NovelToon NovelToon
A

A

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Perperangan / Thriller / Tamat
Popularitas:174.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Danu Banu

"Aku ingin bertanya kepada kalian yang menyebutkan tidak waras. 'Apa yang kalian berikan untuk orang yang kalian cintai?' Aku memberikan segalanya."

Gilang akhirnya menemukan kode terakhir dari Lutfi yang mengarah ke Jepang. Namun kode selanjutnya tersembunyi di antara perseteruan polisi dan mafia. Akankah Gilang berhasil menemukan Lutfi di tengah waktu yang terbatas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danu Banu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Gilang Menjauh

i

i

Di sekolah, hari Kamis, kalau kamu bertemu denganku, mungkin akan melihatku nampak murung. Memang iya, dan badan ini juga lesu. Perasaan bimbang yang diubek-ubek rasa bersalah, menjadi kemelut yang melanda pikiran sepenuhnya.

Kutunggu kedatangan Gilang. Namun hingga bel istirahat berbunyi, Gilang tidak juga muncul. Aku menduga, dia tidak berangkat sekolah karena tidak mau bertemu denganku. Aku yang sudah membuatnya kecewa. Jadi semua sudah jelas, bahwa Gilang pasti melihat kejadian kemarin, waktu aku berjalan berdua sama Kelvin.

Tapi, ke mana Gilang?

Mendadak aku teringat dengan Ateg. Bisa saja aku tanya dia karena dia teman SMP Gilang. Walau dia tidak tinggal satu rumah dengan Gilang, mungkin Ateg bisa ngasih nomor Gilang.

Setelah aku minta, aku hanya kembali duduk di kursiku. Mencoba menelponya. Dan yang menjawab justru suara wanita.

"Nomor yang ada tuju, tidak terdaftar...."

Menutupnya. Aku berpikir barang kali nomor yang Ateg kasih ke aku sudah tidak digunakan sejak lama. Aku makin lemas, bahkan aku sampai ketiduran saat pelajaran.

* * *

ii

Gilang tiba-tiba duduk di sebelahku ketika aku terbangun karena suara bel. Aku mengira itu bunyi bel istirahat.

Agak panik, aku bergegas membasuh muka dan membenarkan penampilanku. Aku hendak mengajaknya ngobrol, tapi Gilang mendadak pergi begitu saja.

Kenapa? Apa kamu benar-benar marah?

Aku nanya ke Gyan: “Yan, Gyan....”

Dia membalikan badan. “Iya, kenapa? Sudah bangun?”

“He he he.”

“Kamu kesambet penyakitnya Gilang apa?”

“Maksudnya?”

“Tidur di kelas.”

“Sembarangan!”

Gyan ketawa, aku juga.

“Eh, ke kantin yuk, kamu belum makan, kan?” ajaknya dengan bangkit.

“Tunggu bentar.” kataku.

“Apa?”

“Gilang kapan datang?”

“Hmmm....” Gyan tampak berpikir sambil matanya melihati jam dinding. Lalu kembali menatapku. “Sekitar jam sepuluh.”

“Siang banget?” tanyaku kaget sekaligus ga percaya.

“Iya,”

“Kenapa katanya?”

Gyan menggeleng. “Ga tau. Dia cuma naruh kertas ke Pak Edi, terus duduk gitu aja.”

“Ga dihukum?”

“Engga tuh.”

“Yuk kekantin.” Kelvin mendadak datang bersama Arya.

“Yuk,” kata Gyan.

Aku bangkit dan mengikuti langkah mereka dengan pikiran penuh tanda tanya.

Ga biasanya Gilang datang telat, bahkan tadi sangat terlambat. Apa itu ada hubungannya dengan masalah kemarin? Kalau benar begitu, aku sangat-sangat meminta maaf Gilang.

* * *

iii

Sejak saat itu, tidak ada gerakan apa-apa dari Gilang yang bersangkut paut dengan diriku. Bahkan setiap aku memanggilnya di kelas dia ga dengar, dan tetap tidur.

Aku masih berpikir, jangan-jangan Gilang benar-benar melihat aku jalan berdua sama Kelvin. Atau mungkin, dia sudah tidak mau lagi denganku.

Atau apa? Aku ga tahu! Aku ga tahu! Termasuk aku ga tahu kenapa hal itu membuatku sedih.

* * *

iv

Hari-hari berikutnya, Gilang makin menjauh. Bahkan boleh kuanggap kategori sombong.

Tidak ada lagi yang Gilang lakukan untukku, sebagaimana banyak hal yang dia berikan diam-diam, yang aku dapat sebelumnya.

Dia tidak pernah lagi ke kantin. Dia lebih memilih untuk terus tidur di kelas, dan mengacuhkan panggilanku yang berusaha ngomong sama dia.

Kenapa? Aku ga tahu kenapa!

Aku cuma ngira dia lihat aku jalan bareng sama Kelvin. Udah, itu tok.

Sebenarnya, kalau bisa, aku pengin banget ngomong ke dia: “Gilaaaang, aku mohon. Jangan pergi. Jangan ngejauh. Tolooooong.... dengerin penjelasanku dulu.”

Tapi aku hanya diam, hingga tanpa sadar air mataku menetes.

* * *

Aku di Turki

Merasa tersuntuk perasaan bersalah, aku meletakan buku diary Lutfi agar kembali ke dalam saku jubahku—waktu itu, angin memang sedikit kencang, dan aku tidak begitu tahan dalam cuaca dingin—kewalahan dengan kesedihan yang tumpah dari halamannya. Aku sangat menyadari andilku sendiri terhadap kesedihan Lutfi.

Lutfi benar, aku hanya pergi begitu saja tanpa mau tahu bagaimana kejadian sebenarnya. Sebagai seorang anak laki-laki yang egois dulu, aku hanya menganggap itu sebagai tanda bahwa dia sudah memilih lelaki lain, pasangannya.

Kebersamaan mereka, hanya menimbulkan ketidaknyamanan untukku. Hingga mau tidak mau aku harus membendung segala gejolak rasa yang menggebu untuk bisa bersama Lutfi dulu. Bagiku, sewaktu remaja, cinta tidak harus memiliki. Aku bisa bahagia ketika melihat Lutfi bahagia dengan pilihannya.

Itulah, dan aku malu mengakuinya, arti dari rasa cemburuku.

Aku bangkit, karena merasa waktu makin petang. Melangkah menuju hunian yang kutempati sementara waktu. Aku belum bisa menjelaskan bagaimana dan di mana rumahku saat ini, karena aku tidak mau, buku yang kutulis ulang, ini, justru akan berubah dan membahas persoalan tentangku di kehidupan 10 tahun ke depan.

Sampai di rumah, setelah aku memberikan buah kesukaan wanita paruh baya yang tinggal seorang diri di depan kamarku—dia memang ditinggal sendirian oleh keluarganya karena kecelakaan—aku kembali pada meja kerjaku. Menulis ulang apa yang kurasakan, dan apa yang tertulis dalam hadiah ulang tahunku.

Aku ingin, semua orang membacanya. Aku mau, semua orang tahu, bahwa kami, aku dan Lutfi pernah menjalin cinta semasa SMA.

Rasa yang begitu dahsyat kekuatannya, hingga aku sendiri bingung bagaimana mengungkapkannya dalam kata-kata. Satu hal yang kutahu, dalam hati yang masih tidak peka, “Hidup itu misterius, seperti halnya cinta. Kalau cinta untukku tidak misterius, itu pasti bukan cinta darimu, kan, Gilang?”

Aku sedikit tertawa sewaktu mengingatnya. Bagaimanapun, itu adalah kalimat yang dia katakan padaku. Aku sungguh tidak menyangka, dia memiliki perasaan yang sama sepertiku sejak lama, dan lebih dari itu, seakan dia membiarkan aku menaburkan rasa itu padanya secara perlahan.

Ah, aku makin tidak sabar, untuk segera menyelesaikan semua ini.

* * *

Dua hari berikutnya. Akhirnya aku selesai menulis beberapa bab, yang menurut kebanyakan orang, itu cerita yang luar biasa. Bahkan mereka meminta agar aku segera merampungkan buku ini. Tidak sedikit penerbit yang merebutkan naskah yang sedang kugarap ini.

Tapi aku masih belum memutuskan, karena bagaimanapun, aku belum tahu mau berakhir seperti apa buku yang kutulis. Jawaban itu hanya ada dalam rangkaian kata di kado ulang tahunku.

Jadi, pagi ini, selepas shalat Subuh, aku kembali membuka buku diary Lutfi dan membacanya.

* * *

v

Pada kesempatan bertemu Ateg di perpustakaan, lagi, aku minta waktu buat nanya. Boleh, katanya.

“Tapi jangan sampai Gilang tahu,” kataku berbisik malu.

“Emang kenapa?”

“Pokoknya, jangan, ya?” pintaku.

“Oke deh.” katanya. “Mau nanya apa?”

“Kamu tahu, kenapa Gilang ngejauhin aku?”

“Aku malah baru tahu kalau dia ngejauhin kamu.”

Mendengar itu makin membuatku lesu.

“Oya, tadi pagi, aku lihat, Gilang lagi ngobrol sama kak Geta.”

“Kak Geta?” tanyaku memastikan.

“Iya, ketua OSIS.”

“Gilang kenal sama dia?”

“Iya, dulu, waktu MOS, kak Geta satu kelompok sama Gilang.” kata Ateg.

“Oh, yang nyamar itu, ya?” Aku nanya setelah ingat siswa baru yang mukanya tua, pakai kacamata, masuk dalam barisan siswa baru. Awalnya aku pikir dia sering ga naik kelas, ternyata dia ketua OSIS yang lagi nyamar.

“Iya, betul.” Ateg menjawab.

“Terus apa hubungannya, ketua OSIS sama Gilang ngejauhin aku?”

“Jadi gini, aku nguping pembicaraan mereka di depan ruang OSIS tadi pagi.”

“Masa?” tanyaku tidak percaya dengan penjelasan Ateg.

“Iya.” katanya memastikan.

“Gilang juga masuk kelas jam sepuluh.”

“Hah? Kok bisa?” Ateg nanya, nadanya jauh lebih kaget.

“Aku juga ga tahu.”

“Tapi, sebelum masuk, aku beneran lihat Gilang kok, lagi ngobrol dia sama ketua OSIS.”

Sebenarnya aku masih belum percaya, tapi aku menyetujuinya supaya Ateg ngasih tahu pembicaraan Gilang sama ketua OSIS.

“Jadi gini, kalau ga salah, kata Gilang: ‘Bilangin ke semua siswa, jangan ganggu Lutfi. Dia udah pacaran sama Kelvin.”

“Hah?!” Aku kaget.

“Iya. Dia bilang gitu.”

“Terus kenapa bilangnya ke kak Geta segala?!”

“Kan kak Geta, ketua dari semua ketua di sekolah ini. Ya, mungkin itu.... dia pengin hubunganmu sama Kelvin ga diganggu sama siswa lain.”

“Apaaa?!” Aku teriak membuat petugas perpus menatapku tajam dengan sebelumnya beberapa siswa berseru. “Ssstt!” Sambil menutup mulut mereka dengan jari telunjuk.

Aku ketawa lirih. “Dia beneran bilang gitu ke kak Geta?” tanyaku agak berbisik.

“Iya.” Ateg menjawab untuk memastikan. “Kayaknya, sih, gara-gara itu, deh, dia ngejauhin kamu.”

“Kok?! Engga, ih!” kataku kesal. “Kok dia bisa mikir gitu, sih?”

