"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Gavin Cinta Masa Kecil dan Sahabat kecil Arumi
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai 45. Suara perdebatan yang riuh dari dalam ruang rapat utama langsung terdengar menggema hingga ke lorong luar. Arumi berjalan perlahan, langkah kakinya teredam oleh karpet tebal yang melapisi lantai. Ia berhenti tepat di depan pintu kaca ganda kedap suara yang sedikit terbuka.
Di dalam ruangan, tampak sekitar sepuluh pria paruh baya berjas mahal sedang duduk mengelilingi meja oval besar. Di ujung meja, duduk Danu Razetha, pria berusia kepala lima dengan kumis tebal dan tatapan mata yang licik.
"Seperti yang kalian lihat dalam dokumen di depan kalian," suara Danu terdengar lantang dan penuh kepuasan. "Keponakan saya, Arumi Razetha, saat ini sedang mengalami gangguan kejiwaan yang serius akibat penahanan yang dilakukan oleh suaminya. Dia tidak kompeten lagi untuk memegang posisi pemilik saham pengendali. Oleh karena itu, saya mengusulkan agar kendali Razetha Group dialihkan sepenuhnya kepada saya per hari ini!"
"Saya setuju! Kita tidak bisa membiarkan aset perusahaan hancur di tangan wanita labil!" sahut salah satu direktur keuangan yang sudah disuap oleh Danu.
Brak!
Pintu kaca ganda itu mendadak ditendang dengan sangat keras dari luar hingga engselnya berderit memekakkan telinga. Pintu terbuka lebar, menampilkan sosok Arumi Razetha yang berdiri tegak dengan kedua tangan yang kini dilipat di depan dada. Tatapan matanya yang tajam langsung menusuk ke arah Danu.
"Siapa yang lu bilang wanita labil dan gangguan jiwa, hah, Paman Tua?!" suara Arumi menggelegar nyaring, memotong seluruh kepuasan di dalam ruangan tersebut.
Seluruh jajaran direksi di dalam ruangan tersentak kaget. Danu Razeta terbelalak, piringan porselen di dekat tangannya hampir saja tersenggol jatuh.
"Arumi?!" Danu berteriak tidak percaya. "Bagaimana bisa kau ada di sini? Bukankah kau..."
"Di penjara bawah tanah?" Arumi melanjutkan kalimat pamannya dengan santai sembari melangkah masuk ke dalam ruangan. "Oh, maaf banget ya, Paman. Jebakan murah lu kagak cukup kuat buat nahan gue di sana. Dan sekarang, gue kembali buat bersih-bersih sampah di perusahaan bokap gue sendiri."
Danu dengan cepat menguasai keterkejutannya. Ia memasang wajah tegas dan menepuk meja dengan keras. "Jaga bicaramu, Arumi! Ini adalah rapat resmi direksi! Pengawal! Seret wanita ini keluar dari gedung ini!"
Dua pengawal berbadan besar berbaju safari hitam yang berjaga di sudut ruangan langsung bergerak maju menuju Arumi. Mereka memandang remeh ke arah Arumi, mengira wanita manja ini akan langsung menangis ketakutan.
"Nyonya Arumi, silakan keluar dengan sukarela atau kami harus menggunakan kekerasan," ucap salah satu pengawal bertubuh kekar seraya mengulurkan tangan kanannya untuk mencengkeram bahu Arumi.
Arumi hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sarat akan rasa haus bertarung. "Kekerasan? Boleh banget, Mas. Kebetulan badan gue lagi pegal-pegal dari semalam, butuh pemanasan."
Sebelum tangan pengawal itu sempat menyentuh bahunya, Arumi bergerak dengan kelenturan yang luar biasa. Ia menggeser kaki kirinya ke samping—teknik Egosan dalam silat—membuat cengkeraman pengawal itu luput mengenai ruang kosong. Tanpa membuang detik, Arumi mengepalkan tangan kanannya, melayangkan pukulan Gedikan bawah yang sangat cepat tepat ke arah ulu hati pengawal tersebut.
Bugh!
"Huuueeekk!"
Pengawal bertubuh besar itu langsung menekuk tubuhnya seperti udang rebus, matanya membelalak sempurna menahan rasa sakit akibat pasokan udaranya yang terhenti seketika. Belum sempat tubuh itu jatuh, Arumi memutar tubuhnya 180 derajat, melayangkan tendangan melingkar menggunakan tumit kaki kanannya—teknik Tendangan Sabetan—tepat mengenai pelipis pengawal kedua yang baru saja ingin maju.
