NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Putri Sang Raja Mafia

Bab 20 – Putri Sang Raja Mafia

“Karena Mira memang sedang mengandung anakku saat dia kabur.”

Kalimat itu menghantam dada Alya jauh lebih keras daripada pukulan atau peluru sekalipun.

Dunia seakan berputar kencang. Kaki Alya terasa lemas tak bertulang. Tubuhnya limbung dan hampir jatuh tersungkur ke lantai.

Kael bergerak sangat cepat, refleksnya menangkap pinggang ramping itu agar tidak terjatuh.

Namun…

BYUR!

Alya langsung menepis tangan pria itu dengan kasar dan kuat seakan tersengat listrik.

“JANGAN SENTUH AKU!!!”

Suaranya pecah, bergetar hebat menahan tangis dan keterkejutan.

Ruangan kembali hening total. Dingin. Mencekam.

Ayah Kael, Tuan Besar Lorenzo, menatap Alya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Bukan dingin, bukan marah… tapi lebih seperti campuran antara penyesalan yang mendalam dan rasa bersalah yang berat.

Alya mundur selangkah demi selangkah menjauh dari mereka berdua.

“Tidak… ini semua pasti bohong. Ini mimpi buruk kan?” bisiknya pada dirinya sendiri, berharap seseorang akan membangunkannya.

Tak ada yang menjawab. Hening yang menjawab.

Ia menatap Kael memohon, matanya basah oleh air mata.

“Katakan ini bohong, Kael! Katakan itu tidak benar! Katakan!”

Kael berdiri kaku seperti patung batu. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras luar biasa.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu… pria paling percaya diri dan dingin itu terlihat benar-benar kehilangan kata-kata. Ia tak bisa menjawab.

“Alya…” panggilnya pelan, tak berdaya.

“ITU BUKAN JAWABAN!!!” teriak Alya putus asa. Air mata akhirnya jatuh membasahi pipi. “AKU BUKAN PUTRI MAFIA! AKU CUMA ALYA! ALYA YANG JUAL BUNGA! AKU BUKAN BAGIAN DARI DUNIA GILA INI!”

Kael menatapnya dalam, tatapannya penuh rasa sakit.

“Bagiku… kau tetap Alya. Tidak ada yang berubah.”

Jawaban itu justru membuat dada Alya makin sesak dan sakit.

“AKU TIDAK PEDULI BAGIMU!!!”

Ia berbalik badan menatap pria tua itu dengan penuh emosi.

“Kalau aku benar anakmu… kenapa baru sekarang muncul?! Kenapa selama dua puluh dua tahun ini aku hidup susah?! Kenapa ibuku harus bekerja keras mengurusku sendirian?! Kenapa kami harus hidup bersembunyi ketakutan selama ini?!”

Pria tua itu mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Karena ibumu kabur pergi sebelum aku sempat tahu kalau dia sedang mengandungmu, Alya. Dia menghilang tanpa jejak.”

“LALU SETELAH KAU TAHU?!” sergah Alya cepat. “Kenapa caramu mencariku seperti mencari penjahat?! Pakai pembunuh bayaran?! Pakai ancaman bunuh?!”

Tuan Besar diam.

Dan kebisuan itu… adalah jawaban yang paling menyakitkan.

Alya tertawa kecil, tawa yang penuh dengan kepahitan dan kecewa mendalam.

“Hebat. Benar-benar keluarga yang hebat. Keluarga Lorenzo memang sempurna dalam merusak hidup orang.”

“Alya—” Kael mencoba mendekat lagi.

“JANGAN DEKAT-DEKAT!!!” Alya menunjuknya dengan tangan gemetar. “Kalau ini semua benar adanya… berarti kau dan aku… kita—”

Ia tak sanggup melanjutkan kalimat itu. Rasanya seperti ditusuk pisau tajam.

Kael mengeras, suaranya berat mencoba menenangkan.

“Belum tentu kita saudara kandung. Masih ada kemungkinan lain.”

“Secara darah daging… kemungkinan besar kalian bukan saudara kandung,” potong suara dingin Tuan Besar tiba-tiba.

Keduanya menoleh cepat serentak.

Kael menyipitkan matanya curiga. “Maksudmu?”

Pria tua itu berjalan ke meja dan mengambil foto itu lagi.

“Kael adalah anak dari istri sahku, wanita bangsawan yang melahirkanku. Kalau Alya benar anak dari Mira… maka kalian adalah saudara tiri.”

Napas Alya tercekat di tenggorokan.

“Saudara tiri… tetap saja saudara! Tetap saja dilarang! Tetap saja salah!” jeritnya hancur.

Kael menatap ayahnya dengan tatapan membunuh, penuh amarah yang tak terbendung.

“Kau… kau menghancurkan segalanya hanya karena satu kesalahan bodoh di masa lalu. Kau merusak segalanya!”

Pria tua itu balas menatap tajam tak kalah garang.

