak dan mendorong dada bidang Bima sekuat tenaga. Wajahnya merah padam, perpaduan antara malu yang luar biasa dan amarah yang meledak.
"Jangan macam-macam, Uncle! Kau pikir kau siapa?!"
Bima kembali ke posisi duduknya dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia mulai menjalankan mobil dengan tenang.
"Jangan pernah sentuh aku lagi," desis Alea, suaranya bergetar karena emosi yang meluap.
"Aku bisa saja melaporkan pelecehan ini ke Daddy. Aku akan ceritakan betapa kurang ajarnya sahabatnya ini!"
Bima tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia justru terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan. Ia melirik Alea dari balik kacamata hitamnya dengan seringai tajam.
"Silakan saja jika kau ingin mencoba, Alea," sahut Bima dengan nada santai namun penuh tekanan.
"Silakan lapor pada Baskara. Katakan padanya pamanmu yang sudah dia percayai selama sepuluh tahun ini menciummu. Menurutmu, siapa yang akan dia percayai? Putrinya yang sedang puber dan penuh imajinasi, atau sahabat terbaiknya yang baru saja kembali untuk membantunya?"
"Kau... kau monster!" Alea mengepalkan tangannya di atas pangkuan.
"Aku bukan monster, Sayang. Aku hanya pria yang tahu apa yang kuinginkan," jawab Bima tenang sembari memutar kemudi.
"Dan sekarang, aku ingin kau duduk manis sampai kita sampai di kampus. Mengerti?"
Alea memalingkan wajah ke jendela, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Bima telah merencanakan segalanya dengan sangat rapi.
Ia terjebak dalam permainan pria ini, dan ayahnya—satu-satunya pelindungnya—justru yang membukakan pintu sangkar itu untuk sang serigala.