“Aku mana tahu.” kata Ateg. “Kamu sering bareng sama Kelvin, kali.”

“Iya, sih.”

“Ya orang-orang juga bisa mikir kalian pacaran.”

“Iiih, engga, Ateg! Ih!” kataku dengan lebih kesal lagi. “Bilangin ke dia!”

“Kok, aku? Kan kamu juga duduk bareng.” kata Ateg kebingungan.

“Pokoknya bilangin ke Gilang, Ateg! Plisss.....” Aku memohon dengan menyatukan kedua tangan, lalu kepala dibuat nunduk sedikit.

“Hmmm.... ya deh.”

“Asik! Makasih Ateg.”

“Sama-sama. Tapi nanti malam traktir aku makan, ya? He he he.”

“Siap.” jawabku bersemangat kemudian kami ketawa.

“Eh, ngomong-ngomong, aku bilang apa ke dia?”

“Aduh.... gimana sih? Ya bilang yang tadi.” kataku agak sebal.

“Apa?”

“Aku engga pacaran sama Kelviiiiin!” Aku berseru.

Kembali seruan Ssstt! Menghujaniku. Aku hanya ketawa kecil.

“Iya udah, ga usah teriak-teriak.”

“Tapi beneran bilang, loh!”

“Iya, nanti aku bilang.” jawab Ateg.

“Harus! Kalau lupa, ga jadi aku traktir makan di lamongan.”

“Serius? Mau traktir aku makan di sana?” Ateg nanya. Mukanya mendadak jadi semangat.

“Iya, tapi bilangin ya. Pliiissss....” pintaku kembali memelas.

“Kamu ngarep ya, jadi pacarnya Gilang?”

“Apaan, sih, Ateg, ih!” kataku malu-malu, lalu kami ketawa.

* * *

vi

Aku tahu sekarang. Pantesan aja Gilang menjauh.

Aku engga pacaran sama Kelvin, Gilang! Masa iya, gara-gara ga sengaja pulang bareng, kamu jadi ngira aku pacaran sama dia.

Ih!

Pokoknya, Ateg harus menyampaikan kepada Gilang kalau aku tidak pacaran sama Kelvin! Harus! Wajib! Titik.

* * *

vii

Sejak itu, mulai besoknya, aku sudah tidak pernah lagi ke kantin sama Kelvin.

Setiap pagi, istirahat atau jam kosong, dan dua hari ke depannya, selalu kuusahakan untuk menolak ajakan Kelvin pergi ke kantin atau perpustakaan. Sampai-sampai, aku sering milih diam, nemenin Gilang tidur di kelas.

Jengkelnya kalau aku diam di kelas, Kelvin juga suka ikut-ikutan diam di kelas. Terpaksa deh, aku pergi, pura-pura ke toilet, atau mana, lah, pokoknya agar bisa lepas dari Kelvin, biar Gilang tahu bahwa aku tidak pacaran dengan Kelvin, dan terhindar juga dari gosip yang beredar tentang aku sama Kelvin pacaran.

Aku yakin, setelah itu, Kelvin ngerasa aku berubah. Sebenarnya, aku kasihan sama dia. Tapi biarin! Asal jangan Gilang yang berubah sama aku!

* * *

viii

Mundur ke hari di mana aku meminta Ateg buat ngasih tahu ke Gilang kalau aku engga pacaran sama Kelvin.

Sorenya, sewaktu mau Maghrib, aku menghampiri kamar Ateg dan duduk di kursi belajarnya.

“Udah bilang, kan?”

“Udah,” jawab Ateg senyum.

“Kapan?”

“Tadi, habis pulang sekolah, jam tiga sore kayaknya. Aku ga sengaja lihat dia lagi tiduran di atas genteng.”

“Hah?!” Aku berseru tidak percaya. “Di atas genteng mana?”

“Kelas dua belas IPA.”

“Serius?”

“Iya.” jawab Ateg menahan ketawa.

“Ngapain dia di sana?”

“Katanya sih galau.”

Aku ketawa, tapi bercampur khawatir. “Galau, tiduran di atas genteng? Tingkat dua lagi?”

“Iya.” Ateg jawab sambil ikutan ketawa.

“Kok kamu bisa lihat dia?”

“Pas SMP, dia juga sering gitu.”

“Galau, terus tiduran di atas genteng?”

“Iya.”

Aku ketawa. Terus mendadak berhenti karena penasaran.

“Eh, pas SMP, Gilang pernah pacaran?”

“Pernah,”

Aku agak sedih mendengarnya. Tapi tetap, kucoba kuat untuk mencari tahu lebih. “Sama siapa?”

“Ga ingat siapa namanya.”

“Satu sekolah?”

“Engga, beda sekolah. Teman silat Gilang, dia sering ikut latihan di sekolah lain soalnya.”

“Gilang pernah ikut silat?”

“Iya.”

“Perguruan apa?”

Ateg tampak mikir, mungkin sedang mengingat-ingat. “Kalau ga salah, HMS.”

“Wah, sama dong.” Aku berseru kegirangan.

“Sama? Maksudnya?”

“Ayahku juga perguruannya HMS. Itu diambil dari bahasa Arab: Ha, Mim, Shod.”

“Waaah! Udah pasti jodoh itu!” Ateg berseru membuatku jadi bersemangat.

“Eh, mereka pacaran berapa lama, sih?”

“Seminggu?”

“Cuma seminggu?!” Aku kaget sekaligus senang.

“Iya,”

“Kamu tahu, kenapa mereka putus?”

Ateg mengangguk. “Gara-gara Gilang mergokin cewenya lagi pacaran sama cowo lain, tiga kali lagi, juga tiap Gilang mergokin, cowonya beda-beda.”

“Aduh, kasihan Gilang.” Aku benar-benar merasa sedih. Dan tidak menyangka, bisa-bisanya ada cewe yang sia-sian seorang Gilang. “Terus Gilang galau?” Aku nanya.

“Engga.”

“Kok gitu?”

“Aku, sih, tahu ini dari teman silatnya Gilang.”

“Apa katanya?”

“Tuh cewe, maksa-maksa Gilang buat jadi pacarnya.”

“Oooh....” Aku manggut-manggut.

“Ngerasa risih kali, jadi akhirnya pacaran.”

“Oh gitu.” kataku penuh rasa lega.

“Kata Gilang, pas mergokin cewenya lagi selingkuh, dia malah duduk terus ngenalin diri ke selingkuhan pacarnya.”

“Serius?!” Aku nanya hampir membentak, saking ga percayanya.

“Iya.” jawab Ateg, nahan tawa.

“Terus gimana itu?”

“Ya dia bilang, kalau Gilang itu pacarnya, terus ngasih selamat ke cowo itu, karena dia juga berhasil dikhianati kayak Gilang.” kata Ateg sambil ketawa.

“Hah? Terus?”

“Abis itu Gilang pergi, soalnya si cowo itu yang marahin cewenya.” Ateg terkekeh sendiri mendengar ceritanya, aku juga gitu.

“Terus, pas SMP, Gilang galau gara-gara apa?”

Belum sempat ngomong, Ateg udah langsung ketawa. Bikin aku makin penasaran.

“Kenapa sih? Ceritain yaaaa!”

“Oke-oke, bentar.” Ateg nelen ludah, berusaha berhenti ketawa. “Dia galau gara-gara kesiangan, terus lupa...” katanya terpotong karena ketawa.

“Lupa apa?”

“Tas yang dia pakai, itu tas milik adiknya. Masih TK lagi.”

Aku ketawa mendengarnya, begitu pula Ateg. “Jadi, Gilang galau karena malu diledekin teman-temannya?”

“Engga.” jawab Ateg masih ketawa.

“Lah, terus?”

“Takut dimarahin ibunya.” katanya lalu kembali menelan ludah dan berhenti ketawa. “Eh, aku minum bentar.”

