NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Bayang di Fajar

Fajar datang pelan di atas hutan, seperti enggan membangunkan tanah yang semalam terlalu lama berdoa dalam gelap.

Wira terbangun sebelum cahaya benar-benar masuk. Tubuhnya masih letih, tetapi tidur singkat di bawah pohon besar itu membuat kepalanya sedikit lebih jernih. Udara pagi dingin menusuk lengan, dan embun menempel di ujung rerumputan di sekitar tempat mereka beristirahat. Di kejauhan, burung-burung mulai bersahut satu per satu, sementara kabut tipis bergerak di antara batang-batang pohon seperti asap putih yang belum selesai hilang.

Panca masih tidur dengan kepala miring ke akar pohon, mulut sedikit terbuka, napasnya berat tetapi teratur. Wira menatap sahabatnya sebentar, lalu mengalihkan pandang ke Ki Rangga. Gurunya itu belum tidur benar-benar dalam. Ia duduk tak jauh, punggung tegak, mata setengah terbuka, dan tangan bertumpu ringan di lutut. Sikapnya seperti orang yang tidak pernah sepenuhnya lengah, bahkan saat dunia di sekelilingnya tampak diam.

Wira bangkit perlahan. Tanah di bawahnya agak basah oleh embun. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menatap ke arah jalur di depan. Hutan pagi ini tampak berbeda dari malam tadi. Tidak sehitam dan setakut itu, tetapi justru lebih luas. Cahaya pucat yang turun dari celah daun membuat bayangan memanjang di tanah, dan itu memberi Wira rasa asing yang aneh. Seolah setelah melewati malam yang panjang, dunia tetap sama, tetapi dirinya sudah berubah sedikit.

Ki Rangga memperhatikannya bangun. “Kau terjaga lebih awal.”

Wira mengangguk kecil. “Aku tidak bisa tidur lama.”

“Bagus. Berarti tubuhmu masih waspada.”

Wira menoleh sekilas. “Itu pujian?”

“Anggap saja penilaian.”

Panca bergerak kecil, lalu mengerang pelan sebelum membuka mata. “Kalau kalian mau bicara, tolong pilih waktu setelah aku hidup sepenuhnya.”

Wira hampir tersenyum. “Kau bangun juga akhirnya.”

Panca mengusap wajah, lalu menegakkan tubuh dengan susah payah. “Aku bangun karena kalian berdua bicara seperti orang yang tidak punya simpati kepada orang tidur.”

Ki Rangga menatapnya datar. “Kalau kau tidur terlalu nyenyak, itu bisa jadi masalah.”

Panca mendengus. “Aku lebih khawatir kalau kita terlalu lama berdiri di sini tanpa makan.”

Ki Rangga mengeluarkan simpul kain dari dalam bungkusan kecil yang ia bawa, lalu melemparkannya ke arah Panca. “Ada sedikit bekal.”

Panca menangkapnya cepat. Begitu membukanya, matanya langsung berbinar. “Akhirnya.”

Wira duduk di atas akar pohon dan menerima bagiannya. Isinya sederhana: singkong rebus yang sudah agak dingin, sedikit garam, dan sepotong kecil lauk kering. Namun setelah malam panjang dan pikiran yang penuh, makanan sesederhana itu terasa seperti anugerah. Mereka makan tanpa banyak bicara. Hanya suara burung pagi dan desir daun yang menemani.

Setelah beberapa saat, Ki Rangga berkata, “Kita bergerak setelah makan.”

Wira menatapnya sambil mengunyah. “Ke mana?”

“Ke jalur yang mengarah ke kampung kecil di timur laut.”

Panca mengerutkan dahi. “Masih ada kampung yang aman?”

“Tidak ada yang benar-benar aman,” jawab Ki Rangga. “Tapi ada tempat yang lebih kecil kemungkinan disisir.”

Wira menelan makanan di mulut. “Kenapa ke sana?”

