NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misteri Anak Sulung

Setelah melewati pagi yang cukup menghebohkan dengan urusan lukisan tugas sekolah Clara, kini Azizah langsung dihadapkan pada rutinitas barunya sebagai asisten rumah tangga. Tugas berikutnya yang harus ia selesaikan adalah membersihkan kamar-kamar para majikan di lantai atas, dan kali ini ia mengerjakannya bersama Dewi.

Kamar pertama yang mereka bersihkan adalah kamar milik Darel dan Windy. Kamar itu sangat luas, dengan kasur berukuran king size yang menjadi fokus utama. Dengan telaten, Azizah dan Dewi bekerja sama menarik ujung-ujung sprei lama yang kusut, lalu membentangkan sprei baru bercorak minimalis yang bersih dan wangi. Setelah merapikan bedset dan menata bantal-bantal besar, pekerjaan mereka di kamar itu akhirnya selesai.

Keduanya melangkah keluar kamar seraya membawa perlengkapan. Azizah dengan cekatan membungkuk untuk meletakkan gulungan sprei kotor ke dalam keranjang pakaian besar yang sejak tadi mereka letakkan di depan pintu kamar. Sementara itu, Dewi menyandarkan punggungnya sejenak ke dinding koridor sambil sibuk mengibas-ibaskan kerah kausnya demi menghalau rasa gerah.

“Aduh, melelahkan juga ya, Zah. Padahal baru satu kamar,” keluh Dewi sambil mengembuskan napas panjang.

Azizah menegakkan tubuhnya kembali, menatap sang bibi lalu tersenyum manis. Jemarinya bergerak lincah menyusun gerakan isyarat.

‘Bibi ada-ada saja. Aku pikir karena Bibi sudah bertahun-tahun bekerja di sini dan sudah terbiasa, Bibi tidak akan cepat merasa lelah seperti ini.’

Dewi terkekeh mendengar ledekan keponakannya, walau tangannya masih terus mengibas kerah kaus.

“Ah, kau ini. Semakin bertambah usia, tentu saja tenaga kita semakin berkurang. Tidak bisa disamakan dengan yang masih muda.”

Dewi kemudian menatap Azizah dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan kagum, “Bibi malah heran melihatmu. Ini kan hari pertamamu bekerja, tapi sama sekali tidak kelihatan lelah. Wajahmu bahkan masih secerah mentari pagi! Apalagi tadi pagi-pagi sekali kau sudah menjadi pahlawan dan membantu Nona Clara menyelesaikan tugas lukisannya yang mepet itu.” Dewi mengacungkan kedua jempol tangannya tepat di depan wajah Azizah, “Kau hebat, Zah. Dua jempol dari Bibi!”

Mendapat pujian bertubi-tubi seperti itu, pipi Azizah seketika merona merah karena tersipu malu. Ia menunduk sebentar, lalu kembali menggerakkan tangannya dengan rendah hati.

‘Bibi jangan berlebihan. Azizah kan hanya bekerja dan membantu sesuai dengan apa yang memang Azizah bisa lakukan.’

Dewi memajukan tubuhnya sedikit, menatap penuh selidik namun jenaka, “Memangnya... apa yang kau tidak bisa, Zah? Setahu Bibi, dari dulu waktu di desa, kau itu selalu handal dalam segala hal. Memasak bisa, membuat anyaman pintar, melukis bagus, beberes rumah juga secepat kilat.”

Mendapat pertanyaan itu, Azizah hanya bisa mengendikkan kedua bahunya sambil melempar senyum tipis. Isyarat tanda bahwa ia sendiri juga tidak tahu harus menjawab apa. Sejak kecil, karena keadaan dan kemandirian yang ditempanya di desa, ia memang selalu terbiasa bergerak cepat dan cekatan dalam mengurus apa pun tanpa pernah banyak mengeluh.

Dewi kemudian mengajak Azizah untuk bergeser ke kamar selanjutnya. Kali ini, mereka berbagi tugas agar lebih efisien. Azizah bertugas mendekap tumpukan sprei baru yang bersih, sedangkan Dewi bertugas membawa keranjang sprei kotor sambil mendorong troli kecil berisi berbagai macam alat kebersihan dan cairan pembersih lantai.

Namun baru beberapa langkah menyusuri koridor itu, langkah kaki Azizah mendadak melambat hingga akhirnya benar-benar terhenti. Pandangannya langsung tertambat pada sebuah bingkai foto besar yang terpajang di dinding koridor.

Di dalam benaknya, Azizah merasa hal ini agak aneh. Biasanya, foto keluarga berukuran besar seperti itu ditaruh di ruang tamu, ruang keluarga, atau area utama yang sering dikunjungi oleh banyak orang agar bisa dilihat oleh tamu yang datang. Namun, keluarga Amisha justru memilih untuk menaruh foto keluarga besar mereka di koridor lantai atas yang cenderung lebih privat.

