Dewasa
Follow My Instagram @Mae_jer
Dami tidak menyangka dia akan menghadapi Jeremy yang menggila padahal statusnya sudah menjadi istri dokter Bima. Walau status itu hanya sebatas pernikahan kontrak, tetap saja tidak dapat dibenarkan. Namun, siapa yang akan menyangka Dami akan terlibat dengan permainan panas Jeremy, serta Bima yang ikut-ikutan menggila, yang membuatnya berada di situasi yang membingungkan.
Terjebak di antara dua pria yang sama-sama menginginkannya, situasi semakin rumit saat Dami hamil. Karena ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Jeremy atau Bima? Lebih gilanya lagi, baik Bima maupun Jeremy, sama-sama tidak mau melepaskannya.
Ketiganya harus merahasiakan hubungan gila mereka sampai akhirnya salah satu dari kedua pria itu mengalah, dan merelakan Dami dengan laki-laki yang dia cintai.
Apakah masih Jeremy cinta pertamanya yang menjadi pemenang? Atau Bima, dokter tampan yang juga mencintai Dami dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan jalan-jalan santai
Sikap Bima mulai melunak semenjak Dami sakit. Walau masih dingin, tapi lelaki itu tidak sedingin biasanya. Makanan yang dimasak Dami juga di makan. Dan, laki-laki itu sering sarapan dan makan malam bersama kalau dia pulang lebih cepat dari pekerjaannya.
Meski masih jarang bicara, Dami tetap senang. Setidaknya ada sedikit harapan, meski sekian persen. Malam itu, orangtua Bima, mertua Dami makan malam di rumah mereka. Dami sengaja memasak sendiri. Karena sudah memutuskan untuk memperbaiki rumah tangganya dengan Bima, tentu saja dia harus menjadi ibu rumah tangga yang dapat diandalkan oleh keluarga tersebut. Dia juga ingin menunjukkan kepada Bima kalau dirinya serius menjalin kehidupan rumah tangga dengan pria itu.
Meja makan sudah tertata rapi dengan taplak bersih, dan berbagai hidangan yang dimasak Dami sendiri terhidang sempurna, mengeluarkan aroma harum yang menggugah selera. Dari sup bening, ikan bakar berbumbu, hingga tumisan sayuran dan lauk pelengkap lainnya, semuanya disiapkan dengan penuh perhatian dan ketulusan hati.
Begitu orang tua Bima masuk dan duduk di kursi masing-masing, wajah mereka tampak senang melihat hidangan yang tersaji. Nova langsung tersenyum lebar menatap Dami.
"Wah, semuanya kau masak sendiri, sayang ?" tanyanya dengan nada lembut.
Dami mengangguk sambil tersenyum sopan.
"Iya, ma. Semoga rasanya cocok."
Ayah Bima hanya mengangguk puas, sesekali melirik ke arah putranya yang duduk tepat di samping Dami. Bima terlihat tenang, sesekali membantu mengambilkan lauk ke piring istrinya secara alami, seolah sudah menjadi kebiasaan lama, karena itu yang selalu dia lakukan pada istrinya untuk meyakinkan orangtua mereka kalau mereka saling mencintai.
Sepanjang makan malam, percakapan mengalir santai. Mereka membahas kesehatan, pekerjaan, dan hal-hal ringan lainnya. Bima tidak banyak bicara, namun ia menjawab setiap pertanyaan dengan sopan dan matanya sesekali melirik Dami, diam-diam.
"Oh ya, Bim, mama dengar besok klinik kamu ada kegiatan di puncak? Kalo gitu bawa Dami juga. Di puncak pas banget loh buat kalian berdua usahain bikin cucu untuk mama dan papa.
Uhuk! Uhuk!
Dami langsung terbatuk-batuk mendengar perkataan ibu mertuanya. Wajahnya seketika memerah padam, dari leher hingga ke ujung telinga. Ia tidak menyangka percakapan akan berbelok ke arah itu secara tiba-tiba, membuat jantungnya berdegup kencang tak karuan. Tangannya yang memegang sendok terasa sedikit gemetar, dan ia segera menunduk berusaha menyembunyikan rasa malunya yang meluap.
Bima yang duduk di sampingnya juga tertegun sesaat, rahangnya mengeras sedikit, namun berusaha tetap tenang. Ia segera menyodorkan segelas air putih ke hadapan Dami dengan gerakan yang cepat dan alami.
"Minum pelan-pelan," bisiknya pelan, cukup terdengar oleh Dami saja. Lalu ia menoleh ke arah ibunya dengan nada tenang namun sedikit berusaha mengalihkan topik,
"Ma, itu cuma kegiatan kerja biasa. Pelatihan pekerja baru. Bukan jalan-jalan santai."
Nova tersenyum mengerti, namun tatapannya tetap penuh harapan.
"Tapi tetap saja, kan kamu yang memimpin kegiatannya. Pasti ada waktu santainya juga. Bawa saja Dami, biar dia bisa menghirup udara segar, ganti suasana. Selama ini dia banyak di rumah saja, takutnya malah bosan dan pikirannya melayang kemana-mana."
