BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai, Kemuning duduk berhadapan dengan Arkatama. Secangkir teh hangat di depannya sudah lama tidak tersentuh. Uapnya bahkan hampir hilang, seperti perasaan hangat yang dulu pernah ia miliki, pelan-pelan lenyap tanpa ia sadari.
“Mas Tama,” panggil Kemuning pelan, tetapi tegas.
Arkatama yang sejak tadi memperhatikannya langsung mengangkat wajah. “Iya, Mbak?”
Kemuning menarik napas dalam. Matanya tidak lagi berkaca-kaca seperti kemarin. Ada sesuatu yang berubah di sana. Sesuatu yang lebih keras.
“Aku mau cerai.” Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa ragu, namun tetap terasa berat.
Arkatama terdiam beberapa detik. Bukan karena terkejut, tetapi karena ia tahu keputusan itu tidak lahir dari emosi sesaat.
“Kamu yakin?” tanya pria itu hati-hati.
Kemuning tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia, lebih seperti senyum seseorang yang sudah terlalu lelah untuk bertahan.
“Kalau aku tetap di sana, aku cuma akan terus dihancurin,” ucap Kemuning pelan. “Sekarang aku sudah tahu semuanya. Aku enggak bisa pura-pura lagi.”
Kemuning menunduk sejenak, jemarinya saling bertaut di atas meja. “Mas Tama, aku bukan cuma mau pergi dan hidup bahagia,” lanjutnya, suaranya sedikit lebih rendah. “Tapi, aku mau mereka tanggung jawab atas semua perbuatannya itu.”
Arkatama mengangguk pelan. “Berarti kita harus siapkan semuanya dari awal. Bukti, saksi, dan pasal pelanggaran hukumnya, Mbak.”
Kemuning mengangguk. “Aku siap.”
Arkatama mengambil napas sebentar, lalu mulai menjelaskan dengan suara tenang, seperti seseorang yang sedang menyusun langkah demi langkah di atas medan yang berbahaya.
“Kalau Mbak mau gugat cerai, kita butuh beberapa hal. Pertama, bukti. Obat itu, hasil lab, itu sudah kuat. Kedua, kalau ada bukti lain, seperti aliran uang, foto atau video, hubungan dengan pihak ketiga, itu akan memperkuat posisi Mbak.”
Kemuning terdiam. Kata “aliran uang” membuat sesuatu terlintas di kepalanya. Ia perlahan mengangkat wajah.
“Mas Tama,” ucap Kemuning pelan. “Peternakan ayam potong, dibangun dari tanah warisan orang tuaku.”
Arkatama langsung menatapnya serius.
“Modal awal juga sebagian besar dari aku,” lanjut Kemuning. “Aditya cuma yang jalanin.”
Napas wanita itu sedikit tertahan. “Kalau dia pakai uang dari sana buat perempuan itu …” ucap Kemuning menggantung, tetapi maknanya jelas.
Arkatama mengangguk pelan. “Berarti itu bisa masuk ke ranah penyalahgunaan harta bersama. Bahkan bisa lebih dari itu.”
Kemuning menunduk lagi. Kali ini bukan karena lemah, tetapi karena sedang berpikir. Selama ini ia merasa tidak punya apa-apa. Ternyata semua yang ia bangun, perlahan diambil darinya dan digunakan untuk menghancurkannya.
Tangan Kemuning perlahan mengepal di atas meja. “Mas Tama, aku enggak mau keluar dengan tangan kosong.”
Arkatama menatapnya, lalu mengangguk mantap. “Aku akan merancang rencana untuk Mbak Kemuning.”
***
Sore itu, hujan turun rintik-rintik. Langit terlihat mendung sejak siang, membuat suasana kampung terasa lebih lengang dari biasanya. Kemuning duduk di teras rumah, ditemani suara air yang menetes dari ujung genteng. Di tangannya, ada map cokelat berisi beberapa dokumen yang sejak tadi ia bolak-balik tanpa benar-benar dibaca. Pikirannya terlalu penuh.
Ponsel Kemuning bergetar pelan di sampingnya.
Nama Arkatama muncul di layar.
Kemuning menatapnya beberapa detik, lalu mengangkat panggilan.
“Halo, Mas.” Suaranya tenang, tetapi ada lelah yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Mbak, lagi di rumah?” tanya Arkatama dari seberang.
“Iya.”
“Kalau enggak keberatan, aku lagi di dekat balai desa. Tadi habis urusan sebentar di sini. Mbak bisa keluar sebentar?”
