NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Napas Tercekik di Balik Dinding Beton

​Kegelapan di dalam bangunan ini tidaklah kosong. Ia dipenuhi oleh partikel debu yang menari di bawah sisa cahaya bulan dan aroma besi berkarat yang menyengat. Namun yang paling menyesakkan adalah suara detak jantungku sendiri, yang kini berpacu begitu liar hingga telingaku berdenging.

​Di depanku, dalam jarak yang hanya sejangkauan tangan, Devan berdiri mematung. Punggungnya yang lebar menjadi satu-satunya pembatas antara diriku dan ancaman di balik pintu kayu lapuk itu. Aku bisa melihat otot-otot di bahunya menegang sempurna, siap meledak kapan saja. Tangannya yang memegang pistol tidak bergetar sedikit pun, namun napasnya yang tertahan memberitahuku bahwa situasi ini jauh lebih berbahaya dari sekadar gertakan preman jalanan.

​TOK! TOK! TOK!

​"DEVAN! KAMI TAHU KAU ADA DI DALAM DENGAN GADIS ITU!" suara serak dari luar kembali menggelegar, diikuti oleh tawa yang terdengar seperti gesekan amplas. "Tuan Hendra tidak suka miliknya disentuh oleh tikus got sepertimu. Keluar sekarang, atau kami benar-benar akan menjadikan gedung ini krematorium kalian!"

​Lututku lemas. Nama Ayah disebut. Jadi, orang-orang ini bukan sekadar musuh Devan; mereka adalah anjing pelacak Ayah. Pria yang selama tiga tahun ini menyuapiku dengan kasih sayang palsu ternyata tidak butuh waktu lama untuk menunjukkan taringnya.

​Aku mundur selangkah, dan tanpa sengaja tanganku menyentuh permukaan dingin dari papan investigasi raksasa di belakangku. Foto-fotoku—yang diambil secara diam-diam selama bertahun-tahun—seolah menatapku dalam kegelapan. Aku merasa mual. Duniaku bukan sekadar runtuh; duniaku sedang diledakkan dari segala sisi.

​"Jangan bergerak," bisik Devan. Suaranya begitu rendah, nyaris menyatu dengan desau angin, namun memiliki otoritas yang membuatku mematung seketika.

​Ia perlahan melangkah mundur, mendekatiku tanpa melepaskan pandangannya dari pintu. Begitu jarak kami menghilang, ia meraih pergelangan tanganku. Genggamannya kuat, namun jemarinya sedingin es.

​"Kita tidak bisa keluar lewat depan. Ada setidaknya empat orang di sana, bersenjata," bisiknya tepat di telingaku. Aroma mint dan mesiu dari tubuhnya menyerbu indra penciumanku. "Ikuti aku. Jangan bersuara, jangan bertanya, dan apa pun yang terjadi... jangan lepaskan tanganku."

​Aku hanya bisa mengangguk kaku. Keberanian yang tadi membawaku melompati pagar balkon apartemen kini menguap, menyisakan insting bertahan hidup yang primitif.

​Devan menuntunku melewati tumpukan kardus dan kabel-kabel yang menjuntai dari langit-langit. Kami bergerak ke arah belakang ruangan, menuju sebuah area yang tertutup oleh lemari besi berkarat yang digeser miring. Di balik lemari itu, terdapat sebuah lubang ventilasi yang cukup besar untuk dilewati tubuh manusia.

​BRAKK!

​Suara pintu depan didobrak paksa bergema di seluruh ruangan. Cahaya senter yang sangat terang menyapu dinding beton, memotong kegelapan seperti pedang cahaya.

​"CARI MEREKA! JANGAN SAMPAI LOLOS!"

​"Masuk ke dalam. Sekarang," perintah Devan pelan namun mendesak.

​Ia membantuku memanjat lubang ventilasi itu. Besi dinginnya menggores lenganku, tapi adrenalin membuatku tidak merasakan perih. Begitu aku masuk, Devan menyusul dengan kelincahan seorang predator. Kami merangkak di dalam saluran logam yang sempit dan berdebu. Suara derit logam di bawah berat tubuh kami terdengar begitu nyaring di telingaku, membuatku yakin para pengejar itu akan mendengar kami.

​Di belakang kami, aku mendengar suara barang-barang dibanting. Papan investigasi Devan pasti sudah ditemukan.

​"LIHAT INI! SI BAJINGAN INI MENGUMPULKAN FOTO NONA ANYA!"

