Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.
" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.
Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.
_
Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 : Ini takdir
Suara kipas tua berdecit pelan. Lampu neon berkedip sesekali. Rak-rak penuh barang… Tapi suasana sepi karna maghrib. Hanya ada Salsa yang menjaga di toko barunya. Salsa duduk.Satu tangan menopang dagu. Yang lain pegang HP.
Scroll.
Scroll.
Scroll.
Sampai.. Dia berhenti. Matanya menyipit. Judul berita muncul di layar.
"Kecelakaan Mengerikan di Jalan Raya Sawangan, korban Perempuan dewasa tewas di tempat"
Salsa langsung klik.Video autoplay.Suara benturan langsung terdengar.
"BRAAAK!!"
Salsa refleks nengok ke luar toko. Jalanan depan… sepi. Balik lagi ke HP. Di video kemudian terlihat motor tergeletak. Orang-orang panik.
"Itu bukannya motorku yang ku jual murah sama si Ranti?" Salsa bertanya.
"ANGKAT! ANGKAT!"
Salsa memperhatikan.
"Korban bernama Ranti Maharani, beliau merupakan sales Enoki-"
Hp Salsa jatuh.
Ranti lah yang memasukkan adiknya ke rumah makan Dermawan.
Salsa menghubungi Naya namun tidak di angkat, dan dengan gilanya Salsa dengan penuh harap menghubungi Ranti namun tetap saja, harapannya seakan musnah.
"Kek mana aku bisa tenang? Gak bisa aku tenang kalo kek gini terus." Gumam Salsa merasa khawatir terhadap Naya.
"Aku harus ke Depok."
_
Mess sunyi. Lampu redup. Udara terasa lebih dingin dari biasanya. Naya berdiri di pintu kamar. Nafasnya pelan… Tapi tidak hidup.
Matanya kosong… Tapi sadar. Di depannya, Teh Intan duduk bersila di lantai menyalakan satu persatu lilin. Mangkok kecil masih ada di bawah ranjang. Baju Naya terlipat rapi di pangkuannya. Beberapa lilin menyala menerangkan ruangan api kecilnya goyang pelan… seolah ada yang bernafas di ruangan.
Naya menatap lurus.
"Kenapa?"
Sunyi sebentar.
"Kenapa teh…?" Suaranya lirih. Bukan marah. Lebih ke… kehilangan arah.
Teh Intan tidak langsung jawab, dia berdiri lalu menatap Naya lama.
"Kamu pikir ini pilihan, Nay…?"
Pelan. Berat.
Naya diam.
Teh Intan menarik nafas, "Sejak pertama kamu masuk kerja di rumah makan itu…"
"Nama kamu… Sudah dicatat. Bukan cuma sebagai pegawai.. Tapi sebagai janji ke Eyang Dhahar."
Naya mengernyit pelan.
"Janji…?"
Teh Intan menatap lurus ke mata Naya.
"Kontrak nyawa." Lanjut Teh Intan.
Semua sunyi.
Seolah ruangan itu ikut mendengar.
"Rumah makan Dermawan itu… Bukan tempat biasa. Yang masuk… Bukan cuma kerja."
Dia menunjuk pelan ke arah dada Naya.
"Kamu… Sudah terikat."
Naya mundur satu langkah.
"Enggak… aku gak pernah."
Teh Intan memotong. Tegas.
"Gak semua kontrak itu kamu tanda tangan secara sadar, Nay."
Hening.
"Kadang… cukup kamu bilang iya waktu pertama diterima kerja."
Api lilin tiba-tiba mengecil.
"Atau… Cukup kamu makan siang tiap hari dari sana."
Naya membeku, bayangannya tiba-tiba tertuju ke hari pertama dia kerja, piring pertama yang dia makan… Hari pertama kerja… Senyum Pak Dermawan…
"Cepat atau lambat…"
Suara Teh Intan makin pelan.
"Kamu akan dipanggil."
Naya berbisik, "Dipanggil…?"
Teh Intan, "Jadi tumbal."
Naya menatap tangannya sendiri.
Seolah baru sadar… Tubuhnya bukan miliknya lagi.
"Makanya aku panggil kamu balik karna Pak Dermawan yang meminta." Tegas Teh Intan kepada Naya yang mengangkat wajahnya.
"Kamu ngerti sekarang?" Tanya Teh Intan.
"Biar aku tetap bisa dipake buat jadi tumbal?" Tanya Naya dengan marah.
"Kata Pak Dermawan, kalau kamu peduli sama nyawa kakak kamu, maka kamu harus tetep di sini." Tekan Intan.
Naya mengernyitkan keningnya, "Darimana Pak Dermawan tau--"
"Pak Dermawan itu gak perlu nanya Nay, Pak Dermawan selalu tau duluan."
Naya yang di ancam seperti itu ingin rasanya marah namun dia tidak bisa.
