Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.
Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.
Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.
" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Malam semakin larut ketika Kyra akhirnya keluar dari gedung kantor. Udara malam menusuk kulitnya, seolah ikut menambah sesak yang sedari tadi mengganjal di dadanya. Langkahnya terasa berat, kepalanya penuh dengan bayangan wajah Bagas. Pertemuan tak terduga itu membuat seluruh pertahanan dirinya runtuh begitu saja.
Kyra menarik napas panjang, dia berjalan ke rah motor bututnya itu lalu menyalakannya.
Dengan sisa tenaga, Kyra mengendarai motornya menuju rumah sederhana Bu Lasmi, wanita paruh baya yang selama ini jadi penolong sekaligus ibu pengganti baginya.
Sesampainya di sana, Kyra mendapati Aldian sudah menunggu di teras. Bocah itu berlari kecil sambil membawa mainan mobil-mobilan di tangannya. "Bunda!" serunya riang.
Hati Kyra seketika hangat, semua penat seolah lenyap begitu saja. Ia turun dari motor lalu meraih tubuh mungil itu dalam pelukan erat. "Aldian… maaf ya sayang, bunda pulang telat."
Aldian mendongak polos, senyumnya merekah. "Nggak papa, Bun. Aldian nunggu kok. Tadi Bu Lasmi nemenin Aldian main."
Kyra tersenyum getir lalu menoleh pada Bu Lasmi yang baru keluar dari dalam rumah. "Makasih ya, Bu. Repotin lagi."
Bu Lasmi menggeleng lembut. "Ah, nggak apa-apa. Aldian itu anak baik. Tapi, Ky… kamu terlihat capek sekali. Ada masalah di tempat kerja kamu?"
Ia hanya menggeleng. "Nggak, Bu. Cuma adaptasi kerja baru aja."
Bu Lasmi tersenyum maklum. "Ya sudah, pulanglah. Jangan lupa makan, biar kuat kerja."
Kyra mengangguk lalu menggandeng Aldian pulang.
Sesampainya di rumah kontrakan kecil mereka, Kyra segera menyiapkan makan malam sederhana: nasi hangat, telur dadar, dan sayur bening sisa siang tadi. Aldian duduk di meja kecil sambil mengayun-ayunkan kakinya yang belum sampai lantai.
"Bunda, hari ini capek ya?" tanya Aldian polos sambil mulai menyendok nasi.
Kyra menatap anak itu, matanya berkaca-kaca. Bagas nggak boleh tahu tentang kamu, Nak. Aku nggak mau kamu direbut dariku.
"Capek sedikit, tapi seneng kok. Soalnya bisa makan sama Aldian," jawab Kyra sambil tersenyum, meski hatinya pedih.
Aldian terkikik kecil. "Aldian juga seneng sama Bunda."
Suasana makan malam berlangsung hangat. Setelah selesai, Kyra membantu Aldian mencuci tangan lalu membaringkannya di tempat tidur mungil di kamar mereka.
"Bunda…" panggil Aldian lirih sambil menarik selimut.
"Iya, sayang?"
"Kalau Aldian besar nanti, Bunda jangan tinggalin Aldian ya."
Pertanyaan polos itu membuat dada Kyra seperti diremas. Ia menunduk, mencium kening anak itu lama-lama, seolah ingin menanamkan janji pada dirinya sendiri.
"Bunda janji, Aldian. Apapun yang terjadi, Bunda akan selalu jaga kamu. Bunda nggak akan pernah ninggalin kamu."
Aldian tersenyum kecil lalu memejamkan mata. Kyra duduk di sisi ranjang, menatap wajah polos putranya. Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya.
Aku sudah kehilangan banyak hal dalam hidupku. Tapi tidak denganmu, Nak. Tidak denganmu.
****
Pagi harinya kyra dibuat sibuk karena dia bangun terlambat. Kyra juga harus membuatkan sarapan untuk mereka berdua belum lagi putranya itu yang selalu bertanya.
" Bunda, nanti Aldian kalo udah besar harus sekolah ya" tanyanya yang duduk di kursi meja makan.
Kyra tersenyum ke arah putranya " iya sayang, nanti kalo Aldian udah besar bakalan sekolah terus jadi orang sukses deh"
" harus sekolah dulu ya Bun. Aldian mau langsung kerja aja deh Bun biar bisa dapat uang banyak" ucapnya dengan polos
"loh kok gitu, Aldian harus sekolah dulu baru kerja biar bisa dapat pekerjaan yang bagus"
" nah, sekarang kita sarapan dulu, nanti di rumah bude Lasmi Aldian harus sopan ya ngga boleh nakal"
" iya bunda"
****
Kyra melangkah masuk ke gedung perusahaannya. Ia berusaha menenangkan diri, menempelkan senyum tipis saat berpapasan dengan beberapa rekan kerja. Namun, di dalam hatinya, keresahan masih bergejolak. Bayangan wajah Bagas terus menghantuinya sejak semalam.
Semoga hari ini aku bisa bekerja tanpa harus bertemu dia lagi, batinnya, menggenggam erat tas kecilnya.
Di sisi lain, di lantai dua belas, Bagas sudah berada di ruangannya lebih awal dari biasanya. Tatapannya tajam menatap layar laptop, meski pikirannya jauh lebih sibuk daripada pekerjaannya. Semalaman ia tak bisa tidur, terus memikirkan nama itu: Aldian.
"Dika," panggilnya.
"Ya, Pak?" Sekretarisnya masuk dengan catatan agenda.
"Batalkan semua jadwal pagiku sampai jam sepuluh. Dan panggilkan kyra kesini"
Dika sempat bingung. "Dengan siapa, Pak?"
