NovelToon NovelToon
SISTEM KEADILAN ABSOLUT

SISTEM KEADILAN ABSOLUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Reinkarnasi / Mafia
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Seorang pria mati dengan penyesalan karena gagal menegakkan kebenaran.
Ia terlahir kembali sebagai pengacara magang yang diremehkan...dan mendapatkan Sistem Keadilan Absolut kemampuan untuk melihat kebohongan, mengungkap fakta tersembunyi, dan menentukan putusan paling adil.
Dari kasus kecil hingga konspirasi besar, ia mulai mengguncang dunia hukum yang korup.
Namun satu hal segera ia sadari...
Keadilan sejati tidak selalu sama dengan hukum.
Dan kali ini...dia yang akan menentukan mana yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Sidang pengadilan kembali dibuka di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, suasana ruangan terasa tegang namun penuh perhatian. Semua mata tertuju ke meja hakim, di mana Hakim Ketua Santoso kini berdiri tegak, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.

“Setelah melalui proses verifikasi mendalam, Pengadilan menemukan fakta bahwa Pengacara Rina Wijaya telah dengan sengaja melanggar aturan hukum. Ia terbukti menyuap pihak lain, memalsukan alat bukti, bahkan berulang kali melakukan pemalsuan berkas selama menjalankan profesinya. Sidang hari ini akan dilanjutkan dengan pertimbangan baru,” ucap Hakim Santoso dengan nada tegas.

Berita itu seketika memicu kehebohan luar biasa di dunia maya. Siaran langsung sidang ini dibanjiri ribuan komentar dalam hitungan detik.

[Wah, gila sih! Keren banget! Pengacara Arga beneran bakal bikin pengacara lawan masuk penjara ya?!]

[Kok bisa sampai sejauh ini ya? Dikit lagi kayaknya Rina Wijaya kena deh!]

[Hahaha, Pengacara Arga emang beda level! Keren banget sih!]

[Puas banget lihatnya! Ternyata Arga nggak cuma ngomong doang ya? Tuntutan utamanya emang beneran mau bawa mereka ke penjara. Nanti apa dia juga bakal usut Hakim Ketua sebelumnya, Yuliana?]

[Ngomong-ngomong soal hakim, itu sih kayaknya susah ya? Tapi kalau Arga bisa bikin Laras sama Tania kena hukuman, aku udah lega banget!]

[Setuju banget! Masukin aja dua wanita itu ke penjara! Suruh mereka minta maaf dan ganti rugi semua kerugiannya!]

Hakim Santoso kemudian menatap lurus ke arah meja penggugat. “Pengacara Arga, apakah ada hal lain yang ingin disampaikan? Atau ada bukti tambahan yang belum diajukan?”

Arga melirik sekilas ke arah Laras dan Tania yang duduk di sisi tergugat, wajah keduanya masih terlihat angkuh dan tidak peduli. Ia pun berbicara dengan tenang namun tegas.

“Klien saya, Saudara Bimo, sebenarnya memiliki niat baik. Ia tahu bahwa Laras dan Tania masih berstatus mahasiswa. Awalnya, ia bersedia mencabut semua tuntutan, asalkan keduanya mau memberikan ganti rugi kerusakan mental sebesar 20 juta rupiah masing-masing, dan meminta maaf dengan tulus. Kalau itu terpenuhi, ia bersedia mengeluarkan surat pernyataan damai dan tidak akan menuntut tanggung jawab hukum lebih lanjut.”

Sebenarnya, hati Arga sendiri tidak sependapat. Ia sangat ingin sekali melihat keduanya mendapat hukuman setimpal. Namun ia hanya pengacara yang menjalankan kehendak kliennya. Dulu Bimo yang mendatanginya, berkata ia tidak tega kalau dua gadis muda itu harus masuk penjara. Bimo memang orang yang berhati lembut, itulah pandangan Bimo, bukan keinginan Arga sendiri.

Baru saja kalimat Arga selesai diucapkan, Laras langsung menyahut dengan nada tinggi, wajahnya memerah karena marah.

“Enggak mungkin! Aku enggak bakal minta maaf ke cowok menjijikkan kayak dia! Aku enggak salah apa-apa! Aku cuma lihat dari HP dia, ternyata dia diam-diam motret orang lain. Emang diam-diam memotret orang itu bukan salah? Kenapa aku harus minta maaf ke cowok murahan kayak gitu?!”

Padahal kenyataannya, foto yang diambil Bimo hanyalah pemandangan umum di tempat umum, dan kedua wanita itu hanya tidak sengaja masuk ke dalam bingkai foto, sama sekali bukan pemotretan tersembunyi atau tidak senonoh.

Tania pun ikut bersuara, nada bicaranya penuh rasa sombong. “Aku juga enggak bakal minta maaf, siapapun yang bilang, aku enggak peduli. Kalau mereka berani, suruh saja hukum aku! Emangnya aku takut sama Bapak Hakim?!”

