Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlambat dan Positif
Aiena sedang menyunting bagian pojok kanan bawah sebuah poster promosi yang akan diunggah besok siang, mengetikkan tanggal rilis produk dengan gerakan lincah dan terlatih. Namun gerakan tangannya terhenti seketika ketika membaca tanggal yang tercantum disana.
Wanita itu menarik laci mejanya dengan sentakan kasar, mengambil ponsel dan membuka aplikasi kalender menstruasinya. Sudah terlambat delapan hari.
Napas Aiena mulai memburu. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, merasakan dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke dadanya. Ingatannya melayang pada saat-saat dimana ia dengan terpaksa melayani Haze. Pria itu tidak pernah lagi peduli pada proteksi, selalu merasa memiliki hak penuh atas tubuhnya tanpa memikirkan konsekuensi.
Jemarinya menari di atas layar, mengetikkan pesan dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Memberitahukan hal itu kepada Haze. Meski ia tahu hanya hal buruk yang menyertai. Kemungkinan Haze akan menyuruhnya menggugurkan seperti yang sebelum-sebelumnya. Tapi Haze yang mau bertanggung jawab dengan menikahinya juga mimpi buruk bagi Aiena.
Hanya butuh beberapa detik hingga tanda centang berubah menjadi biru. Layar kembali menyala, namun bukan karena balasan pesan melainkan sebuah panggilan masuk.
“Halo?” suara Aiena terdengar sangat tipis.
“Halo, Na. Nanti kamu aku jemput. Kita langsung ke tempat itu,” ujar Haze di seberang sana, membuat napas Aiena tercekat seketika.
Aiena tahu apa yang dimaksud Haze. Ia akan melewati itu lagi. Prosedur mengerikan yang menyakiti fisik dan mentalnya lagi. Namun Aiena tak punya pilihan, memaksa Haze menikah adalah opsi yang jauh lebih buruk dan akan memastikan dirinya tak lagi punya masa depan.
***
“Maaf, Shane. Hari ini saya tidak bisa pulang bersama,” ucap Aiena pelan ketika mereka bertemu di dalam lift. Kebetulan hanya ada mereka berdua.
Shane yang baru saja hendak menekan tombol turun seketika menghentikan gerakannya. Pria itu memutar tubuh, menatap Aiena dengan kening berkerut dalam, seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.
“Kenapa mendadak? Kita sudah sepakat demi keamananmu, Na,” tanya pria itu, suaranya mengandung nada kebingungan yang nyata. Ia memindai wajah bawahannya yang tampak lebih pucat dari biasanya.
Aiena menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya yang gemetar. “Saya... saya akan pulang bersama Haze. Dia sudah di bawah.”
Shane tersentak kecil. Ia melepaskan tas kerjanya yang tersampir di bahu, lalu mendekat satu langkah, memperkecil jarak di antara mereka. “Kamu bercanda? Kemarin kamu ketakutan setengah mati sampai tidur di kanfor, dan sekarang kamu bilang mau pulang sukarela dengannya? Apa yang terjadi?”
“Ada urusan penting yang harus dibicarakan, Shane. Sangat penting,” jawabnya tanpa berani menatap mata bosnya. Ia merasa tenggorokannya tersumbat oleh rahasia yang baru saja ia ketahui di siang hari tadi. Ia tidak bisa menceritakan perihal keterlambatan datang bulannya. Tentu tidak kepada Shane.
Pria itu menghela napas panjang, rahangnya mengeras sesaat sebelum ia akhirnya memutar kembali tubuhnya. Ia tahu ia tidak memiliki hak untuk melarang, meski sorot matanya memancarkan rasa tidak setuju yang amat besar.
“Saya tidak tahu apa yang sedang kamu rencanakan, dan saya tidak mau ikut campur dalam urusan pribadimu jika itu memang kemauanmu sendiri.”
Shane menekan tombol lift, lalu menatap Aiena sekali lagi dengan intensitas yang melunak. “Tapi dengarkan saya, Na. Jika urusan penting itu berubah menjadi sesuatu yang membahayakanmu atau jika kamu merasa tidak aman lagi, hubungi saya. Kapan pun. Jangan ragu.”
“Terima kasih, Shane. Saya duluan.”
Pintu lift terbuka. Aiena melangkah keluar lift, meninggalkan Shane yang masih di dalam lift untuk menuju tempat parkir basement.
Aiena melangkah keluar melewati lobi gedung yang mulai sepi. Di balik pintu kaca besar yang menuju pelataran, sosok itu sudah menunggunya. Ia dapat melihat punggung Haze yang duduk di atas kap mobil.
***
“Sudah kamu pastikan? Maksudku, sudah pakai alat?” Suara Haze memecah keheningan kabin yang sejak tadi hanya diisi oleh deru napas Aiena yang pendek-pendek. Pria itu tidak menoleh, jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi dengan irama yang membuat saraf Aiena semakin tegang.
Aiena menggeleng lemah, merapatkan lututnya. “Belum. Aku baru hitung tanggalnya tadi siang. Cuma terlambat, Haze. Belum sempat tes.”
Haze memutar kemudi dengan sentakan tajam, membelokkan mobil ke pelataran parkir sebuah apotek modern berlampu neon terang. “Kita tes dulu. Kita harus pastiin.”
Pria itu keluar dari mobil tanpa mematikan mesin. Aiena hanya bisa melihat punggung tegapnya menghilang di balik pintu kaca apotek. Tak sampai lima menit, dia kembali dengan sebuah kantong plastik kecil yang dilemparkannya ke pangkuan Aiena. Di dalamnya terdapat dua kotak alat uji kehamilan dari merk berbeda.
“Masuk ke dalam. Kamar mandinya ada di pojok kiri belakang,” perintah Haze, suaranya kini tenang namun tak terbantah.
Aiena menatap kantong itu dengan tangan gemetar. “Sekarang? Disini?”
“Sekarang, Aiena. Lebih cepat lebih baik,” sahutnya sambil menyandarkan punggung ke jok, matanya menatap lurus ke depan seolah.
Dengan langkah kaki yang terasa begitu berat, Aiena turun. Ia masuk ke dalam apotek, melewati rak-rak obat dengan kepala tertunduk, dan mengunci diri di dalam kamar mandi yang sempit. Jantungnya berdentum begitu keras hingga telinganya berdenging. Ia mengikuti instruksi pada kemasan dengan gerakan mekanis, lalu meletakkan alat plastik itu di pinggiran wastafel.
Selama menunggu hasil, Aiena masih terus berharap hasilnya negatif dan ia hanya terlambat karena hal selain kehamilan. Begitu dua garis merah muncul dengan tegas, dunia seolah runtuh menimpanya.
Aiena keluar dari apotek dengan langkah gontai. Saat ia masuk kembali ke mobil, Haze langsung menengadahkan telapak tangannya. Tanpa suara, ia menyerahkan alat itu. Haze memperhatikannya di bawah lampu kabin mobil dengan seksama.
“Positif, Na. Kita langsung kesana ya?”
Dengan berat hati Aiena mengangguk. Ini berat untuknya, dan ia tahu ini keputusan yang salah. Namun Aiena seolah tak punya pilihan lain yang lebih baik.
***