NovelToon NovelToon
Rahasia Terbesar

Rahasia Terbesar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Misteri / Epik Petualangan
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Pria Malang

Upacara pemilihan murid selesai. Lao Hui berjalan meninggalkan lapangan ditemani Tetua Chen menuju ruang tetua di belakang aula utama. Jubah abu-abunya berkibar pelan tertiup angin siang. Lin Tian dan Bai Feng berdiri di tempat mereka masih memproses apa yang baru saja terjadi.

"Aku tidak percaya kau dipilih," ucap Bai Feng sambil menggelengkan kepala. "Dari sekian banyak murid, jari tetua itu berhenti tepat di depanmu. Apa kau punya jimat keberuntungan yang tidak kau ceritakan?"

Lin Tian mengangkat bahu. "Mungkin karena aku yang paling pendek di barisan ini."

"Kau bercanda. Tinggi kita sama."

"Atau mungkin karena aku paling tampan."

Bai Feng tertawa keras lalu menepuk pundak Lin Tian. "Sekarang kita sudah tidak selevel lagi. Kau murid pribadi tetua kehormatan. Aku tetap murid biasa. Jangan lupa ajari aku ilmu ilmu hebat yang kau dapat nanti."

"Kau bisa datang kapan saja dan bertanya. Tetua Lao tidak melarang aku berbicara dengan teman."

Mereka berjalan menuju kantin sekte untuk makan siang. Suasana di kantin sedikit berbeda dari biasanya. Beberapa murid menatap Lin Tian dengan rasa ingin tahu. Ada yang tersenyum ramah, ada yang memasang wajah masam karena iri. Lin Tian tidak memedulikan semua itu. Ia mengambil sepiring nasi dengan lauk sederhana lalu duduk di sudut ruangan.

Bai Feng duduk di hadapannya sambil mengunyah daging panggang. "Ayahku pasti tidak percaya kalau aku cerita soal ini. Pak Tua itu sekarang jadi tetua kehormatan di sekte kita."

"Ayahmu pasti senang. Koneksi bisnisnya makin kuat."

"Benar juga. Aku harus kirim pesan ke rumah nanti."

Mereka makan siang dengan santai. Setelah selesai, Lin Tian berencana kembali ke asrama untuk beristirahat sebelum latihan sore. Tapi saat mereka berjalan melewati pohon beringin besar di halaman belakang, sebuah sosok berdiri di bawah naungan daun daun rimbun.

Lao Hui.

Pria tua itu berdiri dengan tangan di belakang punggung, matanya menatap ke arah barat, ke tempat matahari bersiap turun meski masih siang. Angin berhembus pelan, membuat ujung jubah abu-abunya bergerak lembut.

Lin Tian menghentikan langkah. Bai Feng juga ikut berhenti di sampingnya.

"Pak Tua," sapa Lin Tian sambil menangkupkan tangan.

Lao Hui menoleh. Wajahnya tersenyum tipis, teduh seperti biasa. "Kalian berdua. Ada waktu sebentar sebelum latihan sore?"

"Ada Pak Tua," jawab Bai Feng cepat. Kemudian wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang tidak bisa disembunyikan. "Sebelum itu... aku mau bertanya sesuatu."

"Bicaralah. Tidak ada yang perlu ditakuti dari sebuah pertanyaan."

Bai Feng mengatur napas sebentar lalu melontarkan pertanyaan yang mengganjal di pikirannya sejak pagi.

"Pak Tua, bukankah anda seharusnya membantu ayahku berbisnis? Kenapa tiba tiba menjadi tetua kehormatan di sekte ini?"

Lao Hui tertawa kecil. Suaranya pelan tapi terdengar jelas.

"Aku tetap membantu ayahmu nak. Tapi tidak setiap hari kan bekerja. Setiap orang butuh waktu luang, dan aku memilih untuk mengisi waktu luangku di sini. Menjadi tetua, menurunkan beberapa teknik kepada seorang anak muda yang beruntung. Itu lebih berarti daripada duduk diam di kamar sambil minum teh."

