"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."
Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.
Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.
Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.
apakah sang penguasa akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Dua
Sinar mentari pagi yang baru saja menyentuh permukaan sungai di Desa Jinan menciptakan pendaran cahaya yang berkilauan, memantulkan warna-warna pelangi dari uap air yang disemburkan oleh sembilan naga perak. Di tepi sungai, deru suara penggalian dan dentuman logam beradu dengan batu terdengar berirama, sebuah simfoni kerja paksa yang kini telah menjadi pemandangan biasa bagi penduduk desa. Jenderal Lu Xing, yang dulunya adalah simbol kemegahan Aliansi Besar dengan zirah sisik naga putihnya, kini terlihat sedang bermandikan peluh. Baju rami cokelatnya sudah kotor oleh lumpur rawa, dan tangannya yang biasa menggenggam tombak matahari kini mencengkeram erat sebuah linggis besi hitam yang sangat berat.
Setiap kali Lu Xing menghantamkan linggisnya ke arah batu raksasa yang menghalangi jalur irigasi, sebuah getaran energi yang aneh merambat ke lengannya. Bukan energi penghancur, melainkan energi yang seolah-olah menyedot sedikit demi sedikit kesombongan yang tersisa di dalam hatinya. Di sekelilingnya, ratusan prajurit elit surga yang sebelumnya datang dengan niat memusnahkan desa, kini berbaris rapi seperti semut pekerja, mengangkut batu-batu kecil dan menatanya untuk fondasi jembatan. Tidak ada yang berani mengeluh, bukan karena ada cambuk yang mengawasi mereka, melainkan karena setiap kali mereka mencoba berhenti, sebuah tekanan gravitasi yang tak terlihat akan membuat lutut mereka gemetar, seolah-olah bumi itu sendiri sedang menuntut bakti mereka.
Di Kedai Teh Kedamaian, suasana terasa jauh lebih tenang. Zhou Ji Ran duduk di kursi goyangnya, meletakkan sebelah kakinya di atas pagar langkan kayu yang masih beraroma getah pinus segar. Di depannya, Yan Fei—si pemuda dari dimensi teknologi maju—sedang berdiri mematung dengan sebuah nampan kayu di tangan. Kotak hitam kecil yang ia sebut detektor partikel sub-atom kini tergeletak pasrah di atas tumpukan daun sawi di sudut kebun. Kotak itu sesekali mengeluarkan bunyi *pip* yang lemah, yang secara ajaib membuat ulat-ulat hijau kecil yang mencoba mendekati sawi tersebut seketika pusing dan jatuh ke tanah.
"Yan Fei, kau sudah berdiri di sana selama sepuluh menit hanya untuk menatap uap teh itu. Apakah kau sedang mencoba menghitung berapa banyak atom yang menguap dari cangkirku?" tanya Zhou Ji Ran tanpa membuka matanya, tangannya sesekali mengayunkan kipas bambu untuk mengusir hawa panas yang mulai naik.
Yan Fei menarik napas dalam-dalam, ia meletakkan nampan itu di atas meja dengan gerakan yang sangat kaku. "Tuan Zhou, menurut perhitungan logis saya... tidak, maksud saya menurut perasaan saya, suhu air ini tidak konsisten. Namun, teh yang dihasilkan memiliki struktur energi yang sangat stabil. Bagaimana Anda bisa mencapai keseimbangan ini tanpa bantuan alat kontrol suhu digital?"
"Hidup ini bukan soal digital atau analog, Nak," jawab Zhou Ji Ran sambil perlahan membuka matanya. Ia mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya sedikit. "Ini soal rasa syukur. Air ini diambil dari telaga tempat Ao Kun bermeditasi, tehnya dipetik dari pohon melati yang tumbuh di bawah naungan Pohon Memori, dan yang paling penting, teh ini diseduh oleh Ye Hua yang memiliki ketajaman niat. Ketika kau menyatukan semua itu dengan ketulusan, suhu air hanyalah detail kecil yang akan menyesuaikan diri dengan keinginan batinmu."
