Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 16
Brak.
Saat mobil melewati sedikit gundukan jalan, kepala Inara terantuk kaca jendela dengan cukup keras. Wanita itu merintih lirih dalam tidurnya, dahinya berkerut menahan sakit, namun dia terlalu lelah untuk terbangun.
Melihat hal itu, ada sesuatu yang berkedut tajam di dalam dada Mahesa. Sebuah rasa bersalah dan kekhawatiran murni yang amat sangat besar mendadak lolos dari balik dinding egonya yang kokoh.
Tanpa sadar, Mahesa mengulurkan tangan kanannya. Dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati, seolah takut membangunkan Inara. Jemari Mahesa menyentuh sisi kepala Inara. Dia menuntun kepala istrinya agar tidak lagi bersandar pada kaca dingin, melainkan menyandarkannya pada bantalan kursi mobil dengan posisi yang lebih nyaman.
Saat kulit tangannya bersentuhan dengan kening Inara, Mahesa tersentak. Kulit wanita itu terasa sangat dingin, sekujur tubuhnya agak bergetar karena hawa AC.
Mahesa mengumpat pelan dalam hati karena tak menyadari jika Inara sedang kedinginan. Dia langsung mematikan AC mobilnya, membuka sedikit celah jendela agar udara malam yang hangat bisa masuk. Tidak sampai di situ, pria itu merogoh ke kursi belakang, mengambil jas kerjanya yang sengaja dia letakkan di sana, lalu membentangkannya di atas tubuh Inara.
Dia menyelimuti istrinya dengan jasnya sendiri jas yang beberapa jam lalu dipenuhi aroma parfum Clarissa, kini membungkus tubuh ringkih Inara.
Mahesa menatap wajah tidur Inara beberapa detik lebih lama. Genggaman tangannya pada kemudi mengencang hingga buku jarinya memutih. Ada pertarungan batin yang hebat di dalam dirinya. Pria baji-ngan yang selalu memakinya ini, malam ini tertegun melihat bagaimana seorang wanita bisa bertahan sejauh ini demi ibunya, di bawah siksaan yang dia ciptakan sendiri.
"Kenapa kamu harus sekeras kepala ini, Inara?" bisik Mahesa parau, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin mobil.
"Kenapa sekarang aku selalu merasa bersalah padamu setiap melihat kamu terluka seperti ini?"
Mobil kembali melaju membelah malam. Di dalam kabin yang kini terasa hangat, Inara masih terlelap, sama sekali tidak menyadari bahwa jas yang menyelimuti tubuhnya adalah milik pria yang paling dia takuti, dan untuk beberapa saat di malam yang sunyi itu, Mahesa menatapnya bukan sebagai barang gadaian, melainkan sebagai seorang wanita yang perlahan-lahan mulai mengacak-acak hatinya.
Sesampainya di pelataran rumah mewah mereka, Mahesa mematikan mesin mobil. Keheningan kembali merayap, menyisakan bunyi detak jam di dasbor. Mahesa menoleh ke samping, menatap Inara yang masih terlelap dengan jas kerjanya yang membungkus tubuh ringkih itu.
Pria itu menghela napas berat. Ada ego di dalam dirinya yang menyuruhnya untuk membangunkan Inara dengan kasar, menyuruh wanita itu turun sendiri dan berjalan ke kamarnya di lantai bawah. Namun, saat melihat kerutan samar di dahi Inara yang menandakan rasa sakit yang menembus hingga ke alam bawah sadar, niat itu urung.
Mahesa keluar dari mobil, melangkah memutari kap depan, dan membuka pintu kursi penumpang.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Mahesa menyusupkan kedua lengannya ke bawah tubuh Inara. Saat mengangkatnya, jantung Mahesa berdesir aneh tubuh istrinya ini terasa jauh lebih ringan daripada beberapa hari lalu. Seolah-olah raga di pelukannya ini perlahan sedang mengikis habis dirinya sendiri.
