Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Bubur Ayam, Kapten Basket, dan Ego yang Meronta
Pagi itu, udara kota Yogyakerto terasa jauh lebih segar dari biasanya bagi Rama Arsya Anta. Kemenangan mutlak atas gudang logistik Kobra Besi semalam sukses menyuntikkan energi tak kasat mata ke dalam aliran darahnya. Meski tidurnya kurang dari lima jam dan ada sisa memar kebiruan di buku-buku jarinya, Rama melangkah memasuki gerbang SMA Taruna Citra dengan perasaan seringan kapas. Beban yang mengganjal di pundaknya seolah menguap, setidaknya untuk saat ini, dunia siangnya dan gadis berjilbab ungu itu aman dari jangkauan Tora.
Di tangannya, sudah bertengger manis kantong plastik putih berisi dua porsi bubur ayam Mang Karta lengkap dengan ekstra kerupuk dan sate usus. Ini adalah rutinitas barunya. Aneh memang, sang bos jalanan Wana Asri yang biasanya hanya memegang tuas gas dan kunci inggris, kini terbiasa menenteng sarapan layaknya asisten pribadi yang berbakti.
Langkah sepatu pantofelnya membawanya menuju gazebo di taman belakang perpustakaan. Seperti biasa, Nayla sudah duduk di sana. Gadis itu menopang dagu, matanya fokus menatap layar ponsel, sementara earphone putih menyumbat kedua telinganya. Begitu melihat kedatangan Rama, Nayla langsung mencabut earphone-nya dan tersenyum lebar hingga matanya menyipit menyambut bungkusan makanan itu.
"Tumben lo kelihatan seger banget pagi ini, Bos. Biasanya muka lo lecek kayak uang kembalian angkot," sapa Nayla sambil buru-buru mengambil mangkuk plastiknya.
Rama menarik kursi di hadapannya, meletakkan tasnya, lalu duduk dengan tenang. "Gue habis namatin buku ensiklopedia biologi. Rasanya tercerahkan aja."
Nayla mencibir pelan, menaburkan ekstra kerupuk ke dalam buburnya. "Bohong banget. Muka lo itu muka orang yang habis menang lotre, atau... habis menang perang. Gimana semalam? Urusan geng lo aman?" suara gadis itu memelankan volume di kalimat terakhirnya, menjaga rahasia mereka.
"Aman terkendali," Rama tersenyum miring, sebuah senyum penuh kepuasan yang tertahan. "Ular kobra itu udah gue cabut taringnya. Dia bakal sibuk jilat luka sendiri buat beberapa minggu ke depan. Lo nggak perlu waswas lagi kalau jalan sendirian di sekolah."
Nayla menghentikan kunyahannya sejenak, menatap Rama lekat-lekat. Ada binar kelegaan di mata bulatnya. "Syukur deh. Berarti kerjaan babu gue udah bisa fokus seratus persen buat bantuin ngetik naskah drama kita."
Rama mendengus, baru saja hendak membalas ucapan menyebalkan itu, ketika tiba-tiba sebuah suara bariton yang asing menyela percakapan mereka.
"Hai, Nayla. Kebetulan banget ketemu di sini."
Keduanya serempak menoleh. Berdiri di dekat undakan gazebo, sesosok cowok jangkung dengan seragam putih abu-abu yang lengannya digulung sebatas siku tengah tersenyum ke arah mereka. Rambutnya ditata dengan gaya messy look yang disengaja, dan di tangan kanannya ia memutar-mutar sebuah bola basket dengan santai.
Dia adalah Kenzie Dirgantara. Kapten tim basket kebanggaan SMA Taruna Citra, idola sejuta siswi, dan salah satu cowok paling arogan yang pernah Rama kenal. Berbeda dengan Raka yang ambisius di bidang akademik dan kedisiplinan, Kenzie adalah tipe cowok populer yang merasa dunia sekolah berputar mengelilinginya hanya karena dia jago memasukkan bola ke dalam keranjang.
"Eh, Kak Kenzie? Iya, lagi sarapan nih. Ada apa ya?" balas Nayla, suaranya sopan namun terdengar sangat datar, jauh berbeda dengan nada bicaranya saat berdebat dengan Rama.
