Demi cinta, Kataleya rela meninggalkan kokpit dan menyerahkan mimpinya menjadi Kapten Pilot pada suaminya, Arkana. Ia memilih menjadi istri dan ibu, mengorbankan karier yang dulu hampir berada di puncak.
Enam tahun kemudian, pengorbanan itu justru dibalas dengan pengkhianatan. Arkana berselingkuh, menghina penampilan Kataleya, dan menyebutnya wanita yang sudah tak pantas berdiri di sisinya.
Akan tetapi Arkana lupa satu hal, langit itu dulunya milik Leya. Saat wanita itu menuntut cerai dan kembali mengenakan seragam pilotnya, seluruh dunia penerbangan mulai menyadari siapa dia sebenarnya.
Di akademi pilot, ia bertemu Kaisar... pria misterius yang selalu berada di sisinya. Arkana baru sadar terlalu terlambat, wanita yang dulu ia rendahkan kini kembali terbang lebih tinggi darinya. Leya menjadi Kapten Pilot, yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 7.
Pagi itu suasana Akademi Penerbangan Nusantara jauh lebih ramai. Biasanya para peserta latihan datang dengan langkah santai, bahkan masih menguap sambil membawa kopi. Namun hari ini sangat berbeda, semua para trainee datang lebih awal.
Karena kabar telah menyebar sejak kemarin sore, akan ada simulasi duel penerbangan.
Koridor akademi dipenuhi bisikan.
“Trainee baru itu katanya akan melawan Rafi, sejak awal Rafi memang paling menonjol. Nilainya selalu tertinggi di setiap ujian, jadi duel kali ini pasti seru!“
“Kau benar, apalagi pasangan trainee baru itu adalah Kaisar. Tapi selama ini, nilai Kaisar selalu dibawah Rafi.“ Timpal yang lain.
Bisik-bisik itu terdengar jelas, namun Kaisar hanya menanggapi dengan senyuman tipis. Selama ini bukan karena dia tidak mempunyai kemampuan, ia hanya tidak tertarik bersaing dengan para trainee lain. Sebab dia masuk ke akademi pun sebenarnya hanya karena hobinya terbang. Lagipula, pada akhirnya ia memang akan mewarisi maskapai itu dan duduk di kursi pemimpin suatu hari nanti.
Dan, kompetisi kecil seperti ini tidak pernah benar-benar ia anggap penting. Tapi sekarang berbeda, ada seseorang yang membuatnya ingin serius.
Pikirannya tiba-tiba saja tertuju pada Leya, ia masih ingat saat pertama kali melihat wanita itu. Penampilan Leya sedikit lusuh dengan wajah lelah. Namun, mata wanita itu menyala dipenuhi tekad. Anehnya lagi, semangat yang ditunjukkan Leya menggerakkan sesuatu di dalam diri Kaisar. Sejak saat itu, ia merasa ingin bersungguh-sungguh dalam latihan. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk Leya.
Sementara di ruang briefing, Leya duduk dengan tenang di kursinya. Ia membaca dokumen simulasi yang diberikan Instruktur. Di depannya tertulis skenario latihan hari ini.
Air Combat Maneuver — Tactical Escape Simulation.
Itu bukan simulasi biasa, latihan ini menilai kemampuan pilot menghindari “pesawat lawan“ dalam situasi darurat. Intinya sederhana, siapa yang lebih cepat membaca situasi, dialah pemenangnya.
Pintu ruangan briefing terbuka, Kaisar masuk dengan langkah santai seperti biasa seolah tak ada beban apapun dalam hidupnya. Beberapa trainee wanita langsung menoleh dan menatap pria itu dengan penuh kekaguman. Tapi dia tampak tak perduli pada perhatian mereka, ia berjalan melewati barisan kursi dan berhenti di samping Leya.
“Kau sudah siap, Leya?“ tanya Kaisar santai.
“Leya?“ Wanita itu mengangkat kepalanya dari dokumen yang ia baca.
