NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Berjam-jam lamanya Ani duduk bersimpuh di lantai ruang tamu, ponsel Dimas masih tergenggam erat di tangannya yang dingin dan gemetar. Air matanya sudah kering, digantikan oleh rasa perih yang menjalar dari dada hingga ke seluruh tubuhnya. Ia membaca ulang percakapan itu berkali-kali, seolah berharap apa yang tertulis di layar hanyalah salah paham, atau sekadar lelucon buruk. Namun setiap kata yang ia baca justru semakin menancapkan paku pada hatinya, membuktikan bahwa semua itu nyata.

Dimas yang ia kenal suami yang lembut, yang selalu berkata ia bahagia memilikinya, yang berjanji akan menjaganya seumur hidup ternyata hanyalah sosok palsu.

 Di balik punggungnya, laki-laki itu menumpahkan kasih sayang pada wanita lain, bahkan berani menjelek-jelekkan dirinya di depan orang asing. Kalimat “Aku merasa terpenjara di rumah ini, Ani terlalu polos dan membosankan” terngiang terus di telinganya, kalimat yang diketik suaminya sendiri untuk Rina. Rasanya Ani ingin berteriak, ingin merobek semua kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama.

Suara dering telepon dari ponsel itu memecah keheningan. Nama “Rina” kembali muncul di layar, berkedip-kedip meminta jawaban. Ani menatap nama itu dengan pandangan kosong, lalu perlahan jari jarinya bergerak menolak panggilan itu. Ia tidak sanggup berbicara, bahkan tidak sanggup mendengar suara wanita yang telah merenggut separuh hidupnya. Tak lama kemudian, pesan baru masuk lagi: “Kenapa nggak angkat, Sayang? Kamu sudah sampai kantor belum? Aku nunggu kabar kamu nih…”

Dengan kasar Ani meletakkan ponsel itu kembali ke meja, seolah benda itu adalah benda najis yang bisa menularkan penyakit. Ia bangkit berdiri, kakinya masih terasa lemas, lalu berjalan gontai menuju kamar tidur. Di sana, segala sesuatu masih berantakan seperti saat Dimas bergegas pergi tadi. Kemeja bekas pakai yang tergantung di kursi, bantal yang masih menyisakan bekas kepala suaminya, bahkan aroma sabun yang sama sekali belum hilang semuanya terasa menyakitkan.

Ani meremas dadanya yang terasa sesak. Bagaimana mungkin ia tidak menyadarinya lebih awal? Semua tanda sebenarnya sudah ada di depan mata. Dimas yang makin sering pulang malam, alasan pekerjaan yang kian berulang, sikap dinginnya, senyum yang tak pernah sampai ke mata, dan rahasia-rahasia kecil yang mulai ia simpan. Ani selama ini terlalu sibuk menjadi istri yang baik, terlalu percaya pada janji suci pernikahan, hingga ia buta melihat kenyataan pahit itu.

Jam dinding berdentang menunjukkan pukul dua belas siang. Ani belum bergerak dari tempat tidur, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa. Di benaknya berputar ribuan pertanyaan: Harus apa ia sekarang? Apakah ia akan menunggu Dimas pulang lalu langsung menuduhnya? Atau diam saja, berpura-pura tidak tahu apa-apa demi mempertahankan rumah tangga yang ternyata sudah hancur ini?

Namun rasa sakit itu terlalu besar untuk ditahan sendirian. Ia teringat wajah orang tuanya, juga pandangan tetangga yang selama ini selalu memuji keharmonisan pernikahannya. Apakah ia sanggup membiarkan orang lain tahu bahwa suami yang dianggap sempurna itu ternyata pengkhianat? Atau lebih menyakitkan lagi, apakah ia sanggup tetap tidur, makan, dan hidup bersama laki-laki itu, sementara ia tahu hatinya sudah dimiliki orang lain?

Suara kunci pintu berputar dari arah depan rumah membuat tubuh Ani menegang. Jam baru menunjukkan pukul dua siang, terlalu cepat untuk Dimas pulang kerja. Langkah kaki berat terdengar mendekat ke ruang tamu, disusul suara helaan napas kasar.