Kenzie melangkah naik ke dalam gazebo, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Rama yang duduk tepat di seberang Nayla. "Gue perhatiin lo jarang banget nongkrong di kantin. Pantesan, ternyata lo lebih suka mojok di sini." Kenzie melirik sekilas ke arah Rama, lalu tersenyum meremehkan. "Eh, ada Anta. Sibuk banget ya, Ta? Pagi-pagi udah mangkal di mari. Tumben lo nggak di perpus baca buku tebal lo itu?"
Rahang Rama seketika mengeras. Urat di pelipisnya berkedut pelan. Di dunia jalanan, kalau ada cowok yang berani meremehkannya dengan nada seperti itu, Kenzie pasti sudah pulang dengan hidung patah. Namun di sini, ia harus menelan egonya mentah-mentah. Ia adalah Rama si Ketua Klub Sains yang kalem dan tidak suka mencari masalah.
"Lagi ngebahas tugas drama sama Nayla, Ken," jawab Rama singkat, suaranya dibuat sedatar mungkin, membetulkan letak kacamatanya dengan gaya kaku.
"Oh, tugas. Kirain apa," kekeh Kenzie tanpa rasa bersalah. Cowok itu kembali memfokuskan perhatiannya penuh pada gadis berjilbab ungu di depannya, mencondongkan tubuhnya ke depan sambil bersandar di tiang gazebo. "Gini, Nay. Sabtu besok sekolah kita bakal tanding di final kejuaraan basket antar SMA di GOR Yogyakerto. Gue punya satu tiket VIP di bangku paling depan, khusus buat tamu spesial. Gue pengen banget lo datang nonton gue tanding."
Nayla mengerjap pelan, jelas tidak menduga serangan langsung seperti itu. "Wah, makasih banyak tawarannya, Kak. Tapi gue akhir pekan ini kayaknya sibuk deh. Harus ngerjain tugas, terus bantu-bantu di rumah."
"Ayolah, Nay. Sesekali lo harus ngerasain euforia pertandingan sekolah kita. Lagian, lo kan anak baru, ini kesempatan bagus buat nambah teman dan masuk ke sirkel anak-anak hits," Kenzie terus memaksa, suaranya sedikit direndahkan, mencoba terdengar karismatik. "Nanti pulangnya gue antar deh, pakai mobil gue. Gimana?"
Di seberang meja, suhu tubuh Rama terasa naik drastis. Tangan kanannya yang berada di bawah meja mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya yang memar berdenyut nyeri. Sialan. Cowok basket ini terang-terangan sedang pedekate pada gadisnya—ralat, pada majikannya.
Melihat bagaimana Kenzie merayu dan menatap Nayla membuat insting teritorial sang pemimpin The Ghost memberontak liar. Rama ingin menggebrak meja ini, menarik kerah seragam Kenzie, dan mengusirnya jauh-jauh. Tapi ia tidak bisa. Ia terjebak dalam topeng kesempurnaannya sendiri. Ia hanya bisa diam, mendidih dalam cemburu yang bahkan tak berani ia akui.
Nayla tersenyum canggung, matanya melirik ke arah Rama yang menunduk kaku menatap mangkuk buburnya. Gadis itu bisa melihat urat leher Rama yang menegang, dan entah kenapa, sebuah ide jahil tiba-tiba melintas di kepalanya.
"Gimana ya, Kak Ken... gue bukannya nggak mau," ucap Nayla pelan, nada suaranya sengaja dibuat ragu. "Tapi gue udah ada janji sama Rama hari Sabtu besok. Kita mau nyelesain naskah drama kita di kafe. Iya kan, Ram?"
Kenzie langsung mengerutkan kening, menoleh ke arah Rama dengan tatapan tidak suka. "Tugas drama kan deadline-nya masih minggu depan. Lo bisa kan, Ta, ngerjain bagian lo sendiri dulu? Biarin Nayla refreshing bentar nonton gue."
Itu adalah kalimat yang merendahkan. Seolah Rama hanyalah nerd tak penting yang bisa disuruh-suruh mengalah demi kepentingan si cowok populer.
Kesabaran Rama akhirnya putus.
Ia mendongakkan kepalanya perlahan. Topeng anak teladan itu tiba-tiba retak, dan untuk pertama kalinya di area sekolah, Rama membiarkan sebagian kecil dari aura Hantu Wana Asri menguar dari dalam dirinya. Dari balik lensa kacamatanya, tatapan Rama mengunci mata Kenzie dengan intensitas yang sangat dingin dan mematikan.
