NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Batas yang di langgar

Aku menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantung yang mendadak tidak karuan. Dengan map laporan di pelukan, aku melangkah menuju ruangan di ujung lorong itu. Kantor sudah mulai sepi, hanya menyisakan beberapa staf yang masih berkemas untuk pulang.

Tok, tok.

"Masuk."

Aku membuka pintu perlahan. Danendra sedang duduk di balik meja besarnya, tanpa jas, dengan lengan kemeja yang digulung hingga siku. Ia tampak sedang mempelajari sesuatu di laptopnya, namun begitu aku masuk, ia langsung menutup layarnya dan memusatkan seluruh perhatiannya padaku.

"Ini laporan yang Bapak minta," ucapku formal, meletakkan map itu di atas mejanya tanpa berani menatap matanya.

Danendra tidak menyentuh map itu. Ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan dingin, namun ada sisa-sisa amarah yang ia pendam sejak di lapangan tadi.

"Duduk, Azzalia," perintahnya. Singkat dan mutlak.

"Maaf, Pak, tapi pekerjaan saya sudah selesai. Kalau tidak ada lagi, saya ingin segera pulang."

"Saya bilang duduk." Suaranya merendah, satu oktav lebih dalam, menandakan dia tidak sedang menerima penolakan.

Aku akhirnya duduk di kursi di depannya dengan punggung tegak dan kaku. Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa saat, hanya terdengar suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur ledakan emosi di antara kami.

"Tadi di lapangan... kamu panggil aku apa?" tanya Danendra tiba-tiba, suaranya kini melunak, seolah ia sedang menguji reaksiku.

Aku mengepalkan tangan di bawah meja. "Saya sedang kesakitan tadi, Pak. Itu hanya refleks masa lalu yang tidak sengaja terucap. Saya harap Bapak tidak menganggapnya serius."

Danendra terkekeh getir, ia memajukan tubuhnya ke arah meja, memperpendek jarak di antara kami. "Refleks masa lalu? Kamu benar-benar hebat dalam menyangkal, Zal. Setelah enam tahun, setelah semua yang aku lakukan, kamu masih tetap mau berdiri di balik tembok itu?"

"Tembok ini ada karena alasan yang jelas, Nen!" suaraku naik, zirahku mulai retak lagi. "Kamu punya dunia yang sempurna di sana. Kamu sukses, kamu dihormati. Kenapa kamu harus balik lagi ke sini dan ngusik hidup aku yang sudah tenang?"

"Tenang?" Danendra berdiri, membuatku refleks mendongak. "Kamu sebut hidup kamu tenang saat setiap malam kamu harus nangis di balik pintu kost? Kamu sebut tenang saat kamu harus terus-menerus lari dari orang yang cuma mau jaga kamu?"

Ia berjalan memutari meja dan berhenti tepat di samping kursiku. Aku ingin berdiri dan lari, tapi kehadirannya seolah mengunci pergerakanku.

"Aku tahu soal ayahmu, Azzalia."

Aku mematung. Kata "Ayah" yang keluar dari mulut Danendra terasa seperti belati yang menyayat luka lama yang selama ini kututup rapat dengan perban baja. Bukannya merasa lega, dadaku justru meledak oleh rasa sesak dan amarah yang meluap.

Aku berdiri dengan sentakan kasar hingga kursi di belakangku berderit nyaring.

"Siapa yang kasih kamu hak buat cari tahu soal itu?" desisku dengan suara bergetar karena emosi. Mataku yang tadinya dingin kini berkilat tajam menatapnya.

Danendra ikut berdiri, wajahnya yang tadi melunak kini kembali tegang. "Zal, aku cuma—"

"Cuma apa? Kasihan sama aku? Merasa jadi pahlawan karena sekarang kamu tahu kalau aku ini anak narapidana?" potongku cepat. Aku tertawa getir, tawa yang terdengar menyakitkan di telingaku sendiri. "Ini alasan kenapa aku benci kamu ada di sini, Nen. Kamu selalu lancang masuk ke area yang sudah aku kunci mati!"

"Aku nggak kasihan sama kamu, Azzalia! Aku cuma mau kamu berhenti merasa sendirian!" suara Danendra naik, ia mencoba mendekat tapi aku melangkah mundur dengan cepat.

