Perhatian!!!
Harap bijak dalam membaca.Terima kasih 🙏 🫶
Elian sang Ice Prime Ministry selalu bersitegang
dengan Lyra the Iron Rose, CEO De La Vega Corporate yang menangani cyber security dan peralatan militer. Namun, siapa sangka keduanya memiliki hubungan terlarang yang sangat panas dan romantis dan penuh tantangan. Dimulai dari perjodohan dengan orang lain yang dilakukan oleh keluarga dan partai mereka, sehingga mereka memiliki misi untuk membatalkan perjodohan. Selain itu pengkhianatan yang dilakukan keluarga mereka sendiri tidak kalah peliknya.
Apak Elian dan Lyra bisa bersatu dan memiliki hidup normal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belenggu Ikatan
Malam di kediaman utama keluarga De la Vega yang jauh dari arti kenyamanan, bangunan itu adalah monumen menjulang yang bercerita tentang kekuasaan. Bangunan bergaya neoklasik itu berdiri angkuh di atas perbukitan Aethelion, memandang rendah lampu-lampu kota seperti seorang dewa yang sedang mengawasi semut-semutnya. Di dalam ruang kerja utama yang dilapisi kayu mahoni kuno yang diimpor dari benua seberang, aroma cerutu Kuba dan alkohol mahal menggantung berat di udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan.
Lyra Selene De la Vega berdiri tegak di tengah ruangan. Meski ia adalah CEO perusahaan, di ruangan ini, di hadapan ayahnya, ia hanyalah seorang putri yang diharapkan patuh. Don Marco De la Vega berdiri di balik meja besarnya, menatap ke luar jendela besar yang menampilkan cakrawala kota.
"Dunia sedang berubah, Lyra," suara Don Marco memecah keheningan dengan berat dan berwibawa. "Logistik kita di Utara sedang terhambat oleh peraturan lingkungan yang baru. Kita butuh sekutu yang memiliki pengaruh politik di kasta tertinggi para bangsawan Utara."
Lyra mengepalkan tangannya di balik gaun sutranya. Ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. Ia sudah merasakannya sejak pengawal ayahnya menjemputnya sore tadi tanpa pemberitahuan.
"Julian dari keluarga Count di Utara," Don Marco berbalik perlahan, matanya yang tajam seperti elang mengunci pandangan Lyra. "Dia bukan hanya pria dengan nama besar; keluarganya mengendalikan delapan puluh persen distribusi energi di wilayah perbatasan. Pernikahan antara De la Vega dan Count akan mengukuhkan dominasi kita untuk tiga dekade ke depan."
Lyra merasakan dadanya seolah dihantam oleh balok beton. Julian. Ia mengenal pria itu, seorang aristokrat dingin yang memandang pernikahan tak lebih dari sekadar akuisisi perusahaan. "Ayah, aku telah mengelola bisnis ini dengan sempurna. Kita tidak butuh sekutu yang hanya akan menjadi parasit pada sistem logistik kita," suara Lyra tetap tenang, meski di dalamnya ada badai yang mengamuk.
"Ini bukan permintaan, Lyra. Ini adalah takdirmu sebagai pewaris De la Vega," Don Marco mendekat, suaranya kini merendah namun lebih mengancam. "Bulan depan, pertunangan akan diumumkan secara resmi di Grand Ballroom. Jangan biarkan emosimu yang kekanak-kanakan merusak aliansi yang telah aku bangun selama bertahun-tahun."
Lyra keluar dari ruangan itu dengan langkah yang teratur, namun begitu pintu tertutup, ia harus bersandar pada dinding koridor hanya untuk mengatur napasnya. Nama 'Julian' terasa seperti vonis mati bagi setiap rencana masa depan yang ia bangun bersama Elian dalam rahasia.
Di sisi lain kota, di markas besar Partai Nasional yang tampak seperti benteng beton, Elian Theron Valerius sedang menghadapi belenggunya sendiri. Ia duduk di ruang rapat tertutup bersama Viktor, Ketua Partai yang telah menjadi mentor sekaligus pawangnya selama satu dekade terakhir.
Viktor meletakkan sebuah map kulit berwarna marun di depan Elian. Di dalamnya terdapat profil lengkap Isabella Von Strauss, putri tunggal Menteri Dalam Negeri yang sangat berpengaruh.
"Jajak pendapat menunjukkan posisimu sedikit goyah di kalangan konservatif, Elian," Viktor memulai dengan nada bicara seorang paman yang penuh perhatian namun licin. "Mereka menginginkan stabilitas. Mereka menginginkan sosok pemimpin yang memiliki ikatan keluarga yang kuat dengan aparat keamanan negara."
Elian menatap foto Isabella tanpa minat. "Aku bisa memenangkan pemilu ini dengan kinerjaku, Viktor. Rakyat mencintai reformasi yang aku bawa."
"Rakyat adalah massa yang mudah berubah, Elian! Tapi keluarga Von Strauss adalah institusi!" Viktor membentak pelan sambil condong ke depan. "Tanpa dukungan ayahnya, Menteri Dalam Negeri akan menarik dukungannya terhadap kebijakan keamananmu. Kau akan terlihat lemah di depan ancaman terorisme. Bertunangan dengan Isabella adalah kuncimu menuju kekuasaan mutlak."
Rahang Elian mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia merasa terjepit di antara ambisi besarnya untuk mengubah Aethelion dan kenyataan pahit bahwa ia masih menjadi bidak di papan catur orang lain. "Aku bukan alat politik yang bisa kau pasangkan dengan siapa saja demi beberapa poin di jajak pendapat," Elian membalas dingin.
"Kau adalah alat partai, Elian. Selama kau mengenakan pin Perdana Menteri itu, kau milik kami," Viktor berdiri, mengisyaratkan bahwa pertemuan telah berakhir. "Acara makan malam keluarga dengan Von Strauss sudah dijadwalkan minggu depan. Jangan membuat kesalahan yang akan menghancurkan kariermu."
Elian keluar dari gedung itu dengan amarah yang mendidih di bawah permukaan kulitnya. Ia masuk ke dalam mobil pribadinya, mengusir sopirnya, dan memacu kendaraan itu menuju satu-satunya tempat di mana ia bisa bernapas tanpa merasa dicekik oleh belenggu takdirnya. Ia butuh Lyra. Ia butuh kekasih rahasianya untuk mengingatkan dirinya bahwa ia masih memiliki jiwa yang belum sepenuhnya terjual.
lanjutkan kak