NovelToon NovelToon
Misteri Sekolah Warisan

Misteri Sekolah Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Mustaqimah

Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.

Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8-Dinda Kusuma

Belum sempat Elara menuntaskan rasa penasaran dan pertanyaan besar di dalam hatinya mengenai sosok Kakek berjubah putih yang dilihatnya tadi, tiba-tiba terdengar suara kunci pintu yang dimasukkan ke lubang kunci, diikuti bunyi mekanisme pintu yang terbuka dari luar.

Klik...

Pintu kamar itu perlahan terdorong masuk. Masuklah seorang gadis remaja dengan langkah kaki yang sangat pelan, nyaris tak terdengar suaranya.

Itulah Dinda.

Saat Dinda baru saja melangkah masuk dan menutup pintu kembali, matanya tak sengaja berpapasan dengan Elara yang sedang berdiri di dekat lemari. Tubuh Dinda sedikit tersentak kaget, bahunya terangkat sedikit, jelas ia tidak menyangka kalau Elara satu kamar dengannya.

Melihat reaksi kaget Dinda, Elara segera tersenyum ramah dan berusaha bersikap akrab, tidak ingin menimbulkan kesan canggung di hari pertama mereka bertemu. Ia pun segera mendekat selangkah sambil mengulurkan tangan kanannya.

"Oh, hai... Kenalin ya, aku Elara. Elara Nirmala," ucap Elara lembut dengan nada suara yang sopan dan ceria, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi kaku itu. "Mulai hari ini dan seterusnya kita bakal satu kamar, bertiga sama Keisha ya. Salam kenal ya, semoga kita bisa akrab dan nyaman bareng-bareng di sini."

Dinda diam sejenak, menatap tangan Elara yang terulur itu, lalu perlahan matanya beralih menatap wajah Elara sekilas. Ia tersenyum namun wajahnya penuh ketakutan, lalu menjawab singkat dengan suara yang sangat lirih dan rendah, hampir berbisik.

"Dinda."

Hanya itu satu kata yang keluar dari mulutnya. Tanpa menambah kalimat lain, tanpa menyalami tangan Elara, dan tanpa menatap lebih lama lagi, Dinda langsung melewati Elara begitu saja. Ia berjalan lurus menuju meja belajar yang terletak di sudut ruangan, tepat di depan tempat tidurnya yang berukuran besar.

Dinda meletakkan tas punggungnya di kursi dengan hati-hati dan pelan. Kemudian ia duduk tegak di sana, punggungnya lurus dan kaku. Ia segera membuka tasnya, mengeluarkan tumpukan buku tebal, buku tulis, serta kotak pensil yang jumlahnya cukup banyak. Tak lama kemudian, ia sudah mulai memegang pulpen dan menulis sesuatu di atas kertas dengan fokus yang sangat tinggi, seolah-olah keberadaan Keisha maupun Elara di ruangan itu sama sekali tidak ada artinya baginya.

Elara menatap punggung Dinda yang diam dan hening itu dengan perasaan bingung dan sedikit canggung. Ia menarik kembali tangannya yang tak disambut, lalu berbalik menatap Keisha dengan wajah bertanya-tanya, seolah bertanya "Dia kenapa ya?".

Keisha yang sedari tadi memperhatikan semuanya dengan senyum tipis, segera mendekat ke arah Elara, lalu berbisik pelan di dekat telinga sahabat barunya itu sambil melirik ke arah Dinda yang masih asyik menulis.

"Udah, jangan dipikirin banget dan jangan diambil hati ya, El. Dia orangnya emang gitu kok dari dulu," bisik Keisha dengan nada santai dan maklum. "Dinda itu pendiam banget, pemalu, dan tertutup. Dia jarang banget ngomong. Dia lebih suka nyibukin diri sama buku dan tulisan daripada ngobrol atau bercanda kayak kita. Dia bukan orang jahat atau sombong lho, sifatnya emang begitu aja. Jadi kamu sabar aja ya sama dia, lama-lama kamu bakal terbiasa kok."

Elara mengangguk mengerti, napasnya ia hembuskan perlahan lalu tersenyum kembali, berusaha berpikir positif.

"Iya, aku ngerti kok. Nggak apa-apa deh, yang penting dia baik, sopan, dan nggak bikin masalah. Aku sih oke-oke aja," jawab Elara santai. Ia kembali menoleh ke arah tas jinjingnya yang masih berisi sisa barang-barang yang belum dimasukkan ke lemari. "Udah ah, aku lanjutin beres-beres lagi aja deh. Biar cepet kelar, biar nanti malem nggak ribet lagi nyari barang ke mana-mana. Sisa baju sama alat mandi aja nih kayaknya."

"Oke deh! Nggak asik kalau cuma kamu yang sibuk sendiri, aku bantuin dikit ya," seru Keisha antusias. Ia segera bergerak mendekat, lalu langsung mengangkat tumpukan baju tebal berupa jaket dan selimut cadangan dari dalam tas Elara. "Ini aku yang angkat, berat nih. Terus nanti aku masukin ke rak paling atas ya? Biar yang di bawahnya kamu isi sama baju yang sering dipake aja, biar gampang diambilnya."

Elara tertawa kecil melihat semangat sahabatnya itu, rasa canggung dan penasaran yang tadi sempat ada perlahan hilang tergantikan rasa nyaman.

"Wah, makasih banyak ya Kei! kamu emang paling bisa diandelin sih kamu," ucap Elara senang. Ia pun ikut memegang tumpukan baju lain yang lebih ringan. "Nah, yang ini masukin di sebelah kiri ya, itu baju harian sama seragam sekolah. Terus yang kecil-kecil ini aku taruh di laci bawah aja deh, isinya peralatan mandi sama barang pribadi."

"Siap! Perintah diterima, Kapten Elara!" jawab Keisha bercanda sambil memberi hormat kecil dengan jari ke keningnya.

Mereka berdua pun segera bekerja sama dengan kompak, saling membantu mengambil, melipat, dan menata barang-barang milik Elara ke dalam lemari besar itu. Suara tawa kecil dan obrolan ringan mereka sesekali terdengar memecah keheningan kamar, berbanding terbalik dengan kesunyian di meja belajar Dinda yang masih diam membatu, asyik dengan dunianya sendiri, seolah-olah suara-suara di sekitarnya hanyalah angin lalu yang tak perlu dihiraukan.

(Malam Harinya)

Malam pun tiba. Di dalam ruang makan utama Hantage School Academy yang sangat luas dan megah, suasana terlihat sangat ramai namun tetap tertib. Ruangan itu berlantai marmer berkilau, dindingnya dihiasi ukiran emas dan lukisan-lukisan tua, serta di langit-langitnya tergantung lampu gantung besar yang memancarkan cahaya hangat ke seluruh penjuru ruangan. Berderet meja-meja makan panjang terbuat dari kayu mahoni yang mengkilap tersusun rapi, cukup untuk menampung ratusan murid yang sedang menikmati makan malam mereka.

Di sisi ujung ruangan, tersedia deretan meja prasmanan panjang yang berisi berbagai macam hidangan lezat, mulai dari lauk pauk, sayuran, sup, hingga buah-buahan dan pencuci mulut. Sesuai peraturan sekolah, setiap murid mengambil makanan secukupnya saja, tidak boleh berlebihan atau terbuang sia-sia, karena di sini diajarkan untuk selalu bersyukur dan menghargai makanan.

Di salah satu meja makan yang letaknya agak di tengah, Keisha dan Elara sedang duduk berhadapan. Mereka baru saja selesai mengambil makanan dan kini sedang menikmati hidangan mereka dengan lahap. Elara tampak senang, ia mengakui bahwa masakan di sekolah ini jauh lebih enak daripada yang ia bayangkan sebelumnya.

"Enak banget ya masakannya, Kei... Bumbunya pas banget, dagingnya empuk," puji Elara sambil mengunyah perlahan, matanya berbinar senang. "Aku kira cuma mewah gedungnya doang, ternyata makanannya juga juara."

Keisha tertawa kecil sambil menyuap nasi ke mulutnya. "Kan udah aku bilang, semua di sini nggak ada yang biasa-biasa aja. Kamu bakal makin betah deh lama-lama. Tapi hati-hati ya, nanti kamu gendut terus nggak bisa pulang ke rumah lho," canda Keisha sambil mengedipkan sebelah matanya.

Elara terkikik pelan, hendak membalas candaan itu, namun obrolan mereka terhenti saat bayangan tiga sosok jangkung tiba-tiba berdiri tepat di samping meja mereka. Langkah kaki mereka terdengar berat dan penuh percaya diri, membuat beberapa murid di meja lain ikut melirik penasaran.

Itu adalah Arkan, Celio, dan Rafael.

Celio, yang berambut agak ikal dan senyumnya selalu menggoda, maju selangkah mendekati meja mereka. Ia menatap Keisha dan Elara bergantian, lalu bertanya dengan nada santai namun sedikit menantang.

"Maaf ya kalau ganggu makan malam kalian. Meja-meja lain udah penuh semua, jadi kita cari tempat kosong di sini. Kita boleh duduk di sini kan? Nggak diusir kan nih kita?" tanya Celio sambil tersenyum miring, matanya berbinar jahil.

Keisha mendengus pelan, ia sudah sangat hafal dengan tingkah ketiga cowok itu. Ia menatap datar ke arah Celio, lalu menjawab singkat dan cuek.

"Boleh aja, silakan duduk. Meja ini kan milik umum, bukan milik keluarga aku. Duduk aja asal jangan bikin ribut dan jangan nyerobot makanan kami," jawab Keisha ketus namun tetap sopan.

"Siap, Nyonya Besar! Janji kita bakal jadi tamu yang paling sopan malam ini," seru Celio sambil tertawa kecil, lalu segera menarik kursi dan duduk di sebelah kanan Keisha.

Celio duduk di sebelah Rafael. Sedangkan Arkan berjalan pelan ke sisi seberang meja. Ia menarik kursi tepat di depan Elara, lalu duduk di sana dengan santai, bersandar malas ke sandaran kursi sambil menatap makanannya tanpa ekspresi sedikitpun.

Saat Arkan duduk berhadapan dengannya, wajah Elara seketika berubah masam. Rasa makan malamnya yang tadinya nikmat seketika hilang berganti rasa kesal yang menggebu di dada. Ia menatap tajam ke arah Arkan, matanya menyala penuh amarah mengingat kejadian tadi siang di koridor utama sekolah.

Kini, cowok yang sama itu duduk tepat di hadapannya, makan dengan tenang seolah tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Elara terus menatap Arkan dengan tatapan menusuk, berharap cowok itu sadar dan setidaknya menoleh atau merasa bersalah sedikit saja.

Namun apa yang terjadi? Arkan sama sekali tidak menoleh ke arah Elara. Matanya fokus ke piringnya sendiri, tangannya bergerak memasukkan makanan ke mulutnya dengan tenang dan elegan. Wajahnya datar, dingin, dan sama sekali tidak peduli akan tatapan tajam yang sedang ditujukan padanya. Bagi Arkan, seolah-olah keberadaan Elara di sana hanyalah seperti udara kosong yang tak ada artinya.

Melihat itu, rasa kesal Elara makin memuncak. Ia menghentakkan garpunya pelan ke meja, menimbulkan bunyi klik yang cukup terdengar.

"Heh... sombong banget sih," gumam Elara pelan, cukup keras agar hanya dirinya dan Keisha yang mendengar. "Pura-pura nggak kenal, pura-pura nggak lihat. Padahal tadi siang baru aja bikin aku kesal parah."

Keisha yang sadar betul apa yang dirasakan sahabatnya itu, segera menyikut lengan Elara pelan sambil berbisik di sela-sela suapan makannya.

"Udah El, jangan diladenin. Kamu baru pertama kali kenal sama dia, makanya kaget. Arkan emang gitu orangnya, dingin, cuek, dan menganggap orang lain itu nggak ada. Dia emang sombong parah, jangan dimasukin hati," bisik Keisha menenangkan.

Di sisi lain meja, Celio yang menyadari ketegangan di udara, melirik ke arah Arkan lalu ke arah Elara. Ia tersenyum penuh selidik, lalu memecah keheningan dengan suara keras dan ceria.

"Eh Kei, gimana rasanya jadi sahabat anak baru nih? Elara kan anak baru pertama yang kamu terima baik-baik lho, biasanya kamu galak banget sama murid baru," celetuk Rafael sambil tertawa.

Keisha mendengus kesal dan menatap tajam ke arah Celio. "Apaan sih kamu, Celio? Jangan ngawur deh. Aku itu galak kalau emang orangnya pantes digalakin. Elara kan beda, dia temen aku. Lagian kamu ngapain sih tiba-tiba bahas aku?"

"Ya nggak apa-apa, cuma basa-basi aja kan kita lagi satu meja," jawab Celio santai, lalu ia menoleh ke arah Elara. "Kamu Elara kan? yang tadi siang sempat tabrakan sama si Dingin ini ya?" tunjuk Celio ke arah Arkan sambil nyengir.

Jantung Elara seketika berdegup kencang karena kaget. Wajahnya memerah, entah karena malu atau makin kesal. Di depannya, Arkan yang tadinya diam saja, kini perlahan mengangkat wajahnya. Ia menatap Celio sekilas dengan tatapan mematikan, lalu menoleh perlahan ke arah Elara.

Mata mereka bertemu tepat.

Arkan menatap Elara dengan pandangan yang datar, dingin, dan kosong. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada rasa menyesal, bahkan tidak ada rasa penasaran sedikitpun. Ia menatap Elara seolah sedang menatap dinding atau benda mati.

"Terus kenapa?" tanya Arkan pelan, suaranya berat dan rendah. Nadanya sama sekali tidak bersalah, malah terdengar menantang. "Kalau tabrakan, berarti kita sama-sama nggak hati-hati. Udah selesai kan masalahnya? Ngapain dibahas lagi."

Elara semakin geram mendengar jawaban itu. Ia hendak membalas dengan kata-kata pedas, namun Rafael yang dari tadi diam, segera menyela sambil tersenyum damai.

"Udah, udah... Jangan berantem di meja makan nanti nggak enak makannya. Arkan emang nggak peka makhluknya, jangan diambil pusing ya Elara. Maafin aja kelakuannya yang kayak es batu itu," kata Rafael berusaha mencairkan suasana.

Arkan hanya mendengus pelan, lalu kembali menunduk memakan makanannya, mengabaikan keberadaan mereka semua kembali seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.

Elara mengertakkan gigi menahan amarahnya. Ia menatap Keisha dengan wajah yang berkata 'Lihat kan? Aku nggak salah paham kan? Dia emang nyebelin banget!'. Keisha hanya membalas dengan senyum pasrah sambil menggeleng pelan, memberi isyarat agar Elara bersabar dan diam saja.

Suasana meja makan itu kembali hening, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu. Di balik keheningan itu, Elara berjanji dalam hatinya, ia akan berhati-hati dan menjauhi cowok bernama Arkan itu sejauh mungkin. Cowok itu bukan hanya dingin, tapi juga sombong dan sama sekali tidak punya rasa sopan santun.

1
Felita Gunawan
wah penasaran bgt ni ayo kak lanjut cerita nya
Mustaqimah: Makasih udah baca cerita ku, Kakak/Smile//Smile//Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!