Di dalam hati Tania, ia merasa dirinya sama sekali tidak bersalah. Ia cuma menulis beberapa tulisan di media sosial, itu hal biasa. Sekalipun dibawa ke pengadilan, apa yang bisa terjadi? Orang enggak mungkin dipenjara cuma gara-gara nulis tulisan kan?

Dulu pun ia sering menulis hal-hal serupa, tidak pernah ada masalah. Ini bukan pertama kalinya, jadi ia merasa aman-aman saja. Memangnya sekarang nulis pendapat di internet itu dilarang? Ia sama sekali tidak merasa takut, seolah konsekuensi hukum tidak berlaku untuknya.

Melihat sikap mereka yang makin menjadi-jadi, Bimo menggeleng pelan. Ia menoleh ke Arga, berbisik dengan suara dingin dan tegas.

“Pak Arga, lupakan tawaran damai itu. Tolong urus mereka sampai tuntas, jangan kasih ampun lagi. Sekarang aku enggak mau dengar permintaan maaf mereka. Aku cuma mau mereka dihukum dan masuk penjara. Berapapun biaya hukum tambahannya, aku siap bayar. Yang penting mereka dapat balasan yang pantas!”

Di siaran langsung, suasana makin memanas. Komentar berdatangan tiada henti.

[Dua orang ini emang sombong banget ya kayak si Nikmir? Gila sih!]

[Laras sama Tania beneran nggak punya rasa bersalah sama sekali ya? Belum pernah lihat orang seangkuh itu.]

[Nulis berita bohong, nyebar fitnah, tapi merasa paling benar? Harus dihukum berat! Jangan kasih kendor, hukum sekeras-kerasnya mereka berdua!!]

Arga perlahan mengeluarkan sebuah flashdisk dari tasnya, meletakkannya di meja bukti dengan tenang.

“Ini adalah bukti lengkap yang saya kumpulkan. Isinya rekam jejak selama tiga tahun terakhir, membuktikan bahwa Laras dan Tania sudah berulang kali menyebar isu bohong, memfitnah, dan merusak nama baik banyak orang!” suaranya menggelegar.

“Keduanya sering memuat komentar-komentar provokatif di media sosial, yang memicu perselisihan antar-golongan. Kalau sekadar berpendapat, saya tidak akan mengangkat masalah ini ke meja hijau. Tapi ada hal yang jauh lebih serius.”

“Tiga tahun lalu, Laras dan Tania mengarang cerita palsu tentang dua mahasiswa baru laki-laki. Mereka menulis lebih dari sepuluh tulisan yang isinya penuh kebohongan. Tekanan psikologis yang didapat kedua mahasiswa itu begitu berat, sampai akhirnya mereka terpaksa berhenti kuliah. Belakangan baru terbukti, semua itu cuma rekayasa belaka.”

“Setahun lalu, mereka kembali berulah. Di lingkungan kampus, mereka menyebar desas-desus bahwa mahasiswa baru bernama Bagas Adibya diam-diam memotret mereka. Tulisan-tulisan tentang hal itu tersebar luas di kampus, membuat Bagas terus diawasi dan dikucilkan oleh semua orang.”

“Dan saat ada yang berani menuntut tanggung jawab mereka, apa yang mereka lakukan? Mereka mengaku mengalami depresi, bahkan berpura-pura mau bunuh diri dengan melompat dari gedung kampus. Tindakan itu sempat digagalkan, dan yang mengejutkan, kampus malah memberikan perlakuan istimewa jaminan kelanjutan studi hingga jenjang pascasarjana!”

Arga menyerahkan alat bukti itu kepada panitera. Semua kejahatan dan kelakuan buruk mereka selama tiga tahun terakhir, kini terbuka lebar.

Wajah Laras dan Tania seketika berubah pucat. Mereka mundur selangkah, kaget luar biasa. Tidak pernah terbayangkan oleh mereka kalau Arga sampai bisa menemukan semua bukti itu. Bagaimana caranya ia bisa tahu semuanya?

Laras menatap Tania dengan mata yang mulai panik. Tania mengisyaratkan agar tetap tenang. Di dalam hatinya, ia masih merasa aman. Dulu kan kampus sudah menjamin masa depan mereka, mereka bisa lanjut kuliah sampai magister. Lagipula mereka cuma menulis tulisan, tidak ada yang salah kan? Dan kejadian dengan Bagas itu, bukannya dia yang salah duluan?

Arga kembali berbicara, suaranya makin tegas dan berwibawa.

“Sampai detik ini, Laras dan Tania sama sekali tidak menunjukkan penyesalan atau niat meminta maaf. Jika mereka tidak dihukum dengan tegas hari ini, mereka akan terus mengarang cerita buruk, merusak nama baik orang lain, terus membagikan tulisan provokatif, dan mengadu domba masyarakat.”

“Klien saya, Bimo, sudah menderita akibat perbuatan mereka. Tulisan fitnah yang disebarkan Laras dan Tania membuatnya menjadi sasaran perundungan di dunia maya, hingga kondisi kejiwaannya sempat terganggu dan kacau.”