Mahesa melangkah masuk ke dalam rumah yang sepi. Alih-alih membawa Inara ke kamar bawah yang dingin, kaki Mahesa justru melangkah lebar menaiki tangga menuju kamar utamanya sendiri. Kamar yang beberapa hari lalu ia sebut sebagai area terlarang bagi Inara.
Diaa membaringkan Inara di atas ranjang king size-nya. Saat tubuh Inara menyentuh kasur yang empuk, wanita itu melenguh lirih. Kelopak matanya bergerak gelisah, lalu perlahan terbuka.
Manik mata Inara yang sayu dan berkabut mencoba menyesuaikan diri dengan temaram lampu kamar. Detik berikutnya, matanya membelalak kecil saat menyadari dia tidak berada di kamarnya sendiri, dan sosok tegap Mahesa sedang berdiri di tepi ranjang, menatapnya lurus.
Inara langsung panik. Dengan sisa tenaganya, dia mencoba bangkit dan turun dari ranjang.
"Mas... maaf. Aku ketiduran. Aku akan segera turun ke kamarku,"
"Diam di situ, Inara," potong Mahesa, suaranya terdengar berat dan dingin, membuat gerakan Inara langsung terkunci seketika.
"Tapi Mas bilang..."
"Saya tidak mau mendengar bantahanmu malam ini. Saya terlalu lelah untuk berdebat," bohong Mahesa, menyembunyikan rasa gengsinya yang setinggi langit.
"Tidur di sini. Kamar bawahmu sedang diperbaiki saluran ACnya dan sampai sekarang belum selesai. Saya tidak mau besok pagi kamu mengeluh sakit lagi dan menghambat pekerjaan kantor."
Inara menatap Mahesa dengan pandangan tidak percaya. Kamar bawahnya diperbaiki? Rasanya tidak mungkin melakukan itu tanpa perintah langsung dari sang pemilik rumah. Secercah kehangatan yang amat sangat tipis kembali mengetuk dinding hati Inara yang sudah retak.
Apakah Mas Mahesa benar-benar memperhatikanku?
Melihat tatapan Inara yang kembali dipenuhi binar harap yang naif, Mahesa mendadak merasa terpojok. Ada bagian dari dirinya yang menolak terlihat lemah di depan wanita yang ia jadikan tawanan utang ini. Rasa bersalah yang sempat menguasainya di dalam mobil tadi langsung ia bungkus kembali dengan keangkuhan yang kejam.
Mahesa berjalan mendekati ranjang, menunduk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Inara yang mendadak menegang.
"Jangan menatap saya seperti itu, Inara," desis Mahesa, suaranya kembali berubah menjadi belati yang tajam.
"Jangan mengira karena saya mengizinkanmu tidur di ranjang ini, artinya ada yang berubah di antara kita."
Pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi bergetar. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan dari Clarissa yang baru saja masuk
'Mas, terima kasih buat apartemen barunya ya. Aku suka banget interiornya. Gak sabar buat tinggal berdua sama kamu bulan depan,'
Mahesa sengaja membalikkan layar ponsel itu tepat di depan mata Inara, membiarkan istrinya membaca pesan mesra tersebut dengan jelas dalam kedekatan mereka yang menyakitkan.
"Dengar baik-baik," bisik Mahesa tepat di telinga Inara, membuat napas hangatnya terasa seperti racun yang membakar kulit wanita itu.
"Tubuhmu boleh saja berada di atas ranjang saya malam ini. Tapi hati, pikiran, dan masa depan saya sepenuhnya sudah terkunci untuk Clarissa. Bulan depan, begitu serah terima jabatan selesai, apartemen itu akan menjadi rumah baru kami. Dan kamu akan didepak dari rumah ini tanpa membawa sepeser pun."
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛
harus d laporkan k polisi ituuuuu
pasal perampasan aset🤭🤭🤭