Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Racun dan Obat.
Jari-jemari Darren mulai bergerak perlahan, menyapu lembut seluruh permukaan wajah Zinnia, dari dahi, turun ke alis, menyentuh ujung hidung, lalu berhenti lama di bibir ranum itu. Setelah puas menyentuh wajah, tangannya terus bergerak turun, melewati leher putih mulus, sampai sampai di bahu gadis yang terbuka karena model dressnya.
Sentuhan itu membuat bulu kuduk Zinnia merinding seketika. Dengan cepat dia mengangkat tangannya dan menepis keras tangan Darren, wajahnya sudah dipenuhi ekspresi tidak suka. Tapi gerakannya itu malah membuat Darren bertindak lebih cepat, tangannya bergerak dan mencekal kedua pergelangan tangan Zinnia dengan kuat, tapi tetap dijaga agar tidak sampai menyakiti sedikitpun.
" Kamu terlalu cantik.. bahkan sangat cantik.. sampai aku lupa semuanya.. aku tergoda sampai mabuk dibuatnya.. " Ucap Darren dengan suara rendah dan jujur, matanya menatap dalam ke mata gadis di hadapannya, tak ada lagi senyum main-main di wajahnya, hanya ada kejujuran yang membuat dada Zinnia bergetar.
Zinnia menelan ludah, berusaha menepis perasaan aneh itu dan memaksa diri tetap fokus pada tujuan awalnya. Dia mengalihkan pandangan, berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Hentikan !! Dan sebaiknya kamu mulai katakan soal bros itu.. Kalau tidak mau menyerahkannya padaku aku mau pergi. Aku malas membuang waktu untuk hal yang gak penting."
Melihat wajah kesal dan cemberut itu, Darren tak bisa menahan rasa gemasnya. senyumnya kembali muncul. Dia mendekatkan wajahnya perlahan, lalu cup! mencium pipi Zinnia, lembut dan penuh rasa gemas, seolah sedang menggoda dan mempermainkan gadis manja di hadapannya ini.
" Ngambek ya kamu.. lucu sekali wajah kesalmu itu. Ayo terus tunjukan padaku seberapa kesal kamu saat ini.. Aku ingin lihat.."
" Darren !! " seru Zinnia kesal setengah mati. Dia sadar lelaki ini sama sekali tak mau serius, dia cuma main-main saja, tak mau membahas apapun soal barang yang dia inginkan. Dia mulai memberontak, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Darren, tapi sia-sia saja. Perbedaan tenaga mereka terlalu jauh, setiap gerakannya seolah tak ada arti apa-apa bagi lelaki itu, dia tetap terjebak di dalam lingkaran lengan Darren.
" Jangan marah tuan putri.. soal bros itu... itu hanya soal waktu, aku akan berikan padamu tanpa syarat tapi nanti.. sekarang cobalah mengodaku siapa tahu aku bisa memberikannya hari ini juga padamu. "
GODA?
Satu kata itu membuat darah Zinnia mendidih. Baginya kata itu terdengar sangat sensitif, dan seolah merendahkan dirinya. Apa dia dianggap apa? Apa Zinnia dianggap oleh Darren sebagai orang yang mau melakukan apa saja hanya demi sebuah barang? Rasa kesalnya makin memuncak, dia memberontak dengan lebih kasar dan kuat, tubuhnya bergerak sana sini berusaha lepas, sampai akhirnya Darren mengalah dan perlahan melepaskan cengkeramannya, memberi ruang untuknya.
" Baiklah aku menyerah.. Maaf ya. "
" Kamu pikir aku mau godain kamu hanya karna benda mati? meski ingin tapi aku tak akan mau sampai meng... goda.. " bantah Zinnia dengan suara tinggi, tapi di tengah kalimatnya, suaranya tiba-tiba terputus dan mengecil.
Dia berhenti bicara, matanya melamun kosong. Tiba-tiba saja ingatan tentang kejadian di dalam mobil bersama Rion muncul di benaknya. Saat itu dia sengaja mendekat, berbisik di telinga lelaki itu, menggunakan semua pesonanya dan rayuan halusnya hanya untuk mendapatkan Kalung Ruby yang dia inginkan. Dia memang melakukannya, dia memang mengoda Rion waktu itu.
Dan sekarang dia bilang tak akan melakukan hal itu? Bingung, malu, dan rasa bersalah bercampur aduk memenuhi dadanya, membuat mulutnya terkunci rapat dan dia hanya bisa diam terpaku.
" Kenapa berhenti? " Tanya Darren penasaran, dia kembali mendekat, tangannya terulur menyentuh dan memainkan helaian rambut panjang Zinnia dengan lembut. Jemarinya menyapu, menyentuh, bahkan sesekali mencium ujung rambut itu, gerakannya terlihat begitu intim dan alami.
Sambil terus memainkan rambut gadis itu, di dalam hatinya Darren terus bergumam, semakin sadar akan satu hal yang tak bisa dia pungkiri lagi.
" Betapa berbahayanya gadis ini...
Bahkan saat dia diam, bahkan saat dia marah, bahkan hanya dengan kerlingan matanya saja... Dia sudah membuatku bertekuk lutut sepenuhnya. Aku yang selama ini menganggap semua orang dan semua hal cuma permainan saja, sekarang justru menjadi boneka di tangannya. Dan aku sadar itu, tapi aku sama sekali tak mau melarikan diri. Ini bahaya sekali... tapi aku rela terjebak selamanya. "
Darren menunduk menatap wajah di hadapannya, senyum main-main dan nada menggoda yang tadi masih ada, kini hilang total digantikan ekspresi dingin, gelap dan serius, jauh berbeda dari biasanya. Suaranya keluar berat dan rendah, membuat bulu kuduk Zinnia merinding ketakutan.