“Akulah yang membangun kerajaan ini! Jangan bicara padaku seolah-olah kau orang suci dan paling benar, Kael!”

Suasana memanas, ayah dan anak hampir berkelahi.

Alya merasa mual dan muak melihat itu semua.

“CUKUP!!!”

Teriakannya membuat mereka berdua diam serentak.

Air mata mengalir deras di pipi gadis itu.

“Aku bukan mainan! Aku bukan hadiah! Aku bukan alat perebutan kekuasaan atau rahasia keluarga kalian!”

Ia menatap Tuan Besar Lorenzo tajam.

“Dengar baik-baik… Aku tidak butuh nama besar Lorenzo. Aku tidak butuh harta kalian. Aku lebih bahiasa jadi gadis miskin yang jual bunga daripada jadi putri raja mafia!”

Lalu ia menoleh ke arah Kael, tatapannya penuh luka.

“Dan aku… aku juga tidak butuh perlindunganmu lagi. Sudah cukup.”

Tatapan Kael berubah gelap pekat, matanya tajam menembus.

“Itu bohong. Kau butuh aku.”

“AKU SERIUS!”

“Kau hanya sedang marah.”

“AKU MUAK!!!”

Tanpa menunggu jawaban lagi, Alya berbalik dan berlari sekencang-kencangnya menuju pintu keluar.

“ALYA!!!” teriak Kael dan langsung mengejarnya.

Namun terlambat. Alya sudah membuka pintu dan menghilang ditelan lorong gelap mansion yang luas itu.

 

Alya berlari tanpa arah, tanpa tujuan yang jelas.

Tangisnya pecah tak terbendung lagi. Dadanya sesak sekali rasanya ingin meledak.

Lorong demi lorong yang dilewati terasa asing dan menakutkan. Ia membenci tempat ini. Ia membenci Kael. Ia membenci kenyataan pahit ini. Dan yang paling parah… ia membenci dirinya sendiri karena ternyata lahir dari darah mafia.

Saat ia berbelok menuju taman belakang yang lebih sepi dan gelap, tiba-tiba sebuah tangan kuat muncul dari balik pilar batu dan menarik tubuhnya dengan kasar!

Sebelum sempat berteriak, tangan lain menutup rapat mulutnya.

“MMMMPH!!!”

Alya meronta-ronta ketakutan, matanya membelalak lebar.

“Diam kalau kau masih mau hidup, gadis bodoh,” bisik suara wanita yang sangat dikenalnya tepat di telinga.

Alya tertegun.

Serena.

Wanita itu kini berdiri di hadapannya, mengenakan pakaian serba hitam, wajahnya tegang dan penuh keringat. Di tangannya tergenggam pistol kecil yang siap menembak.

“Apa maumu lagi, hah?!” bisik Alya marah-marah tak terima.

Serena menatap waspada ke arah bangunan mansion, takut ada yang melihat atau mendengar.

“Aku datang ini untuk menyelamatkanmu, bodoh.”

Alya hampir tertawa mendengarnya. “Kamu? Menyelamatkanku? Jangan bercanda! Kamu yang bikin masalah!”

“Dengar aku baik-baik!” desis Serena cepat menahan lengan Alya. “Jangan bodoh! Kalau Tuan Besar sudah memastikan kau anak kandungnya, percayalah… kau tidak akan pernah bisa keluar dari rumah ini lagi selamanya!”

Tubuh Alya menegang mendengarnya.

“Maksudmu?”

“Dia tidak mencari anak perempuan untuk disayang-sayang. Dia mencari pewaris! Dia mencari penerus kekuasaannya! Kau akan dipenjara di sini! Diformat otaknya jadi seperti mereka! Kau akan hilang jadi Alya yang dulu!”

Jantung Alya berdetak kacau mendengar penjelasan itu. Benar juga… pria tua itu bukan tipe orang yang lembut.

“Aku… aku tidak mau apa pun dari dia. Aku mau pergi.”

“Masalahnya dia tidak akan mau melepaskanmu! Kau aset berharga baginya sekarang!”

Tiba-tiba suara langkah kaki dan teriakan terdengar jelas dari arah dalam mansion.

“ALYA!!! KAU DI MANA?!”

Itu suara Kael! Suaranya terdengar panik dan sangat dekat.

Serena langsung menarik tangan Alya kuat-kuat menuju arah gerbang belakang yang gelap.

“CEPAT! Pilih sekarang! Ikut aku lari dari sini… atau tetap di sini dan jadi tahanan manja keluarga Lorenzo selamanya!”

Alya menoleh cepat ke belakang.

Bayangan sosok tinggi besar Kael terlihat muncul di ujung koridor, sedang mencarinya dengan panik.

Lalu ia menoleh ke depan, ke arah Serena yang menunggunya.

Dalam hitungan detik… Alya harus membuat pilihan yang akan menentukan hidupnya selamanya.

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!