Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penampilan Baru Sang Legends
Sinar matahari pagi menembus celah-celah tirai di sebuah safe house mewah yang terletak di lereng bukit terpencil di pinggiran Bogor. Villa ini bukan sekadar tempat peristirahatan; ini adalah benteng teknologi yang dibangun Vittorio sebagai rencana cadangan jika Jakarta menjadi terlalu panas. Di luar, kabut masih menyelimuti pepohonan pinus, namun di dalam kamar utama, suasana terasa sangat dingin dan penuh perhitungan.
Vittorio berdiri di depan cermin besar setinggi langit-langit. Di atas meja di hadapannya, terletak sebuah koper titanium yang dikirimkan oleh kurir rahasia dari Singapura semalam. Di dalamnya bukan berisi uang, melainkan instrumen untuk sebuah transformasi.
Selama ini, ia bersembunyi di balik identitas Arjuna yang sederhana—kaos oblong, celana jins, dan rambut yang sedikit berantakan khas mahasiswa. Namun, peristiwa berdarah di pesta kampus telah membuktikan bahwa penyamaran itu tidak lagi cukup untuk melindungi apa yang ia sayangi. Jika dunia ingin ia menjadi monster, maka ia akan menjadi monster paling elegan yang pernah mereka lihat.
"Sudah waktunya kembali menjadi legenda," bisik Vittorio pada bayangannya sendiri.
Vittorio memulai transformasinya. Ia mengambil sepasang lensa kontak khusus—bukan untuk mengubah warna mata, melainkan lensa cerdas yang terhubung langsung dengan sistem Maya. Saat ia memakainya, dunia di matanya berubah menjadi antarmuka digital yang mampu memindai suhu tubuh, mengenali wajah dari database interpol, dan mendeteksi senjata tersembunyi dalam radius lima puluh meter.
Kemudian, ia menangani rambutnya. Ia memangkas sisi sampingnya dengan sangat rapi, menyisakan bagian atas yang ia tata ke belakang menggunakan pomade berkualitas tinggi, menciptakan gaya classic slick back yang tajam. Garis wajahnya yang tadinya tampak lembut sebagai mahasiswa, kini menonjol dengan tegas—rahang yang kuat dan tatapan mata yang sanggup menghentikan detak jantung lawan.
Terakhir, ia membuka kompartemen utama koper itu. Sebuah setelan jas custom-made berwarna midnight blue yang terbuat dari serat kevlar ringan namun sangat kuat. Jas ini mampu menahan tusukan pisau dan peluru kaliber kecil, namun tetap terlihat seperti karya seni penjahit terbaik di Milan.
Vittorio mengenakan kemeja putih sutra, mengancingkan manset peraknya yang berbentuk kepala serigala, dan memasang dasi sutra dengan simpul Windsor yang sempurna. Saat ia mengenakan jasnya, bahunya tampak lebih lebar, postur tubuhnya lebih dominan. Ia bukan lagi Arjuna yang mencoba menyesuaikan diri; ia adalah Sang Legends yang siap mengklaim kembali takhtanya.
Di ruang tengah villa, Karin sedang duduk di sofa sambil menyeruput cokelat panas, masih mengenakan piyama bermotif kucing dan kaki dibalut gips ringan akibat terkilir semalam. Ia sedang asyik menonton kartun pagi sampai suara langkah sepatu kulit yang mantap di lantai marmer membuatnya menoleh.
Karin terpaku. Gelas cokelatnya hampir terlepas dari tangannya.
"J-juna?" gagap Karin. Matanya membelalak, memindai pria yang berdiri di depannya. "Ini beneran lu? Atau gue lagi mimpi gara-gara efek obat bius semalam?"
Vittorio berdiri dengan tangan di saku celana, membiarkan Karin mengagumi perubahan itu sejenak. "Namaku Vittorio, Karin. Tapi kau boleh tetap memanggilku Juna jika itu membuatmu nyaman."
Karin bangkit berdiri, tertatih-tatih mendekati Vittorio. Ia menyentuh bahan jas Vittorio dengan ujung jarinya. "Gila... lu ganteng banget, Jun. Lu kayak keluar dari poster film James Bond tapi versi yang lebih mahal dan lebih galak. Rambut lu... rahang lu... lu beneran keliatan kayak... raja."
"Aku butuh penampilan ini, Karin," suara Vittorio terdengar lebih berat dan berwibawa. "Hari ini, kita tidak akan bersembunyi lagi. Kita akan menemui Lorenzo secara resmi. Tidak sebagai buronan, tapi sebagai mitra sejajar yang memegang kendali penuh."
