NovelToon NovelToon
Dua Kehidupan Suamiku

Dua Kehidupan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.

​Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.

Apa yang terjadi pada Damar ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah kantor

Suasana di rumah minimalis itu kini berubah drastis. Aroma masakan rumahan khas Jawa—lodeh dan tempe garit—yang biasanya membawa kehangatan, kini terasa menyesakkan bagi Rania. Di meja makan, kehadiran Bapak Suprapto dan Ibu Lastri memberikan dimensi baru pada kesunyian yang biasanya Rania tanggung sendiri. Namun, setiap denting sendok yang beradu dengan piring porselen seolah menjadi alarm bagi rahasia besar yang ia simpan di balik dadanya.

Bapak Suprapto adalah pria tua dengan prinsip hidup yang keras dan lurus. Baginya, martabat seorang laki-laki terletak pada tanggung jawabnya terhadap keluarga. Sejak tiba di Jakarta, wajahnya hampir tak pernah lepas dari gurat kekecewaan yang mendalam. Ia sering kali tertangkap basah sedang duduk di teras, menatap kosong ke arah pagar, seolah sedang menunggu bayangan putranya muncul untuk ia maki habis-habisan.

"Laki-laki macam apa dia itu, Ran?" suara Bapak Suprapto memecah keheningan makan malam. Suaranya berat, bergetar karena amarah yang dipendam selama perjalanan dari Semarang. "Bapak tidak pernah mendidik Damar menjadi pengecut. Meninggalkan istri yang sedang manis-manisnya begini, tanpa pamit, tanpa alasan... itu namanya dzalim!"

Ibu Lastri mencoba memegang tangan suaminya, memberi isyarat agar meredam suaranya melihat wajah Rania yang kian pucat. Namun, Bapak Suprapto justru semakin menggebu.

"Pasti ada perempuan lain! Laki-laki kalau sudah mapan, punya kantor sendiri, punya mobil bagus, penyakitnya cuma satu: gatal mata!" Bapak memukul meja dengan pelan namun penuh penekanan. "Dia pasti selingkuh, Ran. Bapak malu... Bapak malu punya anak yang merusak janji sucinya sendiri."

Rania meletakkan sendoknya. Tenggorokannya terasa tersumbat. Bukan hanya karena mual kehamilan yang mulai menyiksanya setiap malam, tapi karena ironi yang menghantam jiwanya. Ia ingin sekali berteriak bahwa suaminya tidak selingkuh dengan wanita lain. Ia ingin mengatakan bahwa "wanita lain" itu adalah Damar sendiri. Namun, melihat wajah Bapak yang sudah berkerut karena usia, Rania tidak sanggup menghancurkan sisa-sisa kebanggaan pria tua itu terhadap maskulinitas putranya.

"Bapak... tolong jangan bicara begitu," suara Rania lirih namun tegas. Ia menatap mata Bapak Suprapto dengan keberanian yang ia kumpulkan dari sisa-sisa cintanya. "Damar bukan laki-laki seperti itu. Selama tiga tahun kami menikah, tidak pernah sekalipun ada jejak wanita lain. Damar laki-laki yang sangat setia. Dia selalu pulang tepat waktu, dia selalu terbuka dengan ponselnya, dan dia tidak pernah sedikit pun menunjukkan ketertarikan pada wanita mana pun selain saya."

Rania menarik napas dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya. "Saya tahu ini sulit dipercaya, tapi Damar yang saya kenal adalah suami yang sempurna. Dia sangat bertanggung jawab. Masalah ini... ini pasti sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan saya sendiri belum bisa pahami, tapi saya berani menjamin bahwa ini bukan tentang perselingkuhan."

Ibu Lastri mengusap bahu Rania, matanya berkaca-kaca. "Dengar itu, Pak. Rania saja yang istrinya masih membela Damar. Jangan main tuduh sembarangan."

Bapak Suprapto mendengus, meski amarahnya sedikit mereda. "Lalu kalau bukan perempuan, apa? Apa dia dikejar hutang? Apa dia terlibat kriminal? Kalau dia setia dan baik-baik saja, kenapa dia hilang seperti ditelan bumi tepat setelah mengambil uang banyak di Bogor?"

Rania terdiam. Pertanyaan itu adalah lubang hitam yang tak mampu ia jawab. Ia hanya bisa menunduk, memainkan ujung taplak meja, sementara di dalam perutnya, ia merasakan denyut kecil yang seolah mengingatkannya bahwa ia sedang membela ayah dari janin yang ia kandung—seorang pria yang identitasnya kini menjadi misteri paling kelam bagi dunia.

Keesokan harinya, realita dunia nyata kembali mengetuk pintu Rania dengan cara yang lebih formal dan mendesak. Sebuah mobil operasional PT Bangun Sejahtera berhenti di depan rumah. Turunlah dua orang pria berseragam kantor, salah satunya adalah Pak Heru, manajer operasional sekaligus orang kepercayaan Damar di kantor.

Rania menerima mereka di ruang tamu, sementara Bapak Suprapto dan Ibu Lastri mendampingi di sisi kiri dan kanan, memberikan kesan perlindungan keluarga yang kuat. Namun, wajah Pak Heru tampak sangat cemas.

"Mohon maaf mengganggu waktu Ibu Rania dan keluarga besar," buka Pak Heru dengan suara rendah. "Tapi kondisi di kantor sudah mulai tidak kondusif. Ketidakhadiran Pak Damar selama hampir seminggu ini tanpa kabar sama sekali telah menciptakan kekosongan kepemimpinan yang fatal."

Rania meremas jemarinya. "Apa ada masalah dengan proyek-proyek yang sedang berjalan, Pak?"

"Sangat banyak, Bu," Pak Heru mengeluarkan beberapa map dokumen. "Pertama, tanda tangan kontrak untuk proyek di Cikarang itu membutuhkan tanda tangan basah Pak Damar sebagai direktur utama. Pihak klien sudah mulai bertanya-tanya mengapa Pak Damar tidak bisa dihubungi. Mereka memberikan tenggat waktu hingga akhir minggu ini. Jika tidak ada kepastian, kontrak bernilai miliaran itu akan dibatalkan, dan kita terancam denda wanprestasi."

Bapak Suprapto terperanjat mendengar angka miliaran disebut. "Apa tidak bisa diwakilkan?"

"Secara hukum tidak bisa, Pak, kecuali ada surat kuasa yang dilegalisir notaris. Tapi masalah terbesarnya adalah penggajian karyawan dan pembayaran vendor material," lanjut Pak Heru. "Token bank perusahaan dan otorisasi transaksi ada di tangan Pak Damar. Jika minggu depan Pak Damar belum muncul, kami tidak bisa mencairkan gaji untuk lima puluh karyawan dan ratusan kuli bangunan di lapangan. Mereka sudah mulai gelisah, Bu."

Rania merasa kepalanya berputar. Beban yang ia pikul kini tidak lagi hanya soal perasaan dan rahasia pribadi, tapi soal nasib ratusan nyawa yang bergantung pada tanda tangan suaminya. Kantor itu adalah bayi kedua Damar, sesuatu yang ia bangun dengan darah dan keringat. Melihat kantor itu terancam runtuh dalam hitungan hari membuat Rania merasa sangat berdosa jika ia hanya diam meratapi nasib.

"Apa yang harus saya lakukan, Pak Heru?" tanya Rania dengan suara yang mulai stabil.

"Kami butuh keputusan, Bu. Secara hukum, sebagai istri sah, Ibu bisa mengajukan permohonan ke pengadilan untuk penetapan wali sementara jika seseorang dinyatakan hilang dalam keadaan darurat. Tapi proses itu memakan waktu. Yang kami butuhkan sekarang adalah Ibu Rania harus datang ke kantor, setidaknya untuk menenangkan para staf dan memberikan pernyataan resmi bahwa perusahaan tetap berjalan di bawah pengawasan keluarga."

"Tapi Rania itu dokter, bukan kontraktor!" sela Bapak Suprapto dengan nada khawatir. "Bagaimana dia bisa mengurus semen dan batu bata?"

"Kami yang akan mengurus teknisnya, Pak. Kami hanya butuh sosok 'pemilik' di sana agar vendor dan klien tidak menarik diri," jelas Pak Heru memohon.

Rania menatap Bapak Suprapto, lalu menatap Ibu Lastri. Ia melihat kecemasan yang mendalam di mata orang tua angkat Damar itu. Jika kantor Damar bangkrut, bukan hanya Rania yang hancur, tapi harapan masa tua kedua orang tua ini juga akan pupus. Dan yang paling penting, jika Damar benar-benar merencanakan "kehidupan keduanya", ia pasti tidak ingin melihat mahakarya profesionalnya hancur berantakan.

