“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pengganggu
Peta usang yang dirampas Lu Ming dari para perampok tebing itu terasa kasar di jemarinya yang mulai kapalan.
Ia berdiri di sebuah persimpangan jalan setapak yang ditumbuhi ilalang setinggi pinggang, di mana angin lembah bertiup kencang membawa aroma hujan yang tak kunjung turun.
"Ibu... ke mana aku harus mencarimu?" gumamnya lirih.
Matanya menyapu cakrawala yang hanya berisi deretan gunung menjulang, seolah mereka adalah penjaga rahasia dunia yang enggan ia tembus.
Setelah berjalan selama dua hari tanpa arah pasti, menembus kabut yang menyesatkan, Lu Ming akhirnya melihat kepulan asap tipis di kejauhan.
Di balik lembah yang dipenuhi rumpun bambu berwarna gelap hampir hitam berdirilah sebuah pemukiman kecil bernama Desa Bambu Hitam.
Desa itu tampak sederhana, namun suasananya terasa dingin.
Orang-orang di sana memiliki tatapan waspada, tipikal penduduk perbatasan yang sering berurusan dengan binatang buas atau pengembara liar.
Lu Ming memutuskan menetap sejenak. Ia menyewa sebuah pondok bobrok di pinggiran desa dengan sekeping perak hasil rampasannya.
Di sana, di bawah atap yang bocor, ia mulai mempraktikkan apa yang selama ini Paman Han ajarkan dengan lebih serius.
"Tarik napas... biarkan panas itu mengalir ke sumsum tulang," bisik Lu Ming pada dirinya sendiri.
Ia duduk bersila di atas batu besar di belakang pondoknya. Ini adalah tahap krusial dari Pengerasan Dasar.
Lu Ming bisa merasakan energi alam di sekitar hutan bambu ini sedikit lebih tebal daripada di kota. Ia memaksakan Qi tipis itu masuk ke dalam pori-pori kulitnya.
Rasanya mengerikan. Seolah-olah ribuan jarum panas ditusukkan ke seluruh tubuhnya sekaligus. Keringat dingin mengucur deras, membasahi jubahnya yang dekil.
Sumsum tulangnya terasa seperti diaduk-aduk oleh palu godam yang membara. Namun, Lu Ming tidak berteriak.
Ia menggertakkan gigi hingga gusi-gusinya berdarah, membiarkan rasa sakit itu menjadi pengingat akan setiap penghinaan yang pernah ia terima.
"Jika aku tidak bisa melewati ini, aku hanya akan menjadi mayat di pinggir jalan... Aku tidak akan pernah melihat senyum Ibu lagi," batinnya menguatkan diri.
Selama beberapa pekan, Lu Ming terus mengulang proses menyakitkan itu. Tubuhnya perlahan mulai berubah, kulitnya yang dulu pucat kini tampak memiliki kilau sehat, dan otot-ototnya menjadi lebih padat seperti kawat baja yang tersembunyi di balik jubah longgarnya.
Namun, keberadaan anak asing yang pendiam dan selalu bermeditasi itu mulai mengusik ketenangan para pemuda desa.
Mereka dipimpin oleh seorang pria berbadan besar yang kita sebut saja Guntur, yang merasa dirinya adalah penguasa karena memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata manusia biasa.
Suatu sore, saat Lu Ming sedang berjalan menuju sumur desa dengan ember kayu, Guntur dan tiga kawannya menghadang jalan.
"Oi, Bocah Gembel!" teriak Guntur sambil meludah ke arah kaki Lu Ming. "Aku perhatikan kau sudah sebulan di sini. Kau pikir tempat ini panti asuhan? Bayar upeti tambahan atau kau akan kami lempar ke hutan untuk jadi pupuk!"
Lu Ming berhenti. Ia menunduk, menatap bayangan wajahnya di air dalam ember. "Maaf, Tuan-tuan. Saya tidak ingin mencari masalah. Saya hanya ingin mengambil air dan kembali berlatih."
"Berlatih? Hahaha! Lihat dia!" Guntur tertawa meremehkan, lalu menendang ember kayu Lu Ming hingga hancur berkeping-keping. Airnya tumpah, membasahi tanah kering yang berdebu. "Kau pikir dengan duduk diam seperti patung, kau bisa jadi kultivator? Kau hanyalah sampah yang menunggu mati!"