"Gue juga harus ganti baju?" tanya Karin semangat. "Gue punya daster yang motifnya bunga matahari, mungkin bisa—"
"Tidak, Karin," Vittorio tersenyum tipis, senyum yang kali ini terasa sangat berkelas. "Di kamar sebelah, ada seseorang yang sudah menyiapkan segalanya untukmu. Jika aku kembali menjadi legenda, maka asistenku juga harus tampil sebagai legenda."
Dua jam kemudian, pintu kamar sebelah terbuka. Karin melangkah keluar dengan canggung namun penuh pesona. Ia mengenakan gaun formal berwarna hitam yang elegan namun memiliki potongan modern yang memudahkan pergerakan. Rambutnya disanggul rapi dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya. Di lehernya, kalung platina sederhana yang senada dengan gelangnya berkilau indah.
Ia tidak lagi terlihat seperti gadis semprul yang hobi makan seblak di pinggir jalan; ia terlihat seperti asisten pribadi seorang eksekutif duni bawah tingkat tinggi.
"Gimana, Jun? Gue nggak keliatan kayak biduan dangdut lagi, kan?" tanya Karin sambil mencoba berputar, meski kakinya sedikit kaku.
Vittorio menatap Karin dengan tatapan yang sangat dalam. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi kedewasaan Karin yang selama ini tersembunyi di balik keceriaannya. "Kau terlihat sempurna, Karin. Sangat profesional."
"Makasih, Bos. Tapi jujur ya, ini korsetnya sesek banget. Gue rasa gue nggak bisa napas kalau harus lari-lari lagi," keluh Karin sambil menepuk perutnya.
Vittorio tertawa kecil. "Hari ini, kau tidak perlu lari. Kau cukup duduk di sampingku, membawa tablet, dan terlihat sangat mengintimidasi dengan data-data yang kau miliki."
Mobil Rolls-Royce hitam yang sudah dimodifikasi dengan kaca anti-peluru meluncur tenang menuju sebuah hotel butik di Jakarta yang telah dikosongkan oleh Lorenzo untuk pertemuan ini. Di sepanjang jalan, Tiger dan timnya mengawal dengan tiga SUV hitam, membentuk formasi perlindungan V yang ketat.
Saat mobil berhenti di depan lobi, para pengawal Lorenzo yang berseragam lengkap segera bersiaga. Mereka semua terpana saat pintu mobil terbuka.
Vittorio melangkah keluar terlebih dahulu. Aura yang ia pancarkan begitu kuat hingga para penjaga itu secara tidak sadar menundukkan kepala. Ia memperbaiki letak kancing jasnya, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Karin keluar.
Mereka berjalan masuk ke dalam lobi dengan langkah yang sinkron. Suara ketukan sepatu kulit Vittorio dan hak tinggi Karin bergema di ruangan yang sunyi itu, menciptakan irama dominasi yang tak terbantahkan.
Don Lorenzo sudah menunggu di ruang makan privat paling atas. Saat melihat penampilan baru Vittorio, Lorenzo yang sedang memegang gelas kristal berisi wiski langsung terdiam. Ia meletakkan gelasnya dengan perlahan.
"Vittorio..." Lorenzo berdiri, suaranya mengandung rasa hormat yang belum pernah ada sebelumnya. "Aku melihat hantu ayahmu, Alessandro, berdiri di raga itu. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Kau terlihat lebih berbahaya daripada dia."
Vittorio duduk di kursi utama, bukan di kursi tamu yang telah disiapkan. Ia memberikan isyarat agar Karin duduk di sampingnya. Karin segera membuka tabletnya, menampilkan logo Genovese-Arjuna Syndicate yang baru saja ia buat tadi pagi.
"Lorenzo," ucap Vittorio, suaranya tenang namun tajam seperti silet. "Aku sudah selesai bermain-main sebagai mahasiswa. Serangan di kampus semalam adalah penghinaan terhadap wilayahku. Dan kau tahu, Genovese tidak pernah membiarkan penghinaan berlalu tanpa balasan."
"Itu bukan perintahku, Vittorio! Itu faksi Marco yang membangkang!" Lorenzo mencoba membela diri.
"Aku tidak peduli itu perintah siapa," potong Vittorio. Ia mengambil tablet dari tangan Karin dan menggeser sebuah dokumen ke arah Lorenzo melalui koneksi nirkabel. "Dalam dokumen itu, aku sudah membeli 40% saham pelabuhan Genoa melalui perusahaan cangkang di Indonesia. Itu artinya, aku punya kekuatan untuk menutup jalur distribusi Lupi di Mare di Eropa hanya dengan satu telepon."
Lorenzo membelalakkan mata. "Kau... kau melakukan itu dalam satu malam?"