Ayah Bima pun ikut menimpali dengan suara berat namun lembut,
"Benar kata mama kamu. Sudah waktunya kalian berdua meluangkan waktu lebih banyak bersama. Jangan kerja terus, terutama kamu Bim."
Kata-kata orang tuanya membuat suasana meja makan menjadi hening sejenak. Dami masih menunduk, wajahnya masih memerah, namun di dalam hatinya ada rasa campur aduk antara malu dan juga sedikit rasa ingin tahu. Ia melirik sekilas ke arah Bima, penasaran apa jawaban pria itu nanti. Kalau dulu dia pasti tidak mau, tapi sekarang ... Entah kenapa dia ingin di ajak juga.
Bima terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan keputusan itu. Ia sadar orang tuanya bermaksud baik, dan memang benar hubungan mereka butuh lebih banyak waktu bersama untuk benar-benar membaik. Membawa Dami ke sana juga bukan hal yang mustahil, asalkan dia bisa mengatur jadwalnya dengan baik.
Setelah beberapa detik hening, Bima akhirnya buka suara.
"Kau mau ikut?" tanyanya tidak lembut tapi tidak kasar juga.
Dami menggigit bibirnya. Dia tidak mungkin langsung bilang iya kan? Gengsi sedikit dong. Dami menunduk lebih dalam, jari-jarinya meremas ujung serbet di pangkuannya. Wajahnya masih terasa panas, namun ia memberanikan diri mengangkat pandangan sebentar, sekilas menatap Bima sebelum kembali menunduk.
"Kalau ... kalau tidak mengganggu pekerjaan kak Bima, aku boleh saja ikut," jawabnya pelan, suaranya terdengar ragu namun jelas terdengar keinginan di baliknya.
"Aku hanya ingin melihat suasana di sana, tidak akan mengganggu atau merepotkan."
Mendengar jawaban itu, sudut bibir Bima terangkat sedikit, meski hanya sesaat dan hampir tak terlihat. Ia menoleh kembali ke arah orang tuanya, lalu mengangguk singkat.
"Baiklah, aku bawa dia. Besok pagi kita berangkat lebih awal, jam enam sudah harus siap."
Wajah Nova langsung berseri-seri, senyumnya melebar penuh kepuasan.
"Bagus sekali! Nanti Dami bawa jaket tebal ya, udara di puncak sangat dingin, apalagi kalau malam. Jangan sampai sakit lagi seperti kemarin.
"Iya, ma. Aku ingat," jawab Dami dengan senyum tipis, rasa malunya perlahan berubah menjadi rasa senang yang mulai menyebar di dadanya.
Setelah makan malam selesai, orang tua Bima tidak berlama-lama lagi. Sebelum pulang, Nova sempat menarik tangan Dami dan berbisik lembut,
"Jangan lupa ya, di puncak nanti kalian harus usaha kasih mama papa cucu."
Wajah Dami langsung memerah, ia tersenyum kikuk. Makin merah lagi setelah mertuanya menghilang dari hadapan mereka dan Bima mengucapkan pertanyaan padanya.
"Mama bilang apa?"
Dami terkejut, lalu menunduk makin dalam sambil memainkan ujung jarinya. Wajahnya yang tadi sudah agak memudar merahnya, seketika memerah lagi seperti tomat matang. Ia berdeham pelan, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Tidak... tidak ada apa-apa. Cuma pesan biasa saja," jawabnya terbata-bata, suaranya nyaris berbisik. Ia tidak berani menatap mata Bima, takut lelaki itu bisa langsung membaca kebohongannya hanya dari tatapan matanya.
Bima menatapnya tajam sekilas, seolah tidak percaya, namun ia tidak memaksa untuk bertanya lebih lanjut. Ia sudah bisa menebak apa yang dikatakan ibunya, mengingat ucapan sebelumnya di meja makan tadi. Sudah biasa bagi ibunya untuk selalu mengingatkan soal keturunan setiap kali ada kesempatan.
"Malam ini bereskan barang-barang yang dibutuhkan. Jangan banyak-banyak, cukup yang penting-penting saja. Di sana tempatnya terbatas dan udaranya dingin, bawa jaket tambahan."
Dami mengangguk.
"Mau aku bereskan barang-barang kak Bima juga?" tanyanya.
Bima berhenti melangkah, menoleh padanya cukup lama lalu menolak.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Ia lalu melanjutkan langkahnya. Dami menghembuskan nafas panjang kemudian berjalan ke lantai dua menuju kamarnya. Dia dan Bima masih tidur terpisah sampai hari ini.
klo pake logika sih,laki2 yg sudah melihat istrinya di sentuh laki lain,pasti akan meninggalkanyaa.
tapi othor menciptakan karakter lali2 yg tidak biasa.
kereen thor, biasanya laki2 kayak gini kebanyakan di jumpai di negara western atau America.
jika ada laki2 kayak gini di Indonesia, super keren sih
jeremy merelakan dan mengikhlaskan dami bahagia bersama bima...
seandainya dami jatuh cinta bima, mungkin jeremy bisa rela dan ikhlas bersama bima, tuk sekarang ini jeremy tahunya dami masih mencintai jeremy...
untuk mengganggu...
kasian kamu jer jer
kok jdi khawatir jeremy ngikutin dami sampai ke puncak..jgn smpai bima salah paham lagi