Bai Feng mengangguk meski matanya masih menyiratkan keraguan. "Baik kalau begitu, aku hanya penasaran."

"Penasaran adalah awal dari kebijaksanaan. Tapi terlalu banyak penasaran tanpa mau mendengar jawaban adalah awal dari kebodohan."

Bai Feng tersenyum canggung lalu mundur selangkah. Ia tidak berani bertanya lebih jauh.

Lao Hui kemudian menatap Lin Tian. Matanya yang dalam itu seperti sedang membaca sesuatu di balik wajah pemuda berjubah putih itu. "Kau sudah siap untuk latihan sore, Lin Tian?"

"Siap, Pak Tua."

"Bagus. Hari ini kita tidak akan berlatih fisik. Kita akan duduk dan berbicara. Terkadang, pedang yang paling tajam ditempa bukan oleh palu dan api, melainkan oleh cerita dan perenungan."

Ling Tian dan Bai Feng mengangguk.

Lalu mereka bertiga berjalan menuju halaman belakang sekte yang lebih sepi. Di sana ada gazebo bambu kecil menghadap ke kolam ikan. Lao Hui duduk di bangku kayu. Lin Tian dan Bai Feng duduk di hadapannya di atas batu datar.

Latihan sore pun dimulai dengan cara yang tidak biasa.

Lao Hui memejamkan mata sejenak lalu membukanya kembali. "Aku akan menceritakan sebuah kisah. Kisah tentang seorang pria malang di zaman kuno. Dengarkan baik baik, karena di dalam cerita kadang tersembunyi pelajaran yang tidak bisa diajarkan oleh pedang atau teknik apapun."

Lin Tian diam. Bai Feng juga ikut diam, duduk dengan posisi agak miring karena pantatnya tidak nyaman di atas batu.

Lao Hui mulai bercerita. "Alkisah ada seorang pemuda dengan bakat biasa saja. Dia berkultivasi dengan susah payah, tetapi kultivasinya terhenti di Pemurnian Qi lapis sembilan selama tiga tahun penuh. Tiga tahun itu cukup lama untuk membuat orang lain putus asa dan menyerah."

"Tiga tahun hanya di Pemurnian Qi?" Bai Feng tidak bisa menahan komentar. "Aku akan gila."

Lao Hui tersenyum. "Karena itu, orang tuanya memutuskan untuk menikahkan pemuda itu dengan seorang janda. Sebuah keputusan yang aneh, dan takdir aneh juga. Janda itu... ternyata tidak pernah tersentuh suaminya, karena suaminya mati di malam pernikahan. Perawan suci yang disebut janda."

Bai Feng mengerjap. "Jadi janda perawan?"

"Benar. Pemuda itu awalnya tidak setuju. Tapi untuk membahagiakan orang tua, ia menerima pernikahan itu. Dan anehnya, setelah menikah, kultivasinya mulai bergerak lagi. Seperti ada beban yang terangkat dari pundaknya."

Lao Hui berhenti sebentar. Matanya menerawang ke kolam ikan di depan gazebo.

"Kemudian... sebuah sekte kecil yang dipimpin oleh seorang pemuda sombong menculik istrinya. Bukan karena dendam. Bukan karena persaingan. Hanya karena pemuda sombong itu menginginkan wanita yang baru dinikahi pria malang itu."

Lin Tian mengepalkan tangannya tanpa sadar.

Lao Hui melanjutkan. "Pria malang itu tidak tinggal diam. Ia mengumpulkan semua kekuatan yang ia miliki, meskipun kekuatannya masih sangat rendah. Ia menyerbu sekte itu sendirian. Dengan tekad yang membara... ia berhasil menghancurkan seluruh sekte itu dan membunuh penculik istrinya. Ia menyelamatkan istrinya. Tapi benang sebab akibat sudah terlanjur terjalin."

"Penculik itu punya ayah. Seorang kultivator kuat yang dendamnya buta. Ayah itu memburu dan membunuh kedua orang tua pria malang itu. Tanpa ampun, tanpa moral. Hanya balas dendam untuk balas dendam."

Udara di gazebo terasa dingin.

