Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.
Tapi takdir berkata lain.
Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.
Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.
Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Sepertinya Hidup Kita Akan Segera Berubah
Setelan tuksedo yang elegan, rambut yang disisir rapi ke arah kiri, dan wajah yang cerah membuat Atlas terlihat berbeda. Langkahnya tampak tenang saat pintu lift terbuka. Pria berambut cokelat itu langsung memikat perhatian Alicia dan Benjamin yang sudah menunggunya.
"Ya ampun, Atlas! Kau terlihat sangat sempurna!" Alicia berlari menghampiri kakaknya, dengan senyum cerah di wajahnya.
"Bukan hanya kau yang terkejut, aku juga cukup kagum dengan penampilanku. Kau juga terlihat cantik, Alicia, gaun merahmu sangat cocok. Kita harus berterima kasih pada Tuan Benjamin karena membuat kita terlihat berkelas."
Benjamin menundukkan kepalanya sambil memegang tongkatnya, menerima pujian yang diberikan oleh Atlas.
"Kalian berdua memang pantas tampil mewah. Ngomong-ngomong, kita sebaiknya berangkat sekarang. Dan Alicia, aku ingin berbicara sebentar dengan kakakmu dalam perjalanan menuju mobil."
"Tentu, Tuan Benjamin." Alicia segera pergi bersama salah satu pengawal Benjamin, meninggalkan kakaknya bersama pria paruh baya berkacamata hitam itu.
"Jadi, Atlas, bagaimana? Apakah kau puas dengan pelayanan yang kuberikan? Kau bisa memberitahuku jika ada yang menurutmu kurang."
"Tidak ada yang kurang, semua ini terasa terlalu berlebihan. Tapi mengingat kau akan menggunakan 'jasaku', rasanya semua ini sepadan." Atlas menjawab dengan tegas, mencoba mencari kesempatan untuk membahas buku yang dia temukan sebelumnya.
"Aku suka cara berpikirmu. Dunia ini terlalu kejam jika kita hanya mengandalkan kebaikan. Akan lebih baik jika kau menjadi seseorang yang bisa menimbang untung dan rugi. Tapi, dari yang kau katakan, kau sudah menemukan cara untuk menyembuhkanku. Apa itu benar?" Benjamin menurunkan kacamatanya dan menatap Atlas dengan senyum yang menyiratkan sesuatu.
Atlas tersenyum miring dan berkata, "Satu langkah lebih dekat. Tapi, ngomong-ngomong, sepertinya ada sesuatu milikmu atau milik seseorang di rumah ini yang tertinggal di kamarku."
"Benarkah? Apa itu?" ekspresi Benjamin berubah menjadi penasaran.
"Sebuah buku, buku hitam yang terlihat seperti buku harian...."
Jantung Atlas berdegup kencang, mempertanyakan apakah pertanyaannya benar atau salah. Sejujurnya, dia takut buku itu memang sengaja ditinggalkan dan Benjamin akan mengambilnya kembali. Namun di sisi lain, Atlas juga ingin tahu apakah Benjamin sengaja memberikannya.
"Buku? Sepertinya tidak ada seorangpun di rumah ini yang memiliki buku harian. Kamar itu dulu adalah tempatku melatih tubuh. Jadi, sudah pasti tidak ada yang pernah menulis di sana. Aku baru mengubah kamar itu menjadi kamar tamu sekitar sebulan yang lalu. Atau mungkin itu buku milik pelatihku yang tertinggal. Ya, itu masuk akal, bukan?"
Jawaban Benjamin membuat Atlas sedikit yakin bahwa buku itu memang tidak sengaja berada di sana. Namun, kecurigaan tetap ada, meskipun sedikit.
"Ah, begitu. Kalau begitu, buku itu aman untuk kumiliki. Aku terbiasa menulis sesuatu untuk mengusir kesepian. Jadi, memiliki media untuk menuangkan pikiranku sambil mencari cara terbaik untuk menyembuhkanmu adalah hal yang bagus. Bolehkah?"
