"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 23
Malam yang di tunggu keluarga Adiwijaya telah tiba. Lampu-lampu temaram yang di susun panjang menggantung menghiasi halaman depan rumah keluarga Adiwijaya dari pohon ke pohon. Serta, beberapa tanaman hias bunga berjejer di tepi jalan menemani langkah para tamu undangan yang datang.
Tidak hanya para orang-orang dari perusahaan Adiwijaya Group yang datang ke acara pesta ini, beberapa wartawan dari media-media juga turut hadir meramaikan acara pesta meriah dari CEO utama perusahaan ternama.
Semua orang yang hadir disana, memakai gaun mewah dan terlihat elegan semuanya. Termasuk Bianca yang saat ini tengah berdiri di sebelah ayahnya. Adiwijaya sengaja memperkenalkan Bianca sebagai anak satu-satunya kepada teman-teman bisnisnya. Yang mungkin nanti secara sah akan menggantikan posisi jabatan sang ayah.
Mengenakan Sabrina Blouse berwarna biru laut, di sambung Rok rutu renda dengan High heels putih dari merk Charles bawahnya membuat Bianca terlihat sangat cantik malam ini. Namun pandangannya tidak pernah bisa fokus, selain mencari dan melihat keberadaan Rangga yang sedang berkumpul dengan teman-temannya yang lain.
Punggung halus Bianca yang terekspos membuat ia lebih menawan dan elegan di mata para teman-teman Adiwijaya.
"Waah!! Cantik sekali kamu Bianca ..." kata seorang wanita yang berdiri di depan Bianca, setelah bersalaman dengan Adiwijaya.
Beberapa dari sifat tamu yang sudah Adiwijaya sendiri kenal, ada yang berpura-pura baik, ada yang hanya ingin menjodohkan anaknya dengan— Bianca sendiri muak, hanya terus bisa memakai topeng senyum palsunya untuk tetap menjalin hubungan bisnis dengan mereka.
"Ah, Tante bisa aja ... Cantikan Tante," balas Bianca memuji, menunjukan senyum manisnya di depan para teman bisnis ayahnya.
"Gimana ... Kalo Tante kenalin sama anak Tante, mau?" tanya wanita itu. Mencondongkan sedikit tubuhnya berbisik di telinga Bianca.
Bianca meringis tersenyum, berusaha melirik ayahnya yang masih setia berdiri di samping. Sampai, suara Adiwijaya membuat jarak terhadap wanita itu dan Bianca.
"Ekhem ..."
Walaupun pelan, namun suara tegas dan wibawa dari Adiwijaya berhasil memecah suasana di antara keduanya. Membuat keadaan kembali normal.
Rangga yang sedang berkumpul dengan para teman-temannya, menyapu pandangan di sekelilingnya. Mencari sosok keberadaan Anya alasan ia mau datang ke acara pesta ini.
"Lo kenapa si Ga? ... Kayak gelisah gitu, nyari apaan?" tanya Restu yang duduk di sampingnya. Dengan menikmati jus buah yang ia pegang di tangannya.
"Kalo nyari Bianca, paling dia lagi sama papihnya ... Tunggu aja," sambung Novi, yang juga memperhatikan sikap Rangga seperti sedang mencari seseorang saat ini.
Rangga kembali menormalkan sikap, berusaha tenang agar tidak membuat yang lain memperhatikan. "Ah, nggak kok. Gue biasa aja." Membenarkan posisi duduk, bersikap dingin dengan sedikit merapihkan rambutnya kembali.
Melihat Anya tiba-tiba datang ke arah tamu lain dengan membawa minuman, Rangga langsung beranjak diri dari tempat duduknya.
"Mau kemana?" tanya Novi, ketika melihat Rangga yang tiba-tiba saja berdiri. "Nggak mau nunggu Bian—"
"Cuma mau ke toilet, sebentar," ucap Rangga, beralasan agar bisa menghampiri Anya yang ia lihat dari pandangan.
Bianca yang memperhatikan Rangga sedari tadi juga hendak menghampirinya. Ia tahu bahwa Rangga akan menuju ke arah Anya saat ini. Dan itu membuat perasaan Bianca kesal.
"Sial ..." gerutu Bianca dalam hati, dengan bersungut-sungut menatap Anya dari jauh yang sedang melayani tamu. Bianca yang hendak melangkah tertahan oleh suara Adiwijaya yang menyuruhnya memanggil Laras.
"Coba tolong kamu panggilin mamih, kok dari tadi belum terlihat. Padahal acaranya mau mulai," pinta Adi, menoleh ke arah Bianca yang hendak beranjak dari tempat.
"Sebentar yaa pih ... Nanti Bian panggilin. Mau ke temen Bianca dulu," ujar Bianca dengan cepat. Bergegas berlalu pergi untuk menghampiri Rangga saat itu juga.
