Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Pengakuan Dosa
Kebetulan, hari ini adalah jadwal Luvya untuk menghadap sang Imam guna melakukan pengakuan dosa pertamanya. Sesuai perkataan Emily, setiap penghuni baru harus menyerahkan "beban masa lalunya" kepada sang Imam.
Luvya merapikan gaun cokelat kasarnya, memastikan catatan rahasianya aman di dalam saku tersembunyi. Ia memasang wajah yang paling polos, wajah seorang anak kecil yang tampak gugup namun patuh.
Luvya berjalan menuju pintu besar berbahan kayu ek hitam dengan ukiran matahari emas di tengahnya. Begitu pintu itu terbuka, aroma kemenyan yang kuat langsung menusuk indra penciumannya. Ruangan itu luas, namun minim cahaya matahari, hanya diterangi oleh beberapa lilin besar yang menyala redup.
"Anda sudah datang, Luvya?" suara berat itu bergema dari balik tirai beludru merah di sudut ruangan.
Luvya menunduk dalam, menyembunyikan kilat matanya yang tajam. "Iya, Bapak. Saya datang untuk membersihkan... jiwa saya."
Luvya melangkah masuk lebih dalam. Matanya menyisir ruangan itu dengan cepat namun waspada. Tidak ada yang aneh; hanya ada sebuah meja kerja kayu yang berat, kursi, dan rak lemari buku raksasa yang menutupi hampir seluruh permukaan dinding.
Namun, indra penciuman Luvya yang tajam menangkap sesuatu yang ganjil. Di tengah pekatnya aroma kemenyan, ada sisa-sisa aroma lembap yang dingin, bau khas batuan yang jarang tersentuh matahari.
Aroma ini... Luvya melirik ke arah rak buku yang menjulang tinggi itu. Rak ini menutupi seluruh dinding, tapi bau lembapnya justru paling kuat di sini. Aku yakin, pasti ada sesuatu di balik rak buku ini.
"Mari, Anakku," suara berat Bapak memecah lamunan Luvya.
Pria itu menuntun Luvya menuju sebuah pintu kecil di sudut ruangan yang menghubungkan ke ruang sebelah—ruang pengakuan dosa. Di dalamnya, suasana jauh lebih sempit dan pengap. Hanya ada dua kursi yang saling membelakangi, dipisahkan oleh sebuah tirai tipis namun gelap yang menghalangi pandangan mereka satu sama lain.
Luvya duduk di salah satu kursi kayu yang keras, disusul oleh suara derit kursi di balik tirai saat Bapak menempati posisinya.
"Jangan takut, Luvya," ucap Bapak dari balik tirai, suaranya terdengar lebih tenang namun berwibawa. "Di ruang pengakuan ini, hanya ada kau, aku, dan sang Dewa. Ceritakanlah apa pun yang mengganjal di hatimu. Tidak ada rahasia yang terlalu gelap untuk dibasuh oleh cahaya matahari."
Luvya meremas jemarinya di atas pangkuan, aktingnya dimulai. Ia harus memastikan suaranya terdengar cukup rapuh untuk menipu telinga pria di balik tirai itu.
Luvya menarik napas panjang, mencoba menekan rasa muak yang mulai naik ke kerongkongannya. "Bapak... saya merasa tidak pantas berada di bawah cahaya Dewa," bisik Luvya, suaranya bergetar hebat, sebagian karena akting, namun sebagian besar karena amarah yang mulai membara.
Ia mulai bercerita. Luvya menumpahkan segala kekejaman Duke Vounwad yang ia "ingat" dari memori pemilik tubuh asli. Ia menceritakan bagaimana dinginnya tatapan Duke saat melihatnya merintih kesakitan, rasa perih dari ujung cambuk yang membelah kulitnya, hingga ruang bawah tanah yang gelap tempat ia sering dikurung tanpa cahaya.
Namun, semakin dalam Luvya bercerita, semakin aneh perasaan di tubuhnya.
Kepalanya tiba-tiba berdenyut kencang, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk otaknya secara bersamaan. Rasa mual yang hebat menghantamnya, membuat perutnya terasa terbalik. Pandangan Luvya mulai berkunang-kunang, dan bau kemenyan di ruangan itu mendadak berubah menjadi bau anyir yang menjijikkan.
Lalu, dalam hitungan detik, kesadarannya terseret keluar dari ruang pengakuan itu.