Aku mengangguk, dan menunggu Ateg selesai minum.

Setelah minum, dia kembali duduk di ranjangnya.

“Ibu Gilang, galak, apa?” Aku nanya.

“Ga tahu, aku belum pernah ketemu. Paling, dia cuma jadi anak patuh, yang ga berani bantah omongan ibunya, kan?”

“Bisa juga, sih.” kataku setuju, dan sangat berharap Gilang begitu. “Eh, terus, tadi pas di sekolah gimana?”

“Tadi sampai mana, ya? Aku lupa.”

“Sampai kamu lihat Gilang tiduran di genteng.”

“Oh, iya. Aku suruh dia turun, lah. Ga aku lihat gimana turunnya, habisnya seram.”

“Terus-terus?” Aku nanya, makin ga sabar dengan hasil akhirnya gimana.

“Dia nyamperin aku, terus nanya gini: ‘Apa Teg?’” kata Ateg sambil menirukan gaya Gilang, membuatku terkekeh.

“Itu pasti beneran dia.”

“Iya, lah!” seru Ateg. Dia kembali duduk di atas kasurnya. “Terus aku bilang: ‘Ada pesan buat kamu.’. ‘Mana?’ Dia nanya gitu.”

“Terus-terus?” tanyaku makin penasaran sambil memeluk senderan pada kursi.

“Aku jadi bingung mau jawab apa. Ya, aku langsung bilang aja itu dari kamu.”

“Apa katanya?”

“Kata dia?”

“Iya,” Aku mengangguk.

“Persis kayak yang kamu bilang tadi. ‘Apa katanya?’”

“Gitu?” Aku ketawa.

“Iya.” jawab Ateg semangat.

“Terus?”

“Aku bilang: ‘Lutfi ga pacaran sama Kelvin, dia bilang sendiri ke aku.’”

“Terus, Gilang jawab apa?”

“Oh.”

“Hah?”

“Iya, cuma jawab: ‘Oh.’”

“Gitu doang?” tanyaku agak tidak percaya.

“Sama satu lagi,”

“Apa?”

“‘Aduh,’ gitu. Sambil melengos.”

“Kok, aduh, kenapa?”

“Katanya: ‘Aku udah nyebar berita hoaks.’”

Aku langsung ngakak dengarnya. “Iya itu, harusnya langsung dipenjara!” seruku sambil menegaskan kata terakhir.

“Dipenjara di hatimu, ya?”

“Apaan, sih, Ateg, ih!” kataku malu-malu, lalu kami ketawa.

* * *

ix

Malamnya, ba’da Isya, sesuai perjanjian, aku traktir Ateg makan di lamongan yang ga jauh dari kost setelah minta izin sama ibu kost, dan dibolehin asal kembali sebelum jam 9. Kata beliau.

Sampainya, aku kaget setengah mati, karena yang jualan ternyata Mamang Budi, satpam sekolah.

“Pak Budi!” sapaku lalu menyalaminya.

“Siapa?” Ateg berbisik.

“Satpam sekolah.” jawabku.

Ateg kaget terus ikutan nyalamin.

“Kalian pasti siswa SMAN Purwokerto, ya?”

“Kok, tahu?” Aku sama Ateg nanyanya kompak, tanpa direncanakan.

“Iya, soalnya kalau yang biasa makan di tempat bapak, biasanya manggil Mamang Uud.” jawabnya dengan logat desa. Lucu. “Eh, duduk-duduk, silahkan.”

Kami duduk di kursi yang sudah disediakan.

“Mau pesan apa?”

“Ayam kampung, dua.” jawabku.

“Paha atau dada?”

“Dada aja, ya?” tanyaku ke Ateg, memastikan.

Dia mengangguk. Setuju aja gitu.

