NovelToon NovelToon
Dao Of The Fate Severer

Dao Of The Fate Severer

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Lorong batu kuno itu berbau busuk, perpaduan antara kumpulan udara tanah yang tergenang, lumut mati, dan dasar darah yang telah mengering selama ribuan tahun. Di sepanjang dinding, obor-obor yang telah lama padam menyisakan jelaga hitam. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari lumut yang memancarkan cahaya merah redup, memberikan atmosfer seperti berada di dalam kerongkongan monster raksasa.

Lin Ruoxue berjalan sepuluh langkah di depan. Posturnya kaku, napasnya terkendali meski tubuhnya terisi sisa-sisa rasa sakit. Tangannya mengepalkan erat pedang baja rampasan, sementara segel Kontrak Jiwa di dahinya kadang-kadang berdenyut samar, mengingatkannya secara brutal bahwa ia kini tak lebih dari seekor anjing penjaga.

KLIK.

Suara mekanis yang halus sangat terdengar tepat di bawah sepatu Lin Ruoxue. Lantai batu yang ia injak sedikit ambles.

Wajah gadis itu mucat. Ia segera memutar tubuhnya, membuang dirinya ke tanah yang menyembunyikan ilusi yang ia ciptakan dari sedikit Qi esnya.

WUSSH! WUSSH! WUSSH!

Tiga anak panah baja berkarat yang dilumuri racun hijau melesat keluar dari lubang tersembunyi di dinding kiri. Kecepatannya merobek udara. Dua anak panah meleset, menghantam dinding batu di seberang hingga hancur. Namun, anak panah ketiga menggores lengan jubah abu-abunya, menyayat sedikit kulit bahunya yang baru saja dibalut.

Belum sempat ia menarik napas, lantai di tempatnya baru saja menjatuhkan diri bergetar. Lusinan paku besi setajam tombak mencuat pembohong dari bawah ubin batu.

"Ukh!" Lin Ruoxue mengayunkan giginya, menusukkan pedangnya ke lantai untuk mendorong tubuhnya melompat mundur secara paksa. Ujung paku besi merobek betis kirinya, meninggalkan jejak darah segar yang langsung menetes ke lantai.

Sepuluh langkah di belakangnya, Jiang Xuan bahkan tidak menghentikan ritme berjalannya.

Ia memegang Peta Giok Kuno di tangan kirinya, matanya yang sedingin es menyapu ukiran di permukaan batu giok tersebut. Ia sama sekali tidak memedulikan Lin Ruoxue yang nyaris menjadi manusia hidup.

“Langkahmu terlalu lebar,” komentar Jiang Xuan datar, terdengar menggema di lorong yang sunyi. "Kau menyia-nyiakan energimu untuk melompat mundur padahal kau hanya perlu menggeser tumitmu sejauh dua inci ke kanan untuk menghindari pelatuk lantai. Refleksmu sampah."

Lin Ruoxue bangkit berdiri. Ia menekan luka di betisnya untuk menghentikan pendarahan, menatap tajam ke arah Jiang Xuan dengan mata hitamnya yang berkilat benci. Ia tidak menjawab, karena ia tahu setiap bantahan hanya akan memicu rasa sakit yang menghancurkan jiwa dari segel di dahi. Ia berbalik dan kembali berjalan maju, menjadi tameng daging yang patuh.

"Kyuu?" Baozi melongokkan kepalanya dari balik kerah Jiang Xuan, mengendus udara yang berbau darah, lalu kembali mendengkur menyembunyikan diri dari hawa dingin Reruntuhan Kuno.

Jiang Xuan tersenyum sinis di dalam hati.

Dia membenciku hingga ke sumsum tulangnya, batin sang Cendekiawan Tinta Hantu, rasionalitasnya menghitung setiap pergerakan gadis itu. Bagus. Kebencian adalah bahan bakar terbaik untuk bertahan hidup. Jika dia mudah patah dan memohon ampun, dia tidak pantas menyandang gelar Iblis Es Hitam di masa depan. Aku butuh senjata yang tajam, bukan bunga hiasan.

Mereka terus menyusuri lorong menuju Area Makam Sayap Barat. Kegelapan semakin pekat.

Tiba-tiba, Jiang Xuan menghentikan langkahnya. Mata kirinya yang memancarkan Roda Langit emas menyipit.

"Berhenti," perintah Jiang Xuan.

Lin Ruoxue mematung di tempat. Telinganya menangkap suara gesekan kuku yang tak terhitung jumlahnya dari arah bayangan di depan dan di langit-langit lorong. Suara cicitan yang rendah, buas, dan dipenuhi rasa lapar yang rakus.

Seketika, puluhan pasang mata merah menyala di dalam kegelapan.

