Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 : Kode yang tidak bisa berbohong
Mobil mewah hitam itu melesat membelah jalanan Hangzhou, meninggalkan jejak kepulan asap yang hilang ditelan malam. Aku masih berdiri di sana, di tempat yang sama, mematung di bawah lampu jalan yang temaram. Dinginnya angin malam China menembus blazer tipisku, tapi rasa dingin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan es yang baru saja membeku di hatiku.
Lukas Arkan. Nama itu terasa seperti tamparan.
Aku tidak menangis. Anehnya, aku merasa marah. Bukan marah karena dia melupakanku, tapi marah pada keadaannya. Dia pikir dia bisa menghapus masa lalunya seperti menghapus cache di browser. Dia pikir dengan mengganti nama dan mengenakan jas sutra, dia bisa membasuh darah dan keringat yang membentuk dirinya. Tapi aku tahu satu hal: source code manusia tidak bisa dihapus begitu saja. Ada legacy code di sana—kode-kode lama yang tertanam dalam, yang mengatur bagaimana dia bernapas, bagaimana dia berpikir, dan bagaimana dia bereaksi terhadap tekanan.
Dan kuncinya ada di sana. Dia mungkin bisa membohongi dunia, tapi dia tidak bisa membohongi logikanya sendiri.
Beberapa hari berlalu. Aku kembali ke rutinitas kampusku, tapi fokusku telah bergeser. Aku tidak lagi hanya membaca buku teori AI untuk ujian. Aku mulai membedah sistem Arkan Tech Solutions. Aku mencari tahu dari mana dia mendapatkan pendanaan, apa saja proyek yang sedang dia tangani, dan yang terpenting: arsitektur sistem seperti apa yang dia jual ke pasar.
Ternyata, dugaanku benar. Sistem utama yang dia banggakan, Arkan-Predictive Maintenance, adalah evolusi dari "BengkelLog"—proyek yang kami kerjakan di bengkel Pak Edi. Dia tidak menciptakan sesuatu yang baru dari nol; dia hanya memoles logika mekanik yang dulu kami bangun, lalu membungkusnya dengan antarmuka yang cantik dan harga yang selangit. Dia menjual hasil kerja keras kami, dan dia berhasil.
Aku menyusun rencana. Aku tidak bisa menemuinya sebagai Andrea yang merengek memintanya kembali. Dia akan menganggapku sebagai gangguan. Aku harus menemuinya sebagai seseorang yang setara, seseorang yang bisa menantang intelektualitasnya. Seseorang yang tahu di mana letak bug dalam sistemnya.
Kesempatan itu datang seminggu kemudian di sebuah simposium teknologi nasional yang diadakan di auditorium utama Zhejiang University. Lukas hadir sebagai pembicara utama. Auditorium penuh sesak dengan mahasiswa, profesor, dan investor. Di atas panggung, dia berdiri dengan aura yang sangat dominan. Dia memaparkan masa depan industri otomotif dengan sistem AI yang dia kembangkan.
"Sistem kami mampu memprediksi kegagalan mesin sebelum terjadi dengan akurasi 99,9%," suaranya menggema, tenang dan meyakinkan. "Karena kami memahami setiap parameter fisik yang bekerja di dalam ruang bakar."
Dia sedang membohongi mereka.
Aku berdiri dari kursi barisan belakang. Suasana auditorium mendadak sunyi saat aku mengangkat tangan. Lukas menghentikan penjelasannya, matanya menyapu ruangan sampai berhenti tepat padaku. Ada kilatan tidak suka di matanya, tapi dia tetap mempertahankan topeng profesionalnya.
"Ya, Nona?" tanyanya dengan nada dingin.
"Anda menyebutkan akurasi 99,9%," suaraku terdengar lantang, memecah kekaguman penonton. "Tapi bagaimana dengan variabel suhu ekstrem di lingkungan dengan kelembapan tinggi? Dalam algoritma Arkan-Predictive, saya melihat ada tumpang tindih dalam fungsi error-handling saat sensor suhu mencapai ambang batas. Bukankah itu akan memicu false positive yang justru akan mematikan sistem secara permanen alih-alih melakukan bypass?"
Riuh rendah terdengar di auditorium. Lukas terdiam sejenak. Aku melihat matanya menyipit. Dia tahu. Dia tahu bahwa tidak ada orang awam yang bisa menyadari celah sekecil itu di arsitektur sistemnya. Itu adalah logika yang hanya diketahui oleh orang yang pernah membedah mesin motor tua di Bekasi—logika yang kami temukan bersama di bengkel Pak Edi.
"Pertanyaan yang menarik," jawabnya, suaranya sedikit lebih berat. "Tapi sistem kami sudah memiliki modul adaptif..."
"Modul adaptif itu hanya patch sementara, bukan solusi," potongku, kali ini aku berjalan mendekat ke arah panggung, melupakan semua tata krama formal. "Anda tahu itu, kan? Itu adalah solusi yang kita—maksud saya, solusi yang dulu dianggap tidak efisien karena memakan resource terlalu besar. Anda hanya menyembunyikannya di balik lapisan interface agar terlihat canggih."
Lukas menatapku lekat-lekat. Di depan ratusan orang, dia tidak bisa mengusirku tanpa terlihat defensif. Dia harus meladeni.
"Jika Anda merasa punya solusi yang lebih baik daripada apa yang kami tawarkan, silakan naik ke atas panggung dan buktikan," tantangnya. Seringai kecil muncul di bibirnya. Dia pikir aku tidak akan berani. Dia pikir aku hanya gadis kecil yang dulu mengagumi ketangguhannya.
