Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.
IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 : Sesi pemotretan
Nayra melangkah masuk perlahan. Jantungnya berdetak tidak teratur. Ruangan itu terlalu indah dan sempurna. Seolah dunia di dalamnya tidak nyata.
“Baik, kita mulai,” ucap fotografer dengan nada profesional. “Nona Nayra, Tuan Arsen, silakan berdiri di tengah.”
Nayra berhenti. Arsen sudah lebih dulu berdiri di titik yang ditentukan, tegap dan tenang. Berbeda dengan Nayra yang bahkan masih mencoba menerima kenyataan.
“Lebih dekat, Nona,” arahan fotografer.
Nayra ragu sesaat. Namun sebelum ia bergerak, Arsen lebih dulu melangkah mendekat. Jarak di antara mereka langsung hilang.
“Pegang tangannya, Tuan,” lanjut fotografer santai.
Arsen menggenggam tangan Nayra. Kali ini lebih jelas dan nyata. Jari-jarinya terasa hangat. Membuat tubuh Nayra sedikit menegang.
“Bagus… sekarang saling tatap,” kata fotografer lagi.
Nayra perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Dekat, bahkan sangat dekat. Nayra bisa melihat detail mata Arsen yang biasanya dingin, kini terasa berbeda, lebih dalam.
Jantung Nayra berdegup lebih cepat tanpa ia sadari.
“Perfect! Tahan… jangan bergerak!”
Klik! Klik! Klik!
Suara kamera terdengar beruntun. Namun Nayra seperti tidak benar-benar mendengarnya. Karena untuk beberapa detik itu, dunia terasa hanya berisi mereka berdua.
“Sekarang, Tuan Arsen… bisa sedikit lebih dekat lagi. Peluk dari belakang.”
Nayra langsung menoleh cepat. “Apa?”
Belum sempat ia protes, Arsen sudah bergerak. Ia berdiri di belakang Nayra. Dan perlahan, tangannya melingkar di pinggang Nayra.
Membuat Nayra membeku. Napasnya tertahan.
“Relax, Nona… santai saja,” ucap fotografer, tidak menyadari ketegangan itu.
Arsen sedikit menundukkan wajahnya, mendekat ke telinga Nayra. “Jangan tegang,” bisiknya rendah. “Ini hanya foto.”
Suara itu, terlalu dekat. Membuat jantung Nayra semakin tidak karuan.
“Sekarang lihat ke depan… ya, bagus. Tuan Arsen, lihat ke Nona Nayra.”
Klik! Klik! Klik!
Kamera kembali berbunyi.
Di sudut ruangan, Raya memperhatikan dengan wajah tidak suka. Tangannya mengepal, sementara Alea… justru tersenyum lebar.
“Kayak di film ya Ka,” bisik Alea pada Kakaknya.
"Diam kamu!" bentak Raya dengan suara pelan
“Pose berikutnya!” seru fotografer semangat. “Tuan Arsen, pegang dagunya… arahkan wajahnya ke arah Anda.”
Nayra langsung menegang lagi. “Tunggu...”
Namun, tangan Arsen sudah lebih dulu menyentuh dagunya lembut, tapi tegas. Wajah Nayra perlahan diarahkan menghadapnya.
Jarak mereka kini, hanya beberapa senti. Napas Arsen terasa jelas. Tatapannya turun ke bibir Nayra, lalu kembali ke matanya.
Bahkan kamera pun seolah berhenti.
“Bagus… lebih dekat lagi sedikit…” suara fotografer terdengar samar.
Dan saat itu, Arsen benar-benar mendekat, sangat dekat. Hanya tersisa satu garis tipis di antara mereka.
Nayra menahan napas, matanya sedikit membesar. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Apa dia...
“Stop!”
***
Di Negeri kincir angin itu. Langit sore berwarna keemasan. Deretan kincir angin besar berputar perlahan, berdiri kokoh di tengah hamparan ladang luas yang hijau. Angin berhembus lembut, membawa suasana tenang, namun juga kesepian.
Di dalam sebuah kamar hotel bergaya klasik modern, seorang wanita duduk di tepi ranjang. Rambutnya tergerai rapi. Tatapannya lembut, namun menyimpan banyak hal yang tidak terucap.
Di tangannya sebuah foto. Foto seorang pria. Pria tampan, dengan wajah tegas dan aura dingin yang kuat.
Wanita itu mengusap permukaan foto perlahan, seolah menyentuh orangnya langsung.
“Kamu… apa kabar?” bisiknya pelan. Suaranya hampir tidak terdengar. “Sudah hampir dua tahun kita tidak bertemu…”
Matanya menunduk. Ada rindu yang dalam, tapi juga keraguan yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Bahkan komunikasi kita terakhir, satu bulan yang lalu.” Ia tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip luka.