Luvya tidak lagi sekadar "mengingat"—ia melihat.
Dalam visi yang begitu nyata dan mengerikan, ia melihat sosok Luvya yang asli—versi dirinya yang sedikit lebih dewasa—sedang meringkuk ketakutan di pojok sebuah ruangan yang lembap. Di depannya, berdiri sosok Imam yang sekarang duduk di balik tirai itu. Pria itu tampak begitu buas, melakukan pelecehan yang tak terbayangkan terhadap Luvya yang asli.
"Hentikan! Kumohon, hentikan!" jerit Luvya yang asli dalam penglihatan itu. Suaranya melengking pilu, penuh penderitaan yang memicu trauma mendalam.
Tiiiit—!
Telinga Luvya berdengung sangat keras, menenggelamkan suara napasnya sendiri. Ia tersentak kembali ke kenyataan, namun seluruh tubuhnya sudah lemas dan bersimbah keringat dingin. Ia nyaris terjatuh dari kursi kayu yang keras itu.
Di balik tirai, sang Imam tampak menyadari ada yang tidak beres. Namun, pria itu tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dengan gerakan yang lambat dan penuh perhitungan, ia menyibakkan tirai pemisah dan melangkah mendekat.
"Anakku? Kau tampak pucat sekali," ucapnya dengan nada suara yang dibuat seolah-olah sangat khawatir, namun matanya tetap tenang, dingin, dan mengamati.
Sang Imam membungkuk, mencoba membopong bahu Luvya yang kecil untuk membantunya berdiri. Namun, meski kesadarannya hanya tinggal setengah, insting pertahanan diri Lily berteriak sangat keras. Bayangan pelecehan yang baru saja ia lihat membuat tangannya bergerak secara refleks.
Plak!
Luvya menepis tangan pria itu dengan kasar. Napasnya memburu, matanya yang berkaca-kaca menatap sang Imam dengan tatapan yang campuran antara ketakutan dan kebencian yang mendalam.
"Jangan... jangan sentuh aku," desis Luvya dengan suara serak, sementara kepalanya masih terasa berputar hebat.
Tangan sang Imam yang besar dan dingin mencengkeram bahu Luvya lebih kuat. Bukannya menjauh setelah ditepis, ia justru merangsek maju. "Tenanglah, Anakku. Kau hanya sedang dikuasai oleh bayang-bayang masa lalumu. Biarkan aku membantumu mengusirnya," ucapnya dengan suara rendah yang terdengar seperti bisikan ular.
Luvya merasakan mual yang semakin menjadi. Sentuhan itu terasa seperti api yang membakar kulitnya. Tidak, aku tidak boleh pingsan di sini! batinnya menjerit. Dengan sisa kesadaran yang kian memudar dan pandangan yang terus berputar, Luvya merangkak, mencoba meraih gagang pintu kayu yang terasa begitu jauh.
Namun, sang Imam tidak melepaskannya. Pria itu terus menariknya kembali, mencoba membungkus Luvya dalam dekapan yang ia sebut sebagai "berkah".
Dalam keputusasaan dan rasa jijik yang memuncak, Luvya mengumpulkan seluruh udara di paru-parunya. Ia tidak peduli lagi dengan citra "anak penurut" yang ia bangun.
"TOLOOOONG! SIAPA PUN, TOLONG AKU!" jerit Luvya sekencang mungkin. Suara melengkingnya memecah keheningan ruangan yang pengap itu, menggema hingga ke lorong luar.
Sang Imam tertegun sejenak, tak menyangka anak sekecil itu akan berani berteriak di ruang sucinya.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah koridor. Pintu ruang kerja sang Imam terbuka dengan dentuman keras. Di ambang pintu, dalam kondisi setengah kesadaran Luvya yang kian mengabur, ia melihat bayangan putih yang berlari mendekat.
Itu adalah Ibu.
"Bapak? Apa yang terjadi?" tanya Ibu dengan nada suara yang campur aduk antara cemas dan tuntutan penjelasan. Matanya beralih ke arah Luvya yang terduduk lemas di lantai dengan wajah pucat pasi dan air mata yang mengalir tanpa henti.
Luvya mencengkeram ujung jubah putih Ibu saat wanita itu sampai di sampingnya. "Ibu... tolong... kepalaku..." bisiknya lirih sebelum akhirnya kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya.