Aina memutuskan untuk meminta cerai dari sang suami karena tidak sanggup untuk hidup berumah tangga dengan Darno lagi, Darno memang tidak berselingkuh namun segala sikap yang dia miliki begitu buruk serta sangat kasar sekali.
ekonomi mereka juga sangat turun sehingga membuat Aina begitu bingung untuk menghadapi ini semua, belum lagi mertua yang selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, membuat Aina gelap mata dan memutuskan untuk bercerai.
namun belum sempat itu terjadi malah kejadian mengerikan terjadi pada wanita cantik itu, Aina mendadak saja sakit pada kemaluan dan mengeluarkan ulat berwarna putih yang berjumlah begitu banyak.
Apa terjadi pada Aina?
mengapa mendadak saja Aina menderita penyakit seperti itu?
ikuti terus kisah mereka di cerita Novita Jungkook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Katiyem datang
Tok, Tok.
"Assalamualaikum."
Purnama sedang berdebat dengan Nolan dan juga Zidan namun mendadak saja ada yang mengetuk pintu rumah mereka sehingga mau tidak mau mereka menghentikan perdebatan terlebih dahulu, malu bila sampai ada yang mendengar mereka sedang berdebat seperti ini sehingga lebih baik untuk tutup mulut saja dan nanti bisa di lanjut kembali.
Zidan bergegas membuka pintu rumah karena tadi dia memang mendengar suara orang yang sedang mengucap salam, kalau Purnama tidak mungkin karena dia juga sedang menguasai emosi yang ada di dalam diri sehingga tidak mungkin dia bisa berbicara baik pada orang yang sedang datang mengunjungi rumah mereka saat ini.
"Walaikum sallam." Zidan membuka pintu dan menjawab salam dengan sangat ramah.
Wanita yang berdiri di depan pintu itu juga menjadi sangat senang karena tuan rumah sudah membuka pintu seperti ini, makan hati dia merasa begitu lega karena yang membuka pintu pertama kali bukan wanita terkenal galak itu tapi adalah suami sang wanita.
Tadi sudah ada rasa takut karena kabar bahwa Purnama yang begitu galak dan tidak pernah berbicara baik itu sampai ke mana-mana, tapi karena tekad yang begitu kuat maka wanita ini rela mendatangi rumah Purnama karena dia ingin meminta tolong kepada wanita tersebut agar rasa sakit hati bisa segera hilang.
Zidan sendiri agak bingung ketika melihat bawaan wanita ini yang begitu banyak di dalam tas plastik, bahkan ada juga beras sekitar satu karung dan itu kemungkinan besar dia sedang panen sendiri, di dalam tas plastik itu tersedia ayam jantan berwarna hitam dan juga beberapa barang lain yang Zidan sendiri tidak paham untuk apa.
Sudah mirip bawaan ketika akan mendatangi rumah dukun, Zidan agak curiga bahwa wanita ini ingin meminta pertolongan dari Purnama dan mengira bahwa sang istri adalah dukun yang bisa melakukan apa saja untuk keperluan ritual sesat, terkadang memang orang salah paham kepada Purnama di desa ini.
"Ada perlu apa ya, Bu?" Zidan bertanya dengan suara ramah.
"Ini Saya dari desa sebelah dan ingin menemui Mbak Purnama untuk meminta tolong, apa mungkin Mbak Purnama sedang ada di rumah?" tanya Katiyem.
"Oh ada, kalau boleh saya tahu ingin meminta tolong apa?" tanya Zidan kembali.
"Eh anu, apa boleh saya masuk terlebih dahulu agar tidak ada yang mendengar percakapan kita." pinta Katiyem.
"Ah ya maaf, mati masuk kedalam rumah saya yang sederhana ini." ajak Zidan sangat ramah bila ada tamu.
"Terima kasih, Alhamdulillah saya bisa ketemu dengan mbak purnama dan akan meminta tolong sama dia." Katiyem berkata dengan nada memelas.
Zidan sendiri mulai kasihan kepada wanita tua ini karena dia melihat penampilan yang begitu sederhana dan juga tidak banyak tingkah, bahkan dari nada bicara juga begitu lembut sekali sehingga Zidane yang memang berbaik hati itu tidak pernah merasa bahwa wanita yang ada di hadapan dia ini adalah ular berkepala dua.
Bahkan Katiyem jauh lebih ular bila di bandingkan dari Purnama yang seorang ratu ular, dia selalu licik dan mengatakan kepada seluruh warga bahwa dirinya adalah orang yang sangat terzalimi sehingga tidak bisa bila ada yang berbicara kasar atau bahkan menghina orang lain, tentu saja banyak warga yang percaya karena dia adalah orang tua.