Kemuning terdiam sejenak. Matanya melirik ke dalam rumah. Suara televisi masih terdengar dari ruang tengah, Bu Ratih seperti biasa, tenggelam dalam acara gosipnya.
“Aku ke depan saja, Mas. Di warung makan Bu Sari,” jawab Kemuning akhirnya.
“Baik. Aku tunggu di sana.”
Telepon ditutup. Kemuning menarik napas pelan, lalu berdiri. Ia merapikan pakaiannya, mengambil map itu, dan berjalan keluar dengan langkah yang lebar dan cepat-cepat.
Warung makan Bu Sari tidak jauh dari rumah. Hanya beberapa rumah saja. Tempat itu sering jadi titik kumpul warga, karena terbuka, ramai di jam tertentu.
Arkatama sudah duduk di bangku panjang saat Kemuning datang. Ia mengenakan kemeja sederhana, terlihat berbeda dari kesan “orang kota” yang dulu pertama kali Kemuning lihat.
“Maaf, nunggu lama?” tanya Kemuning pelan.
Arkatama langsung berdiri sedikit. “Enggak, Mbak. Aku juga baru sampai.”
Mereka duduk berhadapan. Di antara mereka, meja kecil dengan dua gelas teh hangat yang baru saja disajikan Bu Sari.
Beberapa warga lain ada di sana, berbincang santai. Tidak ada yang terlalu memperhatikan mereka.
“Gimana kondisi Mbak hari ini?” tanya Arkatama, suaranya rendah.
Kemuning mengangguk kecil. “Lebih baik.”
Arkatama tidak mendesak. Ia membuka tasnya, mengeluarkan beberapa berkas. “Aku sudah mulai susun kerangkanya. Ini garis besar yang Mbak butuhkan kalau mau lanjut ke gugatan.”
Kemuning menerima kertas itu. Matanya langsung membaca cepat, meski beberapa istilah terasa asing.
“Ini … banyak, ya,” gumam wanita itu.
“Iya,” jawab Arkatama jujur. “Tapi kita enggak harus langsung semuanya. Pelan-pelan saja.”
Kemuning mengangguk. Tangannya berhenti di satu bagian. “Harta pranikah,” ulangnya pelan.
Arkatama mengangguk. “Yang tanah peternakan itu, kan? Itu atas nama Mbak.”
“Iya,” balas Kemuning sambil mengangguk. “Itu peninggalan orang tua.”
“Berarti kuat,” lanjut Arkatama. “Dan kalau memang modal awal usaha dari Mbak, itu juga bisa dilacak.”
Kemuning terdiam. Jarinya mengusap pelan pinggir kertas.
“Selama ini aku enggak pernah mikir sejauh itu,” ucap Kemuning lirih. “Aku percaya, kalau semua yang dia lakukan itu baik buat kami berdua.”
Arkatama tidak langsung menjawab. Ia membiarkan kalimat itu mengendap.
Kemuning menarik napas pelan. “Kalau ternyata uang itu dipakai buat yang lain ...?” Kalimatnya menggantung.
Arkatama menatapnya, sorot matanya lebih tegas. “Makanya kita kumpulkan semua buktinya. Biar semuanya jelas, bukan cuma dugaan.”
Kemuning mengangguk. Ia pun membuka map miliknya, mengeluarkan beberapa lembar yang sudah ia kumpulkan. “Aku nemu ini di lemari,” katanya pelan.
Arkatama menerima. Matanya membaca cepat, ada foto dan bukti transfer. Rahangnya sedikit mengeras. “Ini cukup kuat untuk dijadikan barang bukti,” ucapnya akhirnya.
Kemuning menatap meja. “Aku enggak butuh dia ngaku, Mas,” suaranya hampir berbisik. “Aku cuma butuh, semua kejahatannya terbukti.”
Arkatama mengangguk pelan. “Dan itu yang akan kita lakukan.”
Pertemuan itu tidak lama. Sebelum berpisah, Arkatama berkata, “Kalau ada apa-apa, kabari saja. Enggak harus ketemu. Kita bisa bahas lewat telepon.”
Kemuning mengangguk. “Iya, Mas.”
Langkah Kemuning saat pulang terasa ringan. Walau masih ada sakit dan ada luka di hatinya, tetapi sekarang ada arah di dalam diamnya, tanpa diketahui siapa pun. Kemuning tidak lagi hanya bertahan. Ia sedang menyusun sesuatu. Pelan, rapi, dan pasti.
rasain kmu Aditya 🤣
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus