“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19
Begitu mobil berhenti tepat di depan lobi gedung spesialis anak, Harsa langsung melepas sabuk pengamannya. Ia menoleh ke arah kemudi, menatap sopir tuanya yang sedang bersiap mematikan mesin.
“Darto, kamu tunggu di parkiran saja. Tidak usah ikut turun,” ucap Harsa, terdengar datar dan dingin. “Paling pemeriksaan Gavin cuma sebentar.”
“Iya, Tuan. Saya mengerti.”
Pak Darto mengangguk patuh. Ia segera mengarahkan kemudi menuju area parkir luar untuk memarkirkan mobil, meninggalkan ketiga penumpangnya di lobi.
Harsa kemudian menuntun Gavin keluar dari mobil, diikuti oleh Wulan yang berjalan mepet di samping putranya.
Saat melangkah memasuki pintu kaca otomatis rumah sakit, mereka bertiga berjalan beriringan dengan posisi Gavin berada di tengah.
Tangan kiri Gavin menggenggam erat jemari Harsa, sementara tangan kanannya bertumpu pada genggaman Wulan. Dari kejauhan, pemandangan itu seketika membuat mereka nampak persis seperti sepasang suami istri harmonis dengan anak kandung mereka.
Namun, baru beberapa langkah melewati meja resepsionis, pergerakan Harsa mendadak terkunci. Tepat di persimpangan lorong menuju poli anak, sesosok pria tinggi tegap dengan jubah putih dokter khas rumah sakit melangkah keluar dari ruang administrasi.
Pria itu memakai papan nama bertuliskan dr. Jonathan, Sp.PD.
Langkah kaki Jonathan melambat begitu matanya menangkap siluet Harsa. Keningnya seketika mengernyit dalam saat pandangannya turun, menatap tangan Gavin yang menggandeng Harsa, lalu beralih menatap sosok Wulan yang berdiri terlalu dekat di sisi mantan sahabatnya itu.
“Wah, Harsa, sudah lama sekali ya kita tidak bertemu,” sapa Jonathan, menghentikan langkah tepat tiga langkah di hadapan Harsa. N
Harsa hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang sama sekali tidak mencapai matanya.
Rahangnya mendadak mengetat. Ia nampak sangat tidak suka melihat kehadiran Jonathan di tempat ini. Ingatan masa kuliah belasan tahun lalu mendadak terbit di kepalanya.
Jonathan dulu adalah salah satu pesaing terberatnya, bahkan pria itu pernah terang-terangan mengatakan di depan wajah Harsa kalau dia menyukai Rania sebelum Harsa akhirnya berhasil menikahi wanita itu.
“Kamu bekerja di sini rupanya,” ucap Harsa, mencoba berbasa-basi meski suaranya terdengar kaku.
“Ya, sudah tiga tahunan lah aku dinas di rumah sakit ini. Rania saja tahu kalau aku praktik di sini, kok kamu malah baru tahu?” balas Jonathan sengaja memancing, sembari melirik Wulan yang nampak salah tingkah dan buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain.
Rania tahu?
Dada Harsa mendadak bergemuruh hebat. Jantungnya berdegup tidak keruan.
Mengapa Rania tidak pernah memberitahunya kalau Jonathan menjadi dokter spesialis di rumah sakit ini? Apa jangan-jangan selama ini istrinya sering bertemu dengan Jonathan di belakangnya tanpa ia ketahui?
Kecurigaan dan rasa cemburu yang egois mendadak membakar isi kepala Harsa.
Melihat perubahan ekspresi Harsa yang menegang, Wulan yang berdiri di samping Gavin mulai merasa tidak nyaman.
Ia menarik pelan ujung kemeja Harsa, mencoba mencari perhatian agar pria itu tidak berlama-lama mengobrol dengan sang dokter.
“Mas... ayo masuk ke dalam. Keburu telat nomor antreannya, kasihan Gavin sudah mulai lemas,” ucap Wulan dengan dibuat selembut dan semalang mungkin.
“Hmm.” Harsa mengangguk. Ia mengabaikan Jonathan begitu saja dan melangkah pergi.
Namun, baru saja Harsa hendak mengayunkan kaki kanannya, langkahnya terhenti total bagai dihantam petir saat sebuah kalimat dingin meluncur dengan begitu tajam dari bibir mantan sahabatnya itu.
“Kamu benar-benar tidak tahu kalau Rania sedang sakit, Harsa?” tanya Jonathan, membalikkan tubuhnya menghadap punggung Harsa.
Harsa membeku. Ia perlahan membalikkan tubuhnya kembali, menatap Jonathan dengan dahi berkerut.