"Tetap bekerja, dan nyawa Kakak kamu akan baik-baik saja. Pak Dermawan itu udah cukup baik gak santet kakak kamu." Desis Intan membuat Naya terdiam, "Kamu enggak tau aja bahaya apa yang mengintai kamu sejak masuk ke rumah makan ini sejak awal."
"Kamu gak mau kakak kamu kenapa-napa kan?" Tanya Intan.
Naya menggeleng takut.
"Jadi tetep kerja, jangan kabur kayak kemarin." Teh Intan menasehati Naya untuk mau menerima takdir hidupnya.
Air matanya jatuh… Tapi wajahnya tetap kosong, "Ya udah…"
Suara Naya hampir tidak terdengar, "Itu artinya aku harus tetap kerja…"
Lilin di ruangan itu tiba-tiba stabil. Tidak goyang lagi. Seolah… Sesuatu baru saja setuju.
'Aku mau kamu yang mati selanjutnya Naya. Seperti Abel. Kamu harus lebih tersiksa.' Batin Intan dengan penuh amarah.
_
Gudang itu sunyi. Terlalu sunyi. Suara kipas rusak di pojok cuma muter pelan.
Krek… krek… krek…
Rifki duduk di lantai. Tangan terikat ke belakang. Mulutnya dilakban rapat. Nafasnya berat. Tertahan. Setiap tarikan terasa sakit.
Di depannya, Hendri. Berdiri sambil ngaca di kaca kecil bulat yang selalu dia bawa.
Dia nyengir kecil. Ngerapihin rambut. Miringin kepala. Seolah… ini bukan tempat penyiksaan. Tapi tempat dia ngagumin dirinya sendiri.
"Gila sih…" Dia ngomong pelan. Senyum tipis, "Gua tetep keliatan ganteng walau lagi keringetan gini."
Rifki menatap tajam. Matanya penuh benci.
Hendri nengok. Ngeliat tatapan itu. Dia ketawa kecil, "Oh iya…"
Jalan pelan mendekat, "Lu masih gak bisa gue ajak ngomong ya."
Dia jongkok di depan Rifki. Deket banget.
"Nah… Justru itu yang gue suka."
Jari Hendri ngetuk lakban di mulut Rifki pelan.
tap… tap…
"Jadi lu cuma bisa denger."
Matanya berubah dingin.
"Dan nerima."
Rifki berusaha gerak. Kursi berderit. Nafasnya makin kacau. Hendri senyum.
"Lu pasti masih mikir… 'Zuan gak mungkin ngelakuin ini ke gua'… ya kan?" Rifki langsung berhenti gerak. Matanya membesar.
Hendri ketawa terbahak, "HAHAHA.. Iya… ekspresi lu itu."
Dia berdiri. Jalan muter lagi.
"Gua kasih tau lu ya…" Nada suaranya ringan. Tapi tiap kata berat, "Yang ngaduin apapun yang terjadi di rumah makan Dermawan itu ke Pak Dermawan ya si Zuan Zuan itu."
Rifki langsung berontak keras, "Mmmh! Mmmh!!"
Suara teredam dari balik lakban.
Tubuhnya berontak. Kursi goyang keras.
Hendri langsung nendang kursi itu.
BRAK!
Rifki jatuh ke samping. Nafasnya makin kacau.
"Berisik banget sih lu." Risih Hendri yang tidak mau gendang telinganya rusak.
"Padahal udah gua bikin diem." Dia jongkok lagi. Dekatkan wajah.
"Lu tau kenapa gua pilih lu?"
Sunyi.
Rifki cuma bisa menatap… penuh marah dan takut.
Hendri senyum.
"Karena lu… paling gampang dihancurin. Kesetiaan persahabatan lu itu yang bikin lu hancur." Tekan Hendri.
Rifki berhenti gerak.
Hendri berdiri lagi. Jalan menjauh sedikit.
"Lu gak punya apa-apa."
"Lu bukan siapa-siapa."
"Dan bahkan sahabat lu sendiri…"
Hendri menengok.
"Milih buang lu."
Air mata mulai keluar dari mata Rifki. Tapi dia gak bisa bersuara. Cuma napas patah-patah. Hendri lihat itu. Dan… dia tersenyum puas.
"Ah… ini baru." Dia mendekat lagi. Nunduk sedikit, "Ekspresi orang yang sadar kalau dia sendirian."
Hening.
Beberapa detik.
Hendri tiba-tiba berubah. Wajahnya menegang.
"Tau gak apa yang lebih nyebelin dari semua ini?!" Nada suaranya naik.
"Rosa."
Nama itu keluar dengan penuh tekanan.
"Gua ada buat dia. Gua jaga dia. Gua yang paling ngerti dia!" Langkahnya makin cepat. Emosinya naik.
"Tapi dia malah milih Gian?!" Hendri ketawa meski hatinya masih terluka.
"Gian?! Dia apaan coba?!"
Dia berhenti. Nunduk. Nafas berat. Pelan…
"Gua lebih ganteng."
"Gua lebih pantes." Lebih pelan lagi.