Lao Hui melanjutkan. "Sebagai balasan, pria malang itu menghancurkan semua yang dimiliki ayah penculik itu. Sekte, keluarga, pengikut, semuanya rata dengan tanah, tidak menyisakan satu pun. Dan pada akhirnya ia juga mati saat membalas dendam di tempat lainnya. Tubuhnya hancur. Jiwanya tercabik."

Bai Feng menelan ludah. "Itu... sangat kelam."

"Tapi cerita tidak berhenti di situ," ucap Lao Hui. "Karena keadaan tertentu, pria malang itu tidak benar-benar mati. Jiwanya terapung di alam kematian. Banyak yang akan hancur dalam kondisi seperti itu. Banyak yang akan menjadi iblis atau lenyap ditelan kegelapan. Tapi pria ini... sejak kecil ia memiliki sifat pantang menyerah. Tidak ada yang bisa mematahkannya, tidak ada kekuatan yang bisa membuatnya berlutut."

Lin Tian merasakan Ao Mo bergetar pelan di dalam cincin penyimpanannya.

Lao Hui melanjutkan. "Dari kegelapan itu, ia bangkit. Bukan sebagai manusia biasa, tapi sebagai sesuatu yang lebih kuat dari saat ia mati. Setelah ia kembali ke dunia yang fana, ia pergi menemui keluarganya. Sayangnya... tempat tinggal keluarganya sudah hancur. Dibantai oleh sebuah kekaisaran tertentu, bersama dengan aliansi sekte sekte besar. Mereka membantai semua orang yang ia cintai saat ia tidak ada."

Lao Hui menghela napas panjang.

"Ia juga mengetahui bahwa istrinya... diculik lagi. Kali ini oleh kekuatan yang sangat mengerikan. Kekuatan yang bahkan namanya tidak berani disebut oleh para kultivator papan atas. Pada saat itu, kemarahannya meledak. Ia menghancurkan semua orang yang telah menyakiti keluarganya. Tidak peduli siapa mereka, dan seberapa kuat mereka."

Gazebo sunyi. Tidak ada suara kecuali air kolam yang bergerak perlahan.

"Setelah itu, ia menyusup ke tempat istrinya disembunyikan. Ia berhasil menemukannya. Tapi istrinya sudah dihapus ingatannya sepenuhnya. Wanita itu tidak mengenal suaminya sendiri, masa lalunya, dan tidak mengingat apapun."

Lin Tian menunduk. Ia tidak tahu mengapa, tapi cerita ini terasa menyentuh sesuatu di dalam dirinya.

Lao Hui melanjutkan. "Pria malang itu sekarang berniat membunuh penculik istrinya, yang merupakan sosok besar dan kuat. Tapi untuk itu ia butuh waktu, kekuatan, juga rencana. Dan cerita ini... hanya sampai di situ. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya."

Lao Hui menatap Lin Tian. "Bagaimana penilaianmu tentang ini, Lin Tian?"

Lin Tian terdiam cukup lama. Jari jarinya mengetuk pahanya tanpa suara. Ia mengumpulkan pikirannya sebelum akhirnya menjawab.

"Pria itu... tidak salah melakukan apa yang ia lakukan. Sebab akibat memang sudah tercipta sejak awal. Jika penculik pertama tidak mengambil istrinya, orang tuanya tidak akan mati. Jika ayah penculik tidak membunuh orang tuanya, pria itu tidak akan menghancurkan segalanya. Semua orang di cerita ini punya pilihan. Dan mereka memilih jalan yang membuat mereka harus menanggung akibatnya."

Lao Hui mengangguk. "Lalu tentang istrinya yang kehilangan ingatan?"

Lin Tian menghela napas. "Itu yang paling menyedihkan. Istri itu tidak bersalah. Tidak pernah meminta untuk diculik. Tidak pernah meminta untuk dihapus ingatannya. Tapi ia menanggung beban yang sama beratnya dengan pria itu. Mungkin lebih berat, karena ia tidak tahu apa yang hilang dari dirinya. Ia tidak tahu bahwa ada seseorang yang mencintainya di masa lalu."

