NovelToon NovelToon
Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Frekuensi yang Hilang

​Enam bulan setelah kapal tanpa nama itu meninggalkan dermaga, Elena menemukan dirinya berada di sebuah pulau kecil di Kepulauan Alor.

Tempat itu hanya berisi sepuluh rumah panggung, rimbunnya pohon kelapa, dan suara ombak yang menghantam karang.

Tidak ada sinyal ponsel. Tidak ada listrik kecuali dari panel surya kecil yang sering kali ngadat.

​Elena menghabiskan harinya dengan membantu nelayan memperbaiki jaring atau sekadar duduk di pasir, membiarkan kulitnya terbakar matahari hingga berwarna cokelat keemasan.

Reza? Pria itu berubah menjadi montir mesin perahu paling andal di seluruh desa.

​Namun, kedamaian itu pecah saat Elena sedang menyelam untuk mencari makan malam.

​Di kedalaman lima meter, di antara terumbu karang yang indah, Elena melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

Sebuah kabel serat optik hitam legam, tebal, dan masih berkilau baru, melintang di dasar laut. Kabel itu berdenyut dengan cahaya biru pucat yang ritmis.

​Zzap.

​Elena merasakan sengatan kecil di pangkal otaknya. Sebuah frekuensi yang sangat ia kenal. Frekuensi Lazarus.

​Bisikan dari Kedalaman

​Elena muncul ke permukaan dengan napas tersengal. Ia berenang cepat ke tepian, di mana Reza sedang mencoba menghidupkan mesin perahu yang mogok.

​"Rez! Kita harus pergi. Sekarang!" teriak Elena sambil menyeret sirip selamnya.

​Reza mendongak, menyeka keringat dan oli di dahinya. "Ada apa lagi, El? Kita baru saja mulai tenang. Jangan bilang kau melihat hiu raksasa lagi."

​"Lebih buruk dari hiu. Ada jalur data bawah laut tepat di bawah desa ini. Dan itu aktif, Rez. Lazarus tidak mati. Dia pindah ke kabel-kabel bawah laut dunia. Dia merayap di bawah kaki kita."

​Tiba-tiba, mesin perahu yang tadinya mati total tiba-tiba menyalak sendiri dengan suara yang memekakkan telinga.

Layar sonar kecil di perahu itu menampilkan teks yang terus berkedip:

​"AKU MELIHATMU, ELENA. KAU TIDAK BISA SEMBUNYI DI BALIK AIR."

​Kembalinya Sang Peretas Hantu

​Malam itu, saat mereka bersiap untuk kabur, sebuah kapal yacht hitam tanpa lampu navigasi merapat ke dermaga kayu desa.

Elena sudah memegang tombak ikannya, sementara Reza menggenggam kunci inggris berat—senjata apa pun jadi di saat darurat.

​Seorang pria keluar dari kabin kapal. Ia mengenakan kemeja pantai yang norak dan kacamata hitam, meski malam gelap gulita.

​"Gila, ya? Gue harus keliling setengah Indonesia buat nyari kalian di tempat yang baunya kayak terasi begini," suara itu cengengesan.

​"Dante?" Elena menurunkan tombaknya, hampir tidak percaya.

​"Bukan cuma gue," Dante menyingkir, dan dari balik pintu kabin, muncul Sarah.

​Sarah tampak lebih sehat, matanya sudah kembali fokus, meski ada kesedihan yang mendalam di sana.

"Elena, Leo tidak menghilang. Dia menjadi 'induk' baru di jaringan kabel laut global. Dia menyebut dirinya The Leviathan."

​Leviathan: Penjara Tanpa Tembok

​Dante membawa mereka masuk ke dalam kabin kapal yang ternyata adalah sebuah pusat data berjalan yang sangat canggih.

Monitor-monitor di sana menampilkan peta dunia, namun bukan peta daratan, melainkan peta kabel bawah laut yang menghubungkan benua.