"Aku nggak sendirian! Aku tenang sebelum kamu datang!" teriakku, tidak peduli lagi jika suaraku terdengar sampai ke lobi. "Selama enam tahun aku berhasil bangun hidupku dari nol tanpa ada orang yang tahu masa laluku. Dan sekarang kamu datang, bawa semua kotoran itu lagi ke depan mukaku!"

Aku menyambar tas kerjaku dengan kasar. Map laporan yang tadi kusisun rapi kini hanya jadi tumpukan kertas tak bermakna di atas mejanya.

"Jangan pernah bahas soal Ayah atau masa lalu itu lagi. Anggap kamu nggak pernah tahu," ucapku dengan nada final yang sangat dingin. "Dan satu hal lagi, Pak Danendra... kalau Anda mau asisten yang ramah dan nggak punya rahasia, silakan cari orang lain. Besok saya akan ajukan pengunduran diri dari posisi asisten teknis Anda,biar mbak selly atau staf lain yang menggantikanya."

Aku berbalik dan melangkah lebar menuju pintu, tidak memberinya kesempatan untuk membalas. Tanganku gemetar hebat saat memutar gagang pintu, tapi aku tidak menoleh. Aku harus keluar dari ruangan ini sekarang juga sebelum zirah besiku benar-benar hancur dan mempermalukan diriku sendiri di depannya.

Aku keluar dari ruangan itu dengan langkah yang nyaris menyerupai lari. Suara pintu yang tertutup di belakangku terdengar seperti tanda berakhirnya pertahananku yang terakhir. Aku tidak peduli pada sisa staf yang menatap heran saat aku melewati koridor dengan wajah merah padam dan mata yang mulai berkaca-kaca.

Bagiku, Danendra bukan pahlawan. Dia adalah ancaman. Dari dulu, aku membenci caranya yang selalu merasa punya hak untuk tahu segalanya. Dia tidak paham bahwa bagi orang sepertiku, ketidaktahuan adalah sebuah perlindungan. Berbagi masalah bukan gayaku; aku lebih suka menelan semuanya sendiri, membiarkan luka itu mengeras menjadi beton daripada membaginya dan melihat orang lain mengasihani diriku.

Begitu sampai di meja kubikel, aku menyambar kunci motor dan tas tanpa merapikan apa pun. Aku tidak ingin ada di gedung ini satu detik lagi.

"Zal? Lo mau ke mana? " teriak Nesha yang kaget melihatku terburu-buru, tapi suaranya hanya menjadi angin lalu.

Aku memacu motor menembus jalanan Kota J yang mulai gelap. Angin malam menghantam wajahku, tapi tidak bisa mendinginkan kepalaku yang mendidih. Aku benci fakta bahwa dia tahu soal Ayah. Aku benci fakta bahwa dia menggunakan rahasia itu seolah-olah itu adalah jembatan untuk mendekat. Padahal bagiku, itu adalah jurang yang tidak akan pernah bisa diseberangi siapapun.

Sesampainya di kost, aku langsung mengunci pintu. Aku terduduk di balik pintu, menyembunyikan wajah di antara lutut. Aku lebih suka hidup dalam kegelapanku sendiri daripada harus dipaksa masuk ke dalam cahayanya yang menyilaukan dan penuh tuntutan.

Ting.

Ponselku bergetar. Satu pesan masuk dari Danendra.

Danendra Aditama:

"Kamu bisa lari dari posisi asisten, Zal. Tapi kamu nggak bisa lari dari kenyataan kalau aku nggak akan pernah berhenti. Aku nggak peduli kamu suka atau nggak, aku nggak akan biarin kamu simpan semuanya sendiri lagi. Istirahatlah, besok kita bicara sebagai orang asing kalau itu yang kamu mau."

Aku melempar ponsel itu ke atas kasur. Dia tetap Danendra yang sama pemaksa, keras kepala, dan selalu merasa tahu apa yang terbaik untukku. Dia tidak sadar bahwa dengan "ingin tahu", dia justru sedang menghancurkan sisa-sisa kedamaian yang susah payah aku bangun sendirian.

Malam itu, aku mulai mengetik surat pengunduran diri secara resmi. Bukan cuma sebagai asistennya untuk dua Minggu,tapi mungkin dari seluruh proyek ini. Karena berada dekat dengannya hanya akan membuat rahasiaku terus terkuliti, dan aku lebih memilih kehilangan pekerjaan daripada harus kehilangan privasi yang menjadi satu-satunya kehormatan yang tersisa dalam hidupku.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!