Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Mansion keluarga Enver-Valerio berdiri megah, sebuah istana modern dengan arsitektur kaca dan baja yang memancarkan kekuasaan. Bagi dunia luar, tempat ini adalah simbol dinasti bisnis yang tak tergoyahkan. Namun bagi Logan, rumah ini adalah satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu mengenakan topeng berandalnya.
Begitu deru mesin Ducati-nya berhenti di depan teras luas, pintu jati setinggi tiga meter itu terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan keanggunan yang tak lekang oleh waktu berlari kecil menyambutnya.
"Sayang! Kau akhirnya pulang!" seru sang Mommy, langsung memeluk putra tunggalnya dengan erat. Ia menjauh sedikit, memegang kedua pipi Logan sambil meneliti wajahnya dengan cemas. "Kau tampak lebih kurus, Logan. Apa kau tidak makan dengan benar di apartemen mu?"
Logan tertawa rendah, membiarkan ibunya menghujaninya dengan perhatian. "Ini bukan kurus, Mom. Ini namanya otot yang lebih kering. Aku sedang rajin di gym dan lapangan basket."
"Otot atau bukan, Mommy akan menyuruh koki memasak semua makanan kesukaanmu malam ini," putusnya tanpa bantahan.
Di ruang tengah, sang Daddy—Marcus-Valerio duduk di sofa kulit sambil membaca jurnal ekonomi. Ia mendongak, matanya yang tajam di balik kacamata menatap putranya dengan bangga sekaligus tegas.
"Bagaimana dengan mobil mu, Logan? Aku dengar kau memesan mobil baru tapi masih sering terlihat memakai motor berisik mu itu," tanya Marcus.
Logan memeluk ayahnya, lalu duduk di lengan sofa. "Aku sudah nyaman dengan motorku, Yah. Aku tidak memerlukannya lagi untuk saat ini. Lebih mudah menembus kemacetan L.A. dengan roda dua."
"Jangan sampai ibumu cemas melihatmu terus-menerus terpapar angin jalanan," Marcus memperingatkan, meski ia tahu putranya sekeras kepala dirinya sendiri.
Setelah obrolan keluarga yang hangat namun singkat, Logan pamit untuk naik ke kamarnya. Kamar yang luasnya hampir menyamai satu lantai apartemen biasa, dengan pemandangan langsung ke kolam renang dan hutan kota. Logan melempar jaketnya ke sembarang tempat, merebahkan tubuhnya di atas ranjang king-size, dan seketika itu juga, pikirannya hanya tertuju pada satu nama.
Vivian sedang duduk di kursi santai apartemennya, mengenakan kaos oversized yang menutupi setengah pahanya saat ponselnya bergetar. Panggilan video dari Logan. Ia menghela napas, namun sudut bibirnya terangkat kecil.
"Sudah sampai di istanamu, Tuan Muda?" goda Vivian begitu layar menampilkan wajah Logan yang sedang berbaring dengan rambut berantakan.
"Sudah, Kak. Dan aku baru sadar, istana ini terasa sepi tanpa suara omelanmu," sahut Logan. Matanya menyipit, menatap layar dengan intensitas yang berbeda. "Kau sudah mandi, Sayang?"
"Sudah. Kenapa?"
"Bibirmu tampak sangat seksi malam ini. Warnanya... aku tidak tahu, aku hanya ingin sekali menggigitnya sampai kau memprotes," bisik Logan, suaranya berubah menjadi bariton yang sangat rendah dan serak.
Vivian memutar bolanya, berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Hentikan, Logan. Kau mulai terdengar seperti kucing kelaparan."
"Aku memang lapar, tapi bukan karena makanan Mommy," Logan bergeser, membawa wajahnya lebih dekat ke kamera. Matanya turun ke arah tubuh Vivian yang hanya terbalut kaos tipis. "Vivian..."
"Hm?"
"Bisa kau lepaskan celana dalammu? Aku ingin tahu apa kau memakai sesuatu yang secantik wajahmu di bawah sana."