Plak! Bugh!
Pengawal kedua langsung tersungkur mencium lantai marmer dengan keras, langsung tidak sadarkan diri. Seluruh adegan brutal itu terjadi dalam waktu kurang dari lima detik, dilakukan oleh Arumi dengan ekspresi wajah yang sangat tenang, tanpa selembar benang pun di pakaian formalnya yang bergeser berantakan.
Keheningan total mencengkeram ruang rapat 45. Para direktur paruh baya itu menatap dua pengawal berbadan besar yang kini terkapar mengenaskan di lantai dengan mata yang hampir keluar dari rongganya.
Arumi melangkah melewati tubuh pengawal yang pingsan, berjalan santai menuju kursi utama di ujung meja oval yang berada tepat di hadapan Danu. Ia menarik kursi tersebut, lalu duduk dengan menyilangkan kaki jenjangnya, menatap Danu yang kini seluruh tubuhnya sudah gemetar hebat.
"Nah, sekarang para sampah sudah dibersihkan dari lantai," ucap Arumi dengan nada suara yang santai namun terdengar begitu dingin mengejek. "Mari kita bicarakan ke mana saja uang proyek di kota J mengalir, Paman."
Ketegangan yang Ketegangan yang sebelumnya nyaris meledak di ruang rapat lantai 45 berangsur surut, menyisakan keheningan yang janggal. Aroma keringat dingin dan ketakutan masih tertinggal di udara, beradu dengan wangi parfum maskulin mahal dari para direktur yang kini tertunduk lesu. Pihak kepolisian dari divisi kriminal khusus baru saja menggiring Danu Calista dan tiga direktur pengkhianat keluar dengan tangan terborgol.
Arumi berdiri mematung di dekat jendela kaca besar
yang menjulang dari lantai hingga langit-langit. Ia menatap pemandangan kota Jakarta yang padat di bawah sana, di mana mobil-mobil tampak seperti semut yang berebut jalan. Di balik pantulan kaca, ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri—seorang wanita yang tampak elegan dengan blazer merah marun, namun menyimpan kekuatan ledak yang baru saja meruntuhkan dominasi pamannya sendiri.
Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat, memecah kesunyian dari balik punggungnya. Itu adalah Sekretaris Leo. Pria muda itu memegang tumpukan map dengan tangan yang sedikit gemetar, matanya menatap Arumi dengan binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikan.
Bagi Leo, Arumi yang berdiri di hadapannya sekarang bukanlah Arumi si boneka cantik yang dulu sering ia bantu sembunyikan skandalnya, melainkan seorang ratu yang baru saja merebut kembali takhtanya.
"Nyonya Arumi, semua dokumen pemecatan dan instruksi pembekuan rekening pribadi milik Tuan Danu sudah diproses oleh tim hukum perusahaan," lapor Leo dengan suara yang sarat akan rasa hormat. "Apakah Anda ingin saya menjadwalkan pertemuan darurat dengan sisa jajaran direksi sore ini untuk menstabilkan harga saham?"
Arumi membalikkan tubuhnya perlahan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, memberikan tatapan yang begitu tenang namun tajam. "Kagak usah, Leo. Biarkan mereka bernapas dulu. Kalau gue paksain rapat sekarang, yang ada mereka malah jantungan karena ketakutan lihat dua pengawal tadi pingsan di lantai. Gue mau keluar sebentar cari angin."
Leo tampak ragu, ia melirik ke arah pintu keluar. "Tapi Nyonya Besar... di bawah, di lobi utama, ada sekitar enam pria berjas hitam dari kediaman Ravindra. Mereka bilang diperintah langsung oleh Tuan Muda Zaviar untuk menjemput dan memastikan Anda langsung pulang ke mansion segera setelah urusan kantor selesai."
Arumi mendengus sinis. Senyum miring tersungging di bibirnya. "Zaviar... si kaku itu beneran mau jadiin gue tahanan rumah rupanya. Bilang sama anjing-anjing penjaga itu, gue cuma mau ke kafe di seberang jalan. Cuma lima menit. Kalau mereka berani ngalangin jalan gue, bilang kalau gue gak keberatan nambah koleksi orang pingsan hari ini."
"Tapi Nyonya—"
"Gak ada tapi-tapian, Leo. Awasi saja perpindahan sistem keamanan keuangan hari ini. Jangan sampai ada satu rupiah pun yang bocor ke tangan Danu," potong Arumi telak.
kek nya seru nih. aku juga sering uring² thor klo baca novel yg mc ny cinta buta + tulul.