"Tapi tetep…" Matanya kosong.
"Dia gak milih gua."
Rifki cuma bisa melihat Hendri yang terlihat putus asa namun dia gak bisa ngomong. Cuma jadi saksi… kegilaan orang di depannya.
"Rosa.. Rosa.. Rosa..!!"
"Kapan dia jadi milik gue??"
Sudah berapa kali Hendri curhat tentang Rosa yang sepertinya hampir membuatnya gila karna respon Rosa yang sangat cuek.
"Rosa, gue harus nikahin Rosa! Gue gak mau nikahin Nikmah!"
Hendri seperti anj*ng yang sedang birahi hebat setiap membayangkan Rosa.
Hendri nengok lagi ke arah Rifki. Senyum.
"Gue harus dapetin Rosa gimana pun caranya gue harus nikahin dia." Hendri yang sudah bertekad bulat.
Dan dari belakang gudang… Terdengar suara seperti tutup yang jatuh.
Rifki langsung menegang.
Matanya melotot ke arah suara itu, "Mmmh…! MMMH!!"
Dia berusaha teriak. Tapi sia-sia.Hendri… malah tersenyum. Tanpa sedikit pun takut.
"Oh… Lu juga ngerasain atmosfernya beda ya?" Dia nengok ke arah gelap.
"Tenang…" Bisiknya.
"Kita lagi gak sendirian."
Hendri tiba-tiba berhenti ngomong, dia punya ide kreatif. Tangannya masuk ke kantong. Mengeluarkan silet kecil.
Silet kecil yang sangat tipis yang kertasnya baru saja dia buang. Hendri jongkok di depan Rifki, Ujung siletnya disentuhin ke pipi Rifki.
Pelan… Kegesek dikit.
"Gua penasaran…" bisiknya.
"Kalau muka lu rusak… Masih ada yang suka gak ya? Oh ya si Naya Naya itu kayaknya penting banget buat hidup lu."
Ujung silet itu dingin.Nempel di kulit Rifki. Tipis… tapi tajam. Rifki langsung membeku.
"Siapa si Naya itu?"
Matanya membesar. Nafasnya makin kacau.
"Mmmh…! Mmmh!!" Tubuhnya berontak. Kursi berderit keras. Hendri malah makin dekat. Senyumnya pelan… nikmatin.
"Gua penasaran…" bisiknya pelan di dekat telinga Rifki.
Srrtt..
Silet itu gesek sedikit. Kulit Rifki kebuka tipis. Darah langsung keluar. Rifki menegang. Air matanya jatuh makin deras.Suara napasnya sekarang bunyi—seret… patah… panik.
"Mmmh… mmmh…"
Bukan marah lagi. Bukan melawan lagi. Tapi… minta ampun.Hendri berhenti. Ngelihat darah itu. Matanya… berbinar.
"Ah…"
Pelan.
"Baru kerasa hidup."
Dia mau gesek lagi—
GUBRAK!
"Sialan si gentong itu." Dengus Hendri yang merasa terganggu.
Hendri berhenti. Silet masih di tangan. Kepalanya pelan nengok ke arah gelap.
Sunyi.
Tapi sekarang… Ada suara lain. Seperti sesuatu diseret.
Pelan.
Berat.
Tidak beraturan.
Rifki langsung panik.Matanya melotot ke arah belakang, "Mmmh—! MMMH!!"
Tubuhnya bergetar hebat. Kursi goyang lagi. Hendri… masih diam. Beberapa detik.
Nafasnya ditarik dalam. Seolah… dia kenal suara itu, "Bau busuk lagi…" Bisiknya lirih.
Dia berdiri pelan. Langkahnya… justru mendekat ke arah gelap. Bukan menjauh.
Rifki makin panik, "Mmmh!! MMMH!"
Kali ini bukan cuma takut Hendri… Tapi sesuatu di belakang itu. Lampu neon di atas kedip lebih cepat
Bayangan bungkuk di belakang rak… bergerak. Pelan. Memanjang.
Tidak sesuai bentuk manusia. Hendri berhenti. Beberapa meter dari kegelapan.
Senyumnya makin lebar.
"Eyang udah lapar ya…"
Sunyi.
Suara gesekan berhenti.
Tiba-tiba..
DUK.
Seperti ada sesuatu… berdiri. Tegak.
Menghadap mereka. Rifki hampir pingsan. Nafasnya putus-putus.
"Mmmh… mmmh…"
Dan di detik itu, lampu
MATI.
Gelap total.
Suara terakhir yang terdengar… Bukan suara Hendri. Bukan Rifki. Tapi…
Bisikan tua. Serak, dan terasa sangat ekat.
"Sing wis dipundamel bali… Ojo mlayu…"
Bisikan itu.. Bukan cuma terdengar di telinga. Tapi… Di dalam kepala. Seperti suara 'Teng' lonceng yang sama, setiap seseorang melanggar aturan di rumah makan Dermawan.
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