NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:929
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Dokumen di Jam Makan Siang

​Keesokan harinya, Toronto disambut oleh langit pagi yang cerah namun suhu udara tetap bertahan di angka -7°C. Tepat pukul sembilan pagi, bel apartemen Paman Hamdan berbunyi. Ketika Aisya membuka pintu, Kevin—asisten Cassian—sudah berdiri di sana dengan mantel rapi, memegang sebuah map kulit hitam yang tebal dan terkunci rapi.

​"Selamat pagi, Nona Aisya. Saya diutus oleh Tuan Noir untuk menyerahkan dokumen ini," ujar Kevin dengan sikap sangat profesional. "Tuan Noir berpesan agar dokumen ini sampai di meja kerja beliau di kantor pusat Downtown paling lambat pukul satu siang."

​Aisya menerima map itu dengan berat hati. Matanya yang hitam pekat menatap benda di tangannya seolah itu adalah sebuah bom waktu. "Baik, Kak Kevin. Saya akan mengantarnya saat jam makan siang nanti."

​Setelah menyelesaikan kelas persiapan kuliahnya yang berakhir pukul sebelas tiga puluh, Aisya bergegas menuju stasiun kereta bawah tanah (Subway). Di dalam tas ranselnya, map kulit milik Cassian tersimpan rapat. Sesuai janjinya pada diri sendiri, Aisya berjalan dengan sangat hati-hati, memastikan matanya fokus pada jalanan agar sifat cerobohnya tidak kembali membawa petaka.

​Namun, mengantre di stasiun Union saat jam sibuk adalah tantangan tersendiri. Ratusan orang berlarian mengejar kereta, saling berhimpitan dengan mantel-mantel tebal mereka.

​Aisya berhasil naik ke kereta dan turun di stasiun terdekat dari gedung Noir Enterprises. Saat ia melangkah keluar dari stasiun bawah tanah menuju permukaan jalan yang dilapisi es tipis, takdir kecerobohannya kembali mengintai.

​Tepat di depan lobi megah gedung berlogo Noir Group, seorang pria yang sedang menelepon sambil berjalan terburu-buru tidak sengaja menyenggol ransel Aisya dengan keras.

​"Ah!" pekik Aisya.

​Keseimbangan tubuh mungilnya goyah. Sepatu botnya tergelincir di atas lantai marmer lobi yang basah karena lelehan salju. Aisya terjatuh dalam posisi terduduk. Parahnya lagi, ritsleting ranselnya yang ternyata belum tertutup sempurna membuat map kulit hitam milik Cassian meluncur keluar dan terbuka, menumpahkan beberapa lembar kertas penting ke lantai.

​Aisya panik luar biasa. Wajahnya di balik niqab memanas karena malu dan takut. Orang-orang di lobi sibuk berlalu-lalang, dan beberapa di antara mereka hampir saja menginjak lembaran kertas tersebut.

​"Astagfirullah... jangan diinjak, tolong..." bisik Aisya dengan suara bergetar sambil mencoba mengumpulkan kertas-kertas itu secepat mungkin dengan tangannya yang mulai membeku karena dingin.

​"Biar kubantu, Nona."

​Sebuah suara asing terdengar dari atas kepalanya. Seorang pria muda berpakaian necis dengan senyum ramah berlutut di dekat Aisya dan ikut memungut kertas-kertas tersebut. Pria itu membaca sekilas logo di kepala surat yang dipegangnya. "Wah, ini dokumen milik divisi finansial utama Noir Group. Kau bekerja di sini?"

​"Bukan, saya hanya—"

​"Kembalikan kertas itu padanya, Julian."

​Suara berat, dingin, dan penuh otoritas memotong ucapan Aisya dari arah belakang.

​Aisya mendongak seketika. Di sana, berdiri Cassian Noir yang baru saja turun dari lift eksekutif bersama beberapa jajaran direksi. Mantel wol hitamnya terbuka, memperlihatkan setelan jas yang sempurna. Namun, yang membuat suasana lobi mendadak senyap adalah tatapan mata biru abu-abunya yang menatap tajam ke arah pria muda bernama Julian yang sedang memegang kertas milik Aisya.

​Julian bangkit sambil tersenyum tipis, lalu menyerahkan sisa kertas itu pada Aisya. "Oh, Tuan Noir. Aku hanya mencoba membantu gadis yang... manis ini. Dia tampaknya kesulitan."

​Cassian melangkah mendekat, auranya yang dominan seketika mengintimidasi siapa saja di sekitarnya. Ia tidak menatap Julian, melainkan mengarahkan mata biru abu-abunya langsung pada sepasang mata hitam Aisya yang masih terduduk di lantai dengan sisa kertas di pelukannya.

​"Berdiri, Aisya," perintah Cassian dengan suara rendah namun tegas.

​Ini adalah perkembangan konflik yang sangat kuat dan realistis untuk latar belakang luar negeri.

