Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.
“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.
Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.
“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.
Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.
“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Deva berniat mencegah Kartika dan anak-anaknya pergi. Namun, baru beberapa langkah Bu Hania dan Iriana buru-buru menahan kedua tangan pria itu.
“Lepasin aku!” bentak Deva marah.
“Ibu cuma enggak mau kamu ikut emosi!” balas Bu Hania.
Pak Dimas ikut berdiri. “Ayah rasa Kartika cuma lagi merajuk,” katanya mencoba menenangkan. “Kalau emosinya reda dia bakal balik sendiri.”
“Iya,” sambung Iriana sambil tertawa sinis. “Memangnya dia bisa hidup di luar sana tanpa uang?”
Ekspresi wajah Iriana penuh ejekan. “Pengangguran aja banyak gaya. Sok-sokan minggat.”
Deva membanting tangan Iriana sampai wanita itu tersentak kaget. Wajah pria itu merah padam. Matanya penuh kemarahan.
“Cukup!” Suara Deva menggelegar keras memenuhi rumah. Dia tidak suka mendengar itu.
Semua langsung terdiam ketakutan. Deva menunjuk Iriana dengan tangan gemetar.
“Jangan hina istriku lagi.” Napasnya memburu. “Selama ini yang bikin kamu bisa hidup nyaman siapa?!”
Iriana langsung pucat. Sedangkan Bu Hania mulai panik melihat emosi anak sulungnya benar-benar meledak.
Namun Deva sudah tidak peduli lagi. Tatapannya kini lurus ke arah pintu rumah. Dia pun berlari ke luar rumah. Namun, sosok Kartika dan kedua anaknya sudah tidak ada.
“Mereka pergi ke mana malam-malam begini?” ucap Deva sambil memutar kepala mencari keberadaan keluarga kecilnya.
“Kartikaaaa!” teriak Deva frustasi.
Seketika bayangan Kartika, Kalingga, dan Kaivan menghilang. Deva benar-benar takut mereka hilang dalam hidupnya.
Deva baru sadar kalau motor yang sering dipakai oleh Kartika tidak ada. Dia pun segera naik mobil hendak mencari keberadaan mereka.
Malam itu jalanan mulai sepi. Lampu-lampu pertokoan satu per satu sudah dimatikan.
Udara malam terasa dingin menusuk kulit.
Kartika memarkirkan motornya pelan di depan butik milik Anggun. Tangannya masih sedikit gemetar. Bukan karena lelah membawa motor cukup jauh sambil membonceng dua anak, tetapi karena emosinya benar-benar belum stabil.
Kaivan sudah tertidur di pundaknya sejak di perjalanan. Sedangkan Kalingga berdiri diam sambil memegang ujung baju mamanya erat-erat. Anak itu sejak tadi tidak banyak bicara. Mungkin bingung atau mungkin takut. Dia juga sedang berusaha memahami kenapa malam-malam begini mereka tiba-tiba pergi dari rumah.
Lampu butik masih menyala terang. Beruntung Anggun memang biasa tutup lebih malam kalau sedang banyak pesanan. Begitu pintu kaca terbuka, Anggun yang sedang menghitung stok baju langsung mendongak. Matanya langsung membulat lebar.
“KARTIKA?!”
Wanita itu spontan berdiri. Tatapannya berpindah dari Kartika ke Kalingga lalu ke Kaivan yang tertidur di gendongan.
“Astaga. Ada apa? Tumben malam-malam ke sini?” tanya Anggun pelan sekaligus heran.
Kartika tersenyum kecil. Namun, senyum itu terlihat sangat sedih dan lelah.
“Aku keluar dari rumah.”
Anggun langsung mematung. Beberapa detik wanita itu sampai tidak berkedip.
“Hah?!” Suaranya nyaris memekik. “Kau keluar rumah?!”
Kartika mengangguk pelan sambil menurunkan Kaivan hati-hati ke sofa panjang butik. Kalingga ikut duduk diam di samping adiknya.
Anggun langsung mendekat cepat.
“Sebentar..,” katanya sambil memegang lengan Kartika. “Aku enggak salah dengar kan?”
Kartika tertawa hambar. “Enggak.”
Anggun makin syok. Karena selama bertahun-tahun mengenal Kartika, wanita itu selalu jadi tipe yang paling sabar, kuat bertahan, dan banyak mengalah. Bahkan waktu bertengkar hebat sama mertuanya atau marahan sama Deva pun, Kartika tetap memilih diam dibanding pergi dari rumah. Makanya sekarang melihat sahabatnya datang malam-malam sambil membawa anak-anak, jelas ini bukan masalah kecil.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Anggun pelan.
Kartika mengembuskan napas panjang. Lalu perlahan ia mulai menceritakan semuanya. Tentang rumah Iriana yang kebakaran. Lalu, Bu Hania yang ingin Iriana tinggal di rumah mereka. Bagaimana dirinya yang menolak. Juga tentang ucapan Iriana yang menyuruhnya keluar dari rumah. Sampai tentang Deva yang lagi-lagi terlihat bimbang memilih dirinya atau keluarganya.