Angin dari jendela yang sedikit terbuka meniup tirai tipis di sampingnya. Hanya suara detak jam yang menemani.
Wanita itu menarik napas panjang. Lalu kembali menatap foto itu. “Lusa… aku akan kembali ke Indonesia. Aku harap kamu terkejut dan bahagia melihat kedatanganku.”
Namun di balik kalimat itu, ada harapan yang rapuh. Dan ketakutan yang nyata. Ia menggenggam foto itu sedikit lebih erat.
“Aku hanya ingin kepastian darimu…” Suaranya melemah di ujung kalimat. "Tentang hubungan kita.”
Hening kembali menyelimuti ruangan.
***
“Stop!”
Suara itu menggantung di udara. Namun kali ini… bukan teriakan keras yang memecah suasana. Melainkan suara pelan dari dalam hati Nayra sendiri.
Seketika semuanya terasa melambat. Tatapan Arsen yang terlalu dekat. Napas yang saling beradu.
Dan jarak yang… hampir tidak ada. Nayra tersadar. Perlahan, ia menoleh sedikit, cukup untuk menjauhkan wajahnya beberapa senti.
“Cukup,” ucapnya pelan.
Namun cukup tegas untuk membuat Arsen berhenti.
Fotografer menurunkan kameranya perlahan, sedikit bingung.
Arsen menatap Nayra beberapa detik. Tatapannya masih sama... tenang, dan sulit ditebak. Namun kali ini, ia tidak memaksa. Tangannya perlahan turun.
“Break lima menit,” ucapnya singkat pada tim.
Seolah ia yang mengatur semuanya, dan anehnya tidak ada yang membantah. Nayra langsung melangkah mundur. Dadanya naik turun, ia butuh udara.
Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan keluar dari set foto. Raya langsung mengikutinya.
Sementara Alea masih menoleh ke belakang, sedikit kecewa. “Padahal Mama hampir di cium Om Arsen,” gumamnya polos.
“Diam kamu!” bisik Raya kesal, lalu menarik adiknya pergi menjauh dari sana.
Koridor di luar studio terasa jauh lebih sepi. Langkah Nayra berhenti di dekat dinding kaca tinggi. Ia menatap pantulannya sendiri samar-samar di sana. Gaun putih itu masih melekat di tubuhnya yang ramping. Napasnya masih belum stabil.
Raya berdiri tidak jauh di sampingnya, tangan masih di dalam saku hoodie, tapi kali ini wajahnya tidak setenang biasanya.
“Aku nggak suka,” ucapnya tiba-tiba.
Nayra menoleh pelan. “Apa?”
“Semua ini,” jawab Raya singkat. “Om Arsen maksa Mama.” Nada suaranya datar, tapi jelas ada emosi di dalamnya.
Alea yang berdiri di sisi lain hanya menggenggam ujung gaun Nayra, matanya masih berbinar. “Tapi Mama cantik banget.”
Raya langsung melirik tajam. “Ini bukan soal cantik atau nggak.”
Alea langsung diam.
Nayra menghela napas pelan. Ia menunduk sedikit, lalu berjongkok agar sejajar dengan kedua anaknya.
“Raya,” ucapnya lembut, “kadang… ada hal yang Mama juga belum sepenuhnya mengerti.”
Raya mengernyit. “Tapi Mama tetap nurut?”
Pertanyaan itu, menusuk. Nayra terdiam beberapa detik.
“Iya,” jawabnya jujur. “Karena… Mama juga sedang mencari jawaban.”
Raya tidak langsung membalas. Tatapannya turun, lalu beralih ke arah lain.
“Aku masih belum nggak percaya sama dia,” gumamnya pelan.
Nayra tidak menyanggah. Karena… di dalam hatinya sendiri, ia juga belum sepenuhnya percaya.
Di dalam studio, Arsen berdiri sendiri. Lampu masih menyala. Tim sibuk berbisik-bisik kecil, memberi ruang. Tatapannya mengarah ke pintu tempat Nayra keluar tadi.
Martha mendekat perlahan. “Tuan… apakah sesi akan dilanjutkan?”
Arsen tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu. Lalu...
“Lanjut,” ucapnya singkat.
“Tapi…?”
Arsen akhirnya menoleh. “Saya yang akan bicara dengan dia.”
Nada suaranya tenang. Tapi kali ini… ada sesuatu yang berbeda, lebih serius.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar di koridor. Nayra yang masih berdiri bersama kedua anaknya sedikit menoleh.
Arsen. Ia berjalan mendekat.
Raya langsung berdiri lebih tegak, sedikit maju ke depan, seperti melindungi Nayra.
Arsen berhenti beberapa langkah dari mereka. Tatapannya langsung ke Nayra. “Kita belum selesai,” ucapnya datar.
semangat, lanjut thoor😄👍