“Siap.” katanya lalu mengambil dua bagian dada dan meletakannya di atas baki hijau muda, lalu menyalakan api pada kompor. Sambil Mamang Uud menyiapkan nasi, beliau ngajak cerita. “Kalau lagi di sini manggilnya Mamang aja, ya?”

“Iya Mang.” Kembali Aku sama Ateg menjawab dengan kompak.

“Siiip.... Mamang teh, senang sama murid angkatan yang sekarang.” katanya sambil menyelupkan ayam ke wajan penuh minyak yang sudah mulai mendidih.

“Kenapa Mang?” Aku nanya.

“Mamang dihormati, disegani, walau tampilannya kayak begini, ini.” katanya sambil menunjukan badan lalu meletakan nasi dan wadah cuci tangan dengan hati-hati.

Aku sama Ateg ketawa kecil.

“Iya, Mamang juga sering diajak makan bareng. Ditraktir lagi.”

Aku langsung mengira itu pasti Gilang.

“Sama siapa Pak?” tanya Ateg.

“Udah dibilangin tadi,” kata Mamang Uud dengan memajukan mukanya dan pura-pura memukul kepala Ateg. “Eh! Gimana sih eneng?”

Kami ketawa lagi.

“I-iya. Maaf. Aku ulangi, sama siapa Mang?”

“Nah, gitu kan enak, lebih akrab kesannya.” jawab Mamang sambil nuangin teh panas ke dalam gelas yang sudah diberi gula pasir. Lalu berkata sambil mengaduknya. “Cowo yang ganteng, itulah.... yang namanya Gilang, penulis itu, loh.”

“Penulis?” Aku sama Ateg nanya bareng dan sempat saling pandang.

“Iya. Katanya teh, suka nulis tentang neng Lutfi.” Meletakan dua gelas besar di depan kami.

Aku kaget mendengarnya. Tapi aku meminta Ateg biar ga ngasih tahu ke Mamang kalau Lutfi itu namaku.

“Nulis gimana maksudnya, Mang?” Aku nanya.

“Puisi, cerpen, sama nobel, kalau ga salah.” jawab Mamang sambil mengulek banyak cabai sama bawang merah, dan bawang putih, yang kelihatannya sudah di goreng sebelumnya.

Kami lagi-lagi ketawa.

“Novel kali, Mang.” kata Ateg mencoba akrab.

“Iya itu, Nopel.”

Aku hampir terbahak mendengarnya.

“Novel, Mang.” kataku mengulang.

Mamang mengangkat daging dan meniriskannya agar minyaknya pada turun. “Iya pokonya itulah.”

Sebenarnya aku masih tidak percaya kalau Gilang banyak menulis tentangku apalagi sampai dibuat puisi, cerpen, dan novel. Kupikir, dia engga serajin itu.

“Kata dia juga, cinta sama neng Lutfi.”

Deg! Aku hampir berteriak mendengarnya. Kulihat Ateg juga memberikan tatapan aneh sambil senyum-senyum. Saat itu, pasti mukaku memerah.

Mamang meletakan piring berisi daging ayam kampung bagian dada yang sudah digoreng dengan matang, di sisinya ada sambal goreng yang sangat menggoda. “Silahkan,”

“Makasih Mang,” jawab kami.

“Dia bilang gimana, Mang?” Ateg mendadak nanya setelah mencuci tangan, makin buat aku malu.

“Kata mas Gilang teh, neng Lutfi itu pinter, baik, sopan.” jawab Mamang dengan logat khasnya.

Mendengarnya makin membuatku tertunduk malu.

“Terus-terus?” Ateg makin nanya, ga tahu kenapa.

“Katanya juga, neng Lutfi itu cantik, banget malah. Terus pernah bilang ke Mamang gini: ‘Mang, kalau Mamang nganggap yang punya warung ini cantik, Lutfi seribu kali jauh lebih cantik.’”

Kami ketawa ga percaya.

“Yee.... malah ketawa. Mamang teh serius atuh.”

“Iya Mang,” jawab kami, lalu mulai menyantap hidangan di depan kami.