Bau busuk bangkai menguar pekat. Makhluk-makhluk itu melangkah keluar dari bayangan. Siluman Tikus Pemakan Mayat. Ukuran mereka sebesar anjing pemburu liar, dengan bulu rontok yang memperlihatkan kulit bernanah, serta taring bergerigi yang terus meneteskan air liur korosif. Ada lebih dari tiga puluh ekor yang memblokir lorong.

Lin Ruoxue memundurkan kakinya setengah langkah, bersiap untuk formasi bertahan mundur. Ini adalah insting dasar seorang kultivator tahap dua Kondensasi Qi saat menghadapi gerombolan siluman buas.

Namun, suara absolut dari majikannya memotong insting tersebut.

"Maju," ucap Jiang Xuan tanpa ekspresi. "Bunuh semuanya. Bersihkan jalan. Jika kau membiarkan satu ekor saja melewatimu dan mengotori sepatuku dengan darah hitam mereka, aku akan mematahkan kedua tulang keringmu dan meninggalkanmu di sini sebagai pakan mereka."

Tubuh Lin Ruoxue menegang. Ia sendirian menghadapi puluhan monster. Namun, tidak ada jalan mundur. Segel di dahinya berdenyut pelan, memberikan ancaman mutlak.

Dengan tatapan mata yang tiba-tiba berubah sedingin badai salju, Lin Ruoxue memutar gagang pedangnya. Fluktuasi elemen es tingkat rendah meledak dari tubuhnya.

"Mati kalian semua!" desis gadis itu, menerjang maju menyongsong gelombang kematian.

Pertarungan yang meledak benar-benar brutal dan tanpa keanggunan.

Tiga ekor tikus raksasa melompat menerkam secara bersamaan. Lin Ruoxue mengayunkan pedang bajanya secara horizontal.

CRAT!

Bilah pedang membelah perut tikus pertama, menumpahkan usus busuk ke udara. Namun, tikus kedua berhasil menembus pertahanannya, menancapkan taring korosifnya ke lengan kiri gadis itu. Dagingnya robek, asap berdesis akibat air liur beracun.

Lin Ruoxue tidak menjerit. Ia menggunakan rasa sakit itu untuk memutar tubuhnya, menendang keras perut tikus kedua hingga terlempar, lalu menusukkan ujung pedangnya menembus tengkorak tikus ketiga.

Jiang Xuan berdiri sepuluh langkah di belakang, bersedekap dengan santai. Cincin emas di pupilnya berputar pelan, menganalisis dengan sangat teliti.

Efisiensi membunuhnya masih mentah, Jiang Xuan bermonolog dalam hati, mengamati setiap tebasan dan luka yang diterima Lin Ruoxue. Dia terlalu sering menggunakan amarah alih-alih perhitungan. Dia membiarkan bahunya terbuka saat menebas. Tapi... instingnya luar biasa buas. Saat taring monster itu menancap di lengannya, dia tidak mencoba menariknya menjauh, melainkan membiarkannya masuk lebih dalam untuk mengunci kepala monster itu agar bisa ditebas. Sangat kejam pada musuh, dan lebih kejam pada dirinya sendiri.

Di tengah lautan tikus, tubuh Lin Ruoxue mulai dipenuhi luka gigitan dan cakaran. Jubahnya compang-camping. Rambutnya lepek oleh darah siluman dan keringat dingin. Qi esnya nyaris habis.

Seekor tikus raksasa yang merupakan pemimpin kawanan menyelinap dari titik buta dan menerkam punggungnya. Kuku tajamnya mengoyak punggung Lin Ruoxue, membuatnya jatuh bertumpu pada satu lutut. Pedangnya nyaris terlepas.

Jiang Xuan tidak mengangkat jarinya sedikit pun. Jika Lin Ruoxue mati di sini, maka gadis itu memang hanyalah tumpukan sampah yang tidak berguna baginya.

Bangkit, Iblis Es, batin Jiang Xuan dingin. Tunjukkan padaku kenapa kelak dunia akan gemetar mendengar namamu.

Lin Ruoxue menggertakkan giginya hingga gusinya berdarah. Ia menolak untuk melihat ke belakang, menolak untuk memohon bantuan dari iblis yang berdiri menyaksikannya. Dengan lolongan kemarahan absolut, ia melepaskan sisa Qi es terakhirnya ke telapak tangannya, menampar langsung wajah pemimpin tikus itu.

Hawa es ekstrem membekukan kepala tikus itu dari dalam. Lin Ruoxue tidak berhenti; ia menarik pedangnya dan menusukkannya berulang kali ke dada pemimpin monster itu hingga hancur berkeping-keping.

Melihat pemimpin mereka mati mengenaskan, sisa tikus yang berjumlah lima ekor berbalik arah dan kabur ketakutan ke dalam bayang-bayang.

Hening kembali turun.

