NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat
Popularitas:437
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Nasi Hangat dari Tetangga & Hati yang Mulai Terbuka

Pagi itu, aku baru saja berhasil menyuapkan bubur terakhir ke mulut Balqis setelah perjuangan sepuluh menit melawan kepala kecilnya yang bergeleng-geleng menolak sendok. “Enggak mau lagi, Yah!” protesnya sambil mendorong mangkuk hingga hampir tumpah.

Aku menghela napas lelah. Sejak semalam demam, nafsu makan Balqis memang turun drastis. Aku sendiri juga belum sarapan — perut keroncongan tapi tak ada tenaga untuk memasak. Di dapur, hanya tersisa sebutir telur dan sedikit nasi sisa kemarin. Cukup untuk Balqis, tapi tidak cukup untukku.

“Yah lapar…” gumam Balqis sambil memeluk lututnya di kursi makan.

“Ayah juga, Dek,” jawabku jujur sambil mengelus punggungnya. “Tapi kita hemat ya. Nanti siang Ayah beli lauk lagi.”

Balqis mengangguk patuh, meski matanya masih sayu. Aku berdiri perlahan, bersiap mengambil air minum, ketika terdengar ketukan pelan di pintu depan.

*Tok… tok… tok…*

Aku terkejut. Jarang sekali ada orang datang ke rumah kami, apalagi di pagi hari. Dengan langkah tertatih, aku membuka pintu.

Di sana berdiri Bu Sari, tetangga sebelah rumah yang selama ini jarang berinteraksi denganku. Ia membawa rantang stainless steel berukuran sedang, wajahnya ramah dengan senyum tipis.

“Selamat pagi, Pak Rudini,” sapanya lembut. “Saya lihat lampu kamar Balqis menyala sampai larut tadi malam. Anak saya bilang dengar Balqis nangis. Apakah dia sakit?”

Aku terdiam sejenak. Tidak menyangka ada yang memperhatikan. “Iya, Bu. Demam tinggi semalam. Alhamdulillah pagi ini sudah enakan.”

Bu Sari mengangguk paham. Lalu ia menyodorkan rantang itu kepadaku. “Ini saya bawakan sup ayam sama nasi hangat. Untuk Balqis dan Bapak. Saya tahu susah kalau harus masak sendirian, apalagi kondisi Bapak seperti ini.”

Aku terpaku. Rantang itu terasa berat di tanganku — bukan karena isinya, tapi karena kebaikan yang terkandung di dalamnya. Selama ini, aku selalu mencoba mandiri. Tak ingin merepotkan orang lain. Bahkan sering kali menolak bantuan karena takut dianggap lemah atau kasihan.

“Bu… saya nggak bisa nerima ini,” kataku pelan, mencoba mengembalikan rantang itu. “Sudah repot-repot…”

“Repot apa, Pak?” potong Bu Sari dengan nada tegas tapi tetap halus. “Kita tetangga. Kalau ada kesulitan, ya saling bantu. Dulu waktu istri Bapak masih ada, kan juga sering bantu saya jenguk anak saya yang sakit. Sekarang giliran saya.”

Air mataku mendesak keluar. Aku lupa betapa hangatnya komunitas sekitar. Betapa baiknya manusia-manusia di sekelilingku yang selama ini aku abaikan karena terlalu fokus pada luka dan keterbatasanku.

“Terima kasih, Bu Sari,” ucapku lirih, suara serak menahan haru. “Saya… saya benar-benar berterima kasih.”

Balqis, yang sejak tadi mengintip dari balik kakiku, tiba-tiba berlari kecil dan memeluk pinggang Bu Sari. “Makasih, Tante Sari! Balqis suka sup!”

Bu Sari tertawa renyah, lalu membelai rambut Balqis. “Iya, Nak. Makan yang habis ya biar cepat sembuh. Nanti tante belikan mainan baru kalau udah sehat.”

Setelah Bu Sari pulang, aku membuka rantang itu. Sup ayamnya masih hangat, aromanya menggugah selera. Nasinya pulen, dilengkapi irisan wortel dan kentang yang dimasak empuk — persis seperti masakan ibu-ibu rumahan yang penuh cinta.

Aku menyuapkan sup itu ke Balqis, yang kali ini lahap sekali tanpa protes. “Enak, Yah!” katanya sambil tersenyum lebar.

Aku ikut mencicipi sedikit. Rasanya luar biasa. Bukan sekadar enak di lidah, tapi hangat di hati. Setiap suapan seperti mengingatkaniku bahwa aku tidak sendirian. Bahwa di tengah kesulitan, Tuhan mengirimkan malaikat-malaikat kecil dalam wujud tetangga yang peduli.

Siang harinya, setelah Balqis tidur siang, aku mencuci rantang Bu Sari dengan hati-hati. Lalu aku menulis catatan kecil di secarik kertas:

> *“Terima kasih, Bu Sari. Kebaikan Ibu bukan hanya mengisi perut kami, tapi juga mengisi kembali hati kami yang sempat kosong. Semoga Allah balas kebaikan Ibu berkali-kali lipat. Kami sangat berterima kasih.”*

Catatan itu kuselipkan di bawah tutup rantang sebelum mengantarkannya kembali ke rumah Bu Sari. Saat aku mengetuk pintunya, ia tersenyum saat membaca catatanku.

“Pak Rudini,” katanya sambil menatapku dalam-dalam, “kalau butuh bantuan apa pun — antar Balqis ke posyandu, beli kebutuhan harian, atau sekadar temen ngobrol — jangan sungkan panggil saya. Kita ini keluarga besar.”

Aku mengangguk, kali ini tanpa ragu. “Insya Allah, Bu. Terima kasih sekali lagi.”

Perjalanan pulang ke rumah terasa lebih ringan. Langit tampak lebih cerah. Hatiku lebih lapang. Aku sadar, menerima bantuan bukan tanda kelemahan. Itu adalah bentuk keberanian — keberanian untuk mengakui bahwa kita butuh orang lain, dan itu tidak apa-apa.

Saya harus menulis bab ini.

Saya harus abadikan momen ketika tembok ego runtuh oleh kebaikan sederhana.

Supaya dunia tahu, bahwa di tengah badai kehidupan, kadang pertolongan datang dari arah yang paling tak terduga.

Satu bab lagi selesai.

Tiga belas bab sudah terangkai.

Target 20 bab tinggal 7 langkah lagi! Kontrak semakin dekat!

Aku tidak sendirian.

Kita tidak sendirian.

Tuhan kirimkan malaikat-Nya melalui tangan-tangan baik di sekitar kita.

1
Ray Penyu
Halo Manusia Ikan 😊
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu baca "Ayah Balqis" dari bab pertama! Aku senang banget ada orang seperti kamu yang mau menyelami kisah Rudini & Balqis sampai ke akar-akarnya.

Kalau ada bagian yang bikin nangis, ketawa, atau bahkan marah… jangan ragu buat komen ya! Ceritanya bakal terus hidup kalau ada teman sepertimu yang ikut merasakan.

Semoga harimu sehangat pelukan Balqis untuk ayahnya ❤️
— Ray Penyu (penulis yang juga sedang belajar jadi ayah terbaik)
Wawan
Semangat ✍️
Ray Penyu: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
Ray Penyu
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
Ray Penyu
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
Ray Penyu: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!