Ki Rangga memandang lempeng kayu kecil yang tadi malam Wira simpan kembali di pinggangnya. “Karena ada orang di sana yang mungkin pernah melihat sesuatu tentang benda itu.”

Wira langsung menegakkan tubuh. “Serius?”

Ki Rangga mengangguk pelan. “Kalau ingatan masa laluku tidak salah.”

Panca mengangkat alis. “Kau bilang kalau ingatanmu tidak salah?”

“Karena manusia tidak selalu sepenuhnya yakin pada semua yang mereka kenang.”

Panca menatap Wira, lalu menghela napas. “Aku mulai paham kenapa kau tidak pernah mau menjawab dengan cara sederhana.”

Wira sendiri justru fokus pada satu hal. “Jadi ada orang yang tahu tentang tanda ini?”

“Bisa jadi,” jawab Ki Rangga. “Atau setidaknya pernah melihat orang yang membawanya.”

Wira menatap benda kecil di pinggangnya. Semakin lama, lempeng kayu itu terasa bukan seperti beban, melainkan seperti pintu yang belum tahu bagaimana dibuka. Ia ingin bertanya lebih banyak, tetapi melihat Ki Rangga yang tampak masih hati-hati, ia menahan diri. Ada sesuatu dalam nada gurunya yang menandakan bahwa perjalanan mereka belum sampai pada jawaban, hanya pada petunjuk.

Mereka berangkat tak lama setelah selesai makan. Hutan pagi mulai hidup. Suara serangga berkurang, diganti kicau burung dan gemerisik ranting yang digoyang angin. Jalur yang mereka lalui menurun perlahan, melewati semak liar dan akar pohon besar. Kadang Wira harus memegang batang untuk menahan tubuhnya saat tanah agak licin. Panca mengeluh kecil beberapa kali, tetapi tetap mengikuti tanpa menolak.

Setelah beberapa jam berjalan, mereka tiba di bagian hutan yang lebih terang. Pohon-pohon di sana tidak serapat sebelumnya, dan celah pandang ke arah selatan mulai terbuka. Dari sana, lembah bisa terlihat samar. Wira melihat sekilas garis asap yang masih tersisa jauh di kejauhan. Rumahnya. Desanya. Tempat yang semalam masih ia sebut rumah. Dadanya kembali terasa sesak.

Ki Rangga berhenti di sebuah batu besar dan memandang ke arah yang sama. “Asapnya masih terlihat.”

Wira mengangguk tanpa suara.

Panca menepuk bahunya ringan, lalu berkata pelan, “Kita akan kembali suatu hari.”

Wira tidak langsung menjawab. Ia tidak tahu apakah itu janji, penghiburan, atau harapan yang sengaja diucapkan agar mereka tetap berjalan. Namun ia memilih tidak membantah. Ia hanya memandang jauh ke arah desa yang sudah berubah menjadi bekas luka di ingatannya.

Mereka melanjutkan perjalanan. Menjelang tengah hari, suara air mulai terdengar. Semakin dekat, semakin jelas. Ki Rangga membawa mereka ke sebuah aliran sungai kecil yang airnya jernih, mengalir di antara batu-batu hitam dan akar pohon tua. Tempat itu tidak luas, tetapi nyaman untuk berhenti sejenak. Ki Rangga menyuruh mereka minum dan membasuh wajah.

Wira jongkok di tepi air. Wajahnya memantul di permukaan, lalu terganggu riak kecil ketika tangannya menyentuh air. Di sana, ia melihat dirinya sendiri dengan lebih jelas. Wajah yang belum dewasa, mata yang masih menyimpan kebingungan, dan mulut yang tampak lebih keras dari biasanya. Ia tidak lagi terlihat seperti anak desa biasa yang main di sawah. Ada sesuatu yang mulai berubah dari dirinya, meski ia belum tahu apa.

Panca duduk di batu pipih sambil melepas sepatu dan mengibas-ibaskan kaki. “Kalau terus jalan begini, aku yakin bisa mati karena kaki pegal.”