Benjamin menepuk bahu Atlas sambil tertawa kecil dan berkata, "Tentu saja, Atlas! Aku bahkan akan memberimu ribuan dolar jika itu bisa membantumu menghilangkan penyakit sialan ini dari tubuhku. Kau tahu, menggunakan tongkat seperti ini bukan gayaku. Rasanya menyedihkan dan menjijikkan!"
"Kau hanya perlu bersabar, Tuan Benjamin, sebentar lagi kau akan mendapatkan kembali tubuhmu yang sehat."
Benjamin kembali menyeringai dan mengangguk. Langkah mereka telah sampai di depan rumah.
Dua mobil mewah berwarna hitam terlihat terparkir di depan rumah dengan pintunya sudah terbuka. Atlas dan Benjamin akan menggunakan mobil yang berbeda. Senyum Atlas melebar saat pintu mobil tertutup rapat. Dia menggenggam tangan Alicia dan berkata, "Sepertinya hidup kita benar-benar akan berubah."
…
Kilatan kamera menyambut kedatangan Atlas. Begitu banyak paparazi mengambil gambar setiap orang yang keluar dari mobil hingga Atlas dan Alicia merasa ketakutan.
"Ini gila. Apa kita berada di Met Gala? Atau pemutaran perdana film? Apa yang mereka lakukan?" Alicia terlihat gugup.
"Silahkan, Tuan Atlas."
Di tengah kebingungan yang menyelimuti kedua saudara itu, pintu mobil dibukakan oleh salah satu pengawal Benjamin.
Benjamin berdiri, mengulurkan tangannya kepada Atlas dan Alicia. Dia melambaikan tangannya ke arah para paparazi yang sibuk memotretnya. Atlas merasa kagum dengan keanehan ini, seolah dia terjebak dalam sebuah acara yang dulu hanya dia lihat di internet.
"Jangan kaget, tersenyumlah saja. Ini adalah acara penting bagi orang-orang kaya di kota ini, jadi wajar jika banyak paparazi ingin meliput," gumam Benjamin.
Atlas menoleh ke arah Alicia, adiknya masih terlihat bingung. Kilatan cahaya memang menyilaukan, tetapi mengikuti arahan Benjamin, Atlas mencoba berjalan dengan percaya diri seolah dia sudah terbiasa berada di hadapan kamera paparazi.
Dengan begitu banyak cahaya menyerang, saat Atlas sudah berada di dalam aula perjamuan, penglihatannya berubah menjadi hijau dan ungu. Dia membutuhkan beberapa detik untuk memejamkan mata dan mengembalikan penglihatannya ke normal.
"Kau akan terbiasa. Aku akan memperkenalkanmu ke dunia bisnis, kau akan sering menghadiri makan malam yang diadakan oleh para miliarder, dan aku akan membantumu membangun relasi, Atlas. Setidaknya, ini adalah salah satu bukti, sesuatu yang akan kau dapatkan jika kau berhasil menyembuhkanku," bisik Benjamin kepada Atlas.
"Atlas! Lihat!"
Alicia kemudian mengalihkan pandangan Atlas ke seorang gadis yang dia tunjuk.
Gadis dengan gaun merah muda dan rambut yang diikat rapi itu juga tampak melihat ke arah mereka, matanya membelalak. Di sampingnya berdiri seorang pria berkacamata hitam yang ditopang dengan tongkat. Ekspresi pria itu tampak garang. Mereka tidak lain adalah Bianca dan Stevan.
"Aku mohon, jangan lakukan hal buruk, Atlas. Tenang saja, kumohon!" Alicia memohon, kepanikan terlihat jelas dalam suaranya.
Atlas menyeringai. "Aku tidak bisa menjanjikan itu. Kita lihat saja apa yang akan mereka lakukan. Jika itu baik, aku akan diam. Jika buruk, aku akan memastikan dia berakhir di kursi roda.”
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.
Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