“Aku hanya mencoba akrab denganmu,“ Kaisar nyengir.
Leya mendengus, ia kembali menunduk. “Aku tak pernah datang tanpa persiapan.“
Tak lama kemudian pintu terbuka lagi, Rafi masuk bersama partnernya. Seorang trainee bernama Viola, wanita yang sudah menyukai Kaisar sejak beberapa waktu lalu. Tatapan wanita itu berubah dingin saat melihat Leya, ia tak menyukai Leya sejak Kaisar dijadikan partner wanita itu. Sementara Rafi juga menatap Leya dengan sorot mata yang sama seperti kemarin. Pandangan pria itu dipenuhi kekesalan, sekaligus tantangan yang terang-terangan.
Namun Leya bahkan tak mempedulikan mereka berdua dan tak menoleh sama sekali.
Instruktur masuk beberapa waktu kemudian.
“Duduk.“
Para trainee yang masih berdiri seketika duduk di kursi kosong.
Instruktur menatap mereka satu persatu. “Hari ini, kita melakukan latihan yang jarang dilakukan. Simulasi duel penerbangan. Dan ini, bukan sekedar permainan. Ini adalah latihan membaca situasi dalam keadaaan tekanan tinggi.“
Ia lalu menatap ke arah empat orang di barisan depan.
“Kataleya dan Kaisar. Lalu Rafi dan Viola.“ Instruktur menyilangkan tangan, “Tim yang mampu keluar dari situasi pengejaran paling cepat adalah pemenangnya.“
Para trainee menelan ludah, latihan ini terkenal sulit. Kesalahan kecil saja bisa membuat pesawat simulasi "jatuh".
“Tim pertama masuk simulator dalam lima menit.“
Semua orang serentak berdiri, bisikan kembali terdengar di seluruh ruangan.
Saat keluar dari ruang briefing, Kaisar berjalan di samping Leya. “Leya, apa kau gugup?“
“Tidak.“
Kaisar tersenyum, kali ini lebih lebar dari biasanya. “Kau ingin jadi kapten lagi?“
“Tentu saja," jawab Leya yakin.
“Kalau begitu aku ikut saja perintahmu.“
Leya akhirnya menoleh. “Kau serius?“
“Dalam duel seperti ini, satu orang harus memimpin. Aku akan percaya padamu sekali lagi.“ Kaisar tersenyum santai.
Leya menatap pria itu dengan pandangan dalam, “Makasih.“
“Wah, aku benar-benar tersanjung bisa dapat ucapan terimakasih dari Kapten,“ kata Kaisar sambil menyeringai usil.
Leya yang semula menahan ekspresi, akhirnya tak bisa menahan diri. Kedua sudut bibirnya perlahan terangkat, meninggalkan senyum tipis di wajahnya.
Mereka berdua sampai di gedung simulator, dari balik kaca ruang kontrol hampir semua trainee sudah berkumpul menonton.
“Tim pertama siap!“
Pintu simulator terbuka, Leya langsung naik ke kokpit dan duduk di kursi kapten. Sementara Kaisar seperti kemarin, dia duduk di co-pilot. Lampu indikator menyala satu persatu, tak lama Instruktur berbicara melalui interkom.
“Simulasi dimulai dalam tiga puluh detik!“
Layar di depan berubah, langit berwarna biru muncul. Pesawat mereka berada di ketinggian 28.000 kaki, namun beberapa detik kemudian sebuah titik muncul di radar.
Ada pesawat lawan.
“Tim Rafi sudah berada di belakang kalian!“ Ujar Instruktur.
Saat itu lah alarm berbunyi.
BEEP!
Kaisar melihat radar. “Mereka mengunci kita.“
Leya memegang kontrol. “Turun tiga ratus kali.“
Pesawat simulasi menukik ringan ke bawah, Rafi yang melihat dari kokpit lawannya tersenyum tipis.
