NovelToon NovelToon
MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANALISIS PASCA-TRAUMA DAN DEBAR YANG KONTINU

Kesunyian di koridor lantai empat Rumah Sakit Medika Utama terasa lebih berat dari biasanya. Jam dinding digital sudah menunjukkan pukul dua pagi. Operasi darurat pasca-kecelakaan berantai yang melibatkan dr. Devan dan tim bedahnya baru saja dinyatakan selesai sepuluh menit yang lalu.

Devan keluar dari ruang sterilisasi dengan wajah yang nyaris pucat. Ia melepas penutup kepalanya, membiarkan rambut cokelat gelapnya yang berantakan tertempel di dahi karena keringat. Tangannya yang biasanya stabil kini terasa sedikit kaku setelah memegang mikroskop bedah selama hampir sebelas jam tanpa henti.

"Operasi yang luar biasa, Devan. Teknik penutupan dura mater yang kamu lakukan tadi benar-benar di luar ekspektasi," suara dr. Sarah memecah keheningan. Ia berjalan di samping Devan, tampak sama lelahnya namun tetap berusaha menjaga wibawa.

Devan hanya mengangguk singkat. "Kerja bagus juga untuk tim anestesi dan asisten. Saya harus ke ruangan saya."

"Kamu butuh kopi? Atau mungkin makan sesuatu? Aku tahu tempat yang masih buka di dekat sini," tawar Sarah, matanya menatap Devan dengan binar yang sulit disembunyikan.

"Terima kasih, Sarah. Tapi saya sudah punya janji," jawab Devan datar. Ia tidak berhenti berjalan, meninggalkan Sarah yang terpaku menatap punggungnya dengan kepalan tangan yang mengeras di sisi tubuhnya.

Di dalam ruangan dr. Devan, lampu hanya menyala separuh. Di atas sofa kulit yang biasanya hanya digunakan Devan untuk tidur singkat, tampak seorang gadis meringkuk dengan damai. Kania tertidur dengan memeluk tas kanvasnya, sementara kotak bekal bermotif bunga yang tadi siang ia bawa sudah kosong dan tercuci bersih di atas meja rupanya perawat asisten Devan sempat memberikan bekal itu pada Devan di jeda operasi singkat.

Devan mendekat tanpa suara. Ia melepaskan jas dokternya dan menyampirkannya ke sandaran kursi. Ia berdiri di depan sofa, menatap wajah Kania yang tampak sangat tenang. Ada sedikit noda tinta di jarinya mungkin sisa mengerjakan revisi skripsi sambil menunggunya.

"Dasar keras kepala," gumam Devan pelan.

Ia seharusnya membangunkan Kania dan menyuruhnya pulang. Secara medis, tidur di posisi meringkuk seperti itu tidak baik untuk tulang belakang dan sirkulasi darahnya. Namun, Devan justru menemukan dirinya duduk di lantai di depan sofa, menyandarkan punggungnya ke kaki sofa, tepat di samping kepala Kania.

Pikiran Devan yang tadinya dipenuhi dengan istilah-istilah medis seperti *hematoma*, *edema*, dan *sinapsis*, perlahan-lahan mulai beralih ke hal-hal yang tidak punya istilah ilmiah. Seperti bagaimana cara Kania mengerutkan hidungnya saat tidur, atau bagaimana aroma stroberi dari rambut gadis itu perlahan mengalahkan bau antiseptik yang seharian ini ia hirup.

Tiba-tiba, Kania bergerak. Ia membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali sebelum menyadari keberadaan Devan di bawahnya.

"Dokter?" suaranya serak khas orang bangun tidur.

"Saya bangunkan kamu?" tanya Devan tanpa menoleh, kepalanya masih bersandar pada sofa.

Kania langsung duduk tegak, mengucek matanya. "Udah selesai? Jam berapa sekarang? Pasiennya gimana? Dokter nggak apa-apa? Ada yang luka?" pertanyaan beruntun itu meluncur begitu saja.

Devan akhirnya menoleh, menatap Kania dengan tatapan yang sangat dalam. "Pasien stabil. Jam dua pagi. Dan saya... saya baik-baik saja sekarang setelah melihat kamu."

Kania terdiam. Pipinya mendadak terasa panas. "Ih, Dokter belajar dari mana sih gombal kayak gitu? Pasti abis baca jurnal *'Cara Merayu Mahasiswi yang Lagi Ngantuk'* ya?"

"Saya bicara berdasarkan fakta objektif, Kania. Detak jantung saya melambat ke ritme istirahat yang optimal saat saya masuk ke ruangan ini dan melihat kamu. Itu data, bukan gombal," balas Devan dengan gaya kaku andalannya.

Kania tertawa kecil, ia bergeser ke pinggir sofa agar bisa melihat wajah Devan dengan lebih jelas. Ia melihat lingkaran hitam di bawah mata pria itu. Tanpa sadar, Kania mengulurkan tangannya, mengusap pelan kerutan di dahi Devan.

"Dokter capek banget ya?"

Devan memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan hangat Kania yang terasa seperti kompres yang menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. "Sangat. Tapi saya tidak menyesal."

"Makasih ya udah nepati janji buat keluar dari ruang operasi. Aku tadi hampir aja pulang karena takut ganggu, tapi aku inget janji kelingking kita," ucap Kania tulus.

Devan membuka matanya, lalu ia meraih tangan Kania yang ada di dahinya, menggenggamnya erat dan membawanya ke depan bibirnya. Ia mencium punggung tangan Kania dengan sangat lembut, sebuah tindakan yang jauh dari kesan klinis atau logis.

"Kania, saya ingin bertanya sesuatu."

"Apa, Dok? Mau tanya soal pasal-pasal di skripsiku?"

"Bukan. Soal kencan ke Puncak yang kamu minta," Devan menatap Kania lurus-kurus. "Bagaimana kalau kita lakukan akhir pekan ini? Saya akan mengosongkan jadwal saya, tidak ada operasi, tidak ada konsultasi. Hanya saya dan kamu."

Mata Kania membelalak. "Beneran?! Dokter nggak bohong kan? Dokter nggak bakal tiba-tiba diculik dr. Sarah buat bedah otak orang?"

"Saya sudah bicara dengan dekan dan direktur rumah sakit. Saya mengambil cuti dua hari. Itu keputusan paling tidak efisien yang pernah saya buat, tapi... saya rasa saya sangat membutuhkannya," Devan tersenyum tipis.

Kania langsung menghambur memeluk leher Devan, membuat pria itu hampir terjengkang ke belakang. "Makasih, Pak Dokter! Aku bakal siapin *list* makanan paling enak di Puncak! Kita bakal makan jagung bakar sampai kembung!"

Devan tertawa pelan, sebuah suara yang sangat jarang terdengar di koridor rumah sakit itu. Ia membalas pelukan Kania, membenamkan wajahnya di bahu gadis itu. Di tengah kelelahan yang luar biasa, ia menyadari satu hal: dr. Devan mungkin bisa membedah saraf manusia paling rumit sekalipun, tapi hanya Kania yang bisa menyembuhkan lelahnya tanpa menggunakan alat bedah sama sekali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!