"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Sarapan Penuh Rahasia
Sarapan Penuh Rahasia
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela ruang makan dengan begitu tenang, sangat kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam dadaku. Aku duduk di kursi kayu ek yang dingin, berkali-kali merapikan kerah sweter kebesaran yang kukenakan. Aku sengaja memilih pakaian paling tertutup yang kupunya untuk menutupi jejak-jejak kegelisahan yang mungkin tercetak di kulitku.
Tanganku gemetar saat mencoba mengoleskan selai kacang ke selembar roti. Bayangan semalam—punggung kokoh itu, desahan napas yang berat, dan yang paling parah, seringai iblis Gavin—terus berputar seperti kaset rusak di kepalaku.
"Pagi, Arum. Tidurmu nyenyak?"
Suara Mbak Siska membuatku tersentak hingga pisau rotiku terjatuh ke lantai. Ting! Suaranya berdenting keras di keheningan pagi.
"Eh, i-iya, Mbak. Nyenyak kok," jawabku dusta, tidak berani menatap wajah kakak kandungku sendiri. Aku merasa seperti pencuri yang baru saja merampok harta paling berharga miliknya.
Mbak Siska tersenyum manis, wajahnya tampak segar dan bercahaya—mungkin efek dari "kegiatan" panasnya semalam. "Syukurlah. Soalnya semalam hujan deras sekali, Mbak takut kamu terbangun karena suara petir."
Tepat saat itu, langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar mendekat. Jantungku serasa merosot ke perut. Tanpa menoleh pun, aku tahu itu dia. Aroma kayu cendana yang maskulin mulai memenuhi ruangan, mencekik napasku seketika.
"Pagi, Sayang," suara bariton Gavin terdengar sangat tenang saat dia mengecup kening Mbak Siska.
"Pagi, Mas. Ini kopinya," sahut Mbak Siska lembut.
Gavin duduk tepat di hadapanku. Aku menunduk sedalam mungkin, berpura-pura sangat sibuk dengan roti tawarku yang sebenarnya sudah hancur. Namun, aku bisa merasakan sepasang mata elang itu sedang mengulitiku.
"Arum," panggil Gavin tiba-tiba.
Aku tersentak, terpaksa mendongak. Di sana, Gavin sedang menyesap kopi hitamnya dengan santai. Kemeja putihnya yang disetrika rapi dengan dua kancing teratas terbuka memperlihatkan sedikit pangkal dadanya—mengingatku pada tetesan keringat yang mengalir di sana semalam.
"I-iya, Mas?"
"Mata kamu sembab. Apa kamu benar-benar tidur nyenyak?" tanya Gavin dengan nada datar, namun ada kilat jenaka sekaligus mengancam di matanya. "Atau... ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Mbak Siska ikut menoleh padaku dengan cemas. "Oh iya, Rum. Matamu merah sekali. Apa kamu kurang tidur?"
Aku menelan ludah yang terasa seperti kerikil. "Mungkin... mungkin karena suara hujan yang terlalu berisik, Mbak. Jadi Arum agak susah memejamkan mata."
Gavin meletakkan cangkir kopinya perlahan. Ia menyandarkan tubuhnya yang tegap ke sandaran kursi, menatapku tanpa berkedip. "Suara hujan memang sering kali mengganggu. Tapi terkadang, suara dari dalam rumah jauh lebih menarik untuk didengar, bukan?"
Darahku seolah berhenti mengalir. Kalimat itu jelas sebuah serangan. Dia terang-terangan mengakui bahwa dia tahu aku mendengarkan segalanya.
"Mas Gavin ini bicara apa sih," tawa Mbak Siska renyah, sama sekali tidak menyadari perang dingin di depannya. "Arum kan memang sensitif kalau tidur."
"Aku hanya bercanda," ucap Gavin, namun matanya tetap terkunci pada mataku. "Oh iya, Arum. Tadi pagi aku menemukan sesuatu di dekat pintu kamarku."
Aku membeku. Apa ada barangku yang tertinggal saat aku mengintip?
Gavin merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah jepit rambut kecil berwarna perak—milikku. Dia meletakkannya di atas meja, menggesernya perlahan ke arahku.
"Sepertinya ini jatuh saat seseorang... lewat di depan kamarku semalam," ucapnya dengan penekanan pada kata 'lewat'.
Mbak Siska mengerutkan kening. "Lho, Arum semalam ke depan kamar kami?"
"Arum... Arum tadi malam mau ke dapur, Mbak. Mau ambil minum, mungkin jatuh di sana," jawabku terbata-bata, tanganku cepat-cepat menyambar jepit itu. Rasanya seperti menyentuh bara api.
"Lain kali kalau mau lewat atau butuh sesuatu, masuk saja, Arum. Jangan hanya berdiri di depan pintu," sambung Gavin lagi. Kali ini dia memberikan senyum tipis—senyum yang hanya bisa kumengerti maknanya. "Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu."
Kalimat itu terdengar begitu ambigu. Mbak Siska menanggapinya sebagai keramahan seorang kakak ipar, tapi bagiku, itu adalah undangan menuju lubang dosa yang lebih dalam.
"Mbak, Arum berangkat kuliah dulu ya! Sudah telat!" Aku berdiri dengan tergesa-gesa, nyaris menyenggol gelas susuku. Aku tidak sanggup lagi berada di sana. Tatapan Gavin membuat pakaianku terasa lenyap, seolah dia sedang mengulang adegan semalam namun kali ini aku yang menjadi objeknya.
"Lho, sarapannya belum habis, Rum!" seru Mbak Siska.
"Nanti makan di kampus saja, Mbak! Dah!"
Aku berlari menuju pintu depan tanpa menoleh lagi. Namun, saat aku baru saja mencapai teras, sebuah tangan kekar mencengkeram lenganku dari belakang, menarikku masuk ke balik pilar besar yang tersembunyi dari pandangan ruang makan.
Punggungku menabrak pilar dingin itu, dan di depanku, Gavin sudah berdiri mengurungku dengan kedua tangannya. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahku.
"Mau lari ke mana, Adik Ipar?" bisiknya dengan suara rendah yang menggetarkan seluruh sarafku. "Kita bahkan belum membahas bagian yang paling seru."
"Mas... lepas... ada Mbak Siska di dalam," rintihku, mencoba mendorong dada bidangnya yang keras seperti batu.
Gavin justru semakin mendekat, hidungnya menyesap aroma di leherku, membuatku gemetar hebat. "Kamu tahu, Arum? Semalam, saat aku melihatmu di celah pintu itu... aku membayangkan kaulah yang sedang berada di bawahku. Dan melihat wajah ketakutanmu sekarang, membuatku ingin mewujudkan bayangan itu menjadi nyata."
"Mas Gavin, kamu gila!"
"Ya, aku gila karena kamu yang memancingku lebih dulu," Gavin menarik rambutku pelan, memaksaku menatap matanya yang gelap penuh obsesi. "Mulai hari ini, jangan pernah berpikir kamu bisa lepas. Kamu sudah melihat rahasia di kamar itu, dan sekarang, kamu adalah bagian dari rahasia itu."
Gavin melepaskanku begitu saja saat mendengar suara langkah Mbak Siska mendekat ke ruang depan. Dia kembali berdiri tegak, merapikan kerah kemejanya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Hati-hati di jalan, Arum," ucapnya normal saat Mbak Siska muncul di pintu.
Aku hanya bisa terdiam dengan napas tersengal, menatap punggung pria itu yang masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah santai. Pagi itu aku sadar, pelarianku baru saja dimulai, dan Gavin adalah pemburu yang tidak akan pernah membiarkanku lolos.
jngan y thor