NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan Puncak Luar

Sekte Awan Suci tidak terletak di satu gunung, melainkan menempati gugusan pegunungan raksasa yang menembus lapisan awan Kota Kekaisaran Langit.

Puncak Utama dan Puncak Dalam adalah surga yang dipenuhi oleh paviliun giok, air terjun Qi spiritual, dan burung-burung bangau surgawi. Namun, tempat Chu Chen dan Meng Fan ditempatkan berada jauh di bawah sana: Puncak Luar.

Puncak Luar lebih menyerupai perkampungan kumuh raksasa yang menempel di sisi tebing terjal. Udara di sini tipis, energi Qi-nya sangat kotor dibandingkan dengan puncak utama, dan deretan gubuk-gubuk kayu sederhana dibangun berdesak-desakan bagaikan kandang ternak. Ini adalah rumah bagi puluhan ribu Murid Luar—orang-orang yang memiliki bakat pas-pasan, berjuang mati-matian hanya untuk mendapatkan jatah sebutir Pil Pengumpul Qi setiap bulannya.

Chu Chen dan Meng Fan tiba di pelataran gubuk nomor 4044 di kawasan bawah. Gubuk itu reyot, atapnya bocor, dan hanya berisi dua dipan kayu keras.

"Ini tempatnya?" keluh Meng Fan, melempar labu araknya ke atas dipan. Ia menyeka keringat dingin di pelipisnya. Meski telah resmi menjadi Murid Luar, guncangan batin dari Lembah Jarum Beracun masih menghantuinya. "Kupikir kita akan mendapatkan setidaknya kasur jerami yang layak."

Chu Chen tidak menjawab. Ia melangkah ke tengah ruangan, menutup pintu kayu yang berderit, lalu duduk bersila di lantai berdebu. Matanya langsung terpejam.

Bagi Chu Chen, kemewahan fana tidak ada artinya. Pikirannya sepenuhnya terpusat pada Dantiannya. Saat ini, ia berada di Puncak Alam Penempaan Raga Lapis Kesembilan. Daya tampung meridiannya telah mencapai batas mutlak. Jika ia menelan satu saja esensi kehidupan lagi, tubuhnya tidak akan bisa menyimpannya.

Aku membutuhkan Api Teratai Merah secepat mungkin untuk memadatkan Lautan Qi. Sebelum itu terjadi, kekuatanku tertahan, batin Chu Chen dengan dingin.

Namun, sebelum ia sempat memunculkan wujud Peta Kulit Domba ke dalam kesadarannya, suara gedoran keras terdengar dari luar pintu gubuk mereka.

BRAK! BRAK! BRAK!

"Murid baru! Buka pintunya!"

Sebuah suara angkuh bergema, diikuti oleh tendangan yang membuat pintu kayu reyot itu terlepas dari engselnya dan jatuh berdebum ke lantai.

Meng Fan melompat dari dipannya, tangannya secara naluriah meraba gagang pedang di pinggangnya.

Di ambang pintu, berdirilah tiga orang pemuda mengenakan seragam Murid Luar dengan sulaman awan kelabu. Pemuda yang berada di tengah bertubuh gempal, wajahnya dipenuhi bekas jerawat, memancarkan aura Lapis Ketujuh Penempaan Raga. Dua anak buah di belakangnya berada di Lapis Keenam.

Bagi ukuran ujian di lembah kemarin, mereka bertiga hanyalah mangsa rendahan. Namun di Puncak Luar ini, bagi murid baru biasa, mereka adalah penguasa jalanan.

"Kami dari Perkumpulan Harimau Hitam," ucap si pemuda gempal sambil meludah ke lantai gubuk. "Aturan di kawasan bawah Puncak Luar sangat sederhana. Setiap murid baru harus membayar 'upeti keamanan'. Lima Batu Roh Tingkat Bawah atau lima Inti Binatang Buas Tingkat 1 per kepala. Bayar sekarang, atau kami akan mematahkan satu kakimu agar kau tidak perlu repot-repot mengerjakan tugas sekte bulan ini."

Wajah Meng Fan memerah karena marah. "Kalian memeras kami di hari pertama?! Di mana aturan sekte?!"

"Aturan sekte?" Si gempal tertawa terbahak-bahak, saling pandang dengan dua anak buahnya. "Di Puncak Luar, selama kami tidak membunuhmu, Penatua tidak akan peduli! Serahkan hartamu, pak tua pemabuk!"

Meng Fan menggertakkan giginya. Ia menoleh ke arah Chu Chen, mengharapkan pemuda berjubah hitam itu akan langsung bangkit dan mencabik-cabik ketiga berandal ini seperti yang dilakukannya di lembah. Meng Fan tahu betul bahwa bagi monster seperti Chu Chen, ketiga orang ini bisa dibunuh hanya dalam satu tarikan napas.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat rahang Meng Fan hampir jatuh.