“Dia mencoba menghindar!“ Ujar Rafi.
Viola menatap radar, “Mereka sudah berhasil turun.“
Rafi menarik kontrol, “Kejar!“
Pesawat mereka mengejar dari belakang.
“Mereka mengikuti di belakang kita.“ Di kokpitnya, Kaisar menyadari pengejaran Rafi.
“Aku tahu.“ Leya menatap layar dengan fokus penuh, radar menunjukkan jarak pesawat lawan semakin dekat.
Kaisar menoleh sedikit pada Leya, “Kau punya rencana?“
“Tentu,“ Jawab wanita itu penuh perhitungan.
Lalu Leya menarik throttle sedikit, pesawat mereka tiba-tiba mempercepat. Namun bukan itu yang membuat Kaisar mengangkat alisnya, tapi karena Leya memutar pesawat ke arah awan tebal di depan.
“Kita akan masuk kesana?“ tanya Kaisar.
“Iya.“
“Kau berani juga.“ Kaisar berdecak kagum.
Pesawat simulasi milik mereka langsung menembus awan tebal. Pandangan di kokpit hampir nol, radar berkedip tidak stabil.
Sementara itu di pesawat Rafi, pria itu terkejut. “Mereka masuk awan?“
“Bukankah itu berbahaya?“ timpal Viola.
“Kalau mereka salah sedikit saja, mereka akan tamat.“ Rafi tersenyum menyeringai.
“Jangan ikuti mereka.“ Kata Viola.
Akan tetapi Rafi malah membawa masuk pesawatnya masuk ke awan. “Aku bukan pengecut!“
Namun tak berapa lama kemudian, radar mereka kehilangan sinyal.
“Dimana mereka?“ Viola panik.
Rafi mengerutkan keningnya, “Tadi masih di depan kita.“
Di kokpit pesawat Leya, Kaisar menatap radar. Ia tertawa pelan. “Kau mematikan transponder?“
Leya hanya tersenyum tipis. Tanpa sinyal radar, posisi mereka tidak bisa dilacak oleh lawan. Ia memutar pesawat dengan manuver tajam di dalam awan, lalu keluar dari sisi luar awan. Langit kembali cerah, radar kembali stabil. Kaisar melihat layar, pesawat Rafi sekarang jauh berada di belakang.
“Kau benar-benar cerdas sekali,“ Kaisar tertawa puas.
Tak lama kemudian, suara instruktur terdengar. “Simulasi selesai.“
Lampu simulator meredup, di ruang kontrol para trainee yang menonton langsung berseru heboh.
“Gila!“
“Mereka berhasil menghilang dari radar!“
“Manuver itu luar biasa!“
Pintu kokpit terbuka, Leya keluar lebih dulu. Ekspresinya tetap tenang seperti biasa, tapi di dalam tatapan matanya ada kepuasan. Kaisar mengikuti di belakangnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Instruktur berdiri dengan tangan di belakang punggung. “Waktu pelarian, dua menit tiga puluh detik. Itu salah satu waktu terbaik yang pernah tercatat di akademi ini.“
Prok!
Prok!
Prok!
Para trainee sontak bertepuk tangan, namun tidak semua orang terlihat senang.
Rafi keluar dari simulator dengan wajah gelap, tatapan tajamnya tertuju pada Leya. Pandangan itu dipenuhi kemarahan. Leya tidak memandang ke arah Rafi, dia mengambil botol di meja dan meminumnya dengan santai.
Sementara itu Kaisar berdiri di samping Leya, sudah seperti bodyguard.
“Leya, apa kau tau?“
“Apa?“
“Kau membuat tempat ini ramai.“
Leya hanya mengangkat bahu tanpa menanggapi, ia menutup botol minumnya dengan tenang. Kaisar memerhatikan itu sambil tersenyum tipis, entah kenapa sikap Leya yang menjaga jarak membuatnya semakin penasaran. Baginya, Leya sulit ditebak. Dan itu membuat Kaisar ingin mengenal lebih jauh.