​Teriakan itu membuat Devan berhenti sejenak. Aku bisa merasakan getaran amarah yang merambat dari tangannya yang masih memegang kakiku sebagai penuntun di dalam saluran sempit itu. Ia menarik napas panjang, lalu kembali bergerak lebih cepat.

​Kami sampai di ujung saluran yang mengarah ke sebuah tangga darurat eksternal di bagian belakang gedung, yang tertutup oleh rimbunnya tanaman rambat liar. Kami menuruni tangga besi itu dengan gerakan yang sangat hati-hati. Udara malam yang lembap menyentuh wajahku, memberikan sedikit oksigen bagi paru-paruku yang terasa tercekik.

​Begitu kaki kami menyentuh tanah yang becek, Devan tidak memberi jeda. Ia menarikku berlari menembus semak belukar, menjauhi area gudang tua itu menuju sebuah gang sempit yang dipenuhi tumpukan ban bekas.

​"Tunggu," bisikku terengah-engah. Paru-paruku terasa terbakar. "Ke mana... ke mana kita akan pergi? Ayah akan mencari di setiap sudut kota ini."

​Devan berhenti di bawah bayangan sebuah kontainer tua. Ia melepaskan tudung jaketnya, memperlihatkan wajahnya yang kini dibasahi peluh. Matanya berkilat, bukan oleh ketakutan, melainkan oleh perhitungan dingin.

​"Dia tidak akan mencarimu di tempat yang paling ia benci," ujar Devan. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kunci motor. "Kita akan kembali ke pusat kota. Ke wilayah yang dikuasai oleh orang-orang yang tidak bisa ia beli dengan uangnya."

​"Maksudmu?"

​"Sektor bawah tanah. Tempat para pecundang dan orang-orang yang dianggap mati oleh sistem," Devan menatapku lekat-lekat. "Itu tempatku selama tiga tahun ini, Anya. Dan untuk sementara, itu adalah satu-satunya tempat di mana kau bisa benar-benar aman dari 'kasih sayang' ayahmu."

​Motor besar hitam itu membelah jalanan kota yang mulai sepi. Aku memeluk pinggang Devan erat-erat, membenamkan wajahku di punggungnya. Angin malam menusuk hingga ke tulang, tapi kehangatan dari tubuh pemuda di depanku ini menjadi satu-satunya jangkar kewarasanku.

​Setiap kali kami melewati lampu jalan, bayangan-bayangan memori kembali berkelebat di kepalaku. Folder "14 Juli" yang baru saja kubuka di harddisk tadi sore terus berputar seperti kaset rusak yang kini menemukan pita penyambungnya.

​Ayah yang menabrak mobil kami.

​Pikiran itu membuatku merinding lebih hebat daripada angin malam. Bagaimana mungkin seorang ayah tega menghancurkan mobil yang berisi putri tunggalnya? Hanya karena ia tidak ingin putrinya lari bersama anak seorang montir? Keegoisan macam apa yang bersembunyi di balik jas mahalnya?

​Kami sampai di sebuah kawasan yang sangat kontras dengan kemewahan apartemen Griya Kencana. Di sini, lampu jalanan banyak yang mati. Dinding-dinding bangunan dipenuhi coretan graffiti kasar. Bau sampah dan oli bekas menyerbu penciumanku.

​Devan menghentikan motornya di depan sebuah pintu besi tua yang dijaga oleh dua orang pria bertubuh besar dengan tato di leher. Begitu melihat Devan, kedua pria itu mengangguk hormat, sebuah rasa segan yang tidak biasa untuk seseorang yang baru berusia dua puluh tahun.

​"Dia bersamaku," ujar Devan singkat tanpa turun dari motor.

​Pintu besi itu terbuka dengan suara derit yang memekakkan telinga. Devan memacu motornya masuk ke dalam sebuah basement luas yang diubah menjadi bengkel modifikasi mobil ilegal. Di sana, puluhan orang sedang sibuk dengan mesin-mesin, musik hip-hop keras berdegung dari speaker usang, dan asap rokok mengepul tebal.

​Devan membawaku ke sebuah ruangan kecil di sudut lantai dua bengkel itu. Ruangan itu lebih mirip sebuah kantor pribadi yang sempit, namun bersih. Ada sebuah sofa kulit yang sudah pecah-pecah permukaannya dan tumpukan buku sastra yang tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya.

​"Duduklah," Devan memberikan botol air mineral yang ia ambil dari dispenser di pojok ruangan.

​Aku menjatuhkan tubuhku ke sofa. Tanganku masih gemetar. Aku menatap Devan yang kini sedang menutup semua tirai jendela ruangan itu.

