Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ROBEKNYA PERJANJIAAN KONTRAK.
Malam semakin larut, namun kelopak mata Ardiah sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan terpejam. Di dalam ruang rawat inap puskesmas yang sunyi, ia terus terjaga di sisi ranjang Haikal. Kecemasannya kian membubung tinggi saat menyadari suhu tubuh suaminya justru bergerak naik, terasa kian panas membakar kulit. Wajah tegap itu masih tampak begitu pucat, terlelap dalam ketidaksadaran yang meresahkan.
Ardiah yang tidak bisa tinggal diam segera beranjak mengambil baskom berisi air hangat dan selembar handuk kecil. Dengan telaten, ia membasahi handuk tersebut, memerasnya perlahan, lalu mulai menyeka kening serta leher Haikal untuk menurunkan demamnya.
Melihat rona merah yang tidak wajar akibat panas tinggi di kulit suaminya, Ardiah memutuskan untuk membuka beberapa kancing teratas kemeja yang dikenakan Haikal demi membantu membuang panas tubuh. Jemari tangannya yang gemetar perlahan bergerak mengelap bagian dada bidang pria itu dengan saksama.
Namun, tepat saat handuk hangat itu mengusap area dadanya, sepasang mata elang yang sejak siang terpejam rapat itu tiba-tiba terbuka perlahan. Haikal memandangi wajah istrinya yang berjarak begitu dekat dengannya. Alih-alih meringis kesakitan karena demam, seulas senyum tipis yang sarat akan nada tengil khasnya justru terukir di sudut bibir kering pria itu.
"Bagaimana, Kak? Apakah otot dadaku ini tampak bagus?" tanya Haikal dengan suara serak yang memecah keheningan.
Ardiah yang saat itu begitu fokus mengelap dan belum menyadari kalau suaminya sudah siuman, langsung menjawab dengan anggukan spontan. "Iya, bagus sekali, dan juga bes..."
Kalimat Ardiah mendadak terhenti di udara. Kesadarannya tersentak. Ia langsung mendongak, menatap lurus ke arah wajah Haikal yang kini tengah memandanginya dengan binar mata jenaka, meskipun gurat lelah masih tercetak jelas di sana.
Plak!
Karena rasa terkejut dan malu yang luar biasa akibat tertangkap basah mengagumi bentuk tubuh suaminya, Ardiah secara spontan melayangkan pukulan cukup keras tepat di atas dada bidang yang baru saja diusapnya.
"Aduh! Sakit, Kak," ringis Haikal, wajahnya mengkerut menahan nyeri yang nyata di bagian dadanya.
Ardiah yang tersadar tindakannya bisa memperburuk kondisi Haikal yang sedang sakit, seketika panik. Wajah khawatirnya kembali mendominasi. "Eh? Ya ampun, Haikal! Maaf, maafkan aku! Aku tidak sengaja, sungguh. Mana yang sakit?" ucapnya beruntun, sambil refleks mengelus-elus bagian dada Haikal yang baru saja dipukulnya untuk meredakan rasa sakit.
Namun, gerakan tangan Ardiah mendadak terkunci. Haikal dengan cepat menggerakkan tangan kanannya yang tidak terpasang infus untuk menangkup erat jemari tangan Ardiah yang berada di atas dadanya, menahannya agar tetap berada di sana, tepat di atas detak jantungnya yang berdegup konstan.
Netra mata mereka saling mengunci dalam diam. Kejenakaan di wajah Haikal perlahan memudar, berganti dengan tatapan yang teramat dalam dan serius.
"Apakah... Kak Diah sudah memaafkan diriku?" tanya Haikal lirih, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya.
Ardiah terdiam seribu bahasa mendengar pertanyaan yang begitu tiba-tiba itu. Lidahnya mendadak kelu untuk menyusun untaian kata.
Haikal mengencangkan sedikit genggaman tangannya pada jemari Ardiah, seolah takut wanita itu akan kembali berlari menjauh darinya. "Aku benar-benar minta maaf, Kak. Aku bersumpah dan mengulangi janjiku malam ini. Aku tidak akan pernah lagi menyinggung soal kehadiran seorang anak di antara kita. Aku tidak akan membawamu ke rumah sakit mana pun."
Haikal menjeda kalimatnya sejenak, mengambil napas dalam-dalam untuk menekan rasa hangat di dadanya. "Aku mengulangi semua perkataanku di gubuk Nenek siang tadi. Dan satu hal yang perlu Kakak tahu... aku sudah merobek dan menghancurkan surat kontrak pernikahan yang pernah kita buat."