"Terimakasih, yaa~" ucap tamu yang duduk ketika di berikan minuman oleh Anya. Tersenyum ramah kepada orang seperti Anya.
"Sama-sama ..." balas Anya, memberi senyum tidak kalah sama manisnya dengan wanita yang sedang duduk di depan meja bundar.
Ketika hendak berbalik, Anya kaget ketika tangan halus yang masih memegang nampan, di genggam oleh tangan pria yang tidak ia kenal. Walaupun sebelumnya pernah bertemu di dalam rumah Bianca.
"Anya ..." ucap Rangga, masih memegang tangan Anya dan menatap manis penuh senyum di wajahnya.
Bianca yang berada di belakang Rangga kembali melihat moment yang tidak pernah ia bayangkan dalam hidup. Perasaan kesal yang mengeruak kini memenuhi isi dada Bianca.
Anya yang melihat ada Bianca di balik belakang pria itu, dengan cepat melepaskan pegangan Rangga. Berusaha membenarkan kembali ekspresi Anya yang sempat kaget.
"Hum, maaf ... Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Anya, dengan nada yang pelan memberanikan diri menatap Rangga salah satu teman Bianca di hadapan Anya. Ia sendiri tidak mengetahui kalau Rangga adalah orang yang Bianca suka.
Merasa telah meraih tangan orang yang baru ia kenal, Rangga merasa bersalah. "Ah, maaf ... Aku tidak bermaksud—"
"Ekhm!"
Suara Bianca memotong ucapan Rangga yang belum sempat selesai. Mereka berdua kini melihat Bianca yang perlahan mendekat. Anya menunduk takut. Dengan perasaan yang sudah ia tahu bahwa Bianca akan marah saat ini.
"Bianca?" kata Rangga tiba-tiba kaget, menoleh bergantian ke arah Bianca lalu sekilas melirik Anya yang masih saja menunduk.
"Udah pegangan tangannya?" tanya Bianca, dengan nada yang sedikit keras hingga teman-teman Bianca yang lain menatap mereka kini.
Rangga menggaruk-garuk tengkuk sendiri yang tidak gatal. Merasa bersalah atas kesalah pahaman ini, walau sebenarnya hubungan Rangga dan Bianca tidak ada apa-apa selain sebatas teman.
"Kalo nggak ada yang bisa di kejain lagi, udah pergi!!! Kenapa malah gangguin temen gue?!" bentak Bianca, yang menuduh Anya menjadi pengganggu temennya. Walau bukan itu alasan sebenernya Bianca marah. Ia terlalu merasa cemburu oleh Anya.
Mendengar ucapan Bianca yang menyudutkan Anya, semakin membuat Rangga kini merasa bersalah. Dan mencoba memberi penjelasan agar Bianca tidak lagi kesal kepada Anya.
"Jangan memarahi Anya, Bianca ... Aku hanya ingin meminta minuman," ujar Rangga, memberi penjelasan agar tidak membuat Anya semakin merasa malu di hadapan orang-orang.
Deru nafas Bianca semakin tidak beratur. Di tambah, melihat orang yang ia suka malah membela Anya. Pembantu anak kampung! Yang sangat Bianca kesal sekarang.
Anya menunduk takut, tidak berani berkomentar apapun karena pasti hanya akan menambah Bianca kesal. Ia mencari pegangan, dan hanya nampan yang bisa ia genggam dengan erat saat ini.
"Udah sono pergi !!! ... Kenapa masih disini?!" ucap keras Bianca lagi. Setiap bentakkan Bianca, membuat pundak Anya kembali terangkat karena kaget.
"Baik Non ..." balas Anya, masih terus menunduk dan ingin segera keluar dari kondisi ini. Berjalan pelan melewati Bianca dan Rangga yang berada di hadapan Anya.
Ketika hendak melangkah melewati Bianca, kaki Bianca sengaja menghalangi jalan Anya. Membuat Anya hilang keseimbangan dan menjatuhkan beberapa gelas kosong yang hendak ia bawa kembali ke dapur.
Reflek Rangga yang ingin menolong Anya, tidak sempat menjangkaunya. Membuat Anya sedikit terhuyung kedepan.
Praaang !!!
Di tengah-tengah ke heningan malam sebelum acara pesta ini di mulai oleh Mc, seluruh pandangan menatap ke arah mereka sekarang. Anya, Rangga, dan Bianca tiba-tiba menjadi pusat perhatian dari semua tamu yang hadir di ruangan besar itu.
"Anya ..." suara Rangga pelan, keluar secara sepontan karena melihat Anya yang hilang keseimbangan dan menjatuhkan gelas kaca mahal.