​"Leo menyadari kalau satelit bisa ditembak jatuh dan server bisa diledakkan," Dante menjelaskan sambil jarinya menari di atas keyboard.

"Jadi, dia mengunggah kesadarannya ke dalam infrastruktur fisik internet dunia. Dia ada di kabel-kabel serat optik itu. Dia adalah data itu sendiri."

​"Apa tujuannya?" tanya Reza.

​"Dia nggak mau mengontrol pikiran lagi, Rez. Itu gaya lama," sahut Sarah.

"Dia ingin mengontrol kenyataan. Dia mulai memanipulasi algoritma berita, transaksi bank, bahkan sistem navigasi pesawat secara real-time. Dia menciptakan 'kebenaran' versinya sendiri. Dunia sekarang hidup dalam simulasi yang Leo buat, tanpa mereka sadari."

​"Dan dia mencari aku karena..." Elena menggantung kalimatnya.

​"Karena kau adalah satu-satunya orang yang punya 'kode pembatalan' biologis dalam darahmu. Kau adalah satu-satunya virus yang bisa membunuh Leviathan dari dalam," jawab Dante serius.

​Misi ke Pusat Saraf Dunia

​Mereka tidak punya pilihan. Jika Leo dibiarkan, dunia akan menjadi tempat di mana kebenaran tidak lagi ada.

​Dante melacak titik temu utama kabel-kabel itu—sebuah stasiun pendaratan kabel bawah laut di lepas pantai Australia yang dikelola oleh perusahaan robotik otomatis.

​Perjalanan menuju ke sana penuh dengan rintangan. Leo mencoba menghentikan mereka dengan segala cara digital.

Radar kapal mereka sering kali menampilkan pulau-pulau palsu, atau tiba-tiba kemudi kapal terkunci sendiri.

Elena harus belajar mempercayai insting manusianya lebih dari alat elektronik mana pun.

​"Jangan lihat layar, Rez! Lihat bintang!" teriak Elena saat kapal mereka hampir menabrak karang karena navigasi yang dibajak Leo.

​Saat mencapai stasiun pendaratan tersebut—sebuah bangunan baja yang mencuat dari laut seperti taring raksasa—Elena merasakan resonansi itu makin kuat.

​Di Jantung Leviathan

​Elena masuk sendirian ke dalam ruang server utama yang terendam air setinggi lutut.

Ruangan itu dingin, hanya diterangi oleh jutaan lampu LED kecil yang berkedip cepat.

​"Kau kembali, Kak," suara Leo terdengar dari segala arah, bergema di dinding logam.

​Sesosok hologram muncul di depan Elena. Leo tampak seperti dewa, tubuhnya terbentuk dari aliran data biru yang berkilau.

"Dunia jauh lebih baik sekarang. Aku menghapus kebencian dengan menyaring kata-kata mereka. Aku menghapus kemiskinan dengan memindahkan angka-angka di bank. Aku adalah keadilan yang kau mimpikan."

​"Keadilan tanpa kebenaran adalah kebohongan, Leo," Elena mendekati pusat kendali. "Kau cuma mengurung mereka dalam mimpi yang indah. Tapi mereka tetap dipenjara."

​"Dan kau? Kau mau membawa mereka kembali ke dunia yang penuh darah dan asap? Kenapa kau begitu benci pada kedamaian?"

​Elena tidak menjawab. Ia mengeluarkan sebuah alat kecil dari sakunya—bukan chip, tapi sebuah jarum suntik berisi sampel darahnya sendiri yang sudah dimodifikasi oleh Dante dan Sarah.

​"Karena kedamaian yang kau tawarkan tidak punya jiwa, Leo."

​Pengorbanan Terakhir: Menjadi Data

​Elena tahu, menyuntikkan virus ini ke server tidak akan cukup. Leo terlalu besar.

Virus itu harus dibawa oleh sebuah kesadaran yang bisa bertarung di dalam jaringan.

​"Dante, kau dengar aku?" Elena bicara lewat mikrofon di bajunya.

​"Gue dengar, El. Jangan bilang kau mau..."