Kedua mata Ardiah seketika membulat sempurna. "K-kamu merobeknya? Tapi kenapa, Haikal?"
"Karena sejak awal aku tidak pernah menganggap hubungan ini sebagai sebuah bisnis atau kontrak sementara, Kak," jawab Haikal dengan ketulusan yang begitu nyata memancar dari kedua matanya. "Aku ingin menjalankan sebuah kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya bersama seutuhnya. Rumah tangga yang nyata, yang dibangun di atas dasar ibadah dan diridhoi oleh Allah."
Haikal menatap lekat-lekat wajah Ardiah yang mulai kembali berkaca-kaca. "Sekarang, aku ingin bertanya langsung padamu. Apakah Kak Diah bersedia menjalani kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya bersamaku? Menua bersama, melewati suka dan duka bersama hingga rambut kita memutih?"
Ardiah memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba menarik tangannya dari genggaman Haikal, namun pria itu tetap menahannya dengan lembut. Gurat keraguan yang teramat sangat kembali membayang di wajah cantiknya.
"Sebaiknya... kamu memikirkan hal ini matang-matang lagi setelah sembuh nanti, Haikal," bisik Ardiah dengan suara yang bergetar menahan gejolak di dadanya.
"Kenapa? Apa yang membuatmu masih ragu denganku, Kak?" kejar Haikal lembut.
"Aku takut, Haikal," aku Ardiah jujur, air matanya mulai menetes melewati pipinya. "Aku takut rasa cintamu ini hanya bersifat sesaat. Mungkin hanya bertahan satu atau dua tahun saja di awal pernikahan kita yang masih baru. Setelah itu, saat tahun-tahun berlalu dan rumah kita mulai terasa sepi, sunyi, karena tidak ada suara tangisan anak... kamu pasti akan berubah. Kamu pasti akan menjadi seperti Ferdi yang mulai menyalahkanku, membuangku, dan menganggapku sebagai wanita yang tidak sempurna."
Mendengar ketakutan terbesar istrinya yang kembali terlontar, Haikal tidak membantah dengan amarah. Sebaliknya, ia justru membawa tangan Ardiah yang digenggamnya ke arah bibirnya, mengecup punggung tangan itu dengan begitu takzim dan lama.
"Kak Diah, dengarkan aku," tutur Haikal, suaranya terdengar begitu mantap tanpa ada keraguan sedikit pun. "Aku bukan Ferdi, dan aku tidak akan pernah menjadi seperti dia. Bagiku, kesempurnaan seorang wanita tidak diukur dari apakah rahimnya bisa melahirkan atau tidak. Kehadiranmu di sisiku, menjadi istri dan makmum dalam sholatku, itu sudah lebih dari cukup untuk menyempurnakan hidupku yang berantakan ini."
Haikal menatap lurus ke dalam mata Ardiah yang basah. "Jika rumah kita nanti terasa sunyi, maka kita yang akan meramaikannya dengan tawa kita berdua. Kita bisa mengadopsi anak-anak yatim di luar sana yang membutuhkan kasih sayang, atau kita bisa menghabiskan waktu berdua untuk beribadah bersama. Aku menyakini takdir ini, Kak. Aku memilihmu, bukan karena sebuah tuntutan keturunan, tapi karena hatiku memilihmu untuk menjadi pendampingku hingga ke surga-Nya."
Mendengar untaian kalimat penuh keyakinan dan janji suci yang keluar dari mulut Haikal, pertahanan ego dan ketakutan di dalam dada Ardiah perlahan mulai runtuh berantakan. Ketulusan luar biasa yang ditunjukkan pria yang lebih muda darinya itu selama tiga hari ini, hingga membuat tubuhnya sendiri tumbang, menjadi bukti nyata yang tidak bisa dibantah oleh logika mana pun.
Hati Ardiah akhirnya luluh, meskipun di sudut hatinya yang terdalam masih menyisakan sedikit rasa trauma yang belum pulih seratus persen. Namun malam ini, ia memilih untuk meletakkan egonya dan memberikan kesempatan bagi pernikahan mereka.
Ardiah mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat manis di sela-sela tangisnya, lalu mengangguk perlahan. "Baiklah... mari kita coba jalani hubungan ini dengan sungguhan, Haikal."
Mendengar jawaban itu, senyum bahagia yang sangat lebar langsung terbit di wajah tampan Haikal. Rasa sakit dan lelah di tubuhnya seolah sirna begitu saja, digantikan oleh rasa buncah yang luar biasa di dalam dadanya. Pintu masa depan yang baru kini telah terbuka lebar bagi kisah cinta mereka berdua.
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️