Aku tidak membuang waktu. Aku naik ke panggung, mengambil mikrofon, dan berjalan menuju komputer utama. Aku tidak menyapa penonton, aku langsung membuka konsol sistemnya. Jari-jariku menari di atas keyboard, mengetikkan baris-baris perintah yang dulu sering kami diskusikan di malam hari.
sudo_access_verify_v01_rea_luq
Saat aku memasukkan kode rahasia itu—kode yang hanya diketahui oleh kami berdua—matanya melebar. Sedetik. Hanya sedetik, tapi itu cukup untuk menghancurkan pertahanannya.
Layar menunjukkan arsitektur dasar sistemnya. Di sana, di bagian core, masih tertulis komentar kecil di sela-sela kode: //Jangan menyerah, Rea. Kita pasti bisa.
Dia telah lupa menghapus komentar itu. Sebuah sisa memori yang tertinggal dalam sistem yang dia bangun untuk menghapus masa lalunya.
Aku menatapnya dengan senyum tipis. "Sistem Anda memang jenius, Tuan Arkan. Tapi fundamentalnya masih dibangun di atas mimpi yang sama dengan saya. Anda mungkin bisa mengubah nama, mengubah identitas, tapi Anda tidak bisa mengubah cara Anda memecahkan masalah. Karena cara itu... adalah cara kita."
Hening. Auditorium benar-benar hening. Lukas berdiri di sampingku, tangannya mengepal di balik jas mahalnya. Dia sedang berjuang menahan diri agar tidak meledak di depan publik.
"Presentasi selesai," suaranya dingin, nyaris bergetar. Dia mematikan mikrofon dengan kasar. "Kita perlu bicara. Sekarang."
Dia tidak menunggu persetujuan. Dia berjalan turun dari panggung dengan langkah lebar, menuju ruang tunggu VIP di belakang panggung. Aku mengikutinya. Pintu tertutup rapat di belakang kami, mengunci kami dalam ruangan yang kedap suara dan dingin.
"Apa yang kamu lakukan?" desisnya, suaranya tak lagi profesional. Itu adalah suara Luq. Suara Luq yang dulu sering memarahiku saat aku melakukan kesalahan fatal pada kodingan kami. "Kamu mau mempermalukan saya di depan investor?"
"Mempermalukanmu?" Aku menatapnya berani, air mata yang tadi kutahan kini mengancam akan tumpah. "Tidak, Kak Luq. Aku sedang menyelamatkanmu. Kamu membangun kerajaan di atas fondasi yang kamu benci. Bagaimana kamu bisa merasa sukses jika kamu tidak bisa menghargai dirimu yang dulu? Bagaimana kamu bisa melangkah ke depan jika kamu bahkan takut menatap bayanganmu sendiri?"
Lukas Arkan—atau Luqman—bersandar pada meja kaca, napasnya memburu. Dia melepaskan dasinya dengan kasar, seolah benda itu mencekiknya. "Kamu tidak tahu apa yang saya alami, Andrea! Kamu tidak tahu rasanya melihat Ibu meninggal karena tidak ada biaya, lalu orang-orang di sekitar saya hanya memandang saya dengan iba! Saya benci rasa iba itu! Saya benci dianggap sebagai 'kasihan, Luq yang malang'. Saya ingin menjadi seseorang yang ditakuti, seseorang yang dihormati, seseorang yang tidak akan pernah diremehkan lagi oleh dunia!"
"Dan apakah dengan melupakan orang-orang yang mencintaimu, kamu mendapatkan rasa hormat itu?"
"Ya!" teriaknya. "Karena cinta tidak membayar tagihan! Cinta tidak membuat saya bertahan hidup saat saya sendirian di Jakarta! Hanya uang dan kekuatan yang bisa membuat saya tetap berdiri!"
"Kamu salah," kataku, suaraku melunak. Aku melangkah mendekat, berhenti tepat di hadapannya. "Uang mungkin membuatmu berdiri, Luq. Tapi cinta dan kenanganlah yang membuatmu tetap manusia. Jika kamu kehilangan itu, kamu tidak lebih dari mesin yang sedang menunggu rusak."
"Saya sudah tidak butuh manusia," ucapnya lirih. "Saya punya algoritma. Mereka tidak pernah mengecewakan saya."
"Algoritma hanya mengikuti perintah, Luq. Mereka tidak tahu rasanya berjuang. Hanya aku yang tahu."
Dia berjalan menuju pintu, memegang gagang pintu dengan tangan gemetar. "Jangan pernah lagi ikut campur dalam hidup saya, Andrea. Anggap saja kita tidak pernah saling kenal."
"Aku tidak bisa," jawabku tegas. "Karena sebagai partner mu, aku tahu satu kelemahan sistemmu: kamu tidak bisa membuang file yang sudah terkunci di hatimu. Dan aku adalah kunci itu."
Dia membeku di ambang pintu, tapi tidak menoleh. Kemudian, dia pergi. Meninggalkan aku sendirian di ruangan itu dengan kemenangan kecil yang terasa begitu pahit.
Perang ini belum selesai. Aku baru saja berhasil memasukkan virus ke dalam sistem pertahanannya. Dan sekarang, aku hanya perlu menunggu sampai dia menyadari bahwa virus itu bukanlah musuh, melainkan bagian dari dirinya yang sangat dia rindukan.