Bagas menyandarkan tubuhnya ke kursi, suaranya dingin tapi penuh tekanan. "Kyra. Pastikan dia datang ke ruanganku pagi ini."
"Baik, Pak."
****
Di pantry, Kyra sedang merapikan gelas ketika Arya masuk. "Kyra, barusan pak Dika cariin kamu. Kamu dipanggil sama Pak Bagas ke ruangannya sekarang."
Tubuh Kyra sontak menegang. Gelas di tangannya hampir terlepas. "Aku… aku? Ke ruang pak Bagas ?"
Arya mengangguk santai. "Iya. kalo soal ngapain aku kurang tahu. cepat banget ya kamu baru kerja udah dapat kesempatan masuk ruangan beliau. Hati-hati ya, bos kita itu perfeksionis banget."
Kyra menelan ludah. Ia mencoba tersenyum tipis meski jantungnya berdegup kencang. "I-iya, terima kasih, arya."
Dengan langkah pelan, Kyra menuju lift. Jemarinya terasa dingin, keringat dingin membasahi pelipis.
Pintu ruang CEO terbuka. Bagas sudah duduk menunggunya, jas hitam terlipat rapi di sandaran kursi, hanya menyisakan kemeja putih yang membungkus tubuh tegapnya. Tatapannya langsung terarah pada Kyra, tajam menusuk, membuat wanita itu ingin segera berbalik dan kabur.
"Permisi, Pak…" Kyra menunduk, suaranya gemetar.
"Masuk. Tutup pintunya." Nada Bagas tegas.
Kyra menurut, pintu tertutup rapat. Ruangan itu kini hanya milik mereka berdua.
" ada perlu apa bapak memanggil saya" ucap kyra dengan wajah tertunduk.
Bagas bersandar, kedua tangannya menyilang di dada. "Kita perlu bicara, Kyra."
Kyra menelan ludah, berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. "Tentang apa, Pak?"
Tatapan Bagas tak lepas dari wajahnya. "Tentang masa lalu kita. Tentang… hal yang kamu sembunyikan dariku."
" kamu aku seperti orang bodoh selama ini"
Kyra meremas jemari tangannya sendiri di depan tubuh. Suara Bagas begitu dingin, menusuk, membuat jantungnya berdetak kencang. Ia tahu, cepat atau lambat momen ini akan datang, tapi tidak pernah ia bayangkan secepat ini.
“Pak… saya tidak mengerti maksud Anda,” ucapnya pelan, mencoba bertahan.
Bagas mencondongkan tubuh ke depan, matanya berkilat penuh amarah. “Jangan pura-pura bodoh, Kyra! Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir aku tidak bisa menyelidiki siapa sebenarnya dirimu?”
Kyra semakin menunduk, napasnya berat. “Saya… hanya bekerja di sini, Pak. Tidak lebih.”
Bagas mengepalkan tangannya di atas meja. “Bekerja? Atau menyembunyikan sesuatu dariku? Kau bahkan berani-beraninya muncul lagi di hadapanku setelah—” suaranya terhenti, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.
Keheningan menyesakkan ruangan. Kyra menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang hampir jatuh. “Saya tidak pernah berniat… untuk kembali ke kehidupan Anda. Semua ini hanya kebetulan, Pak.”
Bagas tertawa pendek, getir. “Kebetulan? Kau pikir aku akan percaya kebetulan semacam ini? Dari sekian banyak perusahaan di kota ini, kenapa kau harus melamar di sini? Kenapa harus menampakkan wajahmu lagi?”
“Karena saya butuh pekerjaan!” suara Kyra akhirnya meninggi, matanya menatap Bagas dengan penuh luka. “Saya punya anak yang harus saya besarkan. Saya tidak peduli siapa bos di sini, saya hanya… saya hanya ingin bertahan hidup!”
“Anak…?”
Kyra segera menyadari kesalahannya. Wajahnya pucat. “Maksud saya—”
Bagas bangkit berdiri, langkahnya berat mendekat ke arah Kyra. Tatapannya menelusuk, membuat wanita itu mundur selangkah. “Jangan bilang… anak itu… milikku,Kyra?”
Kyra terdiam. Air matanya jatuh, tapi bibirnya terkunci rapat.
“Jawab aku!” suara Bagas bergetar, bukan hanya marah, tapi juga panik. “Aldian… bocah itu… siapa ayahnya?”
Kyra mengguncang kepalanya. “Tolong jangan tanyakan itu. Hidupku sudah cukup berantakan. Jangan buat lebih rumit lagi, Bagas. Aku mohon…”
Bagas terdiam, dada naik-turun menahan emosi. Kata Aldian kembali bergema di kepalanya. Wajah polos bocah yang ia lihat di foto hasil penyelidikan Dika, senyumnya yang mirip… dirinya sendiri.
Ia menutup mata sejenak, menahan diri agar tidak meledak. “Kalau benar dia anakku… kau tidak akan bisa menyembunyikannya dariku, Kyra. Aku akan cari tahu. Dengan caraku.”
Kyra tersentak, tubuhnya gemetar. “Bagas, jangan… jangan libatkan dia. Dia tidak salah apa-apa!”
Bagas menatapnya sekali lagi, tajam, penuh keputusan. “Justru karena dia tidak salah… aku berhak tahu. Dan jika memang dia darah dagingku, kau tidak akan bisa menjauhkan dia dariku.”
Keheningan panjang kembali menyelimuti ruangan. Kyra menggenggam dadanya, menahan sesak. Ia tahu… badai yang ia takuti selama ini akhirnya datang.