Yan Fei terdiam. Layar di dalam pikirannya yang biasanya penuh dengan grafik dan data kini hanya menampilkan pesan error yang berulang. Di tempat ini, semua hukum fisika dan logika yang ia pelajari di dimensinya seolah-olah menjadi lelucon. Ia menoleh ke arah Ye Hua yang sedang sibuk melayani beberapa penduduk desa di meja seberang. Gadis pedang itu kini memiliki senyum yang jauh lebih natural, meskipun sesekali ia masih terlihat menatap tamu dengan tajam jika mereka memesan teh dengan cara yang tidak sopan.
"Ye Hua, berikan pemuda teknologi ini sedikit instruksi tentang cara mencuci cangkir menggunakan esensi air. Dia terlalu banyak berpikir dan kurang banyak bertindak," perintah Zhou Ji Ran.
"Baik, Tuan," sahut Ye Hua singkat. Ia menoleh ke arah Yan Fei dengan tatapan yang membuat pemuda itu seketika merinding. "Ikut aku ke belakang. Jangan biarkan kotak hitammu itu terus-menerus mengganggu ulat-ulat di kebun. Tuan bilang ulat itu juga bagian dari ekosistem, selama mereka tidak memakan sawi primadonanya."
Saat Yan Fei ditarik paksa oleh Ye Hua menuju area pencucian, Lin Xiaoqi keluar dari rumah sambil membawa sebuah mangkuk besar berisi kue beras yang masih hangat. Di sampingnya, Bai Ling berjalan dengan langkah yang jauh lebih ringan. Luka-luka di tubuh putri klan salju itu telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh rona merah sehat di pipinya berkat udara murni Desa Jinan.
"Tuan, Nona Bai bilang dia ingin membantu menanam Teratai Salju lebih banyak di sisi utara telaga. Dia merasa hawa dingin di sana masih belum cukup stabil untuk pertumbuhan benih murni," ucap Lin Xiaoqi sambil meletakkan kue beras di meja Zhou Ji Ran.
Zhou Ji Ran mengambil sepotong kue beras, mengunyahnya dengan nikmat. "Teratai Salju, ya? Ide bagus. Tapi tanyakan pada Ao Kun dulu, apakah dia keberatan jika wilayah tidurnya menjadi sedikit lebih dingin. Dia adalah naga yang sangat manja jika menyangkut suhu air."
Bai Ling membungkuk hormat. "Saya sudah bicara dengan Tuan Naga Laut pagi tadi, Tuan Zhou. Dia bilang asalkan saya memberikannya sedikit esensi es murni untuk sisik ekornya yang gatal, dia bersedia berbagi tempat. Dia bahkan menawarkan diri untuk menjadi pelindung bagi tunas-tunas baru tersebut."
"Baguslah kalau begitu. Gunakan saja tenaga kerja berbaju zirah emas di rawa-rawa jika kau butuh bantuan untuk menggali lubang tanam. Mereka butuh variasi pekerjaan agar tidak bosan hanya memegang linggis," kata Zhou Ji Ran santai.
Namun, di tengah pembicaraan yang damai itu, tiba-tiba terdengar suara terompet yang sangat nyaring dari arah pintu masuk desa. Suaranya bukan terompet perang yang berat, melainkan terompet kuningan yang bernada tinggi dan sangat menjengkelkan, seolah-olah sedang mengumumkan kedatangan seorang bangsawan yang sangat haus perhatian.
Dari balik bukit, sebuah gerbong kereta yang sangat mewah muncul. Kereta itu terbuat dari kayu gaharu hitam yang dilapisi dengan ukiran emas murni dan permata warna-warni. Kereta itu tidak ditarik oleh kuda, melainkan oleh empat ekor burung merak raksasa yang bulunya berkilauan seperti pelangi. Di samping kereta, belasan pengawal dengan seragam sutra berwarna mencolok berjalan dengan dada membusung, masing-masing membawa bendera bertuliskan simbol "Serikat Pedangan Seribu Dunia".