​"Kau berhutang banyak penjelasan padaku, Devan," suaraku serak. "Papan itu. Foto-foto itu. Dan... kenapa semua orang di sini sepertinya takut padamu?"

​Devan berhenti bergerak. Ia berdiri membelakangiku, menatap tirai yang baru saja ia tutup. Ruangan itu hening selama beberapa saat, hanya terdengar suara dentuman bas dari lantai bawah.

​"Setelah aku keluar dari penjara setahun lalu, aku tidak punya apa-apa, Anya," Devan memulai cerita, suaranya terdengar sangat lelah. "Ayahmu memastikan tidak ada bengkel legal yang mau menerimaku. Ia merusak reputasiku, menyebutku penculik dan pecandu. Aku kelaparan. Aku tidur di kolong jembatan selama berminggu-minggu."

​Aku menahan napas. Rasa bersalah yang masif menghantam dadaku.

​"Lalu aku menemukan tempat ini," lanjutnya, berbalik menatapku. "Aku bertarung di arena bawah tanah untuk mendapatkan uang. Aku memperbaiki mobil-mobil milik penyelundup untuk bertahan hidup. Tapi tujuanku hanya satu: kembali padamu. Aku harus mengawasimu. Aku harus memastikan kau masih hidup, meski aku tahu kau sudah melupakanku."

​Ia melangkah mendekat, berlutut di depanku. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa melihat bekas luka kecil di pelipisnya yang selama ini tersembunyi di balik rambutnya.

​"Setiap foto di papan itu adalah hariku yang paling berat," bisiknya. "Melihatmu tersenyum pada ayahmu di depan kampus, sementara aku tahu dialah yang merampas ingatanmu... itu lebih menyakitkan daripada pukulan mana pun yang kuterima di ring."

​"Kenapa kau tidak menculikku saja dari dulu?" tanyaku dengan air mata yang mulai mengalir. "Kenapa kau membiarkan aku hidup dalam kebohongan selama tiga tahun?"

​Devan tersenyum getir, jarinya bergerak ragu sebelum akhirnya ia memberanikan diri menghapus air mata di pipiku. Sentuhannya masih sama—dingin di kulit, namun hangat di dalam.

​"Karena kau mencintainya, Anya. Kau percaya dia adalah pahlawanmu. Jika aku membawamu lari saat itu, kau hanya akan melihatku sebagai monster yang sebenarnya ia katakan padamu. Kau akan ketakutan. Aku tidak mau kau takut padaku."

​"Tapi sekarang aku tahu..."

​"Ya, sekarang kau tahu," Devan menarik tangannya kembali. "Dan itu artinya kau tidak bisa lagi kembali ke rumah itu. Ayahmu sudah mengirim orang ke gudang tadi. Dia tahu aku sudah membawamu. Dia akan menggunakan segala cara—polisi, media, preman—untuk membawamu pulang dan memastikan kau 'sakit' lagi."

​Aku mengepalkan tangan di pangkuanku. "Aku tidak mau kembali menjadi boneka, Devan. Aku tidak mau meminum pil putih itu lagi."

​"Kalau begitu, kita harus membalas serangan itu," Devan berdiri, matanya memancarkan tekad yang mematikan. "Dia menghancurkan hidup ibuku dengan dokumen palsu di Proyek Sudirman. Dia menggunakan material baja murahan yang membunuh orang demi keuntungan triliunan. Dan dokumen aslinya... aku tahu di mana ia menyembunyikannya."

​"Di mana?"

​"Di dalam brankas di ruang kerjanya yang asli. Bukan di kantor, tapi di ruang bawah tanah rumah lamamu. Tempat yang hanya boleh dimasuki olehnya dan Dokter Frans."

​"Aku tahu tempat itu," ujarku cepat. Memori tentang sebuah pintu baja di balik rak buku di perpustakaan rumah kembali muncul. "Ayah bilang itu hanya gudang anggur tua."

​"Itu bukan gudang anggur, Anya. Itu adalah kotak pandora miliknya."

​Tiba-tiba, dari lantai bawah, suara musik berhenti mendadak. Keheningan yang tidak wajar menyelimuti bengkel. Suara langkah kaki yang berat dan terburu-buru terdengar menaiki tangga menuju ruangan kami.

​Devan segera menarik pistolnya, berdiri di depan pintu.

​"Bang Devan! Gawat!" teriak salah satu pria penjaga tadi dari balik pintu. "Polisi... polisi baru saja mengepung jalan depan! Mereka membawa surat perintah penggeledahan untuk mencari 'korban penculikan'!"