Diskriminasi halus (microaggression) atau tatapan menghakimi sering kali menjadi tantangan nyata bagi muslimah berniqab di barat, dan ini bisa menjadi momen penting untuk menunjukkan bagaimana Cassian menggunakan kekuasaannya untuk melindungi Aisya.

​Aisya berusaha keras untuk bangkit, mengabaikan rasa nyeri di pergelangan kakinya. Ia memeluk map kulit hitam itu erat-erat di dadanya. Namun, sebelum ia bisa melangkah mundur untuk menjauh, Julian—pria yang tadi membantunya—justru menatap niqab hitam Aisya dengan senyum yang tidak lagi ramah, melainkan merendahkan.

​"Tuan Noir, saya tidak tahu sejak kapan Noir Enterprises mempekerjakan orang-orang yang... menyembunyikan wajah mereka di gedung publik," ujar Julian dengan nada santai namun sarat akan provokasi. "Bukankah aturan keamanan gedung kita sangat ketat tentang identifikasi visual? Bagaimana kita tahu dia bukan ancaman jika wajahnya saja tertutup rapat?"

​Mendengar kalimat itu, beberapa pasang mata staf kantor di lobi yang tadinya hanya menonton kini mulai berbisik-bisik. Beberapa tatapan sinis dan penuh selidik mulai terarah kepada Aisya.

​Aisya merasakan dadanya sesak. Ini adalah pertama kalinya ia menghadapi diskriminasi secara terang-terangan sejak menginjakkan kaki di Kanada. Ia meremas ujung gamisnya, matanya yang hitam pekat bergetar menahan luapan emosi dan rasa malu yang mendalam. Ia ingin membela diri, namun suaranya seolah tercekat di tenggorokan.

​Julian tersenyum puas melihat Aisya yang terdiam, mengira dia telah memenangkan argumen. Namun, senyum itu tidak bertahan lama.

​Suasana di lobi megah itu mendadak turun hingga ke titik beku saat Cassian Noir mengambil satu langkah maju. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan yang mengintimidasi Julian.

​"Julian," suara Cassian sangat rendah, namun gema dinginnya sanggup membungkam seluruh lobi. Mata biru abu-abunya menyipit tajam, memancarkan kemarahan yang tertahan. "Sejak kapan kau punya otoritas untuk mempertanyakan siapa yang datang ke gedungku?"

​Julian sedikit tersentak, mencoba mempertahankan harga dirinya. "Aku hanya memikirkan keamanan, Cassian. Ini masalah standar korporat—"

​"Standar korporat di gedung ini ditentukan olehku, bukan olehmu," potong Cassian dingin tanpa ampun. "Dan jika kau meluangkan waktu sedikit saja untuk membaca hukum federal Kanada tentang kebebasan beragama sebelum kau membuka mulutmu yang tidak berpendidikan itu, kau tidak akan mempermalukan nama keluargamu di kantonku."

​Cassian kemudian beralih menatap kepala keamanan gedung yang berdiri tak jauh dari sana. "Lukas."

​"Ya, Tuan Noir," Pak Lukas langsung maju dengan sigap.

​"Pastikan Julian dan seluruh timnya tidak bisa mengakses lantai eksekutif mulai hari ini. Dan siapa pun di lobi ini yang memiliki masalah dengan pakaian tamu saya, silakan serahkan surat pengunduran diri kalian ke bagian HRD sebelum jam lima sore."

​Pernyataan mutlak dari sang CEO membuat seluruh staf yang tadi berbisik langsung menundukkan kepala dengan wajah pucat. Tidak ada yang berani kehilangan pekerjaan di perusahaan nomor satu ini hanya karena urusan tatapan mata.

​Julian mengepalkan tangannya, wajahnya merah padam karena dipermalukan di depan umum. Tanpa sepatah kata lagi, ia berbalik dan berjalan cepat keluar dari lobi.

​Setelah situasi terkendali, Cassian membalikkan tubuhnya menghadap Aisya. Kemarahan di mata biru abu-abunya perlahan mereda saat melihat sepasang mata hitam Aisya yang berkaca-kaca, mencoba sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh.

​Cassian menghela napas pendek, lalu mengulurkan tangan panjangnya, mengambil map kulit yang didekap Aisya dengan lembut.

​"Tugasmu mengantar dokumen sudah selesai, Aisya," ujar Cassian dengan nada suara yang jauh lebih lunak dari biasanya. "Ikut aku ke atas. Kau butuh tempat yang tenang untuk merapikan barang-barangmu."

​Aisya ragu, ia melirik ke sekeliling lobi yang masih terasa asing baginya. Namun, melihat punggung tegap Cassian yang berbalik untuk memberinya jalan menuju lift eksklusif, Aisya tahu bahwa di balik dinding kaca gedung mewah ini, pria dingin itulah pelindung teramannya saat ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!