Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Provokasi Dilapangan Latihan Utama
Matahari pagi menyinari menara tinggi Akademi Astra dengan cahaya yang menyilaukan mata. Di dalam gedung tua Kelas D, suasana tetap terasa pengap dan berdebu. Arlan baru saja menyelesaikan sesi meditasi singkatnya saat Profesor Silas masuk ke dalam kelas dengan wajah yang tampak lebih masam dari biasanya. Silas meletakkan botol minumannya di atas meja dengan bantingan keras, menimbulkan suara dentuman yang membuat mahasiswa lain tersentak kaget. Arlan hanya menatap gurunya itu dengan pandangan tenang. Dia menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh pihak akademi untuk mempermalukan kelas mereka lagi.
"Dengarkan semuanya," ucap Silas dengan suara serak. "Area taman belakang yang kemarin kalian bersihkan akan digunakan untuk penyimpanan material konstruksi gudang senjata baru. Jadi, untuk sesi latihan fisik hari ini, kalian diperintahkan untuk menggunakan Lapangan Latihan Utama di pusat akademi."
Mendengar ucapan Silas, Hans dan Liora seketika pucat pasi. Lapangan Latihan Utama adalah wilayah kekuasaan mahasiswa Kelas A dan Kelas B. Mengirim mahasiswa Kelas D ke sana sama saja dengan melemparkan sekumpulan domba ke tengah kawanan serigala yang lapar. Diskriminasi di akademi ini bukan hanya soal kelas, tapi juga soal wilayah. Mahasiswa Kelas D biasanya dilarang keras menginjakkan kaki di fasilitas utama kecuali jika ada urusan yang sangat mendesak.
"Profesor, apakah ini tidak berbahaya bagi kami?" tanya Liora dengan suara gemetar. "Mahasiswa Kelas A pasti akan merasa terganggu dengan kehadiran kami di sana."
Silas mendengus sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. "Ini adalah perintah dari dewan instruktur pusat. Aku tidak punya pilihan lain. Gunakan waktu latihan kalian dengan baik dan jangan mencari masalah. Jika kalian dipukul, pastikan kalian tidak mati di sana karena aku malas mengurus dokumen kematian mahasiswa."
Arlan berdiri dari kursinya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia mengambil tas latihannya dan berjalan menuju pintu keluar. "Ayo kita pergi. Lapangan Latihan Utama memiliki peralatan yang lebih lengkap. Ini adalah kesempatan bagus untuk menguji hasil latihan pernapasan kalian kemarin."
Hans dan Liora hanya bisa mengikuti Arlan dengan langkah yang ragu. Mereka berjalan menyusuri koridor akademi yang megah menuju ke arah tengah kompleks. Semakin dekat mereka ke Lapangan Latihan Utama, semakin banyak mata yang menatap mereka dengan hinaan. Arlan berjalan dengan punggung tegak, setiap langkahnya mengandung kekuatan Napas Bumi yang membuat pijakannya sangat stabil. Dia tidak peduli dengan bisikan di sekitarnya. Di kehidupan lamanya sebagai Adit, dia sering berjalan masuk ke kantor kompetitor untuk melakukan akuisisi paksa, jadi tatapan mata seperti ini bukanlah hal baru baginya.
Lapangan Latihan Utama adalah sebuah area terbuka yang sangat luas, dikelilingi oleh tribun penonton yang terbuat dari batu marmer. Di tengah lapangan, terdapat berbagai macam peralatan latihan sihir dan fisik yang sangat canggih. Ada boneka uji yang bisa mengeluarkan perisai mana, jalur rintangan yang bergerak otomatis, dan area duel yang dilapisi mantra pelindung. Saat Arlan dan teman sekelompoknya memasuki lapangan, semua aktivitas latihan di sana mendadak terhenti.
Sekitar lima puluh mahasiswa dari Kelas A dan Kelas B sedang berada di sana. Mereka menatap Arlan, Hans, dan Liora dengan pandangan yang seolah olah melihat serangga yang masuk ke dalam hidangan mewah. Di salah satu sudut lapangan, Arlan melihat kelompok Elang Perak sedang berkumpul. Marco ada di sana, dan di sampingnya berdiri seorang pemuda dengan seragam ksatria yang sangat rapi. Pemuda itu memiliki rambut hitam pendek dan sepasang mata yang sangat tajam. Dia adalah ksatria peringkat satu di kelas tahun kedua, yang bernama ksatria ksatria Valen.