Kereta itu berhenti tepat di depan Kedai Teh Kedamaian, menciptakan debu yang terbang ke arah teras Zhou Ji Ran. Zhou Ji Ran mengerutkan kening, ia melambaikan tangannya sekali, dan seketika debu-debu tersebut berbalik arah dan menghantam para pengawal berbaju sutra itu hingga mereka terbatuk-batuk.
Pintu kereta terbuka, dan seorang pria bertubuh tambun dengan kumis yang dipotong rapi melangkah turun. Ia mengenakan jubah berlapis-lapis yang sangat tebal, seolah-olah ia sedang berada di kutub utara, padahal matahari Jinan sedang sangat terik. Namanya adalah Qian Fugui, seorang Inspektur Pajak dan Perdagangan dari Serikat Pedagang Seribu Dunia, sebuah organisasi lintas dimensi yang mengontrol seluruh arus komoditas di wilayah ini.
Qian Fugui menyeka keringat di dahinya dengan saputangan sutra yang harum. Ia menatap ke sekeliling dengan pandangan yang penuh dengan penilaian harga. "Luar biasa... aroma ini... energi ini... Benar-benar sebuah tambang emas tersembunyi."
Ia melangkah maju menuju teras Zhou Ji Ran, mengabaikan tatapan dingin dari Ye Hua dan Zhang Tian. "Selamat pagi, saudara sekalian. Saya adalah Qian Fugui. Saya datang ke sini atas nama Serikat Pedagang Seribu Dunia untuk melakukan audit resmi atas komoditas yang diproduksi di desa ini. Kami telah menerima laporan tentang adanya Padi Surgawi, Teratai Salju, dan bahkan Pohon Memori yang tumbuh tanpa izin lisensi perdagangan internasional."
Zhou Ji Ran tetap bersandar di kursi goyangnya, tidak menunjukkan niat untuk berdiri. "Lisensi perdagangan? Aku hanya menanam untuk makanku sendiri dan orang-orang di sini. Kenapa aku harus butuh izin dari orang-orang yang bahkan tidak tahu cara memegang cangkul?"
Qian Fugui tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat dipaksakan. "Oh, saudara, kau tidak mengerti. Di multisemesta ini, apa pun yang memiliki nilai spiritual tinggi dianggap sebagai aset publik yang harus diregulasi. Padi Surgawi yang kau miliki di gudang itu bisa memicu inflasi energi di tujuh kerajaan jika tidak didistribusikan melalui jalur resmi kami. Berdasarkan Undang-Undang Perdagangan Antar Alam, desa ini berhutang pajak sebesar delapan puluh persen dari seluruh hasil panen tahun ini sebagai biaya 'perlindungan pasar'."
Zhang Tian, sang mantan Penegak Hukum, melangkah maju dengan wajah yang sangat merah karena marah. "Pajak delapan puluh persen?! Bahkan di Aliansi Besar yang paling korup sekalipun, pajak tidak pernah lebih dari sepuluh persen! Siapa kau berani datang ke sini dan memeras Tuan Zhou?!"
Qian Fugui menatap Zhang Tian dengan jijik. "Ah, bukankah kau Zhang Tian? Penegak hukum yang hilang itu? Aku dengar kau sudah menjadi tukang sapu di sini. Benar-benar penurunan martabat yang menyedihkan. Dengar, kami dari Serikat memiliki 'Garda Kehampaan' yang bisa menghapus desa ini dari peta perdagangan dalam semalam. Jangan mencoba melawan hukum ekonomi."