Vivian terdiam sejenak, matanya menyipit tajam. Rasa muak dan geli bercampur menjadi satu. "Oh, kau ingin bermain?" Vivian justru mencondongkan tubuhnya ke kamera, memberikan tatapan menantang yang belum pernah Logan lihat. "Ingin melihat bagian mana, Logan? ke bawah lagi?"
Logan tersentak, tidak menyangka Vivian akan membalas dengan seberani itu. "Kau... kau serius?"
"Kau ingin ku pukul?" semprot Vivian seketika, kembali ke mode galaknya. "Berhenti bicara sampah atau aku matikan teleponnya sekarang juga."
Logan tertawa terbahak-bahak, merasa menang karena berhasil memancing reaksi Vivian. Namun, suasana ceria itu mendadak berubah saat Vivian mengatur posisinya dan menatap Logan dengan raut wajah yang sangat serius.
"Logan, aku ingin bertanya sesuatu. Dan aku ingin kau jujur," ucap Vivian.
"Apa pun untukmu, Sayang."
"Apa kau sudah sering tidur dengan kekasih-kekasihmu sebelumnya? Termasuk gadis yang merusak mobilku itu?" Vivian terdiam sejenak, ingatannya kembali pada Moana yang mengamuk hebat. "Dia menuduhku pelakor dengan kemarahan seperti wanita yang baru saja kehilangan dunianya. Apa kau... sudah memberinya segalanya?"
Senyum Logan perlahan memudar. Pertanyaan itu menghantam titik sensitif yang selama ini ia kunci rapat. Ingatannya melayang pada Elena, satu-satunya wanita yang pernah ia biarkan menyentuh ranjangnya, namun akhirnya membalasnya dengan pengkhianatan di depan matanya sendiri.
Logan tidak segera menjawab. Keheningan itu terasa sangat lama di antara mereka.
Vivian yang melihat keterdiaman Logan, menarik napas panjang. Ia berasumsi diamnya Logan adalah sebuah konfirmasi. "Jangan lupa pakai pengaman, Logan. Kau masih dua puluh tahun. Masa depanmu masih sangat panjang. Jangan hancurkan hidupmu hanya karena kesenangan sesaat."
Hati Logan mencelos. Ia ingin menjelaskan bahwa Moana tidak pernah ia sentuh, bahwa reputasi playboy-nya hanyalah kulit luar. Namun, ada rasa sakit yang melarangnya untuk membela diri. Jika Vivian ingin menganggapnya pria seperti itu, biarlah.
"Kenapa? Kau takut aku menghamili gadis lain lalu meninggalkanmu?" Logan mencoba mengembalikan suasana dengan nada menggoda yang dipaksakan.
"Aku hanya menasehati mu sebagai orang yang... lebih dewasa," sahut Vivian kaku.
"Kalau begitu, bagaimana jika kau saja yang aku hamili?" tanya Logan tiba-tiba, membuat mata Vivian membelalak.
"Aku tidak butuh masa depan yang panjang jika aku bisa menghabiskannya bersamamu sekarang. Aku siap menikah denganmu, Kak. Aku bahkan siap menjadi Daddy untuk anak-anak kita nanti. Kita bisa membuat satu sekarang jika kau mau buka pintu apartemenmu."
"Logan! Kau gila!" teriak Vivian, wajahnya kini benar-benar merah padam sampai ke telinga.
"Aku memang gila, dan kau adalah penyebabnya," Logan menyeringai, kembali ke mode menyebalkannya yang biasa untuk menutupi luka di hatinya. "Tidurlah, Vivian. Mimpikan aku. Mimpikan bagaimana aku akan melamar mu besok pagi."
Logan mematikan telepon sebelum Vivian sempat membalas. Ia menatap langit-langit kamarnya yang mewah, merasakan kekosongan yang aneh.
Di satu sisi, ia ingin Vivian tahu bahwa dia tidak serendah yang dipikirkan wanita itu. Namun di sisi lain, ia sadar bahwa dalam kontrak ini, perasaan adalah variabel yang paling berbahaya—dan ia, sang bocah, sepertinya sudah kalah telak dalam permainannya sendiri.