"Baik, Pak Heru," kata Rania mantap. "Besok pagi saya akan ke kantor. Saya akan bicara dengan para staf. Kita akan cari cara agar operasional tetap berjalan. Tolong siapkan semua dokumen yang membutuhkan tinjauan darurat."

Pak Heru tampak sangat lega. Setelah memberikan beberapa penjelasan tambahan, mereka berpamitan. Begitu mobil mereka menjauh, Rania jatuh terduduk di sofa, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Kamu yakin, Ran? Kamu sedang tidak sehat," bisik Ibu Lastri sambil mengusap punggung Rania. Ibu Lastri yang peka mulai menyadari bahwa Rania sering kali menutup mulutnya saat mencium bau bumbu yang menyengat, sebuah pertanda yang sangat ia kenali sebagai seorang ibu.

Rania mengangkat wajahnya, menatap Ibu Lastri dengan mata yang memerah. "Aku harus melakukan ini, Bu. Ini satu-satunya cara untuk menjaga apa yang sudah dibangun Damar. Kalau kantor itu hancur, dan suatu saat Damar pulang... dia tidak akan punya apa-apa lagi."

Bapak Suprapto mendengus kasar, namun kali ini ada nada haru dalam suaranya. "Kamu itu terlalu baik, Rania. Laki-laki brengsek itu tidak pantas dibela sampai begini. Tapi Bapak bangga padamu. Kamu menunjukkan apa artinya menjadi seorang istri sejati."

Rania hanya tersenyum getir. Istri sejati? Ia merasa seperti pemain sandiwara paling hebat di dunia. Ia membela kehormatan pria yang mungkin sudah membuang identitas lelakinya. Ia menjaga bisnis pria yang meninggalkan rahasia wig dan gaun sutra di sebuah ruko tua.

Malam itu, saat semua orang sudah terlelap, Rania berdiri di ruang kerja Damar. Ia menatap deretan piala penghargaan arsitektur dan foto-foto proyek bangunan yang berhasil diselesaikan suaminya. Semua bangunan itu tampak kokoh, berdiri tegak melawan gravitasi. Sangat kontras dengan hidup Damar yang rapuh dan penuh topeng.

Ia mengusap perutnya yang masih terasa sangat datar. "Lihat, Nak... Ibu akan menjaga kerajaan Ayahmu, meskipun Ayahmu sendiri mungkin sudah menghancurkan istana kita."

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Aris.

“Ran,  Tetaplah kuat di sana. Jangan biarkan siapa pun masuk ke ruang kerja Damar tanpa seizinmu.”

Rania membalas singkat, “Terima kasih, Ris. Besok aku mulai masuk kantor Damar.”

Rania mematikan lampu ruangan itu. Di tengah kegelapan, ia menyadari bahwa perjuangannya baru saja dimulai. Ia bukan lagi hanya seorang istri yang mencari suaminya; ia kini menjadi benteng terakhir yang menjaga martabat sebuah nama yang sedang dipertaruhkan. Esok, ia harus berdiri di depan puluhan orang, meyakinkan mereka bahwa segalanya baik-baik saja, sementara di dalam hatinya, ia sendiri sedang berteriak minta tolong pada keheningan malam.

1
Junita Lempoi
bagus ceritanya
𝐀⃝🥀Weny
semoga kau menyesal setelah operasi damar...
Ayu Putri
bagus
Ayu Putri
udah lah ran SM Aris aja,mas damar mu gak kembali,walopun kembali jg bukan damar yg dulu yg ada udh JD dara
Halwah 4g: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayu Putri
ternyata damar gay, harusnya ceraikan Rania dulu, kasian Rania nunggu yg gak pasti
Halwah 4g: emang..kasian ya say
total 1 replies
Ayu Putri
belum up ya Thor 🥺🥺🥺
Ayu Putri
lanjut kak othor
Dian Yuliana
iya kok gak ada kelanjutannya
𝐀⃝🥀Weny
thor, Iki critane dilanjut opo gak to.. kok suwi men gak up neh🤦
Halwah 4g: suabarrr nggih
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
thor ayo lanjut dong, jangan bikin penasaran...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!