NovelToon NovelToon
Idola Kampus Itu Pacarku

Idola Kampus Itu Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"

​Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keadilan yang harus di tegakkan

Baskara menuntun Lara menuju area parkir khusus dengan sangat hati-hati, seolah gadis itu adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja. Setelah memastikan Lara duduk nyaman di dalam mobil yang sejuk dengan AC menyala, ia mengunci pintu dari dalam melalui remote dan memberikan tatapan menenangkan.

​"Tunggu di sini, Lara. Jangan keluar untuk alasan apa pun. Saya dan Randy harus menyelesaikan urusan ini dengan Pak Dekan agar semuanya jelas dan tidak ada lagi yang berani mengganggumu," ucap Baskara tegas.

​Lara hanya bisa mengangguk patuh, menatap punggung tegap Baskara yang berjalan menjauh bersama Randy menuju gedung rektorat. Di dalam mobil yang sunyi, Lara menatap tangannya yang terbalut perban, hatinya merasa campur aduk antara sedih karena insiden tadi dan haru karena pembelaan Baskara yang begitu luar biasa.

​Sementara itu, di ruang Dekanat, suasana terasa sangat tegang. Baskara berdiri dengan sikap sempurna di depan meja Pak Dekan, sementara Randy menyerahkan sebuah map berisi bukti-bukti pelanggaran Manda, termasuk laporan dari keamanan kampus mengenai sabotase listrik di sekitar perumahan mahasiswa.

​"Mohon maaf sebelumnya, Pak," buka Baskara dengan suara rendah namun penuh penekanan. "Saya sebagai Ketua Panitia tidak bisa menoleransi tindakan intimidasi fisik dan mental yang dilakukan saudari Manda. Ini bukan lagi sekadar masalah internal organisasi, tapi sudah masuk ke ranah pelanggaran etik berat yang mencoreng nama baik universitas."

​Pak Dekan mengamati berkas tersebut dan menghela napas panjang. "Baskara, saya tahu Manda adalah salah satu mahasiswa berprestasi kita, tapi bukti yang kamu bawa—terutama kejadian di kantin yang disaksikan banyak orang—memang tidak bisa dibiarkan."

​Randy ikut menambahkan, "Bukan hanya itu, Pak. Kami punya bukti komunikasi Manda dengan pihak luar untuk mengganggu keamanan di lingkungan tempat tinggal salah satu asisten panitia. Ini sudah masuk kategori kriminal ringan."

​Baskara menatap lurus ke arah Pak Dekan. "Saya meminta surat keputusan resmi untuk pencopotan tidak hormat dan pembekuan hak organisasinya selama satu tahun kedepan. Jika tidak, saya sendiri yang akan membawa masalah ini ke jalur hukum untuk melindungi korban."

​Ketegasan Baskara membuat Pak Dekan terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Keadilan untuk Lara sedang diperjuangkan secara mutlak oleh pria yang selama ini dikenal dingin itu.

Setelah perundingan yang cukup alot di ruang Dekanat, Baskara akhirnya keluar dengan wajah yang lebih tenang namun tetap tegas. Surat keputusan telah diproses; Manda resmi dijatuhi sanksi berat. Keadilan telah ditegakkan, namun pikiran Baskara tetap hanya tertuju pada satu orang: gadis yang menunggunya di mobil.

​Baskara berjalan cepat menuju area parkir. Begitu ia membuka pintu mobil, suasana sejuk dan aroma parfum sisa semalam menyambutnya. Ia melihat Lara sedang menyandarkan kepalanya di kaca jendela, matanya terpejam. Wajahnya tampak pucat dan kelelahan setelah rentetan kejadian traumatis yang menimpanya.

​Baskara urung menyalakan mesin. Ia hanya duduk diam di kursi kemudi, menatap lekat wajah Lara yang sedang tertidur. Tangannya perlahan terulur, seolah ingin mengusap sisa kecemasan di dahi Lara, namun ia menghentikannya di udara. Ia tidak ingin membangunkan Lara dari istirahat yang sangat ia butuhkan.

​"Maafkan saya karena terlambat melindungimu," bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar di antara deru halus AC mobil.

Baskara memutar kemudi menuju sekolah Arsel terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa jauh lebih tenang, meski ketegangan kecil masih menyelimuti benak Lara karena memikirkan pertemuan Baskara dengan ayahnya nanti.

​"Kita jemput Arsel dulu," ucap Baskara pendek namun lembut. "Dia pasti bingung kalau pulang sendiri, apalagi setelah hujan badai semalam."

​Lara mengangguk, menyandarkan punggungnya di kursi mobil yang empuk. "Iya, Kak. Kasihan Arsel kalau harus menunggu lama."

​Tepat saat mereka sampai di depan gerbang SMP, Arsel terlihat sedang berdiri bersama beberapa temannya. Begitu melihat mobil kakaknya, wajahnya langsung cerah. Ia berpamitan dan berlari kecil menuju mobil. Namun, begitu membuka pintu belakang dan masuk, senyumnya memudar melihat suasana di dalam mobil.

​"Lho, Kak Lara kenapa? Kok tangannya dibungkus perban gitu?" tanya Arsel panik sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. "Bang Bas! Kak Lara diapain? Kok bisa luka?"

​"Ada insiden kecil di kantin tadi, Sel. Nanti Abang jelaskan," jawab Baskara singkat sambil mulai melaju menuju rumah Lara.

​"Insiden apa? Pasti gara-gara si nenek lampir itu ya?" tebak Arsel tepat sasaran. Ia langsung meraih tangan Lara yang tidak terluka dan menggenggamnya erat. "Sabar ya Kak Lara, Bang Baskara pasti sudah kasih pelajaran buat dia. Abangku ini kalau sudah marah serem banget lho."

​Lara tersenyum tipis, merasa terhibur dengan celotehan Arsel yang selalu jujur. "Nggak apa-apa kok, Sel. Sudah beres semua."

1
ASTRI LIANTI
kok di paragraf atas ga berjilbab kok di sini berjilbab sih
Zet3: mksh kak koreksi nya,aku perbaiki yaa🙏🏻
total 1 replies
Ryuu
semangat terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!