"Lihatlah siapa yang berani datang ke sini," ucap salah satu anggota Elang Perak dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh semua orang. "Bukankah ini tempat untuk para ksatria masa depan? Kenapa ada sekumpulan pemulung sampah di sini?"
Tawa meledak di seluruh lapangan. Hans menundukkan kepalanya dalam dalam, sementara Liora mencengkeram erat tongkat sihir kayunya. Arlan tetap berjalan menuju salah satu area latihan beban di pojok lapangan yang sedang kosong. Dia tidak memberikan perhatian sedikit pun pada ejekan tersebut. Dia menaruh tasnya dan memberikan isyarat kepada Hans untuk memulai latihan mengangkat beban batu hitam.
"Abaikan mereka," bisik Arlan pada Hans dan Liora. "Fokus pada aliran mana di perut kalian. Gunakan tekanan dari tatapan mereka sebagai motivasi untuk memperkuat mental kalian."
Namun, kelompok Elang Perak tidak membiarkan mereka berlatih dengan tenang. Valen berjalan menghampiri Arlan dengan langkah yang sangat berwibawa. Setiap langkah Valen memancarkan aura mana elemen petir yang sangat kuat, menciptakan suara percikan listrik kecil di udara. Valen berhenti tepat di depan Arlan, menatap Arlan dari atas ke bawah dengan pandangan yang penuh dengan otoritas.
"Arlan Vandermir," ucap Valen dengan nada bicara yang sangat formal namun dingin. "Aku mendengar bahwa kamu telah mempermalukan anggota kelompokku dua kali. Sebagai pemimpin Kelompok Elang Perak di angkatan ini, aku merasa perlu untuk memberikanmu sedikit pengajaran tentang tata krama di akademi."
Arlan berhenti mengangkat beban dan menoleh ke arah Valen. "Tata krama? Apakah tata krama di sini berarti yang kuat boleh menghina yang lemah tanpa alasan? Jika itu yang kamu maksud, maka aku tidak tertarik mempelajarinya."
Suasana di lapangan mendadak menjadi sangat panas. Mahasiswa lain mulai berkumpul di sekeliling mereka, membentuk sebuah lingkaran besar. Mereka ingin melihat bagaimana anak Kelas D ini akan berhadapan dengan ksatria jenius seperti Valen.
"Berani sekali kamu bicara begitu pada ksatria Valen!" teriak Marco dari belakang. "Dia adalah calon komandan ksatria kerajaan! Kamu hanyalah anak dari keluarga pengkhianat yang tidak punya mana!"
Valen mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar Marco diam. Dia menatap Arlan dengan lebih tajam. "Aku tidak akan menggunakan sihir petir ku untuk melawan anak kecil sepertimu. Itu akan menodai namaku. Namun, aku ingin menguji apa yang disebut kekuatan fisikmu itu. Jika kamu bisa menahan satu pukulan ku tanpa bergeser dari tempatmu berdiri, aku akan membiarkan kalian berlatih di sini dengan tenang. Tapi jika kamu jatuh, kamu dan teman temanmu harus merangkak keluar dari lapangan ini dan tidak boleh kembali lagi selamanya."
Liora ingin memprotes karena tantangan itu sangat tidak adil, namun Arlan justru tersenyum tipis. Arlan menyadari bahwa ini adalah momen yang tepat untuk menunjukkan kepada Hans dan Liora bagaimana Teknik Napas Bumi bekerja dalam situasi nyata.
"Satu pukulan tanpa menggunakan sihir?" tanya Arlan memastikan.
"Benar. Hanya kekuatan otot murni," jawab Valen dengan penuh percaya diri. Sebagai seorang ksatria yang sudah berlatih selama bertahun tahun, Valen memiliki kekuatan fisik yang jauh di atas rata rata meskipun tanpa bantuan mana.