Zhou Ji Ran menguap lebar, ia mengambil sepotong kue beras dan memasukkannya ke mulut. "Hukum ekonomi, ya? Itu terdengar sangat rumit. Bagaimana jika begini... kau lihat patung tanah raksasa di batas utara desa itu? Itu dulunya adalah seorang jenderal dewa yang juga bicara soal hukum penghancuran. Sekarang dia menjadi penyaring debu."
Qian Fugui melirik ke arah utara, melihat patung tanah raksasa yang ditumbuhi bunga-bunga liar. Ia sedikit bergidik, namun keserakahannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya. "Itu hanya gertakan! Pengawal! Tunjukkan pada mereka surat penyitaan resmi kita!"
Dua orang pengawal maju membawa sebuah gulungan kertas perak yang memancarkan aura penekanan yang cukup kuat. Begitu gulungan itu dibuka, sebuah simbol hukum dimensi muncul di udara, mencoba mengunci energi spiritual di seluruh kedai teh.
Namun, sebelum simbol itu sempat terbentuk sempurna, seekor ayam jantan berwarna merah milik Zhang Tian mendadak terbang ke atas meja, mematuk kertas perak tersebut, dan merobeknya menjadi serpihan kecil hanya dengan satu gerakan paruh. Ayam itu kemudian berkokok dengan sangat keras, suaranya mengandung gelombang getaran yang seketika menghancurkan seluruh aura penekanan di ruangan tersebut.
Para pengawal Qian Fugui terlempar ke belakang, jatuh tersungkur di tanah. Qian Fugui sendiri hampir terjungkal jika ia tidak berpegangan pada tiang kereta.
"Ayam... ayam macam apa itu?!" teriak Qian Fugui dengan suara melengking.
"Itu hanya ayam kampung yang terlalu banyak makan sisa nasi Padi Surgawi," jawab Zhou Ji Ran santai. Ia berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Qian Fugui. "Dengar, Tuan Pajak. Aku tidak suka orang yang datang ke rumahku dan bicara soal hutang. Apalagi debu dari keretamu tadi hampir saja masuk ke dalam teh pahitku. Itu adalah penghinaan yang sangat serius bagiku."
Qian Fugui mencoba mundur, namun ia merasa kakinya seolah-olah tertanam di tanah. "Kau... apa yang kau inginkan?! Serikat kami memiliki pasukan yang tidak terbatas!"
"Aku tidak butuh pasukanmu. Tapi aku butuh sistem logistik," ucap Zhou Ji Ran dengan senyum yang membuat Qian Fugui merasa kedinginan di tengah terik matahari. "Kau bilang kau ahli dalam perdagangan dan distribusi? Kebetulan sekali. Kami baru saja selesai panen raya, dan aku sedang berpikir bagaimana cara mengirimkan sisa padi yang tidak habis dimakan ke desa-desa miskin di kaki pegunungan tanpa harus membuat keributan di pasar."
Zhou Ji Ran menjentikkan jarinya. Seketika, jubah mewah berlapis-lapis milik Qian Fugui menyusut dan berubah menjadi seragam kurir berwarna kuning cerah dengan tulisan "Logistik Jinan" di punggungnya. Kereta gaharu emasnya berubah menjadi gerobak kayu sederhana namun memiliki roda yang bisa berputar di segala medan. Burung merak raksasanya berubah menjadi angsa-angsa putih yang tampak sangat galak dan kuat untuk menarik beban.
"Mulai hari ini, kau adalah Kepala Logistik Desa Jinan. Tugasmu adalah mengatur pengiriman surplus hasil bumi kita ke tempat-tempat yang membutuhkan. Dan sebagai kompensasi atas debu yang kau bawa tadi, kau tidak akan mendapatkan komisi sepeser pun selama tiga tahun pertama. Kau akan makan apa yang kami makan, dan tidur di gudang samping bersama Lu Han," perintah Zhou Ji Ran.