​Darahku serasa dikuras habis. Ayah benar-benar bergerak cepat. Ia menggunakan otoritas kepolisian untuk melabeli pelarianku sebagai penculikan. Di mata dunia, Devan adalah penjahat yang membawa lari putri konglomerat yang sedang sakit mental.

​Devan menatapku, ada kilat frustrasi di matanya. "Dia menggunakan jalur resmi. Sialan."

​"Apa yang harus kita lakukan?" tanyaku panik.

​Devan melihat ke arah jendela kecil di atas ruangan. Ia kemudian menatapku dengan tatapan yang seolah meminta maaf.

​"Kau percaya padaku?"

​Aku tidak ragu sedikit pun. "Lebih dari aku percaya pada ingatanku sendiri."

​Devan mengangguk. Ia meraih sebuah tas ransel di sudut meja, lalu menarikku menuju jendela. "Kita akan lari lewat atap. Dari sana, kita harus mencapai stasiun kargo sebelum fajar menyingsing. Jika kita tertangkap sekarang, kau akan dikirim ke Swiss dan aku akan... yah, aku mungkin tidak akan pernah melihat matahari lagi."

​Di tengah kekacauan itu, kepalaku kembali berdenyut. Sebuah kilatan memori yang sangat tajam menghantamku. Sebuah memori tentang malam kecelakaan itu, sesaat setelah mobil kami terbalik.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​EXT. JALAN RAYA LINGKAR SELATAN - MALAM HARI (3 TAHUN LALU)

​Hujan badai menggila. Mobil sedan Devan tergeletak terbalik di tengah jalan yang sepi. Asap mengepul dari mesin yang hancur. Kaca depan pecah berantakan.

​ANYA (16 tahun) tergantung terbalik di kursi penumpang, sabuk pengamannya mencekik dadanya. Darah mengalir dari pelipisnya, menetes ke langit-langit mobil yang kini menjadi dasar. Kesadarannya di ambang batas.

​Kamera fokus pada wajah DEVAN (17 tahun) yang merangkak keluar dari sisi kemudi yang ringsek. Wajahnya berlumuran darah, namun matanya hanya tertuju pada Anya.

​DEVAN

(Suara serak, berteriak di tengah gemuruh hujan)

"Anya! Tahan! Aku akan mengeluarkanmu!"

​Devan menggunakan tangan kosongnya untuk merobek pintu mobil yang macet. Kuku-kukunya pecah, jarinya berdarah karena teriris logam tajam, namun ia tidak peduli. Dengan kekuatan adrenalin murni, ia berhasil merenggut pintu itu hingga lepas.

​Ia memotong sabuk pengaman Anya dengan sepotong pecahan kaca. Ia menangkap tubuh Anya yang terkulai lemas, menariknya keluar dari bangkai mobil tepat sebelum sebuah mobil SUV hitam berhenti di belakang mereka.

​Dua orang pria berjas hitam turun membawa payung. Dan di tengah-tengah mereka, melangkah keluar AYAH ANYA (Hendra). Hendra menatap pemandangan itu tanpa emosi, seolah sedang melihat kecelakaan kecil di laboratorium.

​ANYA (V.O)

(Suaranya parau dan bergetar)

"Aku melihatnya... aku melihat Ayah berdiri di sana. Aku pikir dia datang untuk menolong. Tapi di matanya... aku hanya melihat kemarahan karena aku berani membangkang."

​HENDRA

(Menunjuk Devan dengan tongkat mahoninya)

"Ambil putriku. Dan pastikan anak itu menghilang. Jika dia masih hidup besok pagi, kalian semua yang akan menggantikannya di liang lahat."

​Devan mencoba melindungi Anya dengan tubuhnya yang hancur, namun salah satu pria berjas menghantam tengkuk Devan dengan popor senjata. Devan jatuh tersungkur di aspal basah.

​ANYA

(Berbisik sangat lemah)

"De... van..."

​Hendra melangkah mendekat, ia berjongkok di samping Anya yang terbaring di aspal. Ia mengusap pipi putrinya yang berdarah dengan sarung tangan kulitnya yang dingin.

​HENDRA

"Jangan khawatir, Sayang. Besok pagi, kau tidak akan pernah ingat rasa sakit ini. Kau tidak akan pernah ingat pemuda hina ini. Kau akan menjadi putri kecil Ayah lagi."

​Kamera fokus pada wajah Anya yang menatap Devan untuk terakhir kalinya sebelum matanya menutup paksa. Cahaya lampu mobil SUV menyilaukan seluruh layar, berubah menjadi putih steril rumah sakit.

​FADE OUT.

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!