" Maaf ya sudah menyakitimu tuan putri.. tapi sepertinya kamu belum paham. soal bros itu sama sekali tidak ada harganya bagiku, aku bahkan bisa membuangnya jika aku mau. Dan kamu.. sedang berpura-pura tak tahu atau memang sengaja abai padaku.. "
" Kamu marah padaku ya? " Tanya Zinnia mulai gelisah dan takut, jarak mereka terlalu dekat, aura Darren terlalu tajam, membuatnya merasa kecil dan tak berdaya.
" Marah? lebih tepatnya.. kecewa dengan diriku sendiri, yang terlalu lemah di hadapanmu.. " jawab Darren perlahan, matanya tak berkedip menatap dalam.
" Zinnia.. kamu curang, karna aku terlalu tertarik padamu tapi kamu hanya tertarik dengan benda mati itu.. aku cemburu.. Tuan putri.. "
DEG!
Satu kalimat itu, diucapkan dengan nada lembut tapi menusuk tepat di hati, membuat seluruh tubuh Zinnia membeku kaku. Dia tak menyangka lelaki itu sampai merasakan hal semacam itu, dia pikir semuanya cuma permainan dan hiburan baginya saja.
" Kamu mau apa dariku? " Tanya Zinnia, memberanikan diri bertanya, suaranya sedikit bergetar.
Darren mendekatkan wajahnya lagi, bibirnya hampir menyentuh telinga gadis itu saat menjawab dengan tegas dan pasti.
" Semuanya... "
Zinnia menelan ludah, otaknya berputar cepat.
" Baiklah.. "
Dengan gerakan cepat dan tiba-tiba, tangannya terangkat mencengkeram kuat tengkuk Darren, menarik kepala lelaki itu turun ke arahnya, lalu... CUPP! dia mencium bibir Darren tepat dan dalam.
Darren terpaku sepersekian detik, matanya membelalak kaget, tapi tak lama kemudian dia sadar dan langsung merespon balik dengan ganas dan penuh hasrat. Dia membalas ciuman itu dengan lebih liar, lebih dalam, menjelajah dan mengambil semuanya seolah tak mau ada yang tersisa, kedua tangannya kembali mencengkeram pinggang Zinnia erat menempelkan tubuh gadis itu padanya.
" Mau coba mengodaku ya.. bukannya tadi kamu menolak mengodaku? " Ucapnya di sela-sela ciuman itu, suaranya serak dan berat.
" Ini bukan godaan, tapi hadiah. " Balas Zinnia tegas, lalu kembali mencium bibir Darren seolah ingin membuktikan kata-katanya.
Beberapa menit berlalu sampai napas mereka berdua habis dan terengah-engah, baru akhirnya ciuman itu terhenti. Wajah mereka masih saling berhadapan, napas panas saling menerpa satu sama lain.
" Bagaimana apa kamu masih tertarik padaku? " Tanya Zinnia menatap tajam ke dalam mata lelaki itu.
Darren tertawa puas, suaranya terdengar bahagia dan penuh kemenangan.
" Haha.. tentu saja. semakin dan semakin besar.. "
" Oh begitu ya.. bagaimana jika aku melakukan ini.. "
Belum sempat Darren bertanya apa maksudnya, PLAKKK!
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi kanan Darren, begitu kuat sampai kepala lelaki itu terayun ke samping, dan sudut bibirnya robek sedikit sampai meneteskan darah merah segar.
Suara tamparan itu bergema di udara, suasana seketika hening.
Darren perlahan menoleh kembali menatap Zinnia, wajahnya tetap datar dan tenang, tak ada sedikitpun tanda kemarahan atau amarah di matanya, bahkan rasa sakit pun seolah tak dia rasakan. Dia hanya mengusap sudut bibirnya, melihat darah di ujung jarinya, lalu menatap kembali gadis di hadapannya.
" Lakukan saja apa yang kamu mau. Aku tak akan melawan. "
Mendengar jawaban itu, kesal dan marah Zinnia memuncak sampai ke ubun-ubun. Apa-apaan lelaki ini? Ditampar keras begini malah diam saja, malah bilang boleh melakukan apa saja, membuat semua emosi dan tindakannya terasa sia-sia dan tak berarti sama sekali.
" Hah menyebalkan !! " pekik Zinnia keras, lalu tanpa menoleh kembali dia berbalik dan melangkah cepat pergi meninggalkan Darren sendirian di taman itu, hatinya penuh rasa kesal dan bingung yang tak habis-habisnya.
Darren masih berdiri di tempatnya, matanya mengikuti sosok gadis itu sampai menghilang dari pandangan, senyum tipis perlahan terukir di bibirnya meski rasa perih di pipinya masih terasa jelas.
" Ya, lakukan saja apa yang kamu mau, marah, pukul, tampar, semuanya. Selagi kamu bisa terus berada di dekatku.. Itu semua sudah sangat cukup.. Zinnia, ternyata kamu benar-benar sangat ajaib, ciuman yang kamu berikan barusan seperti ramuan obat yang mujarab.. " Gumam Darren pelan yang hanya bisa di dengarnya sendiri.
Siapa sangka, sesaat sebelum ciuman itu mendarat di bibir Darren. Lelaki itu sempat merasakan sakit kepala yang hebat, dan ajaibnya.. Rasa sakit itu hilang saat dirinya berciuman dengan Zinnia.
Gadis itu bagaikan racun yang melemahkan tubuhnya seketika, tapi dalam waktu bersamaan bisa menjadi obat penyembuh yang paling ampun untuk rasa sakit yang bertahun-tahun di deritanya.
***