Saat waktu istirahat tiba, Kaisar berjalan menjauh dari keramaian akademi. Ia memilih sebuah sudut yang sepi, lalu mengeluarkan ponselnya. Tak lama kemudian, panggilan tersambung.
“Selidiki latar belakang seorang wanita di Akademi. Namanya Kataleya Sarasmita, semua datanya pasti ada di dokumen administrasi akademi.“
Kaisar menutup panggilan, lalu ia tersenyum kecil.
.
.
.
Sementara itu Arkana sedang duduk di ruang kerjanya dengan wajah muram, surat gugatan cerai tergeletak di meja. Televisi ruang pilot menyala, siaran khusus berita industri penerbangan sedang berlangsung.
Seorang reporter berkata, “Hari ini Akademi Penerbangan Nusantara mencatat sejarah kejutan baru. Seorang mantan pilot yang vakum selama enam tahun, berhasil mencetak rekor simulasi terbaik...“
Arkana tidak terlalu memperhatikan sampai sebuah nama disebut sang reporter.
“Kataleya Sarasmita.“
Tubuh Arkana langsung membeku, matanya menatap layar televisi. Di layar muncul rekaman latihan, dan disana Leya berdiri dengan seragam trainee pilot. Tatapan pria itu berubah gelap, rahangnya mengeras.
“Jadi kau benar-benar kembali...“ gumamnya pelan.
Di dalam hatinya sesuatu muncul, hal yang tidak ingin ia akui... kegelisahan.
“Aku harus menemuinya di rumah mertuaku,“ Arkana mengambil kunci mobilnya, ia berniat pergi ke rumah orang tua Leya.
Di Akademi Penerbangan Nusantara, waktu latihan akhirnya selesai. Para trainee mulai meninggalkan area akademi.
Di parkiran, Leya berdiri menunggu kendaraan online yang ia panggil. Saat itu sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Pintu pengemudi terbuka, lalu Kaisar keluar dengan gaya santainya. Ia berjalan ke sisi penumpang dan membuka pintu mobil.
“Ayo, aku antar pulang.“
Namun Leya segera menggeleng, “Tidak usah, itu tidak pantas. Kau harus tau, aku ini istri orang.“
Kaisar tentu saja tahu, informasi tentang Leya sudah ia dapatkan dari orang suruhannya. Ia juga tahu pernikahan wanita itu hancur karena perselingkuhan suaminya dan kini sedang dalam proses perceraian.
“Anggap saja tawaran dari junior untuk seniornya. Aku hanya ingin mengantar, lagipula... bukankah kita sudah cukup akrab sebagai partner latihan?“
Leya menatap pria yang lebih muda darinya itu dengan pandangan tak terbaca, tapi akhirnya ia menghela nafas pelan lalu masuk ke dalam mobil. Kaisar tampak puas, ia menutup pintu penumpang lalu berjalan memutar untuk duduk di kursi pengemudi. Mobil itu segera melaju meninggalkan parkiran akademi.
Tak jauh dari sana, dua pasang mata menatap mereka dengan penuh kebencian. Rafi dan Viola. Keduanya berdiri diam dengan wajah tegang, mereka tidak terima dikalahkan.
Tak berapa lama, mobil Kaisar berhenti di halaman rumah orang tua Leya. Namun saat Leya membuka pintu mobil, tubuhnya seketika menegang. Tatapan wanita itu tertuju pada sebuah mobil yang sudah lebih dulu terparkir disana, mobil Arkana.
biasa ny kn benci jd berubah jd cinta ,,
eeeits tp anda bukan tokoh utama dsni ,, mending kerja aj yg professional yx rafii ,, jgn menghancurkn apa yg sudh km miliki skrang ,, jgn kaya si arkana2 tu ,, 😒😒😒😒
perlu berendam di kawah gunung merapi ni shanaz biar otak ny rileks🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