Bai Feng ikut berbicara. "Kalau aku jadi pria itu... aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Membunuh penculik istrinya? Tapi istrinya sudah tidak ingat apa pun. Apa gunanya?"

Lao Hui tersenyum. "Itulah pertanyaan yang tidak punya jawaban mudah. Terkadang di jalan keabadian, kita harus berjalan tanpa tahu tujuan. Kita hanya tahu bahwa kita harus terus melangkah. Karena berhenti berarti kalah. Dan pria malang dalam cerita ini... dia bukan tipe orang yang suka kalah."

Lin Tian menatap Lao Hui. "Pak Tua, apakah cerita ini benar benar terjadi?"

Lao Hui tidak menjawab. Ia hanya berdiri, merapikan jubah abu-abunya, lalu berjalan keluar dari gazebo. Sebelum melangkah jauh, ia menoleh ke belakang.

"Semua cerita pasti punya sumber, Lin Tian. Tugasmu bukan mencari tahu apakah cerita itu benar atau tidak. Tugasmu adalah mengambil pelajaran dari cerita itu. Karena suatu saat... kau mungkin akan berada di posisi yang sama."

Lao Hui menghilang di balik pepohonan. Meninggalkan Lin Tian dan Bai Feng di gazebo dengan seribu pertanyaan yang tidak terjawab.

Matahari mulai condong ke barat. Langit berubah warna menjadi jingga. Latihan sore telah usai dengan cara yang tidak pernah Lin Tian bayangkan sebelumnya.

1
🧚Shi Yin 🧚
Eyu.. Lin Han pernah menyebutnya 🤔🤔
🧚Shi Yin 🧚
jangan2 pemimpin kegelapan itu Lin Han 🤔🤔🤔
🧚Shi Yin 🧚
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🧚Shi Yin 🧚
😎😎😎😎😎😎
🔵༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Hadir..
Aiby Kushina Uzumaki
kalau di bandung mah jigong itu jejak iler kalau bangun tidur 😅🤣🤣🤣
YAKARO: Waduh🤣🤣🤣
Anggota nya tian ada yang jigongan berarti/Facepalm/
total 1 replies
🧚Shi Yin 🧚
udah kehabisan nama ya Thor 😁😁
🧚Shi Yin 🧚: hehe kirain arti yg lain, aroma terapi 🤣🤣
total 2 replies
🧚Shi Yin 🧚
panggillah dia bibi Mu Wan, dia tu seniornya ayahmu 😁
YAKARO: Adik Tian gak tau itu kak🤣
total 1 replies
🧚Shi Yin 🧚
tiap kali baca lavender saya teringat obat nyamuk 🤣🤣 lavender salah satu tanaman pengusir nyamuk 😁
YAKARO: Wkwkwk. Warnanya ungu lavender soalnya😆
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
kau tak merasa... justru kau yg aneh, bocah yg sok dewasa/CoolGuy/
Dragon🐉 gate🐉: kata-kata yg familiar ini, jangan-jangan kau ...../Scare/
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
whaatttt thefff..!!! 🤣🤣🤣🤣🤣 Ji Gong 🤣🤣🤣🤣🤣 Thor... 🤣🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: tp gw gak kesana pikirannya Thor 🤣 jigong yg ada di otak gw tuh ya jigong yg itu🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Dragon🐉 gate🐉
nah kan, kompak... masukin Jiyue ke dlm kelompok Lin Tian biar mereka rame trs tiap hari😁
YAKARO: Nanti masuk dia/Determined/
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
🤣🤣🤣hancur sudah martabat sang Komandan krn julukan 🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: bestie adu mulut.. mereka😁
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
keluarganya si gadis Lavender... Jiyue 🤔
YAKARO: insting tajam/CoolGuy/
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
M = P
Dragon🐉 gate🐉: siap komandan ✅
total 2 replies
Bagas Jionju
👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Dragon🐉 gate🐉
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣ANJIIIRRR kata kata keramat ini ternyata udh smpe di univers nya dia🤣🤣🤣🤣🤣
YAKARO: Wooo, ya jelas. Kata kata legend ini/Casual/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!