Semakin lama Anggun mendengar, raut wajah wanita itu makin kesal. “Astaga, keluarga suami kamu itu memang enggak ada obat,” desisnya sambil memijat dahinya sendiri.
Kartika hanya diam sambil menunduk. Dia sedang menata hatinya yang sedang porak-poranda.
“Aku tuh heran sama Deva,” lanjut Anggun emosi. “Kenapa sih dia selalu enggak bisa tegas sama keluarganya sendiri?!”
Kartika tersenyum pahit. “Itu juga yang bikin aku capek.”
Anggun berjalan mondar-mandir kecil di dalam butik. Mukanya sudah merah karena ikut emosi.
“Terus sekarang kamu mau tinggal di mana?” tanya Anggun sambil menunjuk Kartika.
Kartika mengusap rambut Kaivan pelan yang masih tertidur pulas. “Ya, pulang ke rumah aku sendiri, lah!”
Anggun langsung berhenti berjalan. “Rumah yang di pusat kota itu?”
Kartika mengangguk. Itu rumah peninggalan orang tuanya. Rumah yang sudah lama tidak dia datangi sejak menikah, karena Kartika memilih ikut tinggal Deva di mana pun berada setelah menikah.
Rumah milik Kartika sangatlah besar dan sangat nyaman juga tenang. Tentu saja jauh dari drama keluarga mertuanya. Selama ini Kartika tidak pernah tinggal di sana karena selalu memikirkan perasaan Deva.
Anggun langsung menghela napas panjang. Ia melirik jam di dinding butik. Hampir pukul sepuluh malam. “Ini udah malam, Kartika. Kalau kamu maksa berangkat sekarang bisa sampai tengah malam.”
Kartika terdiam. Ia memang lelah. Apalagi Kaivan sudah tidur. Kalingga juga terlihat ngantuk meski berusaha bertahan.
“Nginap dulu aja di rumahku,” ujar Anggun tegas. “Besok pagi baru berangkat.”
Kartika menatap sahabatnya lama. Lalu perlahan mengangguk kecil.
“Oke, deh.”
Anggun langsung tersenyum lega. “Nah, gitu.”
Ia lalu menoleh ke arah Kalingga. “Kakak lapar enggak?”
Kalingga mengangguk malu-malu. Jujur saja sejak tadi perutnya memang lapar. Karena semua keributan tadi membuat makan malam mereka berantakan.
“Astaga, tunggu bentar ya!” Anggun langsung panik kecil. Wanita itu buru-buru membuka lemari kecil dekat kasir lalu mengeluarkan roti, susu kotak, dan beberapa snack.
“Nih, makan dulu.”
Kalingga langsung menerima dengan mata berbinar. “Terima kasih, Tante.”
Sedangkan Kartika hanya memandangi anaknya sambil menahan sesak di dada. Ia merasa bersalah. Anak-anaknya harus ikut terkena dampak semua konflik orang dewasa ini.
Anggun yang melihat wajah sahabatnya langsung duduk di sampingnya. “Heh.”
Ia menyenggol pelan bahu Kartika. “Jangan nangis.”
Kartika langsung tertawa kecil meski matanya mulai berkaca-kaca. “Aku capek banget.” Suara wanita itu akhirnya pecah.
Anggun langsung memeluk bahunya pelan. “Udah, sekarang istirahat dulu.”
Kartika mengangguk lemah. Beberapa detik kemudian ia mengambil ponsel dari tasnya.
“Aku besok mau minta Rangga jemput.”
Anggun langsung mengangguk paham. Rangga adalah sepupu Kartika, yang lahir dan tumbuh bersama dalam satu asuhan orang tuanya.
“Sekalian urus pindahan sekolah Kalingga,” lanjut Kartika lirih.
Kalimat itu membuat Anggun langsung melotot. “Wah, kamu serius?”
Kartika tersenyum hambar. “Biar Mas Deva tahu rasa.” Tatapannya perlahan berubah sendu. “Kalau terus-terusan lebih milih keluarganya dibanding aku dan anak-anak.”
Sementara itu di tempat lain, Deva sedang panik setengah mati. Mobilnya melaju menyusuri jalanan malam berkali-kali. Ia sudah mendatangi taman dekat rumah, mini market, bahkan sempat berhenti di sekolah Kalingga meski tahu tempat itu pasti sudah tutup. Namun, Kartika tidak ada di mana-mana. Tangannya mencengkeram setir kuat-kuat. Napasnya memburu dan pikirannya kacau.
Ini pertama kali rumahnya benar-benar kosong tanpa istri dan anak-anak. Dan ternyata rasanya sesakit itu.
cerita baru yg lebih baik dan menarik drpd kisah orang tuanya 🤝