“Kalau kau mati karena pegal, aku akan mengingatnya sebagai kematian yang sangat tidak mulia,” kata Wira.

“Terima kasih atas dukunganmu.”

Ki Rangga memeriksa sekitar sebentar, lalu duduk di seberang mereka. Suasana sejenak tenang. Wira memanfaatkan keheningan itu untuk bertanya hal yang sejak tadi menggantung di kepalanya.

“Ki Rangga.”

“Ya?”

“Kalau orang di kampung timur laut itu pernah lihat benda ini, kenapa dia tidak langsung datang ke desa kami?”

Ki Rangga menatap air sungai sebelum menjawab. “Karena orang-orang seperti itu biasanya tidak ingin ikut campur sebelum yakin risikonya kecil.”

Panca mengernyit. “Jadi dia pengecut?”

“Bukan selalu.” Ki Rangga menggeleng. “Kadang orang yang tahu terlalu banyak justru memilih diam demi keselamatan.”

Wira memandang air di depan. “Berarti dia tahu sesuatu tentang ibuku?”

“Bisa jadi.”

“Dan tentang ayahku?”

Ki Rangga tidak menjawab cepat. Wira melihat sejenak keraguan yang sangat kecil di wajah gurunya, lalu lelaki itu berkata, “Semua kemungkinan itu ada.”

Wira menunduk. Ia tidak suka jawaban yang melingkar seperti itu, tetapi ia juga mulai memahami bahwa sebagian rahasia memang tidak bisa diambil dengan paksa. Mereka hanya bisa didekati. Perlahan. Dengan hati-hati.

Tak lama kemudian, Ki Rangga bangkit lagi. Mereka menyusuri tepian sungai kecil hingga menemukan jalan setapak yang lebih sempit. Di sana, tanah mulai menanjak lagi. Di beberapa titik, mereka harus menyingkirkan ranting dan melewati semak rendah. Wira mulai lelah, tetapi kali ini ia tidak mengeluh. Ia menekan rasa pegal itu dalam-dalam dan terus mengikuti langkah gurunya.

Menjelang sore, mereka tiba di sebuah dataran kecil di tepi hutan. Dari sana, tampak beberapa rumah sederhana di kejauhan, tersembunyi di balik pepohonan dan ladang kecil. Tidak banyak. Mungkin hanya satu kelompok rumah yang berdiri terpisah dari kampung utama. Ki Rangga berhenti di balik semak dan mengamati tempat itu lama.

“Itu?” tanya Panca.

Ki Rangga mengangguk. “Ya.”

“Kelihatannya biasa saja.”

“Justru itu yang kuharapkan.”

Wira memandang rumah-rumah kecil itu. Ada orang-orang yang bergerak di halaman, beberapa perempuan menjemur sesuatu di dekat pagar bambu, dan satu anak kecil berlari membawa batang kayu pendek. Pemandangan itu begitu biasa hingga Wira sempat merasa hampa. Desa kecil itu tampak damai, jauh dari api dan kekacauan.

Namun ketenangan itu langsung berubah ketika dari salah satu rumah, seorang perempuan tua keluar ke halaman dan berhenti mendadak. Ia tampak memandang ke arah hutan, ke tempat mereka bersembunyi.

Wira otomatis menegakkan tubuh. “Dia lihat kita?”

Ki Rangga memberi isyarat agar tetap diam. “Mungkin.”

Perempuan tua itu tidak langsung bergerak. Ia hanya berdiri sejenak, lalu memanggil seseorang ke dalam rumah. Tak lama kemudian, seorang lelaki paruh baya keluar dan mengikuti arah pandangnya. Wira tidak bisa mendengar percakapan mereka, tapi wajah lelaki itu tampak berubah. Seolah ada sesuatu yang ia kenali atau setidaknya curigai.

“Kenapa mereka menatap ke sini?” bisik Panca.