Qian Fugui menatap pakaian barunya dengan ekspresi yang hancur. "Aku... inspektur pajak tingkat satu... menjadi kurir desa?!"
"Jadilah kurir yang baik, Fugui. Jika satu butir padi hilang karena kelalaianmu, aku akan memintamu untuk menggantinya dengan menumbuk padi bersama Leluhur Agung di lesung batu seharian penuh. Aku dengar tangannya sudah mulai kapalan, dia butuh teman bicara," tambah Zhou Ji Ran.
Gu Lao, yang sejak tadi hanya menonton, terkekeh geli. "Satu lagi ahli administrasi bergabung. Ji Ran, kau benar-benar sedang membangun sebuah pemerintahan kecil di sini, ya?"
"Pemerintahan? Tidak, aku hanya sedang membangun tim pendukung hobi bertaniku agar aku tidak perlu repot dengan hal-hal membosankan," jawab Zhou Ji Ran sambil kembali ke kursinya.
Sore harinya, pemandangan di jalan utama desa menjadi sangat unik. Qian Fugui, dengan wajah yang masih tampak sangat menderita namun tidak punya pilihan lain, terlihat sedang memuat karung-karung padi ke atas gerobaknya. Di sampingnya, Lu Han memberikan instruksi tentang rute pengiriman yang aman.
"Ingat, Tuan Fugui. Desa di kaki gunung itu medannya sangat terjal. Angsa-angsa ini sangat sensitif, jangan pernah mencoba mencambuk mereka, atau mereka akan menggigit pantatmu," nasihat Lu Han dengan nada empati yang tulus, mengingat ia juga pernah berada di posisi yang sama.
Di Kedai Teh Kedamaian, Yan Fei sedang belajar cara mengontrol aliran energi saat menuangkan teh di bawah pengawasan ketat Ye Hua. "Fokus, Yan Fei. Jangan gunakan detektormu. Rasakan suhu air melalui pori-pori kulitmu. Jika teh ini terlalu dingin, Tuan Zhou akan memintamu untuk menemani Han Bing di ruang bawah tanah."
"Saya mencoba, Kak Senior Ye... saya mencoba," gumam Yan Fei sambil berkonsentrasi penuh pada teko di tangannya.
Sementara itu, di Telaga Selatan, Bai Ling sedang berdiri di atas permukaan air yang tenang, didampingi oleh naga Ao Kun. Ia mulai menyebarkan esensi es murni ke arah tunas-tunas Teratai Salju. Cahaya biru dan putih menyatu, menciptakan pemandangan yang begitu indah hingga menarik perhatian para penduduk desa yang sedang beristirahat.
Zhou Ji Ran menatap semua itu dengan perasaan puas. Kedamaian telah kembali, setidaknya untuk sementara. Ia tahu bahwa Serikat Pedagang Seribu Dunia pasti tidak akan tinggal diam setelah kehilangan seorang inspektur pajaknya. Mereka jauh lebih licik dan memiliki jangkauan yang lebih luas daripada aliansi kultivasi mana pun. Namun, selama ia masih memiliki cangkulnya, teh pahitnya, dan asisten-asisten anehnya, ia tidak merasa ada yang perlu dikhawatirkan.
"Dunia yang berisik," gumam Zhou Ji Ran sambil menutup matanya untuk tidur sore sejenak.
Namun, di kegelapan dimensi yang sangat jauh, di sebuah aula yang dipenuhi dengan layar hologram dan angka-angka emas yang terus berputar, seorang pria tua dengan mata yang hanya terdiri dari kepingan koin emas berdiri dari singgasananya. Ia baru saja menerima transmisi terakhir dari kereta Qian Fugui yang terputus secara mendadak.
"Anomali di Desa Jinan telah menelan inspektur kita," suara pria tua itu terdengar seperti denting logam yang saling beradu. "Kirimkan 'Penagih Hutang Abadi'. Jika desa itu menolak membayar dengan padi, maka mereka harus membayar dengan keberadaan mereka sendiri."