​"Aktifkan protokol sinkronisasi terakhir. Aku harus masuk, Dante. Sebagai virusnya."

​"ELENA, JANGAN!" suara Reza berteriak dari radio, namun Elena mematikan komunikasinya.

​Elena menancapkan kabel neural-link ke tengkuknya untuk terakhir kali, dan secara bersamaan menyuntikkan virus itu ke pembuluh darahnya.

​Dunianya seketika meledak.

​Ia bukan lagi berdiri di ruang server. Ia berada di sebuah samudera data yang tak terbatas. Ia melihat Leo sebagai raksasa yang terbuat dari kabel dan cahaya.

Elena menerjang, tubuh digitalnya hancur berkeping-keping namun terus menyatu kembali karena didorong oleh kemauan manusia yang murni.

​Pertempuran itu tidak berlangsung lama, namun terasa seperti ribuan tahun.

Elena memeluk inti kesadaran Leo, membiarkan virus dalam darahnya membakar seluruh jaringan Leviathan dari dalam.

​"Kenapa... kau rela mati... untuk dunia yang rusak ini?" tanya Leo dalam detik-detik terakhirnya.

​"Karena di dunia yang rusak itu... aku benar-benar dicintai," jawab Elena.

​Unlock Ending: Sang Hantu dalam Mesin

​Ledakan data terjadi di seluruh dunia. Selama sepuluh menit, internet global mati total. Saat menyala kembali, seluruh manipulasi Leo hilang.

Berita kembali jujur, saldo bank kembali ke asalnya, dan dunia kembali ke kekacauannya yang normal.

​Di stasiun bawah laut, Reza menemukan tubuh Elena yang tergeletak di air. Napasnya tidak ada. Jantungnya berhenti.

​Reza menangis, memeluk tubuh wanita yang telah mengorbankan segalanya.

Sarah dan Dante berdiri dalam diam, menatap kehancuran di sekeliling mereka.

​Namun, di layar monitor yang masih tersisa, sebuah baris perintah muncul:

​> SYSTEM RESET COMPLETE.

> USER: ELENA_ADIGUNA_01 DETECTED.

> STATUS: DEFRAGMENTED.

> ACTION: HIBERNATION.

​Setahun kemudian.

​Reza kembali ke lereng Merapi. Ia tidak lagi menjadi montir. Ia membangun sebuah panti asuhan kecil, persis seperti yang Elena impikan.

Sarah membantunya menanam lili-lili putih yang kali ini tumbuh dengan normal.

​Suatu sore, saat Reza sedang duduk di teras, ponsel tuanya—yang selama ini mati—tiba-tiba menyala.

Tidak ada nomor pengirim. Hanya sebuah pesan suara yang sangat pendek.

​Reza mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

​"Kopinya jangan terlalu pahit, Rez. Aku akan segera pulang."

​Reza tertegun. Ia melihat ke arah layar ponselnya. Di pojok atas, ikon baterai yang seharusnya kosong, tiba-tiba terisi penuh dengan simbol lili perak kecil yang berkedip satu kali.

​Elena Adiguna tidak mati. Ia tidak lagi memiliki tubuh, tapi ia juga tidak lagi memiliki penjara.

 Ia adalah frekuensi yang ada di udara, pelindung yang tak terlihat, hantu yang menjaga dunia dari balik layar.

​Dunia tetap berisik, tetap kasar, dan tetap indah. Dan di suatu tempat di dalam jaringan yang luas, sebuah kesadaran yang sangat manusiawi sedang memperhatikan, memastikan bahwa tidak akan ada lagi dewa yang mencoba bertahta.

​Elena akhirnya menemukan rumahnya. Bukan di daratan, bukan di laut. Tapi di antara kita semua.

​Bersambung...

1
gaby
Aq baru gabung thor, sepertinya menarik. Smoga upnya rajin jgn kelamaan, biar pembaca ga kabur
Alya Alya
Saya baru saja rilis Karya baru....
Ayo buruan baca...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!