Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin
Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.
Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.
Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.
Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.
Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
---BAB 1: DIJUAL 500 JUTA
"Dijual 500 juta pas, Pak Darmo. Anak tirimu ini resmi jadi milik Keluarga Wijaya. Besok pagi jam 9, kami jemput."
Suara pengacara itu terdengar datar lewat speaker telepon. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada keraguan. Seolah yang dibicarakan bukan anak manusia, tapi seekor kambing di pasar hewan.
Aku, Liana, hanya bisa terdiam.
Tubuhku lemas mendengar ucapan bapak tiriku. Dia baru saja menjualku untuk membayar utang judi di kampung. Uang yang dia kalahkan dalam semalam, sekarang harus kubayar dengan hidupku.
Umurku 22 tahun. Umur yang seharusnya dipakai untuk mencari kerja, mencari cinta, mengejar mimpi.
Tapi di sini, aku hanya jadi barang tukar utang.
Tanganku menggenggam erat ujung daster lusuh yang sudah bau apek. Ini baju satu-satunya yang masih layak kupakai. Pemberian Ibu sebelum beliau meninggal sebulan lalu.
Ibu meninggal karena sakit. Tidak ada uang untuk berobat.
Bapak tiri malah menghabiskan uang terakhir kami untuk berjudi.
Dan sekarang, dia menjualku juga.
Besok pagi jam 9, aku akan dijemput oleh orang yang membeliku.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku berpikir, apakah hidupku hanya sebatas barang jual beli?
Batin Liana.
Keesokan harinya, aku dijemput paksa. Mobil mewah itu sudah terparkir di depan rumah reotku.
Perjalanan 4 jam membawaku ke kota, langsung menuju mansion orang yang membeliku. Aku hanya diam, berperang dalam pikiran.
Begitu kakiku menginjak halaman mansion, aku terperangah. Aku belum pernah melihat rumah semegah istana dalam cerita dongeng.
Di depan pintu, dua pelayan menyambutku. Tatapan mereka tajam, seperti melihat musuh. Aku hanya diam sambil menggendong tas lusuh di punggung.
Aku langsung dibawa ke dapur. Disuruh berdiri sambil menunggu sang tuan rumah.
Saat aku terdiam, langkah kaki terdengar dari tangga. Aku mendongak.
Seorang wanita sekitar 50 tahun turun perlahan. Wajahnya masih awet muda, tapi tatapannya menusuk. Ia memandangku seolah ingin menelanku hidup-hidup.
Aku langsung menunduk. Para pelayan berjejer rapi, menatapku dengan ekspresi berbeda-beda.
Liana hanya diam dan menunduk, menyeka air mata yang jatuh.
Belum sempat air mata itu kuhapus, byurrr!
Air comberan kotor mengguyur kepalaku.
Bau busuk langsung menyengat hidungku sampai aku hampir muntah. Rambutku basah, dasterku menempel di kulit, kotor dan menjijikkan.
"HA!"
"Si miskin dari desa! Jangan berani-beraninya menginjak rumahku dengan kaki kotor itu!"
Teriak Bu Darmi, calon mertuaku, sambil menunjuk-nunjuk dari balik meja.
Rumah ini megah. Lantai marmer, lampu kristal, karpet Persia.
Tapi hati orang-orang di dalamnya lebih kotor dari air comberan yang mereka siramkan padaku.
Di belakangnya, dua pelayan cekikikan. Mereka menutup hidung seolah aku membawa penyakit.
Dari kursi roda di pojok ruangan, Arka Wijaya menatap dingin.
Tatapannya setajam pisau. Matanya kosong, tanpa belas kasihan.
Dia CEO muda, 28 tahun, lumpuh sejak kecelakaan dua tahun lalu.
Kabarnya, sejak itu dia jadi dingin, kejam, dan tidak percaya siapa pun.
"Kamu cuma pelunas utang," katanya pelan tapi menusuk.
"Jangan harap aku menyentuhmu. Kamar pembantu ada di belakang. Sana!"
Satu kalimat.
Cukup untuk menghancurkan sisa harga diriku.
Tanganku gemetar memegang tas lusuh berisi surat wasiat Ibu.
Kertas itu satu-satunya harta dan harapan yang Ibu tinggalkan sebelum meninggal bulan lalu.
"Liana, simpan ini baik-baik. Suatu hari nanti, ini akan menyelamatkan hidupmu," kata Ibu dengan napas tersengal.
Aku tidak tahu apa isi surat itu.
Tapi sekarang, itu satu-satunya senjata yang kupunya.