“Terus Mamang jadi penasaran, gimana sih Lutfi itu. Dia jawab: ‘Kulitnya putih, rambutnya hitam panjang, lurus sampai pinggang, mukanya agak bulat, hidungnya ga pesek tapi juga ga mancung, pipinya ga tirus juga ga tembem, kalau senyum ada lesung pipi di sebelah kiri, terus ada tahi lalat di bagian pipi sebelah kanan.’ Persis kayak eneng ini.” jelas Mamang lalu menunjukku.

Aku makin menunduk karena malu. Tidak percaya kalau Gilang sampai berkata begitu. Sedang Ateg, kulihat senyum-senyum sambil mengangkat alisnya, kode bahwa Gilang emang cinta aku.

“Eh, neng-neng ini, namanya siapa, ya? Mamang pengin tahu biar bisa akrab, kalau di sekolah, mungkin.”

“Saya Ateg, terus ini, teman saya, Lutfi.” jawab Ateg membuat Mamang terkejut.

“Jadi ini neng Lutfi, toh? Teman kelasnya mas Gilang.”

Aku diam. Ateg yang menjawabinya dengan anggukan kepala.

“Waduh, ternyata lebih cantik dari bayangan Mamang.”

Ateg dan Mamang Uud ketawa. Tapi aku hanya terkesipu malu. Aku sangat yakin saat itu mukaku pasti lebih dari kata memerah.

1
Yanih Wahyuni
aku suka ceritanya😊
siska
kak author terakhir updet tanggal 08-06-2020 dah lama banget apa author hiatus atau pindah platfrom jika iya bisa saya tau kalo hiatus kapan akan kembali lagi membawa cerita novel ini jika pindah platfrom pindah kmana saya sangat penasaran dengan kelanjutan novel ini bukankah belum tamat masih ada 2 bagian lagi dan bagian 3 blum selesai
saya berharap author membalas nya
Penulis Noname: halo kak siska, untuk novel Lutfi Gilang sudah kembali lanjut dengan judul yang sama. Namun menggunakan akun yang berbeda.

bisa langsung dicek ya kak.
total 2 replies
siska
kak author lanjuuttt ceritanya
aku tunggu sampai tamatt
sampai gilang ketemu lagi sama lutfi
sampai mereka nikah dan punya anak


aku tunggu dan bakal menanti sampai author lanjut lagi cerita nyaaa
Dan Banu: Sudah ada ya, bisa dibeli karena hanya ada di buku cetak saja
total 1 replies
v,v
aku mampir dan membawa like ya kak.

buat kaka kaka jika berkenan, mampir yuk ke lapaknya #AING MACAN🐯
Gribelion
bisa luang kan waktu anda untuk membaca novel ku Hidden Feeling 😁✌️
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Khusnul Maratus Soliah
menganti oowh menganti....
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Muhammad Ari
keren thor, ijin promo ya, jgn lupa mampir di novel dg judul "sudden kiss" 😇😇😇
Aku
💕👍
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
😊
so sweat
😊: Pasti,,, semangat thor
total 2 replies
😊
bikin baper nihhhhh
😊: Ok Kaka
total 2 replies
Bu$u®🌼
novel yg indah, ga bikin halu
Dan Banu: terima kasih atas pujiannya.
Semoga selalu menikmati novel Lutfi Gilang
total 1 replies
Epron Putra
jngn lpa main ke crita aq ya kak ni udah aq tinggalin like dan komen jga smngt kak
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Aku
👍👍💕💕
Dan Banu
uhuy, siap
Tika
muncul lagi kata-kata baru. ga ngulang kata-kata yg sama jadi ga bikin bosen.

lanjuuuut!
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Lutfi
gilang kan jago silat! hihihi
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Dinda
serem
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Nurrizky
bingung jomen apa. udah bagus
🆙🆙🆙🆙
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Mr. R
wohohooo menang!!!!
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Black Sword
mantap berantemnya

up terus
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!