Arlan melangkah maju dan berdiri tepat di depan Valen. Dia melepaskan tasnya dan meletakkan kedua kakinya sejajar dengan bahu. Arlan mulai mengaktifkan Gerbang Kedua dan Teknik Napas Bumi secara bersamaan. Dia membayangkan tubuhnya adalah sebuah tiang besi yang menancap hingga ke inti bumi. Dia mengendurkan seluruh otot di bagian atas tubuhnya namun mengeraskan otot kaki dan perutnya.
"Silakan," ucap Arlan tenang.
Valen mengepalkan tangan kanannya. Otot lengannya membesar, menunjukkan kekuatan yang sangat besar. Dia menarik napas panjang, memusatkan seluruh berat tubuhnya ke tinjunya. Dengan sebuah teriakan kecil, Valen melayangkan pukulan lurus ke arah dada Arlan.
BOOM!
Suara hantaman itu terdengar sangat keras, seperti suara kayu besar yang menghantam dinding batu. Angin kencang berhembus dari titik benturan, menerbangkan debu di sekitar mereka. Para penonton menahan napas, mengira Arlan akan terpental hingga menabrak tribun. Namun, saat debu mulai menghilang, mata semua orang terbelalak tidak percaya.
Arlan masih berdiri tegak di posisi yang sama. Kakinya tidak bergeser satu milimeter pun dari jejaknya di tanah. Wajah Arlan tetap tenang, bahkan napasnya tidak berubah sedikit pun. Sebaliknya, Valen tampak sangat terkejut. Dia merasakan pukulannya seolah olah menghantam gunung yang tidak bisa digerakkan. Getaran dari pukulannya justru berbalik menghantam lengannya sendiri, membuat tangannya terasa sangat perih.
"Itu saja?" tanya Arlan sambil menatap mata Valen yang sekarang dipenuhi oleh rasa bingung.
Arlan tidak hanya menahan pukulan itu. Dengan teknik Napas Bumi, dia mengalirkan seluruh energi pukulan Valen masuk ke dalam tanah melalui kakinya. Itulah sebabnya tanah di bawah kaki Arlan sedikit retak melingkar, namun tubuh Arlan tetap tidak bergerak.
Valen menarik tangannya kembali dengan wajah yang memerah karena malu. Dia baru saja dipermalukan di depan seluruh mahasiswa angkatannya. Dia menyadari bahwa Arlan memiliki sebuah rahasia kekuatan yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu ksatria biasa.
"Sesuai janjimu," ucap Arlan sambil berbalik membelakangi Valen. "Jangan ganggu latihan kami lagi."
Arlan kembali mengajak Hans dan Liora untuk melanjutkan latihan mereka. Hans dan Liora merasa sangat bangga dan bersemangat. Mereka melihat bahwa teknik yang diajarkan Arlan benar benar nyata dan sangat kuat. Di sisi lain, Valen hanya bisa berdiri diam sambil mengepalkan tangannya yang gemetar. Dia menatap punggung Arlan dengan penuh kebencian dan rasa ingin tahu yang besar.
"Ini belum berakhir, Arlan Vandermir," gumam Valen dalam hati.
Kejadian di lapangan latihan utama ini segera menyebar ke seluruh penjuru akademi dalam waktu singkat. Arlan telah berhasil membuktikan bahwa kasta Kelas D tidak bisa diremehkan begitu saja. Namun Arlan tahu bahwa kemenangannya hari ini akan memicu kemarahan yang lebih besar dari para penguasa akademi. Dia harus segera mempercepat pembukaan Gerbang Keenam sebelum festival musim gugur tiba.
Di kehidupan keduanya ini, Arlan menyadari bahwa setiap tantangan adalah kesempatan untuk menunjukkan siapa pemangsa yang sebenarnya. Dia tidak akan berhenti sampai seluruh akademi ini tahu bahwa nama Vandermir bukan lagi lambang kehinaan, melainkan lambang kekuatan yang mutlak. Arlan terus berlatih dengan sangat fokus, mengabaikan segala kebisingan di sekitarnya. Dia adalah badai yang sedang bersiap untuk menghancurkan segalanya.