Setelah menghinaku, Bu Darmi pergi dengan wajah merah.
Dari atas tangga ia berteriak, "Seret dia ke gudang belakang!"
Air mata terakhirku jatuh bersama harga diriku yang mereka injak-injak tanpa ampun.
Seorang pelayan mendekat dengan wajah sinis. Aku tidak mundur. Aku berdiri tegak, meski tubuhku gemetar.
Mereka menyeretku melewati lorong marmer yang mengkilap.
Setiap langkahku meninggalkan jejak lumpur dari air comberan yang tadi menyiramku.
Para pelayan lain berbisik:
"Astaga, bau apa itu?"
"Itu si istri baru Tuan Muda. Dijual 500 juta katanya."
"500 juta? Mahal amat buat barang rusak begitu!"
Setiap kata menusuk dadaku.
Tapi aku tahan.
Ibu bilang, orang kuat bukan yang tidak pernah menangis.
Tapi yang bisa tersenyum setelah air matanya kering.
Gudang belakang rumah Wijaya lebih besar dari rumahku di desa.
Penuh kotak berdebu, perabot tua, dan bau apek yang menusuk hidung.
Siti, pelayan itu, melemparkan sapu dan kain pel ke arahku.
"Kerja! Kalau sampai jam 6 sore belum bersih, jangan harap dapat makan!"
Pintu gudang ditutup keras.
Brak!
Gulita. Hanya ada celah kecil di atas untuk cahaya masuk.
Aku jatuh terduduk di lantai.
Untuk pertama kalinya sejak masuk rumah ini, aku menangis sejadi-jadinya.
"Ibu... kenapa Ibu pergi secepat ini?" bisikku sambil memeluk tas lusuhku.
"Kenapa Ibu ninggalin aku sendiri di tempat neraka ini?"
Tapi aku tidak boleh menyerah.
Aku membuka tas itu lagi. Mengeluarkan surat wasiat dengan tangan gemetar.
Kertas itu kusut, tapi tulisan Ibu masih jelas:
_"Anakku Liana...
Jika kau membaca surat ini, berarti Ibu sudah tidak ada.
Maafkan Ibu yang tidak bisa melindungimu lebih lama.
Surat ini adalah kunci.
Kunci untuk menuntut hakmu.
Kunci untuk membuat mereka yang merendahkanmu, berlutut di hadapanmu.
Cari Arka Wijaya.
Dia punya jawaban atas kematian Ayahmu."_
Tanganku berhenti. Darahku mendidih.
Kematian Ayahku?
Ayahku meninggal 5 tahun lalu karena kecelakaan mobil. Polisi bilang itu murni kecelakaan.
Tapi kenapa nama Arka Wijaya ada di surat Ibu?
Tiba-tiba pintu gudang terbuka.
Arka muncul dengan kursi rodanya. Matanya menyipit menatapku.
"Kenapa kau menangis?"
Aku cepat menyembunyikan surat itu.
"Tidak ada urusanmu," jawabku dingin.
Arka mengerutkan kening. Sepertinya dia tidak terbiasa ditantang.
"Aku peringatkan sekali lagi," katanya pelan tapi mengancam.
"Jangan coba-coba mengorek rahasia keluarga. Kalau ketahuan, aku akan memastikan kau keluar dari sini tanpa selembar pakaian pun."
Aku berdiri. Meski gemetar, aku menatapnya balik.
"Kalau kau pikir aku takut sama ancamanmu, kau salah besar, Tuan Arka.
Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk hilang."
Keheningan menggantung di antara kami.
Lalu Arka menghela napas dan berkata pelan,
"Kau... berbeda dari yang kubayangkan."
Aku mengangkat dagu.
"Syukurlah. Aku juga tidak ingin jadi seperti yang kau bayangkan."
Dia tertawa kecil. Bukan tawa ejekan. Lebih seperti tawa yang penasaran.
"Baiklah, Liana," katanya sambil memutar kursi rodanya keluar.
"Kita lihat saja. Sampai kapan kau bisa bertahan."
Pintu gudang tertutup lagi.
Meninggalkanku sendiri dengan jantung berdegup kencang.
Aku duduk lagi di lantai. Tapi kali ini, aku tidak menangis.
Aku tersenyum.
Karena untuk pertama kalinya...
Aku melihat celah.
Arka penasaran padaku.
Dan rasa penasaran itu, bisa kujadikan senjata.
Bersambung....
Kalau suka ceritanya, bantu toton iklan gratis ya ka🥺