Klang.

Pedang baja itu terlepas dari tangan Lin Ruoxue, beradu dengan lantai batu. Gadis itu tersungkur ke depan, menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Dadanya naik turun dengan liar. Darah mengalir dari dahi, lengan, punggung, dan kakinya, bercampur dengan darah hitam siluman di lantai. Ia kehabisan tenaga, murni bertahan dengan keras kepala.

Langkah kaki santai terdengar mendekat. Jiang Xuan melangkah melewati tumpukan bangkai tikus tanpa sedikit pun mempercepat ritmenya. Ia berhenti tepat di samping tubuh Lin Ruoxue yang bergetar.

"Terlalu banyak celah. Tebasanmu tidak memiliki titik tumpu, dan kau membuang tiga puluh persen Qi-mu hanya untuk kemarahan yang tidak berguna," Jiang Xuan menghina tanpa belas kasihan. "Dua puluh dua tarikan napas penuh untuk membereskan kawanan tikus kelas rendahan. Kau sangat menyedihkan."

Lin Ruoxue menengadah, menatap Jiang Xuan dengan sisa-sisa kesadaran. "B-bunuh saja aku... jika kau tidak puas..."

Jiang Xuan tertawa kering. Ia merogoh saku jubahnya, keluar menarik sebuah botol porselen murahan berisi pil pemulihan kualitas darah terendah—pil yang biasa digunakan untuk menyembuhkan anjing penjaga sekte.

Ia melempar botol itu tanpa perasaan.

Tuk.

Botol itu menghantam dahi Lin Ruoxue dan jatuh ke pangkuannya.

"Telan itu. Kau terlihat seperti mayat hidup. Dan aku benci jika tamengku patah di tengah jalan," ucap Jiang Xuan mengabaikan mengirimkan gadis itu.

Jiang Xuan melangkah maju mengabaikan Lin Ruoxue, berjalan menuju dinding batu buntu yang berada tepat di ujung koridor tersebut. Menurut peta giok di tangannya, lorong ini bukanlah jalan buntu, melainkan titik akses utama menuju ruang bawah tanah Sayap Barat.

Mata Jiang Xuan mengkondisikan pola batu bata tua di dinding. Ia bisa merasakan Formasi Niat tingkat kuno yang menyegel jalan tersebut.

"Pintu ilusi dengan kunci susunan spiritual," gumam Jiang Xuan.

Ia mengangkat tangannya ke tempat itu. Jari telunjuk dan jari tengahnya merapat, memancarkan Formasi Niat yang pekat. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, ia menggoreskan radius di udara kosong.

Sret! Sret! Sret!

Kaligrafi Void tercipta. Garis-garis emas gelap melesat menembus udara, masuk ke dalam celah-celah batu dinding. Formasi Niat milik Jiang Xuan dengan kasar mengurai paksa susunan energi pelindung kuno tersebut.

KRAAAK... GERUTU...

Suara peluncuran batu raksasa mengguncang lorong. Dinding batu buntu di depan Jiang Xuan perlahan membelah menjadi dua, membuka jalan menuju sebuah aula yang sangat besar.

Namun, saat pintu batu itu terbuka sepenuhnya, udara di lorong tiba-tiba menjadi sangat berat. Sebuah hawa pembunuh yang luar biasa purba dan pekat menyapu keluar dari dalam kegelapan aula, membuat Baozi menjerit ketakutan dan Lin Ruoxue yang terluka parah dalam ramalan seteguk darah.

Di tengah aula kuno yang remang-remang itu, Jiang Xuan membukakan matanya. Seringai buas seketika terbentuk di wajahnya. Sesuatu yang sangat mematikan sedang menunggunya di dalam.

1
Shadow
Yahhh keren juga gaya Jiang Xuan tapi jangan kejam x sam Lin ya
Shadow
MC nya sadis
Shadow
Kasat sekali kamu Jiang Xuan
Shadow
Ye Chan tingkat 8, kenapa yang di periksa murid luar yang baru tumbuh ? Harusnya murid dalam atau murid inti yang di periksa.. Para tetua sekte begitu sombong sama murid yang lemah, Padahal anggota sekte sendiri.
Shadow
Kecewa neh MC nya...
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Teteh Lia
serasa gigitan nyamuk, kata na 😱
Teteh Lia
Kalau kultivator gini tuh, ada film na nda ya?
@arv_65: cari di play store donghive
total 3 replies
Shadow
Terlalu banyak kalimat kiasan
Shadow
Sepertinya bagus neh ceritanya
Teteh Lia
Kebanyakan, novel genre seperti ini, pakai nama Xuan.
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏
Teteh Lia: makasih penjelasan na, kak. maaf saya banyak tanya.
saya kurang paham cerita genre seperti ini.
total 5 replies
@arv_65
okee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!