Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Sumpah Selena
Selena baru saja menyelesaikan satu bab yang sangat emosional dan memutuskan untuk mendinginkan kepala di kolam renang. Namun, ketenangannya pecah saat asisten rumah tangga datang dengan wajah pucat, memberitahu bahwa Mama Widya—ibu mertuanya yang perfeksionis—sudah berdiri di pinggir kolam.
Selena segera naik, melilitkan handuk di tubuhnya yang basah, namun ia tak sempat menghindar dari tatapan tajam sang mertua.
"Selena, Mama perhatikan kamu santai sekali. Berenang, menulis... Apa kamu tidak punya kesibukan lain?" sapa Mama Widya tanpa basa-basi. Suaranya yang elegan namun dingin menusuk pendengaran Selena.
"Siang, Ma. Selena baru saja istirahat sebentar setelah menulis," jawab Selena sopan, berusaha mengatur napasnya.
Mama Widya melangkah mendekat, aroma parfum mahalnya mengalahkan aroma kaporit kolam renang. "Menulis itu hobi, Selena. Tugas utamamu sebagai menantu Hermawan adalah memberikan penerus. Mama dengar dari Kakek, Biru masih saja beralasan soal pekerjaan. Kamu sebagai istri harusnya bisa lebih... 'aktif' merayu suamimu."
Selena tertegun. Lagi-lagi soal pewaris. Beberapa hari yang lalu kakek, siang ini mamanya.
"Ma, Biru memang sangat sibuk belakangan ini. Kami—"
"Jangan beri Mama alasan yang sama," potong Mama Widya tajam. "Mama tidak mau tahu bagaimana caranya. Bulan depan, Mama ingin mendengar kabar baik. Biru itu keras kepala, tapi dia laki-laki normal. Kalau kamu tidak bisa menarik perhatiannya, jangan-jangan ada yang salah dengan cara kamu melayaninya?"
Laki-laki normal? Mama tidak tahu saja kalau anak Mama lebih suka berduaan dengan Cakra di ruang kerja daripada melihat istrinya pakai daster sutra! batinnya kesal.
"Selena akan usahakan, Ma," jawab Selena singkat, menahan diri agar tidak meledak.
"Bagus. Karena kalau dalam beberapa bulan ke depan tetap tidak ada hasil, Mama sendiri yang akan mencarikan 'asisten' lain untuk Biru yang lebih... produktif," ancam Mama Widya sebelum berbalik pergi dengan langkah anggun yang mengintimidasi.
Selena berdiri mematung di pinggir kolam, memeras ujung handuknya dengan geram. "Dasar keluarga gila hormat! Yang satu robot es, yang satu tukang paksa, yang satunya lagi jeruk makan jeruk!" gerutunya.
Ia segera masuk ke dalam rumah, niatnya untuk bersantai sudah hilang total. Selena meraih ponselnya, berniat mengirim pesan bernada protes pada Biru. Ia merasa posisinya sekarang benar-benar terjepit di antara sandiwara pernikahan dan tuntutan biologis yang mustahil ia penuhi sendirian.
"Lihat saja, Biru Hermawan. Kalau ibumu datang lagi dan menagih hal yang sama, aku akan bilang kalau kamu sebenarnya sedang sibuk pacaran sama Cakra!" ucap Selena pada ruang kosong, sambil membayangkan reaksi heboh yang akan terjadi jika ia benar-benar melakukannya.
Selena segera menutup mulutnya rapat-rapat, ngeri sendiri dengan ide gila yang baru saja melintasi otaknya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mendinginkan kepalanya yang nyaris mendidih setelah menghadapi Mama Widya.
"Waduhhh, gak ah! Jangan sampai!" gumamnya sambil menggeleng kuat-kuat hingga rambut ikalnya yang basah mencipratkan air ke lantai marmer. "Bisa-bisa aku ditendang keluar dari penthouse ini sebelum kontrak satu tahun selesai. Dia kan sudah bayar aku mahal!"
Selena membayangkan angka nol di saldo rekeningnya yang bertambah drastis sejak pernikahan kontrak ini dimulai. Dua miliar bukan uang receh. Itu adalah tiket kebebasannya untuk menulis seumur hidup tanpa harus pusing memikirkan tagihan listrik atau cicilan rumah.
"Ingat, Selena... fokus pada tujuan utama: uang dan kebebasan," bisiknya pada diri sendiri, mencoba memotivasi diri. "Kalau aku membongkar 'rahasia' dia dan Cakra sekarang, yang ada malah perang dunia ketiga. Dan aku? Aku cuma akan jadi janda kontrak yang kehilangan aset."
Ia berjalan menuju dapur, meneguk segelas air es untuk meredam kekesalannya. Sambil memandang taman melalui jendela, otak kreatifnya kembali bekerja.
"Tapi kalau Mama Widya terus menagih cucu... aku harus punya alasan yang lebih masuk akal daripada sekadar 'Biru sibuk'.
Mungkin aku harus pura-pura program hamil? Atau pura-pura mual kalau ada Mama Widya?"
Selena mencebikkan bibir. "Ih, tapi itu artinya aku harus makin sering berakting mesra dengan si Robot Dingin itu di depan umum. Padahal disentuh ujung jasnya saja, auranya sudah seperti mau membekukan seluruh isi ruangan."
Ia menghela napas panjang, teringat kembali wajah Biru pagi tadi yang sempat memuji kopinya. Ada sebersit rasa kasihan yang terselip di antara rasa kesalnya. Pria itu punya segalanya, tapi hidupnya seperti burung dalam sangkar emas yang terus-menerus dipaksa untuk berkicau sesuai keinginan penontonnya.
"Dasar keluarga Hermawan," gerutunya pelan. "Uangnya banyak, tapi dramanya lebih parah dari naskah sinetron stripping jam tayang utama."
Selena akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia tidak akan mengirim pesan protes pada Biru. Sebaliknya, ia akan menyimpan kekesalan ini dan menuangkannya ke dalam bab terbaru novelnya.
"Oke, Biru Hermawan. Kali ini aku selamatkan mukamu di depan ibumu. Tapi awas saja kalau besok pagi kamu tidak menghabiskan sarapan buatanku. Akan kubuat karaktermu di novel menderita tujuh turunan!"
Dengan langkah mantap, Selena menaiki tangga, siap mengubah rasa frustrasinya menjadi pundi-pundi rupiah melalui tulisannya, sambil tetap menjaga rahasia besar sang suami yang—menurut asumsinya—sangat menyukai asisten pribadinya sendiri.
***
jin ouch jin sentuh itu selena...