Tanpa disadari oleh Zhou Ji Ran, sebuah kekuatan baru yang lebih gelap dan lebih sistematis sedang bergerak menuju Desa Jinan. Kekuatan yang tidak didorong oleh kebencian, melainkan oleh perhitungan untung rugi yang sangat dingin. Sebuah musuh yang tidak bisa dikalahkan hanya dengan sapu lidi atau air cucian piring, karena mereka adalah manifestasi dari kerakusan yang telah mendarah daging dalam hukum multisemesta.
Malam mulai turun di Desa Jinan. Lampu-lampu lampion mulai menyala, memberikan suasana hangat di Kedai Teh Kedamaian. Suara tawa dari meja-meja penduduk desa menyatu dengan gemericik air sungai dan kokok ayam jantan Zhang Tian yang sesekali masih terdengar. Di bawah Pohon Memori, Zhou Ji Ran membuka matanya sejenak, ia merasakan adanya hawa dingin yang berbeda dari esensi Bai Ling. Hawa dingin yang sangat kering dan berbau seperti logam karat.
Ia tersenyum tipis. "Sepertinya besok aku harus membuat sistem akuntansi yang lebih rumit untuk Lu Han. Tamu-tamu berikutnya ini tampaknya sangat suka menghitung."
Ia bangkit dari kursinya, merenggangkan tubuhnya, dan berjalan menuju kebun sawi primadonanya. Ia memeriksa satu per satu daun sawi tersebut, memastikan tidak ada ulat yang tertinggal setelah kerja kotak hitam Yan Fei tadi siang.
"Kalian tumbuhlah dengan tenang, sawi-sawiku. Selama aku masih di sini, tidak ada seorang pun yang bisa menagih pajak pada kehidupan kalian," bisik Zhou Ji Ran pada tanaman-tanamannya.
Kehidupan di Desa Jinan memang tidak pernah benar-benar sunyi, namun itulah yang membuatnya terasa hidup bagi sang mantan pemilik sistem. Tanpa misi yang memaksa, ia kini menjalani setiap detik sebagai misi yang ia pilih sendiri: menjaga kedamaian di atas tanahnya. Dan baginya, itu adalah tugas paling mulia yang pernah ia jalankan dalam puluhan ribu tahun eksistensinya.
Malam itu, di bawah perlindungan sang petani legenda, seluruh penghuni desa tertidur dengan lelap. Mereka tidak tahu bahwa sebuah badai ekonomi dan eksistensial sedang mendekat. Namun mereka tahu satu hal: selama gubuk kayu Zhou Ji Ran masih berdiri, dunia ini masih akan baik-baik saja.
Segalanya berjalan dengan perlahan, penuh makna, dan sangat memuaskan. Sang legenda terus menjaga dunianya, satu cangkir teh dan satu batang sawi pada satu waktu. Kehidupan ini memang benar-benar luar biasa. Tanpa skenario yang kaku, setiap tantangan adalah bumbu bagi keseharian yang ia cintai. Dan ia tidak akan pernah menukarnya dengan apa pun di seluruh multisemesta yang luas ini.
"Besok kita akan membuat fermentasi pupuk baru dari sisa-sisa energi kehampaan," gumam Zhou Ji Ran sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.
Bintang-bintang di atas Desa Jinan tampak bersinar lebih terang malam ini, seolah-olah mereka ikut menjaga surga kecil yang dibangun oleh tangan-tangan manusia yang tulus. Dan perjalanan ini, betapa pun sulitnya, akan selalu menemukan jalan pulang menuju kedamaian yang murni. Kehidupan sang mantan pemilik sistem telah menjadi sebuah narasi abadi yang terukir di setiap jengkal tanah Jinan, sebuah bukti bahwa kebahagiaan sejati tidak memerlukan sistem, melainkan keberanian untuk hidup sebagai diri sendiri.