Dewi yang berjalan beberapa meter di depan segera menghentikan langkah trolinya. Ia menoleh ke belakang karena tidak lagi mendapati Azizah berjalan di sampingnya. Begitu berbalik, ia menyadari bahwa keponakannya itu sedang berdiri terpaku, fokus menatap foto keluarga majikannya.

Dewi menghela napas pendek seraya tersenyum tipis. Ia meletakkan keranjang kotor di atas troli, lalu melangkah pelan mendekati Azizah. Sembari berdiri di samping keponakannya, Dewi ikut mendongak, mengikuti arah pandang mata wanita itu.

“Ada apa, Zah?” tanya Dewi lembut.

Azizah menoleh sejenak ke arah bibinya, lalu kembali mendongak menatap foto di hadapannya. Satu per satu ia perhatikan wajah-wajah yang terekam di dalam bingkai kaca itu. Semuanya tampak tersenyum ceria menatap kamera. Di dalam foto itu, ada seorang pria paruh baya bertubuh tegap yang duduk di samping Amisha, di mana dari cerita Dewi kemarin, Azizah langsung menebak bahwa itu adalah mendiang Tuan besar mereka yang kini telah tiada.

Lalu di baris belakang, berdiri Clara yang tampak masih sangat kecil, diapit oleh Darel yang tersenyum lebar dan satu sosok lagi yang membuat Azizah terpaku. Seorang pria muda dengan garis rahang tegas dan tatapan mata yang tajam, namun wajahnya benar-benar datar tanpa ekspresi. Ia menjadi satu-satunya orang yang tidak tersenyum di foto itu.

Rasa penasaran pun menggelitik hatinya. Azizah mengangkat satu tangannya, menunjuk ke arah pria berwajah datar itu sambil menoleh ke arah Dewi, meminta penjelasan lewat tatapan matanya.

Dewi mengangguk kecil, seolah sudah menduga bahwa keponakannya akan menanyakan hal itu, “Nah, yang kau tunjuk itu... itu Tuan Ezra, Zah,” jelas Dewi dengan suara yang agak diturunkan, “Anak sulung di keluarga ini, yang kemarin sempat Bibi ceritakan kepadamu kalau dia sangat jarang pulang ke rumah.”

Azizah kembali menatap wajah dingin di dalam foto itu sambil manggut-manggut mengerti. Jadi, inilah sosok Ezra yang kemarin diceritakan bibinya sampai bisa membuat bulu kuduk berdiri. Meski hanya lewat selembar foto lama, aura kaku dan tegas dari pria itu memang terasa sangat kuat, kontras dengan senyuman hangat anggota keluarga yang lain.

Dewi kemudian melanjutkan penjelasannya, “Foto itu diambil sudah lama sekali. Jauh sebelum Tuan Bakhtiar meninggal dunia dan sebelum Tuan Darel menikah dengan Nona Windy. Makanya di foto itu anggotanya baru mereka berlima saja, belum ada Nona Windy ataupun si kecil Keira.”

Merasa waktu terus berjalan dan tugas mereka masih menumpuk, Dewi kemudian menepuk pelan lengan Azizah untuk menghentikan acara melihat-lihat foto itu.

“Sudah, ayo kita lanjutkan lagi pekerjaan kita, Zah. Kamar Nyonya besar masih menunggu untuk dibersihkan. Nanti kalau pekerjaan kita selesai cepat, kita juga bisa istirahat lebih awal.”

Azizah mengangguk patuh. Ia memutuskan pandangannya dari foto Ezra, membetulkan dekapan sprei barunya, dan kembali melangkah mengekor di samping Dewi untuk menyelesaikan tugas rumah tangga mereka.

Saat mereka berdua sedang melangkah beriringan, langkah kaki Azizah kembali melambat. Matanya menatap sebuah pintu kayu jati yang kokoh dan tertutup rapat. Ia mengernyitkan dahi ketika menyadari Dewi melangkah melewatinya begitu saja tanpa ada niat untuk berhenti.

Karena merasa heran, Azizah terpaksa berlari kecil mengejar bibinya, lalu menepuk bahu Dewi cukup keras.

Dewi menghentikan trolinya dan menoleh, menunjukkan ekspresi tanya di wajahnya. Sementara itu, Azizah langsung mengarahkan telunjuknya ke arah pintu kamar yang baru saja mereka lewati, meminta kejelasan mengapa kamar itu dilewati.

Melihat ke mana arah telunjuk keponakannya, Dewi menoleh ke belakang. Setelah sadar, wanita itu langsung menepuk dahinya sendiri dengan keras.

“Astaga, Zah! Bibi sampai lupa memberitahumu,” ucap Dewi setengah berbisik seraya mendekat, “Itu kamar Tuan Ezra. Kamar yang itu memang sengaja kita lewati.”