“Kita harus hentikan ini sekarang! Jangan sampai ada korban selanjutnya!”

“Laras dan Tania telah melanggar hak privasi dan hak atas nama baik orang lain, menyebar kebohongan, dan menyebabkan dampak yang sangat serius bagi korban.”

“Oleh karena itu, berdasarkan Pasal 245 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang pencemaran nama baik dan fitnah berlanjut, saya menuntut agar Laras dan Tania dijatuhi hukuman penjara selama tujuh tahun!”

Ucapan Arga disambut tepuk tangan meriah dari penonton sidang, dan di siaran langsung, komentar dukungan membludak.

[Iya bener! Ternyata mereka berdua emang orang jahat banget. Bener-bener menjijikkan.]

[Hukum aja seberat-beratnya! Biar mereka sadar ada konsekuensi buat perbuatan mereka!]

[Wah, dapat jaminan kuliah cuma gara-gara pura-pura mau bunuh diri dan ngefitnah orang? Gila sih itu kampus!]

[Harus diperiksa juga kampusnya dong! Gimana caranya dua orang jahat kayak gitu dapat perlakuan istimewa?]

[Jangan sampai mereka lolos ya! Kalau bebas, takutnya nanti giliran kita yang jadi korban fitnah mereka.]

[Kalau kasus ini enggak dihukum tegas, habis sudah kepercayaan rakyat ke pengadilan!!!]

Namun, belum selesai sampai di situ. Arga kembali berbicara, suaranya meninggi lagi, menarik perhatian seluruh ruangan.

“Selain itu, saya belum selesai menyampaikan tuntutan!”

Ia menatap lurus ke arah hakim dan seluruh ruangan.

“Sekarang, secara resmi saya mengajukan tuduhan pidana terhadap Hakim Ketua yang menangani kasus ini sebelumnya! Yaitu Ibu Yuliana Hasibuan!”

“Ibu Yuliana, saat menjabat sebagai Hakim Ketua, terbukti menerima suap, menyalahgunakan wewenang demi keuntungan pribadi. Dalam sidang terdahulu, ia memutuskan menghukum klien saya, Bimo, bahkan memaksa Bimo membayar biaya ganti rugi kepada pihak lain, padahal itu sama sekali tidak sesuai fakta dan hukum! Kesalahannya sangat besar!”

1
Yuliana Tunru
ayo arga waktu x beraksi hancurkan
ラマSkuy
wah makin penasaran dengan kelanjutannya Thor aku tunggu up berikutnya 👍
ラマSkuy
👍
ayrhte
cepetin dong. lngsng ruang pengadilan, males baca komentar netizennya
semangat author/Determined/
ayrhte
di fitnah² saya diam, di hina² saya diam
tapi kali ini, saya akan lawan💪
ayrhte
kemarin tempo, skrng kompas. saya lapor mas aiman kamu ya thor/Sob/
Iyyan Kasela
bagus
Orimura Ichika
kalau up banyakin Thor 😄
semoga endingnya nggak mengecewakan🤭
ayrhte
watak cwe yg gk pnya logika😁
Yuliana Tunru
sulit tp bkn.mustahil.kan ayo arga 💪💪 smoga hakim ketua orang jujur dan punya empati yg besar
Fajar Fathur rizky
bongkar kebusukan orang itu thor
ラマSkuy
ditunggu upnya Thor aku sangat penasaran dengan kelanjutannya👍
ラマSkuy
sumpah sampai mau nangis saya baca bab ini
ラマSkuy
related sekali sih woman standar toktok 🤣 suka bet bikin drama
ラマSkuy
buset aku baca kalimat "Demi Tuhan" jadi keingat kasus perseteruannya Adi Bing Slamet, Arya Wiguna dan eyang subur ditahun 2013 🤣🤣🤣
Yuliana Tunru
smoga arga berhasil banding jg dapat bukti2 x jgn sampai yunita dan.klga x kelar krn mafia.kampung biadab bgt
Orimura Ichika
KEREN THOR UP YG BANYAK YA AKU KASIH 2 KOPI DULU BIAR SKIN SEMANGAT👍🤩
Yuliana Tunru
ayo sitem. bantu argacari bukti jg sepak terjang surya ..jika hari itu kamera x rusaktpkan kebejatan x sdh lama dan oasti byk bukti2 lainx yg terekam jgn sampe lolos ya jgn lupa kasih huiuman drnda 1 oo milyar buat semua oenderitaan klga yunita 💪💪💪 arga
ayrhte
seandainya pengadilan hukum di konoha bisa gitu/Shy/
ラマSkuy: bisa saja kak jikalau hakim dan jaksanya menjujung tinggi keadilan untuk semua, bukannya memihak yang punya kekuasaan
total 1 replies
ayrhte
hakim yg nonton pengacara adu bacot "lanjut aja kalian, atur sendiri. gw mau mokel aja"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!