"Janji adalah janji, Kenzie," suara Rama terdengar jauh lebih berat dan dalam dari biasanya. Tidak ada nada membentak, tapi setiap suku katanya mengandung tekanan yang mengancam. "Nayla bilang dia nggak bisa. Dan kalau dia udah bilang nggak, artinya lo harus mundur. Paham?"
Suasana di gazebo itu mendadak membeku. Udara pagi yang hangat terasa turun beberapa derajat. Kenzie terdiam kaku. Ia menelan ludah dengan susah payah. Ada sesuatu di sorot mata dan nada suara cowok cupu di depannya ini yang membuat nyalinya tiba-tiba ciut. Insting primitif Kenzie meneriakkan peringatan bahwa cowok berkacamata ini sangat berbahaya.
"E-eh... santai, Bro," Kenzie mundur selangkah secara refleks, tawanya terdengar canggung dan dipaksakan. Ia melempar bola basketnya ke tangan kiri. "Gue kan cuma nawarin. Kalau emang nggak bisa, ya udah nggak usah ngegas gitu. Gue cabut duluan deh, mau pemanasan. Bye, Nay."
Kenzie buru-buru berbalik dan berjalan cepat meninggalkan taman belakang, sesekali menoleh ke belakang seolah memastikan Rama tidak mengejarnya.
Begitu punggung kapten basket itu menghilang di tikungan koridor, Rama menghela napas kasar. Ia mengusap wajahnya, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu karena amarah. Ia telah mengambil risiko besar dengan menunjukkan sisi aslinya, tapi ia tidak peduli. Membiarkan cowok brengsek itu terus merayu Nayla jauh lebih menyiksa daripada dihukum guru BK.
Di seberang meja, Nayla menopang dagunya dengan kedua tangan. Gadis itu menatap Rama lekat-lekat, senyum jahil yang sangat lebar terukir di wajahnya.
"Wah, wah, wah. Barusan itu apa, Bos Besar? Ketua Klub Sains kita tiba-tiba kesurupan preman pasar?" ledek Nayla tanpa ampun, matanya berbinar jenaka.
"Diam lo," gerutu Rama, kembali meraih sendoknya dengan gerakan kaku. "Gue cuma nggak suka ada orang yang maksa-maksa kehendak. Lagian, lo kan emang udah bikin komitmen ngerjain tugas sama gue Sabtu besok."
Nayla terkekeh renyah. "Masa sih? Perasaan semalam gue belum nentuin jadwal deh buat hari Sabtu. Lo ngarang aja ya biar si Kenzie pergi?"
Rama terdiam. Skakmat. Wajahnya seketika memanas, dan ia yakin telinganya sekarang sudah semerah kepiting rebus. Ia tertangkap basah, dan gadis cerewet di depannya ini tahu persis apa yang baru saja terjadi.
"Cemburu ya, Babu?" goda Nayla lagi, kali ini sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka. Aroma stroberi yang lembut langsung menggelitik hidung Rama. "Cemburu kan lo lihat gue dideketin kapten basket yang lebih keren dari lo?"
"Gue nggak cemburu!" bantah Rama sedikit terlalu keras, salah tingkah setengah mati. "Keren dari mana? Modal bawa bola ke mana-mana doang lo bilang keren? Cowok kayak gitu gampang tumbang kalau diajak main aspal."
Tawa Nayla meledak, memecah kesunyian taman sekolah. Ia tertawa sampai harus memegangi perutnya. Melihat Rama yang biasanya dingin, penuh perhitungan, dan berbahaya kini kelabakan menyembunyikan gengsinya adalah hiburan terbaik yang pernah ia dapatkan.
Rama mendengus pasrah, tapi tak lama kemudian, ujung bibirnya ikut melengkung membentuk senyuman. Ia memandangi gadis berjilbab ungu yang sedang tertawa lepas di depannya itu. Di dalam rongga dadanya, seonggok ego yang biasanya ia pelihara dengan kokoh di jalanan, kini runtuh berantakan tanpa sisa. Ya, ia cemburu. Cemburu buta. Dan sialnya, ia tak tahu lagi bagaimana caranya untuk menghentikan perasaan gila ini.