Ki Rangga menatap lebih lama. “Karena aku pernah lewat sini dulu.”

Wira menoleh cepat. “Kau kenal mereka?”

“Tidak semua. Tapi aku pernah melihat beberapa orang di kampung ini.”

Panca langsung berdiri setengah jongkok. “Kalau mereka kenal kau, itu bagus atau buruk?”

Ki Rangga tidak menjawab. Ia hanya memerhatikan lelaki paruh baya tadi yang kini berjalan ke arah pinggir ladang, seperti hendak memastikan sesuatu. Perempuan tua tadi masih berdiri di halaman, wajahnya penuh curiga.

Wira mulai merasa tak enak. “Kita mau ke sana?”

“Belum,” jawab Ki Rangga. “Kita tunggu dulu.”

“Menunggu apa?”

“Apakah mereka akan mendekat sendiri.”

Wira memandang kampung itu tanpa berkedip. Hatinya mulai berdebar lagi. Ada firasat bahwa sesuatu yang mereka cari akan muncul di tempat ini. Bukan musuh, mungkin. Bisa jadi jawaban. Namun jawaban seperti apa, ia belum tahu.

Beberapa menit kemudian, lelaki paruh baya tadi berjalan ke arah jalan kecil yang menuju hutan. Ia membawa keranjang anyaman di tangan kiri, seolah hendak pura-pura pergi mencari kayu atau daun. Tetapi matanya jelas menyapu sekeliling dengan waspada. Ia berhenti beberapa langkah dari tempat persembunyian mereka, lalu menatap lurus ke semak tempat Ki Rangga berdiri.

“Keluar,” kata lelaki itu.

Wira terkejut. Panca refleks mundur setengah langkah.

Ki Rangga tidak terlihat kaget. Ia justru menghela napas kecil, lalu melangkah keluar dari balik semak. Wira mengikuti dengan hati-hati. Panca menyusul setelah ragu sebentar.

Lelaki paruh baya itu menatap Ki Rangga lama, lalu sorot matanya bergeser ke Wira. Wajahnya berubah sedikit. Ada semacam pengakuan yang belum jadi kata.

“Kau datang juga,” katanya pelan.

Ki Rangga membalas dengan nada datar, “Aku tak menyangka kau masih tinggal di sini.”

Lelaki itu mengangguk tipis, lalu matanya kembali ke Wira. “Dan anak ini... jadi dia yang dibicarakan itu.”

Wira langsung menegang. “Dibicarakan siapa?”

Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia justru memandang Ki Rangga lagi, seolah mengukur apakah percakapan ini aman. Ki Rangga memberi anggukan singkat.

Baru setelah itu lelaki itu berkata, “Kalau dia benar anak perempuan itu, berarti masalah lama belum selesai.”

Wira merasakan tengkuknya dingin.

Panca langsung menoleh tajam. “Perempuan itu siapa?”

Lelaki paruh baya itu menatap Wira dengan wajah yang sulit dibaca. “Kalau kau ingin tahu, masuklah ke kampung. Ada hal yang tidak pantas dibicarakan di tepi hutan.”

Wira menatap Ki Rangga. Gurunya itu menatap lelaki paruh baya tersebut tanpa banyak emosi, lalu berkata singkat, “Kalau dia memanggil kami masuk, berarti ingatannya belum padam.”

Lelaki paruh baya itu tersenyum tipis, seperti orang yang sudah paham bahwa perjalanan mereka memang diarahkan ke sini. “Masuklah. Sebelum malam turun. Dan sebelum ada orang lain yang mencium jejak kalian.”

Wira melangkah pelan mengikuti Ki Rangga dan Panca menuju kampung kecil itu, sementara dada dan pikirannya kembali dipenuhi satu nama yang selama ini menjadi pusat dari segalanya: ibunya.

Dan di ujung sore yang mulai redup, rahasia itu akhirnya mulai membuka pintunya.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!