Chu Chen perlahan membuka matanya. Raut wajahnya sangat tenang, tidak ada Niat Membunuh, tidak ada aura naga yang bocor. Ia tampak seperti pemuda cacat yang tak berdaya.

Chu Chen merogoh Kantong Penyimpanan fana yang tergantung di pinggangnya—bukan Cincin Xue Ying yang ia sembunyikan di dekat jantungnya—lalu mengeluarkan sepuluh butir Inti Kalajengking Jarum Besi sisa ujian. Ia meletakkan inti-inti itu di atas dipan kayu.

"Ini sepuluh inti. Bagianku dan bagiannya," ucap Chu Chen dengan nada datar, menundukkan kepalanya sedikit, menunjukkan sikap mengalah yang sempurna.

Si pemuda gempal tertegun sejenak, lalu tersenyum lebar. Ia melangkah masuk, menyambar sepuluh inti kalajengking itu dengan rakus.

"Bagus! Setidaknya satu dari kalian tahu diri!" si gempal menepuk pipi Chu Chen dengan kasar, sebuah tindakan yang membuat jantung Meng Fan nyaris berhenti berdetak karena takut Chu Chen akan tiba-tiba meledakkan kepala orang itu.

Namun Chu Chen membiarkan pipinya ditepuk. Ia bahkan tidak berkedip. Matanya menatap lantai.

"Akar Roh Cacat, huh? Kudengar kau beruntung bisa memungut inti dari mayat-mayat di lembah," cemooh si gempal. "Ingat, bulan depan jatahnya sama. Jika kau tidak punya, kau harus mencucikan pakaian kami."

Ketiga berandal itu tertawa puas dan berjalan keluar gubuk, menuju mangsa berikutnya di kamar sebelah.

Begitu langkah kaki mereka menjauh, Meng Fan tidak bisa menahan dirinya lagi. "Chu Chen! Apa-apaan itu?! Kenapa kau membiarkan kecoak-kecoak itu memeras dan menghinamu?! Kau adalah Lapis Kesembilan Puncak! Kau bisa meremukkan tulang mereka hanya dengan satu jari!"

Chu Chen perlahan mengangkat wajahnya. Ketenangan di matanya begitu dalam hingga terasa menakutkan. Ia menatap ke arah pintu yang rusak.

"Dan jika aku meremukkan tulang mereka, apa yang akan terjadi, Meng Fan?" tanya Chu Chen dingin.

Meng Fan terdiam.

"Mereka akan melapor pada kakak seperguruan mereka di Perkumpulan Harimau Hitam. Lalu orang-orang Alam Lautan Qi akan datang ke gubuk ini," Chu Chen menjelaskan, suaranya sedatar es. "Penatua kurus di alun-alun itu sudah sangat mencurigaiku. Dia sedang menunggu satu saja kesalahan untuk menangkap dan membedah rahasia di tubuhku."

Chu Chen berdiri, menepuk debu dari jubah hitamnya. "Batu Roh dan Inti Binatang hanyalah batu mati. Kesombongan fana hanyalah ilusi. Membunuh serangga yang tidak memberikan manfaat apa-apa hanya akan menarik perhatian elang yang sedang mengawasi kita."

Pemuda itu berjalan ke dinding kayu di sudut gubuk. Dengan Niat Spiritualnya, ia memancarkan wujud bayangan Peta Kulit Domba ke dinding, mencocokkan garis-garis gunung di peta dengan bentuk bayangan pegunungan Sekte Awan Suci yang bisa ia rasakan dari luar jendela.

"Biarkan mereka tertawa. Biarkan mereka merasa berkuasa atas gubuk reyot ini," bisik Chu Chen, sebuah senyum pemangsa yang sangat tipis akhirnya terukir di sudut bibirnya saat jarinya menyentuh sebuah titik di peta bayangan tersebut.

"Karena sementara mereka sibuk mengumpulkan harta remeh dari murid baru... aku akan menemukan cara untuk menyusup ke dasar Puncak Utama dan merampok inti dari sekte ini."

Meng Fan menelan ludah. Ia menatap punggung pemuda berusia lima belas tahun di depannya itu. Pemuda ini bukan hanya monster yang haus darah; ia adalah pemangsa yang memiliki kesabaran mutlak. Seseorang yang bersedia diinjak wajahnya hari ini demi memotong leher musuhnya besok.

"Api Teratai Merah... lokasinya ada di bawah Tanah Terlarang Tungku Pil," gumam Chu Chen. "Pekerjaan sesungguhnya dimulai malam ini."

1
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!