"Ibu tolong tunggu di sini dulu ya biar saya memanggil Purnama." Zidan berpamitan dan segera menuju ruang tengah.
"Iya, terima kasih." ujar Katiyem lagi.
"Siapa yang ada di luar, Mas?" Nolan bertanya penasaran dan dia sedikit mengintip dari balik gorden.
"Itu ada orang tua mencari kamu, Sayang." Zidan berbicara kepada Purnama.
"Ah aku sedang tidak mood begini malah ada orang tua mencari." kesal Purnama kembali.
"Jangan gitu dong, terlihat dia datang dari jauh dan kemungkinan memang ada ingin minta tolong sama kamu." bujuk Zidan dengan lembut.
"Iya, kelihatan dia sudah cukup tua dan seperti orang tidak mampu loh." Nolan juga mulai membujuk Purnama.
"Temui lah dulu dia bareng sekejap saja, siapa tahu memang sangat membutuhkan pertolongan dari kamu." Zidan kembali mengajak sang istri untuk keluar dari ruang tengah.
"Nanti aku malah bicara sembarangan kalau seperti ini, Kenapa tadi kamu tidak bilang bahwa aku sedang pergi." kesel Purnama.
Zidan narik nafas panjang karena memang Purnama kalau sudah seperti ini sangat keras kepala, ada saja tingkah dia yang membuat emosi namun untung Zidan ini adalah tipe suami yang tidak pernah memiliki emosi tinggi terhadap istri, kalau setiap hari istri dia bertingkah seperti setan namun tetap saja Zidan adalah pria yang baik dan selalu berbicara lembut.
"Temui lah dia dulu, kau itu jangan terus bisa marah saja tapi tidak pernah bisa mengerti orang lain!" Maharani membentak sambil berkacak pinggang.
"His lah!" Purnama menghentakkan kaki dengan sangat kesal ketika Maharani sudah turun tangan memarahi dia.
"Asiik akhirnya dia kalah dengan Ratu burung hantu." Nolan sangat puas melihat hal itu.
Purnama segera keluar dari ruang tengah dan menuju ruang tamu untuk menemui wanita yang ada di depan sana, Zidan sendiri segera menemani karena dia takut nanti Purnama berbicara sembarangan kepada tamu mereka sehingga nanti justru akan menyinggung perasaan wanita tua tersebut.
"Tadi kami sudah berusaha membujuk tapi dia memang sedang keras kepala dan tidak mood." Nolan berucap kepada Maharani.
"Dia setiap bulan memang selalu saja ada tingkah seperti itu, kalau malam bulan purnama akan tiba maka pasti dia juga akan bertingkah." kesal Maharani.
"Mungkin itu adalah pengaruh dari masalah yang dulu, ketika masih jahat Dia sering memakan jeroan manusia saat malam bulan purnama." sambung Nolan.
Maharani mengangguk karena dia setuju dengan ucapan Nolan bahwa kemungkinan gejolak itu masih ada di dalam diri Purnama, jadi karena dia tidak mendapat pelampiasan untuk memakan jeroan manusia maka emosi yang ada di dalam diri semakin menanjak dan tidak bisa terkendali sama sekali.
"Siapa yang mendatangi dia untuk minta tolong ini?" Rani juga kepo dan segera keluar.
"Aku dengar dari sini sajalah apa yang menjadi percakapan mereka semua." Nolan tetap duduk di ruang tengah karena nanti juga bisa mendengar.
"Kalau lihat dari penampilan sih sudah sangat tua dan kelihatan miskin gitu ya." Maharani berkata dengan sangat pedas.
Nolan tidak menjawab karena kadang dia juga merasa bahwa Maharani ini sama dengan Purnama, kalau berbicara terkadang tidak mengenakkan di hati orang lain. mungkin karena mereka memang saudara sehingga ada kesamaan beberapa, terkadang Nolan dan Arya juga bisa berkata pedas bila tidak menyukai orang tersebut.
Memang keluarga ini memiliki sifat random yang tidak bisa ditebak sama sekali, ada saja tingkah dari mereka semua sehingga membuat lawan terkadang terbungkam untuk mengatakan apa yang telah terpikirkan oleh mereka, sehingga orang lain terkadang ingin mundur saat berbicara dengan Purnama sekeluarga.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
semoga ada kemudahan stlh kejadian barusan ,,, bisa melanjutkan perjalanan lg ke padepokan kyai Ahmad
apa cuma perasaanku ya kok sedikit ceritanya 🤭