"Jangan remehkan asistenku," Vittorio melirik Karin yang sedang mencoba menahan senyum bangganya. "Karin telah menemukan celah di sistem perbankan bayanganmu. Sekarang, aku bukan lagi adik tiri yang kau kasihani. Aku adalah pemegang saham mayoritas dari kelangsungan hidupmu."
Karin berdeham, mencoba menyesuaikan suaranya agar terdengar seperti wanita bisnis yang dingin. "Berdasarkan data yang saya analisis, Don Lorenzo, kerugian bulanan Anda jika kami menutup jalur Genoa mencapai 80 juta Euro. Dan itu belum termasuk aset Anda di Singapura yang sudah kami bekukan sistemnya sejak pukul lima pagi tadi."
Lorenzo bersandar di kursinya, tampak sangat lelah. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi berhadapan dengan Arjuna yang emosional. Ia berhadapan dengan seorang jenius militer yang memiliki "senjata" bernama informasi di sampingnya.
"Jadi... apa maumu, Sang Legends?" tanya Lorenzo pasrah.
"Pertama, aku ingin kepalamu memberikan perintah resmi kepada seluruh klan di Italia bahwa Indonesia adalah wilayah terlarang bagi Lupi di Mare. Tidak ada pengiriman, tidak ada mata-mata, tidak ada gangguan," Vittorio mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kedua, kau akan menyerahkan seluruh jaringan logistik Hadi Sujatmiko yang tersisa kepadaku. Dan ketiga... kau akan membayar semua kerusakan di kampusku, termasuk biaya pengobatan setiap mahasiswa yang terluka."
"Kau peduli pada mahasiswa-mahasiswa itu?" Lorenzo tertawa sinis.
"Mereka adalah rakyatku sekarang. Dan seorang raja selalu melindungi rakyatnya," jawab Vittorio tanpa ragu.
Lorenzo terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah. Kau menang, Vittorio. Kau benar-benar telah menjadi legenda baru. Tapi ingat, posisi di atas sangatlah dingin. Kau akan butuh lebih dari sekadar jas bagus untuk tetap bertahan."
"Aku punya sesuatu yang tidak dimiliki ayahku, Lorenzo," Vittorio menatap Karin, yang saat itu sedang diam-diam mencoba mengambil camilan di meja dengan sangat anggun. "Aku punya seseorang yang bisa kupercayai."
Pertemuan berakhir. Saat mereka berjalan kembali menuju mobil, suasana ketegangan mulai mencair. Begitu pintu mobil Rolls-Royce tertutup rapat dan mereka menjauh dari hotel, Karin langsung melepas sepatu hak tingginya dan menghela napas sangat panjang.
"HUFT! Sumpah, Jun! Gue tadi hampir pingsan pas lu bilang 'pemegang saham mayoritas'! Itu kata-kata paling keren yang pernah gue denger keluar dari mulut lu!" teriak Karin kegirangan.
Vittorio melepas dasinya, melonggarkan kerah kemejanya. "Kau melakukannya dengan sangat baik, Karin. Terutama bagian tentang kerugian 80 juta Euro itu. Dari mana kau dapat angka itu?"
"Gue ngasal dikit sih, Jun. Tapi gue liat di Google kalau pelabuhan Genoa itu gede banget, jadi gue tambahin aja nol-nya biar kedengeran serem," Karin nyengir lebar.
Vittorio tertawa terbahak-bahak. Ternyata, meskipun penampilannya sudah berubah menjadi legenda duni bawah yang paling ditakuti, ia tetap memiliki asisten yang paling semprul di dunia. Dan itulah kombinasi yang membuat mereka tak terkalahkan.
"Jadi, apa rencana kita sekarang, Raja?" tanya Karin sambil memakan keripik yang ternyata sempat ia "amankan" dari meja Lorenzo.
Vittorio menatap ke luar jendela, ke arah jalanan Jakarta yang mulai macet. Penampilan barunya bukan hanya soal pakaian, tapi soal pernyataan perang terhadap siapa pun yang berani mengganggu kedamaian mereka.
"Sekarang?" Vittorio tersenyum. "Sekarang kita cari warung soto yang paling enak. Aku berhutang soto padamu karena sudah berbohong soal 80 juta Euro itu."
"ASIAP! Tapi gue mau pake kerupuknya dua bungkus ya!"
Mobil mewah itu meluncur membelah kemacetan Jakarta, membawa sepasang legenda baru yang siap mengukir sejarah mereka sendiri—bukan dengan darah yang sia-sia, melainkan dengan kecerdikan, gaya, dan tentu saja, sedikit kenekatan yang hanya dimiliki oleh Arjuna dan asisten setianya. Sang Predator telah berganti kulit, dan kini, seluruh duni bawah harus belajar untuk tunduk pada gaya barunya.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