“Ah, sialan… mana ya?” suara Dimas terdengar jelas dari luar kamar.

Ani bangkit perlahan, menyeka sisa-sisa jejak air mata di pipinya, lalu menarik napas panjang berusaha menenangkan diri. Pintu kamar terbuka, dan Dimas berdiri di ambang pintu, wajahnya terlihat cemas dan tergesa-gesa. Saat melihat Ani yang sudah duduk di tepi ranjang, ia sedikit terkejut namun segera berusaha memasang senyum biasa.

“Lho, kamu belum ke beres - beres , Ni? Aku lupa bawa ponsel tadi pagi, jadi aku balik lagi ambil,” ucap Dimas santai, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Matanya langsung menatap ke arah meja rias, mencari benda pipih miliknya itu.

Hati Ani berdebar kencang. Ia menatap lurus ke mata suaminya, berusaha mencari jejak kejujuran di sana, namun yang ia temukan hanyalah kepura-puraan yang sangat terlatih.

“Ponselmu ada di meja ruang tamu, Mas,” jawab Ani pelan, suaranya bergetar namun berusaha ia kendalikan. “Aku sudah lihat isinya.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya, menembus keheningan yang menyesakkan. Wajah Dimas seketika berubah pucat.

Senyumnya luntur seketika, digantikan oleh ketakutan dan keterkejutan yang nyata. Ia terpaku di tempatnya, tidak bergerak, tidak juga bersuara. Di ruangan itu, kebenaran yang selama ini disembunyikan akhirnya terungkap, dan tak ada lagi jalan untuk kembali.

Keheningan yang menyakitkan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa berjam-jam. Wajah Dimas yang tadinya pucat pasi perlahan berubah merah padam, bukan karena rasa malu, melainkan karena amarah yang tiba-tiba meledak. Ia tidak berusaha membantah, tidak juga berpura-pura bingung seperti yang diduga Ani. Sebaliknya, sorot matanya berubah tajam dan dingin, tatapan yang belum pernah dilihat Ani selama lima tahun mereka bersama.

"Kamu buka ponselku?" suara Dimas terdengar rendah namun penuh penekanan, nada bicaranya mengancam. Langkah kakinya melangkah mendekat, membuat Ani tanpa sadar mundur sedikit ke belakang. "Sejak kapan kamu berani mengorek privasiku, hah? Sejak kapan kamu jadi istri yang tidak tahu sopan santun seperti ini?"

Hati Ani terasa disayat-sayat. Ia yang terluka, ia yang dikhianati, namun mengapa suaminya justru yang tampak paling berang? Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, bercampur dengan rasa heran dan sakit hati yang tak terperi.

"Aku tidak bermaksud mengorek, Mas..." jawab Ani dengan suara parau, berusaha menahan isak tangisnya. "Ponselmu tertinggal, dan pesan itu masuk sendiri. Aku tidak bermaksud mencuri-curi kesempatan, tapi semua kata-kata yang ada di sana... apakah aku salah kalau ingin tahu kebenarannya? Apakah aku salah kalau ingin tahu kenapa suamiku sendiri menulis hal-hal seburuk itu tentang aku, tentang rumah tangga kita?"

Dimas mendengus kasar, lalu berbalik badan dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar, tangannya meremas rambutnya sendiri dengan frustasi. Topeng suami yang baik dan lembut itu kini benar-benar lepas, memperlihatkan sisi aslinya yang kasar dan egois.

"Baik! Kalau kamu sudah tahu, buat apa lagi bertanya?" sergah Dimas tiba-tiba, berhenti berjalan dan menatap tajam ke arah Ani. "Ya, benar semua itu. Semua yang kamu baca itu nyata. Aku memang dekat dengan Rina. Aku memang lebih nyaman bersamanya daripada bersamamu."

Kalimat itu diucapkannya begitu santai, begitu ringan, seolah-olah ia sedang membicarakan hal sepele, bukan menghancurkan hati istrinya sendiri. Ani merasa kakinya tak lagi berpijak di bumi. Ia berharap Dimas akan meminta maaf, berharap Dimas akan mengatakan itu semua hanyalah kesalahan, namun kenyataan justru jauh lebih kejam dari bayangannya.

bersambung ,,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!