Dewi lalu menjelaskan dengan nada bicara yang misterius, “Tuan Ezra itu melarang keras siapa pun masuk ke dalam kamarnya, bahkan sekadar untuk menyapu atau membersihkannya saja tidak boleh. Katanya sih, dia tidak ingin ada orang lain yang menyentuh atau mengubah posisi barang-barangnya. Padahal kamar itu hampir tidak pernah ditempati karena dia tinggal di tempat lain. Bisa kau bayangkan? Pasti di dalam sana sudah sangat berdebu karena dibiarkan tertutup terlalu lama.”

Setelah memberikan penjelasan singkat itu, Dewi langsung membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya mendorong troli, tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi.

Sementara itu, Azizah tidak langsung menyusul. Ia berdiri terpaku sejenak, matanya terus menatap lekat gagang pintu kamar yang tampak sunyi dan dingin itu. Di dalam benaknya, Azizah merasa sangat bingung dengan pria bernama Ezra itu. Dari semua cerita yang ia dengar sejak kemarin, kepribadian anak sulung Amisha ini terasa sangat aneh dan tidak biasa. Penuh rahasia. Entah apa sebenarnya yang disembunyikannya di balik pintu kamar yang terkunci rapat itu hingga tidak boleh ada satu orang pun yang menyentuhnya.

“Zah! Ayo, malah melamun lagi!” seru Dewi dari kejauhan koridor.

Sadar dirinya sudah tertinggal beberapa langkah, Azizah tersentak dari lamunannya. Ia buru-buru membetulkan dekapan sprei di dadanya dan segera berlari kecil menyusul Dewi, meninggalkan sejuta tanya yang mulai tumbuh di kepalanya tentang sosok Ezra.

Sesampainya di depan kamar Amisha, langkah kaki Dewi dan Azizah terpaksa mengerem mendadak. Pintu kamar kayu yang berukir indah itu tampak sedikit terbuka, menyisakan celah yang cukup untuk memperlihatkan suasana di dalam. Dari balik celah itu, terdengar suara Amisha yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon.

Anehnya, nada bicara wanita paruh baya yang biasanya selalu terdengar tenang dan anggun itu kini dipenuhi oleh rasa keputusasaan yang teramat dalam.

“Mama mohon... datanglah sebentar saja. Sekadar menengok rumah ini,” rintin Amisha dengan suara yang bergetar menahan luapan emosi.

Mendengar hal itu, Dewi segera menarik lengan Azizah menjauh satu langkah dari pintu, lalu berbisik dengan suara yang sangat rendah di dekat telinga keponakannya.

“Itu pasti Tuan Ezra. Bibi dan teman-teman pembantu yang lain sudah cukup sering melihat Nyonya besar frustrasi dan tertekan seperti ini setiap kali mencoba menghubungi anak sulungnya.”

Azizah kembali memutar otaknya. Berdasarkan cerita-cerita sebelumnya, foto keluarga yang diasingkan ke koridor atas, kamar yang dikunci rapat, hingga panggilan telepon penuh keputusasaan ini, tampaknya hubungan antara ibu dan anak sulungnya itu sedang dalam kondisi yang sangat tidak baik. Ada luka atau tembok besar yang memisahkan mereka.

Belum sempat Azizah merenung lebih jauh, mereka berdua dikejutkan oleh suara hantaman keras.

Amisha membanting ponselnya ke atas kasur dengan napas yang naik-turun memburu, berusaha keras menahan amarah dan kekecewaan yang bergejolak di dalam dadanya. Wajahnya tampak memerah menahan tangis.

Dewi yang merasa sangat khawatir sekaligus tidak enak jika terus menguping akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu dengan sengaja.

“Permisi, Nyonya...”

Ketukan itu seketika membuat Amisha menoleh ke arah pintu. Sebagai wanita terhormat yang tangguh, ia buru-buru menyeka sudut matanya dan dengan luar biasa mengganti ekspresi wajahnya menjadi ramah kembali, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

“Eh, Dewi dan Azizah. Silakan masuk. Tolong bersihkan kamarku, ya,” ucap Amisha dengan suara yang diusahakan tetap tegar. Ia kemudian melangkah memungut ponselnya kembali dari atas kasur, lalu tersenyum tipis ke arah mereka berdua, “Aku ingin jalan-jalan sebentar ke taman belakang untuk mencari angin segar dan menenangkan diri.”

Dewi mengangguk sopan, “Baik, Nyonya.”

Azizah berdiri diam, memerhatikan punggung sang majikan yang berjalan gontai melewati mereka. Sorot mata Azizah dipenuhi rasa khawatir yang mendalam. Meskipun ia baru bekerja satu hari di rumah ini, ia bisa memahami perasaan wanita paruh baya itu. Di balik gelimang harta dan kemegahan istana ini, Amisha tetaplah seorang ibu yang tentu saja merindukan kehadiran anak sulungnya dan sangat berharap agar keluarganya bisa kembali utuh serta harmonis.

1
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!