“Apa maksudmu?”
Jonathan mendengus sinis, senyuman meremehkan tercetak jelas di wajah tampannya.
“Ya, aku rasa kamu memang tidak tahu apa-apa tentang istrimu sendiri. Wajar saja sih, karena selama ini kamu sepertinya jauh lebih mementingkan urusan orang lain ketimbang kesehatan Rania.”
Kalimat sindiran pedas yang keluar dari mulut Jonathan laksana tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Harsa.
Harsa memang tahu istrinya sakit sejak kemarin malam, tapi itu pun ia ketahui dari laporan Pak Darto, bukan dari mulut Rania sendiri.
Harsa juga mengira sakitnya Rania hanyalah demam atau flu biasa akibat kelelahan, sehingga ia berpikir tidak ada hal besar yang perlu dikhawatirkan sampai harus mengabaikan janji pada Gavin.
“Aku tahu dia sakit. Dan itu bukan urusanmu,” ucap Harsa menegakkan punggungnya, mencoba mempertahankan harga dirinya sebagai seorang suami.
“Baguslah kalau kamu merasa tahu,” sahut Jonathan, sorot matanya berubah menjadi teramat serius dan dingin, menusuk langsung ke manik mata Harsa.
“Kalau kamu memang masih menganggap dirimu suaminya, kuatkan hatimu dan sering-seringlah berada di sampingnya sekarang. Karena saat ini, Rania jauh lebih membutuhkan keberadaanmu daripada siapa pun di dunia ini, Harsa. Jangan sampai kamu menyesal saat semuanya sudah terlambat.”
Setelah mengatakan kalimat yang penuh teka-teki itu, Jonathan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas dokternya.
Tanpa menunggu balasan atau kepanikan Harsa lebih lanjut, ia membalikkan tubuh dan melenggang pergi membelah lorong rumah sakit.
Harsa masih terpaku di tempatnya berdiri, mendadak membisu seribu bahasa. Ucapan Jonathan barusan membuat hatinya tiba-tiba diselimuti rasa tidak enak dan ketakutan asing yang amat sangat.
“Apa yang sebenarnya disembunyikan Rania dariku selama ini?” batin Harsa berkecamuk, jemarinya yang menggenggam tangan Gavin mendadak bergetar hebat.
“Mas... Mas Harsa?” panggil Wulan, menggoyang pelan lengan Harsa saat menyadari pria itu malah melamun menatap kepergian dr. Jonathan.
“Ayo masuk, Mas. Dokternya sudah memanggil nomor gavin.”
Harsa menarik napasnya yang terasa mendadak sesak, lalu menatap Wulan dengan pandangan yang tak lagi sama.
“Ya, baiklah.”
Tak jauh dari lorong poli anak, di balik pilar besar dekat ruang radiologi, sosok Rania berdiri mematung. Matanya menatap lurus ke arah tiga orang yang baru saja masuk bersama.
Pemandangan Harsa, Wulan, dan Gavin yang berjalan beriringan saling menggandeng tangan nampak begitu serasi di matanya.
Rania bahkan sempat melihat momen saat mereka berpapasan dan mengobrol dengan Jonathan. Hanya saja, dari jarak sejauh ini, Rania tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka obrolkan.
“Begitu rupanya,” bisik Rania pada dirinya sendiri. Bibirnya tersenyum, namun senyuman itu begitu kosong.
“Tempatku memang sudah digantikan sepenuhnya ya mas?”
Rasa sesak yang teramat pekat kembali menghampiri dadanya, membuat napasnya terasa kaku dan berat.
Namun, Rania mencengkeram tasnya kuat-kuat. Ia menolak untuk menangis lagi. Air matanya sudah terlalu berharga untuk dibuang demi pria yang tak lagi menganggapnya sebagai prioritas utama.
“Jika mendoakan kebahagiaanmu terasa terlalu suci untuk hatiku yang hancur, maka biarlah aku mendoakan diriku sendiri agar kuat untuk melepasmu, Mas,” batin Rania dalam-dalam.
Rania mengembuskan napas panjang, membalikkan tubuhnya membelakangi pemandangan menyakitkan itu.
Dengan langkah kaki yang dipaksakan tegak meskipun tubuhnya lemas, ia segera berjalan menuju ruang praktik pribadi Jonathan.
padahal Harsa sdh mulai sadar naif dan manipulatif nya seorang wulan eh dia dgn bangga nya memerkan tentang dia sebagai calon istri dan lgsg bertabrakan dgn pemilik oerusahaan🤣dasar wulan bodoh masih pede lg bilang calon istri🤣🤣
kemiskinannya😌😌